Aku mengetik satu kalimat kepada Dion dengan tangan yang masih gemetar.
“Sayang, kalau rapatmu sudah selesai, jangan lupa istirahat. Aku juga punya kejutan untukmu.”
Tidak sampai satu menit, balasannya masuk.
“Kejutan apa, Sayang?”
Aku menatap layar sambil tersenyum getir.
“Rahasia. Nanti kamu juga tahu.”
Seandainya Dion tahu aku sedang berada di Bali, hanya beberapa kilometer dari hotel tempatnya menginap bersama sahabatku, mungkin dia tidak akan membalas dengan begitu santai.
“Hahaha, kamu bikin penasaran saja. Aku sayang kamu, Bulan.”
Tiga kata terakhir itu membuat perutku terasa mual.
Selama empat tahun, aku selalu percaya setiap kali Dion mengatakan cinta. Aku bahkan sudah membayangkan rumah yang akan kami tempati setelah menikah, anak-anak yang akan kami besarkan, dan hari tua yang akan kami lalui bersama.

Pernikahan kami tinggal enam minggu lagi.
Undangan sudah dicetak. Gedung resepsi di Jakarta Selatan sudah dibayar. Gaun pengantinku bahkan sudah selesai dijahit.
Namun malam itu, di sebuah kamar hotel di Bali, aku menyadari sesuatu yang menyakitkan.
Aku hampir menikahi seorang pria yang sebenarnya tidak pernah kukenal.
Aku membuka kembali akun TikTok rahasia Maya. Kali ini aku tidak menangis. Aku merekam layar setiap video, menyimpan tanggal unggahan, dan mengirimkan semuanya ke penyimpanan pribadiku.
Lalu aku menelepon seseorang.
“Kak Rendra, aku butuh bantuan.”
Rendra adalah kakak sepupuku yang bekerja sebagai pengacara di Jakarta. Sejak kecil, dia selalu menjadi orang yang paling bisa kuandalkan ketika menghadapi masalah.
“Ada apa, Bulan? Suaramu aneh.”
“Aku ingin membatalkan pernikahanku.”
Telepon mendadak sunyi.
“Karena Dion?”
“Iya. Dia berselingkuh dengan Maya.”
Aku mendengar Rendra menghela napas panjang.
“Kamu sekarang di mana?”
“Bali.”
“Jangan melakukan sesuatu yang gegabah. Simpan semua bukti. Besok pagi kita bicara. Ada hal penting yang perlu kamu periksa sebelum mengambil keputusan.”
Aku mengernyit.
“Hal apa?”
“Dokumen perusahaan yang pernah Dion minta kamu tanda tangani. Kamu masih menyimpannya?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Tiga bulan sebelumnya, Dion pernah memintaku menandatangani beberapa dokumen untuk membantu pengajuan pinjaman perusahaan miliknya.
Dion memiliki perusahaan kontraktor kecil yang sedang berkembang. Sementara aku bekerja sebagai konsultan desain interior dan memiliki studio sendiri di Jakarta.
Dia pernah mengatakan bahwa bank membutuhkan dokumen tambahan karena kami akan segera menikah.
Aku hampir menandatanganinya.
Namun ayahku, yang sudah puluhan tahun bekerja sebagai akuntan, menyarankan agar aku memeriksanya terlebih dahulu.
Sejak itu, dokumen tersebut tersimpan di laci kantorku.
“Masih ada, Kak.”
“Bagus. Jangan tanda tangan apa pun. Aku akan memeriksanya besok.”
Setelah telepon berakhir, aku duduk lama memandangi lampu-lampu kota dari jendela hotel.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa ketakutanku bukan hanya tentang perselingkuhan.
Mungkin ada sesuatu yang lebih besar sedang menungguku.
Keesokan paginya, aku memutuskan kembali ke Pantai Pandawa.
Bukan untuk menemui Dion atau Maya, melainkan mengambil hasil foto dari fotografer yang kusewa kemarin.
Pria itu bernama Wayan. Ketika menyerahkan hasil fotoku, dia tersenyum ramah.
“Mbak, fotonya bagus sekali. Tapi ada beberapa yang mungkin ingin Mbak lihat dulu.”
Dia membuka sebuah folder di kameranya.
Dalam salah satu foto, aku berdiri memegang bunga mawar dengan latar belakang laut biru.
Namun di kejauhan, terlihat Dion sedang merangkul Maya.
Wajah keduanya cukup jelas.
Aku terdiam.
“Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja memotret orang di belakang.”
“Tidak apa-apa, Pak. Boleh saya minta foto aslinya juga?”
Wayan mengangguk.
Aku membayar biaya tambahan dan menyimpan semua foto tersebut.
Sebelum pergi, aku sempat melewati galeri keramik yang kemarin dimasuki Dion dan Maya.
Di etalase depan, terdapat beberapa contoh cangkir pasangan.
Aku teringat betapa seringnya aku mengajak Dion membuat keramik bersama.
Tiba-tiba, seorang perempuan paruh baya keluar dari galeri.
“Mbak yang kemarin foto-foto di pantai, ya?”
Aku mengangguk.
“Temannya pasangan yang bikin cangkir kemarin?”
Jantungku berdegup.
“Kenapa, Bu?”
Perempuan itu tersenyum.
“Soalnya laki-lakinya tadi pagi datang lagi. Dia pesan satu cangkir tambahan. Katanya untuk hadiah orang rumah.”
Aku merasa darahku berhenti mengalir.
“Cangkir tambahan?”
“Iya. Dia minta dibuatkan nama Bulan. Tapi katanya jangan sampai perempuan yang kemarin tahu.”
Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis.
Bahkan untuk sebuah cangkir keramik, aku hanya mendapatkan sisa perhatian yang sebenarnya diperuntukkan bagi perempuan lain.
“Terima kasih, Bu.”
Aku meninggalkan galeri itu tanpa menoleh.
Siang harinya, aku kembali ke Jakarta.
Rendra sudah menungguku di kantornya ketika aku tiba.
Aku menyerahkan seluruh bukti perselingkuhan Dion, termasuk dokumen yang sebelumnya kusimpan.
Rendra membaca dokumen itu dengan teliti.
Semakin lama, wajahnya semakin serius.
“Bulan, kamu tahu ini dokumen apa?”
“Katanya untuk membantu pengajuan pinjaman perusahaan.”
Rendra menggeleng.
“Ini bukan sekadar dokumen pendukung. Ada persetujuan untuk menjadikan ruko milikmu sebagai jaminan kredit.”
Aku terbelalak.
Ruko itu adalah peninggalan almarhum ibuku. Bangunannya berada di kawasan strategis Jakarta Selatan dan sekarang kusewakan kepada sebuah klinik kecantikan.
Nilainya mencapai beberapa miliar rupiah.
“Tapi Dion bilang dia cuma butuh tanda tangan untuk verifikasi calon pasangan.”
“Dia tidak mengatakan yang sebenarnya.”
Rendra menunjuk salah satu halaman.
“Kalau kamu menandatangani dokumen ini dan prosesnya disetujui, asetmu bisa terikat sebagai jaminan utang perusahaannya.”
Aku merasakan tangan dan kakiku mendadak dingin.
“Berapa pinjamannya?”
“Delapan miliar rupiah.”
Aku menutup mulut.
Delapan miliar.
Jumlah yang bahkan tidak pernah disebutkan Dion kepadaku.
“Kenapa dia membutuhkan uang sebanyak itu?”
“Itu yang harus kita cari tahu.”
Selama dua hari berikutnya, Rendra membantu memeriksa dokumen dan informasi perusahaan Dion yang bisa diakses secara sah.
Hasilnya membuatku semakin terkejut.
Perusahaan Dion sedang mengalami masalah keuangan serius. Dua proyek besar terlambat diselesaikan. Beberapa pemasok belum menerima pembayaran.
Sementara itu, Dion terus mempertahankan gaya hidup mewah.
Mobil baru, perjalanan ke luar kota, restoran mahal, dan liburan bersama Maya.
Aku mulai memahami alasan sebenarnya Dion begitu terburu-buru ingin menikahiku.
Selama ini, aku mengira dia ingin membangun keluarga.
Ternyata, ada kemungkinan dia lebih tertarik pada aset yang kumiliki.
Namun aku belum ingin menuduh tanpa bukti.
Aku membutuhkan satu jawaban terakhir.
Malam itu, aku menelepon Maya.
“Halo, Bulan!” sapanya riang.
“Kamu sudah pulang dari Bali?”
“Belum, nih. Masih mau menikmati liburan. Kenapa?”
“Aku cuma mau cerita. Dion belakangan ini sering membicarakan masalah keuangan perusahaan.”
Di ujung telepon, Maya mendadak diam.
“Memangnya kenapa?”
“Katanya dia butuh dana besar. Aku jadi khawatir.”
Maya tertawa kecil.
“Ah, kamu jangan terlalu memikirkan urusan bisnis laki-laki. Dion pasti bisa mengatasinya.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Kamu kelihatannya yakin sekali.”
“Ya, kan Dion memang pintar.”
Aku tersenyum pahit.
“Maya, menurutmu aku harus tetap menikah dengannya?”
Pertanyaan itu membuat Maya terdiam beberapa detik.
“Tentu saja. Kalian sudah lama bersama. Lagi pula, Dion sangat mencintaimu.”
Aku memejamkan mata.
Perempuan yang diam-diam tidur bersama tunanganku sedang meyakinkanku untuk menikahi pria tersebut.
Saat itulah aku sadar bahwa pengkhianatan mereka bukan sekadar hubungan terlarang yang terjadi karena kehilangan kendali.
Mereka sudah terbiasa berbohong kepadaku.
Tiga hari kemudian, Dion pulang ke Jakarta.
Dia datang ke apartemenku membawa bunga, kue ulang tahun, dan kotak perhiasan kecil.
“Maaf, Sayang. Aku benar-benar sibuk kemarin.”
Dia mencium keningku seperti biasa.
Aku tidak menghindar, tetapi juga tidak membalas pelukannya.
Dion tidak menyadari perubahan itu.
Dia sibuk mengeluarkan kalung emas dari kotaknya.
“Coba lihat. Cantik, kan?”
Aku memperhatikan liontin kecil tersebut.
“Bagus. Maya juga suka model begini.”
Gerakan tangan Dion langsung terhenti.
“Maya?”
“Iya. Dia pernah mengirimkan fotonya kepadaku.”
Dion tertawa kaku.
“Oh, mungkin kebetulan.”
Aku mengangguk.
“Mungkin.”
Setelah beberapa saat, Dion mengeluarkan sebuah map dari tas kerjanya.
“Ngomong-ngomong, Bulan, dokumen yang kemarin sudah kamu tanda tangani?”
Aku menatap map itu.
“Belum.”
Wajah Dion berubah.
“Kenapa belum? Aku sudah bilang ini penting.”
“Aku ingin memeriksanya dulu.”
“Bulan, kamu tidak percaya sama aku?”
Nada suaranya mulai meninggi.
Aku menatap pria yang selama ini kucintai.
“Kalau memang tidak ada masalah, kenapa kamu marah?”
Dion terdiam.
Kemudian dia menarik napas panjang dan kembali tersenyum.
“Maaf, Sayang. Aku cuma stres karena pekerjaan.”
Dia mencoba menggenggam tanganku.
“Setelah menikah nanti, semua milikku juga milikmu. Kita harus saling percaya.”
Aku menarik tanganku perlahan.
“Kalau begitu, kamu juga harus jujur kepadaku.”
“Tentu.”
Aku menatap matanya.
“Bagaimana rapatmu di Surabaya?”
Dion menjawab tanpa ragu.
“Lancar. Cuma melelahkan.”
“Cuacanya bagaimana?”
“Panas sekali. Aku hampir tidak sempat keluar hotel.”
Aku mengangguk pelan.
“Lalu bagaimana Pantai Pandawa?”
Wajah Dion langsung pucat.
“Apa?”
Aku mengambil ponsel dan memperlihatkan foto dirinya sedang melukis wajah Maya.
Untuk beberapa detik, tidak ada suara.
Dion menatap layar seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang mustahil.
“Bulan, aku bisa jelaskan.”
“Silakan.”
“Itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku tertawa kecil.
“Kalau begitu, jelaskan kenapa kamu berada di Bali ketika mengatakan sedang rapat di Surabaya.”
Dion mengusap wajahnya.
“Maya sedang mengalami masalah pribadi. Dia memintaku datang karena tidak punya siapa-siapa.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Masalah pribadi sampai kamu harus membuat cangkir pasangan?”
Dion membeku.
Aku memperlihatkan video berikutnya.
Lalu video lainnya.
Bromo.
Bandung.
Apartemen.
Kamar hotel.
Setiap kali video berganti, wajah Dion semakin kehilangan warna.
Akhirnya dia menjatuhkan tubuh ke sofa.
“Aku salah, Bulan.”
Aku menunggu.
“Hubungan itu cuma pelarian. Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu.”
Kalimat tersebut justru membuatku semakin muak.
“Jadi kamu ingin menikah denganku sambil tetap mempertahankan Maya?”
“Bukan begitu.”
“Sudah berapa lama?”
Dion menunduk.
“Satu tahun lebih.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Dia mengangkat kepala dengan mata memerah.
“Baik? Maksudmu kamu memaafkanku?”
“Tidak. Maksudku aku sudah mendapatkan jawaban yang kubutuhkan.”
Aku mengambil cincin pertunangan dari jariku dan meletakkannya di meja.
“Pernikahan kita batal.”
Dion langsung berdiri.
“Bulan, jangan bercanda!”
“Aku tidak bercanda.”
“Kamu mau mempermalukan keluarga kita? Undangan sudah disebar!”
“Yang mempermalukan keluarga kita adalah perbuatanmu, bukan keputusanku.”
Dion mendekat dengan wajah panik.
“Aku akan meninggalkan Maya. Aku janji.”
Aku menggeleng.
“Seharusnya kamu sudah meninggalkannya sebelum memutuskan untuk mengkhianatiku.”
Ketika Dion menyadari aku tidak akan berubah pikiran, sikapnya mendadak berbeda.
“Kamu pikir membatalkan pernikahan semudah itu? Bagaimana dengan uang yang sudah keluar?”
“Aku akan menyelesaikan kewajibanku sesuai kesepakatan dengan vendor.”
“Dan perusahaan kita?”
Aku mengernyit.
“Perusahaan kita?”
Dion terdiam.
Aku mengambil map dokumen dari meja.
“Atau maksudmu perusahaanmu yang ingin kamu selamatkan menggunakan rukoku?”
Wajahnya seketika berubah.
“Siapa yang memberitahumu?”
“Jadi benar?”
Dion tidak menjawab.
Aku menghela napas panjang.
“Keluar dari apartemenku, Dion.”
Dia masih berusaha membujuk, tetapi aku sudah meminta petugas keamanan gedung berjaga di depan pintu.
Akhirnya Dion pergi.
Aku mengira semuanya sudah selesai.
Ternyata belum.
Keesokan harinya, Maya datang ke kantorku.
Dia menangis sambil memohon agar aku mendengarkan penjelasannya.
“Bulan, aku benar-benar menyesal.”
Aku menatap sahabat yang selama dua puluh tahun kuanggap seperti saudara sendiri.
“Kenapa kamu melakukannya, Maya?”
Maya menunduk.
“Aku iri.”
Jawaban itu membuatku terdiam.
“Sejak kecil, kita selalu dibandingkan. Nilaimu lebih bagus. Kamu punya pekerjaan yang stabil. Keluargamu bangga padamu. Bahkan laki-laki yang kusukai ternyata memilihmu.”
Aku mengerutkan kening.
“Kamu menyukai Dion sejak kapan?”
“Sebelum kalian bertunangan.”
Aku merasa ada sesuatu yang runtuh di dalam dadaku.
Maya menangis semakin keras.
“Awalnya aku cuma ingin membuktikan bahwa dia juga bisa mencintaiku. Tapi semuanya jadi terlalu jauh.”
Aku menatapnya lama.
“Kamu bisa saja mengatakan perasaanmu kepadaku sejak awal.”
“Aku takut kehilangan persahabatan kita.”
Aku tersenyum sedih.
“Dan sekarang kamu kehilangan semuanya.”
Maya menghapus air matanya.
Kemudian dia mengeluarkan ponsel.
“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Dia memperlihatkan percakapannya dengan Dion.
Dalam salah satu pesan, Dion menulis bahwa dia hanya perlu menunggu sampai pernikahan berlangsung dan urusan pinjaman selesai.
Setelah itu, dia akan mencari cara untuk mengakhiri pernikahan kami.
Aku membaca pesan tersebut berulang kali.
Maya berbisik, “Dia bilang akan menikah denganku setelah semuanya beres.”
Dadaku terasa sesak.
Bukan karena aku masih mengharapkan Dion.
Melainkan karena akhirnya aku mengetahui betapa jauhnya pria itu merencanakan masa depan tanpa melibatkan perasaanku sedikit pun.
“Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?”
Maya menangis.
“Karena kemarin dia mengatakan tidak akan pernah menikah denganku. Dia bilang aku cuma perempuan yang mudah dibohongi.”
Aku menatapnya tanpa rasa kemenangan.
Ternyata kami berdua telah dibohongi oleh pria yang sama.
Namun itu tidak menghapus pilihan Maya untuk mengkhianatiku.
“Aku berterima kasih karena kamu menunjukkan pesan ini,” kataku pelan. “Tapi itu tidak berarti kita bisa kembali menjadi sahabat.”
Maya mengangguk sambil menangis.
Sebelum pergi, dia meletakkan sebuah kotak kecil di mejaku.
“Ini sebenarnya hadiah ulang tahunmu. Aku membelinya sebelum semuanya terbongkar.”
Aku tidak membukanya.
Setelah Maya pergi, aku menyerahkan salinan percakapan yang relevan kepada Rendra untuk diperiksa bersama dokumen lainnya.
Dengan bantuan pengacara, aku memastikan tidak ada aset pribadiku yang digunakan sebagai jaminan pinjaman Dion. Aku juga menghubungi vendor pernikahan satu per satu untuk membatalkan acara dan menyelesaikan biaya yang memang menjadi tanggung jawabku.
Beberapa minggu kemudian, aku mendengar perusahaan Dion kehilangan salah satu kontrak besarnya.
Aku tidak tahu bagaimana nasib hubungan Dion dan Maya setelah itu.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin tahu.
Sebulan setelah ulang tahunku, aku kembali ke Bali.
Kali ini aku pergi bersama ayahku.
Kami mengunjungi Pantai Pandawa pada sore hari, ketika matahari mulai turun dan angin laut berembus lembut.
Ayah memperhatikanku yang berdiri lama memandangi ombak.
“Kamu masih sedih?”
Aku mengangguk.
“Masih, Yah. Tapi bukan karena ingin Dion kembali.”
“Lalu karena apa?”
“Karena aku kehilangan dua orang yang paling kupercaya dalam waktu bersamaan.”
Ayah menggenggam tanganku.
“Kehilangan orang yang tidak jujur memang menyakitkan. Tapi mempertahankan mereka bisa membuatmu kehilangan dirimu sendiri.”
Aku menyandarkan kepala di bahunya.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, aku merasa bisa bernapas dengan lega.
Sebelum pulang, aku mengajak ayah mengunjungi galeri keramik yang sama.
Kami duduk berdampingan dan membuat dua cangkir sederhana.
Cangkir buatanku agak miring. Pegangannya bahkan tidak simetris.
Ayah tertawa melihat hasilnya.
“Kalau begini, sepertinya kita tidak berbakat jadi pengrajin.”
Aku ikut tertawa.
“Yang penting kita senang, Yah.”
Ketika pengrajin bertanya nama apa yang ingin kami ukir, ayah menjawab lebih dulu.
“Bulan dan Ayah.”
Aku menoleh kepadanya.
Mataku kembali berkaca-kaca.
Dulu aku mengira membuat cangkir pasangan adalah sesuatu yang hanya bisa kulakukan bersama pria yang kucintai.
Ternyata kebahagiaan sederhana itu tidak pernah bergantung pada Dion.
Dua minggu kemudian, sebuah paket tiba di apartemenku.
Pengirimnya adalah galeri keramik di Bali.
Di dalamnya terdapat dua cangkir yang kubuat bersama ayah.
Namun ada satu benda tambahan.
Sebuah cangkir kecil berwarna putih dengan namaku terukir di permukaannya.
Aku langsung mengenalinya.
Cangkir yang dipesan Dion secara diam-diam pada hari ulang tahunku.
Di bawah cangkir itu terselip catatan dari pemilik galeri.
“Pesanan ini sudah lama selesai, tetapi belum pernah diambil. Karena nomor penerima yang diberikan tidak aktif, kami mengirimkannya ke alamat yang tercantum pada formulir pemesanan. Semoga berkenan.”
Aku memegang cangkir itu cukup lama.
Dulu, mungkin aku akan menangis bahagia menerima hadiah sekecil ini dari Dion.
Sekarang benda itu tidak lagi memiliki arti yang sama.
Aku meletakkannya di meja, lalu mengambil dua cangkir buatanku dan ayah.
Keesokan paginya, aku menyeduh teh hangat menggunakan cangkir buatanku sendiri.
Pegangannya sedikit miring, tetapi terasa nyaman digenggam.
Aku tersenyum.
Ponselku tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk.
“Bulan, ini Dion. Aku tahu aku sudah menghancurkan semuanya. Kalau waktu bisa diputar kembali, aku akan memilihmu.”
Aku membaca pesan itu sekali.
Kemudian aku mengetik balasan terakhir.
“Dion, kamu sudah memilih. Berkali-kali. Hanya saja, dulu aku tidak mengetahuinya.”
Setelah mengirim pesan tersebut, aku memblokir nomornya.
Aku meletakkan ponsel dan kembali menikmati teh hangatku.
Di luar jendela, matahari pagi menyinari gedung-gedung Jakarta.
Hidupku tidak berjalan seperti yang pernah kurencanakan.
Tidak ada pesta pernikahan.
Tidak ada bulan madu.
Tidak ada rumah impian bersama Dion.
Namun aku masih memiliki pekerjaan yang kucintai, ayah yang selalu mendukungku, dan kesempatan untuk memulai kehidupan baru.
Aku teringat hari ulang tahunku di Bali.
Hari ketika aku membeli bunga untuk diriku sendiri karena pria yang kucintai sedang merayakan ulang tahun perempuan lain.
Dulu aku menganggapnya sebagai hari paling menyedihkan dalam hidupku.
Sekarang aku melihatnya secara berbeda.
Hari itu bukanlah hari ketika aku kehilangan calon suami dan sahabat.
Hari itu adalah hari ketika aku akhirnya mengetahui kebenaran sebelum terlambat.
Dan hadiah ulang tahun terbaik yang pernah kuterima ternyata bukan kalung emas, lukisan wajah, ataupun cangkir pasangan.
Melainkan kesempatan untuk menyelamatkan masa depanku sendiri.
