“Kalau kamu membatalkan pernikahan ini, ayahmu akan kehilangan dua puluh miliar rupiah. Pikirkan baik-baik, Vania.”
Ancaman itu dibisikkan Rendy tepat di depan meja akad, hanya beberapa menit sebelum penghulu memulai prosesi pernikahan kami.
Aku menatap laki-laki yang selama empat tahun terakhir kupanggil sayang. Jas hitamnya masih rapi, senyumnya masih terlihat meyakinkan, tetapi sorot matanya sudah berubah.
Dia bukan lagi pria yang kukenal.

Atau mungkin sejak awal aku memang tidak pernah benar-benar mengenalnya.
“Jadi sekarang kamu mengancamku?” tanyaku pelan.
Rendy mendekatkan wajahnya.
“Aku cuma mengingatkan. Jangan membuat keputusan bodoh karena cemburu.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Cemburu?
Tiga puluh menit sebelumnya, aku menemukan alat tes kehamilan bergaris dua di kamar 1808 hotel mewah tempat resepsi kami berlangsung. Di kamar yang sama, ada lipstik milik Siska, sahabatku sejak kuliah, serta gantungan kunci berbentuk rumah kecil dengan ukiran nama Rendy dan Siska.
Yang paling mengejutkan, petugas hotel mengatakan Siska memperkenalkan dirinya sebagai istri Rendy.
Aku sempat mengira mereka hanya berselingkuh.
Ternyata kenyataannya jauh lebih buruk.
Sebuah foto yang dikirimkan nomor tak dikenal menunjukkan Rendy dan Siska sedang melangsungkan akad nikah sederhana di sebuah vila kawasan Puncak.
Tanggalnya 12 Februari tahun lalu.
Pada tanggal itu, Rendy mengatakan sedang mengikuti perjalanan bisnis ke Bandung. Siska mengaku menemani ibunya berobat ke luar kota.
Aku masih ingat bagaimana keduanya mengirimkan pesan kepadaku pada malam yang sama.
Rendy menulis bahwa dia merindukanku.
Siska mengingatkanku agar tidak lupa makan malam.
Sekarang, mengingat pesan-pesan itu membuat perutku terasa mual.
“Vania, dengarkan aku.”
Suara Rendy membuyarkan lamunanku.
“Kita bisa membicarakan semuanya setelah acara selesai.”
Aku menggeleng.
“Tidak. Kita bicarakan sekarang.”
Wajahnya menegang.
Di belakang kami, para tamu mulai memperhatikan. Ayah dan ibuku duduk di barisan depan, sementara Siska berdiri tidak jauh dari pelaminan dengan gaun pengiring pengantin berwarna krem.
Aku menoleh kepadanya.
“Siska, kemarilah.”
Dia tampak terkejut.
“Ada apa, Van?”
“Aku ingin menanyakan sesuatu di depan Rendy.”
Siska berjalan mendekat dengan langkah ragu.
Aku mengeluarkan gantungan kunci kecil dari tas pengantinku.
Benda itu kutemukan di kamar 1808 dan kubawa setelah memotretnya.
Begitu melihatnya, wajah Siska langsung pucat.
“Ini milikmu?” tanyaku.
Dia tidak menjawab.
“Di belakangnya ada nama kalian berdua dan tanggal pernikahan. Aku cuma ingin tahu kenapa sahabatku punya gantungan kunci pernikahan dengan calon suamiku.”
Rendy segera menyela.
“Itu cuma suvenir!”
Aku menatapnya.
“Suvenir dari acara apa?”
“Acara teman.”
“Teman yang kebetulan bernama Rendy dan Siska?”
Rendy terdiam.
Siska mulai menangis.
Aku merasa dadaku seperti diremas.
Sebagian kecil diriku masih berharap dia akan mengatakan bahwa semua ini salah paham. Bahwa ada penjelasan masuk akal yang bisa mengembalikan kehidupan kami seperti semula.
Namun, harapan itu hancur ketika Siska berbisik.
“Maafkan aku, Van.”
Dua kata itu lebih menyakitkan daripada semua bukti yang kutemukan.
Aku mundur selangkah.
“Sejak kapan?”
Siska menunduk.
“Sudah hampir dua tahun kami bersama.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Dua tahun?”
Dia mengangguk sambil menangis.
“Awalnya aku tidak bermaksud merebut Rendy. Kami sering bertemu karena aku membantu mengurus acara perusahaan. Lama-lama semuanya berubah.”
Aku tertawa getir.
“Dan kamu tetap datang ke rumahku? Tetap mendengarkan ceritaku tentang Rendy? Bahkan membantuku memilih gaun pengantin?”
“Aku takut kehilangan kamu.”
“Kamu sudah kehilangan aku sejak pertama kali memilih berbohong.”
Rendy tiba-tiba menarik lengan Siska.
“Sudah! Jangan bicara lagi!”
Gerakannya begitu kasar hingga Siska hampir terjatuh.
Aku segera menarik tangannya menjauh.
“Jangan sentuh dia seperti itu!”
Rendy menatapku dengan marah.
“Sekarang kamu membelanya?”
“Aku tidak membela pengkhianatannya. Tapi kamu tidak berhak memperlakukannya seperti barang milikmu.”
Keributan kami mulai menarik perhatian seluruh aula.
Ayah bangkit dari kursinya.
“Vania, ada apa sebenarnya?”
Aku menoleh.
Melihat wajah Ayah yang penuh kekhawatiran, air mataku akhirnya jatuh.
“Ayah, Rendy sudah menikah dengan Siska.”
Suasana mendadak sunyi.
Ibuku menutup mulutnya.
Ayah menatap Rendy dengan wajah mengeras.
“Apa benar?”
Rendy segera menggeleng.
“Pak Surya, ini kesalahpahaman.”
Aku mengangkat ponsel dan menunjukkan foto akad nikah mereka.
Ayah mengambil ponsel itu.
Beberapa detik kemudian, tangannya gemetar.
“Kamu berani mempermainkan putri saya?”
Rendy berusaha mendekat.
“Pak, izinkan saya menjelaskan.”
“Jangan mendekat!”
Suara Ayah menggema di seluruh aula.
Aku segera memegang lengannya.
“Ayah, jangan sampai terpancing.”
Namun, Rendy justru tersenyum sinis.
“Pak Surya, saya menghormati Bapak. Tapi jangan lupa, perusahaan Bapak sudah menandatangani perjanjian kerja sama dengan perusahaan saya.”
Ayah mengerutkan kening.
“Perjanjian apa?”
Rendy tampak terkejut.
Aku pun membeku.
Selama ini, Rendy mengatakan investasi dua puluh miliar rupiah masih dalam tahap pembicaraan.
Belum ada kesepakatan resmi.
“Rendy, apa maksudmu?” tanyaku.
Dia menatapku dengan senyum tipis.
“Sepertinya kamu belum membaca semua dokumen yang kamu tandatangani bulan lalu.”
Darahku terasa dingin.
Sebulan sebelumnya, Rendy memang pernah membawakan beberapa berkas ke rumah. Katanya, dokumen itu berkaitan dengan rencana pembelian rumah setelah menikah.
Aku ingat menandatangani satu formulir persetujuan penggunaan data pribadi, tetapi menolak menandatangani dokumen lain karena ingin memeriksanya lebih dahulu.
“Dokumen yang mana?” tanyaku.
Rendy tidak menjawab.
Dia hanya mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sebuah berkas digital.
Di halaman terakhir terdapat tanda tangan yang menyerupai tanda tanganku.
Namun, aku yakin tidak pernah menandatangani dokumen tersebut.
Aku memperbesar gambar.
Ada sesuatu yang aneh.
Bentuk huruf V pada tanda tangan itu terlalu lurus. Sejak kecelakaan kecil saat kuliah, aku selalu menulis huruf pertama dengan lengkungan tertentu karena jari telunjuk kananku pernah cedera.
Tanda tangan dalam dokumen itu bukan milikku.
“Ini palsu,” kataku.
Rendy tertawa pendek.
“Buktikan saja.”
Saat itulah aku menyadari bahwa pengkhianatan ini jauh lebih besar daripada perselingkuhan.
Aku meminta seluruh acara dihentikan sementara.
Kemudian aku membawa Ayah, Ibu, dan Pak Adrian, pengacara keluarga kami, ke ruang pertemuan hotel.
Rendy bersikeras ikut masuk.
Siska hanya duduk di sudut ruangan sambil menangis.
Pak Adrian memeriksa dokumen yang ditunjukkan Rendy.
Wajahnya semakin serius.
“Pak Surya, dokumen ini menyebutkan bahwa perusahaan keluarga Bapak memberikan jaminan atas fasilitas pembiayaan perusahaan Rendy.”
Ayah memukul meja.
“Saya tidak pernah menyetujui itu!”
Pak Adrian mengangguk.
“Dokumen ini perlu diperiksa keasliannya. Tanda tangan elektronik, riwayat pengiriman, dan proses persetujuannya harus diverifikasi.”
Rendy menyilangkan tangan.
“Silakan. Semuanya sah.”
Aku memperhatikan wajahnya.
Dia terlalu tenang.
Seolah-olah sudah mempersiapkan seluruh jawaban.
Tiba-tiba ponsel Siska berdering.
Dia melihat layar, lalu buru-buru mematikannya.
Aku sempat membaca nama yang muncul.
Pak Harun.
Aku mengenal nama itu.
Harun adalah mantan direktur keuangan perusahaan Rendy yang mengundurkan diri tiga bulan lalu.
“Siska, kenapa Pak Harun meneleponmu?”
Dia langsung menggeleng.
“Tidak penting.”
Namun, ponselnya kembali berdering.
Rendy tiba-tiba membentak.
“Jangan diangkat!”
Semua orang menoleh kepadanya.
Aku semakin curiga.
“Siska, angkat teleponnya.”
Dengan tangan gemetar, Siska menjawab.
Suara laki-laki terdengar dari pengeras telepon.
“Siska, saya sudah menunggu di lobi. Kalau kamu masih ingin menyelamatkan dirimu dan anakmu, sekarang waktunya mengatakan yang sebenarnya.”
Rendy langsung merebut ponsel itu.
“Harun! Jangan ikut campur!”
Namun, suara Harun tetap terdengar.
“Pak Rendy, saya sudah menyerahkan salinan laporan keuangan kepada pengacara Pak Surya. Sebaiknya Bapak berhenti mengancam siapa pun.”
Rendy membanting ponsel ke meja.
Untuk pertama kalinya, wajahnya benar-benar menunjukkan ketakutan.
Pak Adrian segera menghubungi Harun dan memintanya naik ke ruang pertemuan.
Sepuluh menit kemudian, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun masuk membawa tas dokumen.
Dia tampak lelah, tetapi berbicara dengan tenang.
“Saya meminta maaf karena baru berani datang sekarang.”
Harun membuka laptopnya.
Di layar muncul laporan transaksi perusahaan Rendy selama delapan belas bulan terakhir.
Ada pembayaran kepada beberapa perusahaan pemasok yang ternyata tidak pernah memberikan barang atau jasa sebagaimana tercantum dalam faktur.
Salah satu perusahaan penerima pembayaran terdaftar atas nama kerabat Siska.
Siska menutup wajahnya.
Aku menatapnya.
“Kamu tahu soal ini?”
Dia mengangguk perlahan.
“Rendy memintaku meminjam nama sepupuku untuk mendirikan perusahaan itu. Katanya hanya untuk mempermudah administrasi.”
Harun melanjutkan penjelasannya.
Menurut catatan yang dimilikinya, perusahaan Rendy sedang mengalami kesulitan keuangan serius. Sejumlah kewajiban pembayaran sudah jatuh tempo, sementara pendapatan yang dilaporkan kepada calon investor diduga tidak sesuai dengan transaksi sebenarnya.
“Pak Rendy membutuhkan dana baru dalam waktu dekat,” kata Harun. “Dan investasi keluarga Pak Surya adalah harapan terbesarnya.”
Ayah menatap Rendy dengan jijik.
“Jadi kamu mendekati putri saya untuk uang?”
Rendy membanting telapak tangannya ke meja.
“Tidak sesederhana itu!”
Aku menatapnya.
“Kalau begitu, jelaskan.”
Dia mengusap wajahnya.
“Aku memang mencintaimu, Vania. Tapi perusahaanku sedang kesulitan. Aku cuma butuh kesempatan.”
“Kesempatan untuk memalsukan tanda tanganku?”
“Aku tidak memalsukannya!”
Harun mengeluarkan satu dokumen lagi.
“Kalau begitu, Bapak bisa menjelaskan kenapa berkas persetujuan itu dibuat dari akun komputer staf administrasi yang menerima instruksi langsung dari Bapak?”
Rendy terdiam.
Pak Adrian segera mengambil salinan dokumen tersebut.
Dia menjelaskan bahwa seluruh bukti harus diperiksa secara resmi sebelum kesimpulan hukum dibuat.
Aku tidak lagi ingin mendengar alasan Rendy.
Namun, ketika hendak berdiri, Siska tiba-tiba memanggilku.
“Vania, tunggu.”
Aku menoleh.
“Ada satu hal lagi yang belum kamu tahu.”
Rendy langsung berdiri.
“Siska, diam!”
Namun, kali ini Siska tidak menurut.
Dia mengeluarkan amplop cokelat dari tasnya.
“Aku sudah menyimpannya selama enam bulan.”
Di dalam amplop itu terdapat salinan perjanjian pribadi antara Rendy dan seorang pria bernama Bima.
Bima adalah adik kandung Rendy.
Isi perjanjian tersebut membuatku hampir tidak percaya.
Rendy berjanji memberikan sebagian saham perusahaannya kepada Bima apabila berhasil mendapatkan investasi dari keluarga Ayah.
Sebagai imbalannya, Bima harus membantu mengatur sejumlah dokumen perusahaan dan menyembunyikan hubungan Rendy dengan Siska sampai investasi selesai.
Aku menatap Rendy.
“Jadi keluargamu juga tahu?”
Dia tidak menjawab.
Siska menangis semakin keras.
“Bukan cuma Bima, Van. Ibunya Rendy juga tahu kami sudah menikah.”
Aku teringat calon ibu mertuaku.
Perempuan yang selalu memanggilku anak sendiri.
Perempuan yang minggu lalu memelukku sambil berkata bahwa dia tidak sabar memiliki cucu dariku.
Ternyata dia sudah tahu Siska sedang mengandung anak Rendy.
Dadaku terasa begitu sesak hingga aku sulit bernapas.
Aku keluar dari ruang pertemuan dan berjalan menuju balkon hotel.
Jakarta terbentang di hadapanku.
Gedung-gedung tinggi berdiri megah, kendaraan bergerak seperti titik-titik kecil di jalan raya.
Aku menangis tanpa suara.
Tidak lama kemudian, Ibu menyusul.
Dia tidak langsung bertanya.
Hanya berdiri di sampingku, lalu menggenggam tanganku.
“Ibu malu sekali,” bisikku.
“Kenapa harus malu?”
“Semua orang datang untuk melihat pernikahanku. Sekarang mereka tahu aku dibohongi calon suami dan sahabat sendiri.”
Ibu memelukku.
“Yang memalukan bukan perempuan yang dikhianati, Nak. Yang memalukan adalah orang yang mengkhianati kepercayaan.”
Aku menangis semakin keras.
“Empat tahun, Bu. Aku memberikan empat tahun hidupku kepada orang yang salah.”
Ibu mengusap rambutku.
“Empat tahun memang lama. Tapi jauh lebih baik mengetahui kebenaran sekarang daripada menghabiskan empat puluh tahun bersama kebohongan.”
Kata-kata itu membuatku perlahan tenang.
Aku menghapus air mata.
Kemudian kembali ke aula.
Para tamu masih menunggu. Sebagian sudah mengetahui bahwa ada masalah besar, tetapi tidak seorang pun memahami keseluruhan kejadian.
Aku meminta mikrofon kepada pembawa acara.
Rendy berdiri di dekat pelaminan dengan wajah tegang.
Siska duduk bersama Harun dan Pak Adrian.
Aku menatap seluruh tamu.
“Bapak dan Ibu sekalian, terima kasih sudah datang untuk merayakan hari yang seharusnya menjadi pernikahan saya.”
Suaraku sempat bergetar.
“Tapi hari ini saya mengetahui bahwa calon suami saya telah melangsungkan pernikahan dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan saya.”
Bisik-bisik memenuhi ruangan.
Aku melanjutkan.
“Karena itu, akad nikah hari ini tidak akan dilaksanakan.”
Ibuku menangis di barisan depan.
Ayah berdiri di sampingnya.
“Ada persoalan lain yang sedang ditangani pengacara keluarga. Saya tidak akan membahasnya di sini karena semua pihak berhak mendapatkan proses pemeriksaan yang adil.”
Aku menarik napas panjang.
“Saya meminta maaf atas ketidaknyamanan ini. Namun, saya tidak meminta maaf karena memilih melindungi harga diri dan masa depan saya.”
Untuk beberapa detik, ruangan sunyi.
Kemudian terdengar tepuk tangan.
Awalnya hanya dari beberapa orang.
Lalu semakin banyak.
Aku melihat Ayah berdiri dan ikut bertepuk tangan dengan mata berkaca-kaca.
Rendy berusaha menghampiriku.
“Vania, tolong. Kita masih bisa memperbaiki semuanya.”
Aku menggeleng.
“Tidak, Rendy.”
“Aku mencintaimu.”
Aku menatapnya untuk terakhir kali.
“Kalau benar kamu mencintaiku, kamu tidak akan menjadikan kepercayaanku sebagai jaminan untuk menyelamatkan bisnismu.”
Aku melepaskan cincin pertunangan dari jari manisku dan meletakkannya di atas meja.
Kemudian aku meninggalkan aula.
Enam bulan berlalu.
Hasil pemeriksaan atas sejumlah dokumen dan transaksi perusahaan Rendy menjadi bagian dari proses hukum yang masih berjalan.
Kerja sama investasi dengan perusahaan Ayah dibatalkan sebelum dana dicairkan.
Rendy kehilangan kendali atas perusahaannya setelah para pemegang saham mengambil langkah untuk menyelamatkan bisnis tersebut.
Siska melahirkan seorang bayi perempuan.
Aku mengetahui kabar itu dari Mira, sepupunya.
Rendy tidak datang ketika anaknya lahir.
Suatu sore, Siska mengirimkan pesan kepadaku.
Dia meminta bertemu.
Awalnya aku menolak.
Namun, setelah beberapa hari mempertimbangkan, aku akhirnya bersedia menemuinya di sebuah kafe kecil di kawasan Kemang.
Siska datang membawa bayinya.
Wajahnya terlihat lelah.
Dia tidak lagi mengenakan pakaian mahal atau perhiasan mencolok seperti dulu.
“Terima kasih sudah mau bertemu,” katanya.
Aku mengangguk.
Dia memandang putrinya yang tertidur.
“Namanya Alya.”
Aku tersenyum tipis.
“Nama yang bagus.”
Siska mulai menangis.
“Aku tahu aku tidak pantas meminta maaf.”
Aku diam.
“Aku kehilangan sahabat terbaikku karena laki-laki yang bahkan tidak mau bertanggung jawab kepada anaknya sendiri.”
Aku menatapnya.
“Kamu membuat pilihanmu sendiri, Sis.”
Dia mengangguk.
“Aku tahu.”
“Rendy memang membohongimu. Tapi kamu juga membohongiku. Jangan sampai kamu melupakan bagian itu.”
Siska menangis tanpa membela diri.
Untuk pertama kalinya, aku merasa dia benar-benar memahami akibat perbuatannya.
Sebelum berpisah, dia menyerahkan sebuah kotak kecil.
Di dalamnya terdapat gantungan kunci berbentuk rumah yang pernah kutemukan di kamar hotel.
“Aku ingin kamu membuangnya,” katanya.
Aku memandang benda itu.
Dulu, gantungan kunci tersebut menjadi bukti bahwa dua orang terdekatku telah mengkhianatiku.
Sekarang benda itu tidak lagi membuatku gemetar.
Aku mengembalikannya kepada Siska.
“Tidak perlu. Itu bagian dari masa lalumu, bukan milikku.”
Dia menatapku dengan mata basah.
“Kamu sudah memaafkanku?”
Aku berpikir sejenak.
“Aku sedang belajar memaafkan. Tapi itu tidak berarti kita bisa kembali seperti dulu.”
Siska mengangguk.
Kami berpisah tanpa pelukan.
Dan anehnya, aku merasa jauh lebih ringan.
Setahun setelah pernikahan yang batal itu, aku membuka studio desain interior baru di Jakarta Selatan.
Aku menamainya Ruang Pulang.
Bukan karena ingin mengingat Rendy, melainkan karena akhirnya aku memahami bahwa rumah bukan selalu tentang seseorang yang menunggu kita.
Kadang rumah adalah tempat ketika kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain agar dicintai.
Pada hari pembukaan studio, Ayah datang membawa sebuket bunga.
Di antara bunga-bunga itu terselip sebuah kartu kecil.
Tulisan tangannya membuatku tersenyum.
Ayah menulis bahwa selama ini dia selalu ingin mengantarku menuju pelaminan.
Namun, sekarang dia jauh lebih bangga melihatku berdiri di depan pintu usaha yang kubangun dengan tanganku sendiri.
Aku memeluk Ayah erat.
Sore itu, ketika seluruh tamu sudah pulang, aku berdiri sendirian di depan jendela studio.
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Vania, aku tahu sekarang kamu sudah sukses. Aku cuma ingin meminta satu kesempatan terakhir.”
Tidak perlu melihat nama pengirimnya untuk mengetahui siapa yang menulis pesan itu.
Rendy.
Aku membaca pesan berikutnya.
“Aku menyesal memilih Siska. Seharusnya sejak awal aku menikahimu.”
Aku menatap layar beberapa saat.
Dulu, kalimat seperti itu mungkin akan membuatku menangis sepanjang malam.
Sekarang aku hanya merasa iba.
Bukan kepada diriku.
Melainkan kepada laki-laki yang masih menganggap cinta sebagai persoalan memilih perempuan mana yang paling menguntungkan baginya.
Aku mengetik satu kalimat.
“Masalahmu bukan karena memilih perempuan yang salah, Rendy. Masalahmu adalah kamu tidak pernah belajar mencintai siapa pun selain dirimu sendiri.”
Setelah mengirimkannya, aku memblokir nomor itu.
Aku meletakkan ponsel di meja dan memandang langit Jakarta yang mulai berubah jingga.
Di kaca jendela, terlihat pantulan seorang perempuan berusia tiga puluh tahun dengan wajah tenang.
Perempuan yang pernah berdiri di depan pelaminan dengan gaun putih dan hati hancur.
Perempuan yang pernah mengira hidupnya berakhir karena sebuah pengkhianatan.
Aku tersenyum kepada pantulanku sendiri.
Tiba-tiba aku teringat perkataan Ibu pada hari pernikahanku dibatalkan.
Lebih baik kehilangan empat tahun daripada menghabiskan empat puluh tahun bersama kebohongan.
Saat itu aku hanya menangis mendengarnya.
Sekarang aku benar-benar mengerti.
Hari ketika aku menemukan alat tes kehamilan di kamar 1808 bukanlah hari ketika aku kehilangan masa depanku.
Itulah hari ketika aku mendapatkan kembali hak untuk menentukan masa depanku sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi menunggu seseorang datang membawa janji kebahagiaan.
Karena ternyata, kebahagiaan yang paling sulit direbut orang lain adalah kebahagiaan yang kita bangun setelah berani memilih diri sendiri.
