
“Menurut laporan resmi perusahaan ini, kakak Anda dinyatakan meninggal dunia tiga hari setelah menolak menandatangani dokumen tersebut.”
Aku merasa lantai ruang makan berguncang di bawah kakiku.
“Tidak mungkin,” bisikku. “Kalau Kak Sinta meninggal, kenapa keluarga kami tidak pernah diberi tahu?”
Adrian Mahesa menatapku dengan iba.
“Itulah yang sedang kami selidiki, Bu Dewi. Laporan kematiannya ada, tetapi tidak ditemukan surat keterangan dari rumah sakit ataupun catatan pemakaman yang sah.”
Aku menoleh kepada Surya.
Pria itu sudah berdiri di dekat pintu, wajahnya pucat, keringat membasahi pelipis.
“Pak Surya,” panggilku dengan suara bergetar. “Di mana kakak saya?”
“Saya tidak tahu! Dia berhenti bekerja tanpa pemberitahuan!”
“Tapi perusahaan Bapak melaporkan dia meninggal!”
“Itu kesalahan administrasi!”
Adrian mengangkat tangan, meminta kami tenang.
“Pak Surya, pintu ruangan ditutup sementara agar dokumen dan barang bukti tidak dipindahkan. Petugas keamanan hotel sudah menghubungi kepolisian. Siapa pun yang membutuhkan pertolongan tetap boleh keluar.”
Surya tertawa sinis.
“Bapak tidak punya wewenang menahan tamu saya!”
“Benar,” jawab Adrian tenang. “Saya tidak menahan siapa pun. Tetapi saya sudah menyerahkan bukti awal dugaan pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan dana kepada penyidik.”
Surya langsung terdiam.
Aku mencengkeram ujung celemekku.
“Pak Adrian, apa hubungannya makanan yang saya masak dengan kakak saya?”
Adrian memandang piring ikan kukus di meja terdekat.
“Saya mencicipi hidangan Anda karena menu yang disajikan berbeda dari daftar resmi. Setelah bertanya kepada pelayan, saya mengetahui bahwa Anda menolak menggunakan daging berkode K-17.”
Dia mengeluarkan sebuah map.
“Enam bulan lalu, kode yang sama tercatat pada bahan makanan yang seharusnya dimusnahkan karena riwayat penyimpanannya tidak memenuhi standar keamanan.”
Aku teringat cairan keruh di dalam kotak pendingin.
“Jadi daging tadi adalah barang lama?”
“Kami belum bisa memastikan sebelum pemeriksaan laboratorium. Tetapi nomor batch dan dokumen pengirimannya menunjukkan ketidaksesuaian serius.”
Adrian berhenti sebentar.
“Orang pertama yang melaporkan ketidaksesuaian itu adalah kakak Anda.”
Dadaku terasa semakin sesak.
Selama enam bulan, aku mengira Sinta pergi karena masalah pribadi. Pesan terakhirnya hanya mengatakan bahwa dia harus menyelesaikan sesuatu yang penting.
Aku pernah marah karena dia meninggalkan kami tanpa penjelasan.
Sekarang aku mulai memahami bahwa mungkin dia tidak pernah berniat pergi.
Tiba-tiba Surya menunjukku.
“Perempuan ini juga terlibat! Ada uang Rp180 juta masuk ke rekening atas namanya!”
Aku tersentak.
“Itu bukan rekening saya!”
“Buktinya ada!”
Adrian meminta nomor rekening tersebut diperlihatkan.
Setelah mencatatnya, dia berkata, “Rekening ini juga muncul dalam transaksi perusahaan enam bulan lalu. Identitas pemilik dan aliran dananya sedang diperiksa.”
Surya membeku.
Aku memberanikan diri bertanya, “Kenapa Bapak begitu mudah menggunakan nama saya?”
Surya tidak menjawab.
Saat itulah Riska menghampiriku dan menyelipkan ponselnya ke tanganku.
Di layar terdapat pesan dari nomor tidak dikenal.
“Jangan percaya laporan kematian itu. Periksa siapa yang menandatangani dokumen terakhir.”
Aku menunjukkan pesan tersebut kepada Adrian.
Dia langsung meminta Riska menyimpan percakapan aslinya sebagai bukti.
“Siapa yang mengirim ini?” tanyanya.
Riska menggeleng.
“Nomor itu juga mengirim pesan ke Mbak Dewi sore tadi. Saya tidak tahu siapa pemiliknya.”
Belum sempat kami berbicara lebih jauh, pintu ruang makan terbuka.
Dua polisi masuk bersama petugas keamanan hotel.
Surya segera mendekati mereka.
“Pak, saya korban fitnah! Koki saya sengaja mengganti menu dan mencuri dokumen perusahaan!”
Aku hendak membantah, tetapi Adrian lebih dahulu menyerahkan salinan laporan pemeriksaan.
Polisi meminta Surya dan beberapa staf memberikan keterangan. Sementara itu, bahan makanan di dapur diamankan untuk pemeriksaan.
Aku ikut menyerahkan foto dokumen penerimaan barang, daftar pembelian, dan pesan misterius yang kuterima.
Malam itu aku pulang hampir pukul dua belas.
Nino sudah tertidur di rumah tetangga yang biasa menjaganya ketika aku bekerja malam.
Aku duduk di samping tempat tidurnya sambil menangis tanpa suara.
Di meja kecil terdapat gambar buatannya.
Seorang perempuan memakai topi koki berdiri di samping anak laki-laki.
Di bawahnya tertulis, “Mama adalah koki paling hebat.”
Aku memeluk gambar itu erat-erat.
Untuk pertama kalinya, aku tidak tahu apakah besok masih memiliki pekerjaan.
Namun, satu hal sudah pasti.
Aku tidak akan berhenti mencari Sinta.
Keesokan paginya, Adrian menelepon.
“Bu Dewi, kami menemukan sesuatu dari arsip perusahaan.”
“Apa, Pak?”
“Laporan kematian kakak Anda ternyata dibuat berdasarkan surat keterangan internal. Nama penandatangannya bukan dokter, melainkan mantan kepala administrasi perusahaan.”
“Siapa namanya?”
“Bambang Prakoso.”
Aku langsung terdiam.
Aku mengenal nama itu.
Bambang adalah mantan suami Sinta.
Mereka bercerai empat tahun lalu karena Bambang sering mengambil uang tabungan kakakku tanpa izin.
Setelah perceraian, Sinta tidak pernah mau membicarakannya lagi.
“Pak Adrian, Bambang itu mantan suami kakak saya.”
Di ujung telepon terdengar keheningan.
“Kalau begitu, ada kemungkinan hubungan pribadi turut memengaruhi perkara ini. Tolong jangan menghubunginya sendiri.”
Namun, sebelum panggilan berakhir, ponselku menerima pesan baru.
“Kalau ingin menemukan Sinta, datang ke terminal lama Bekasi pukul empat sore. Sendirian.”
Aku langsung meneruskan pesan itu kepada Adrian.
Dia meminta polisi mendampingiku tanpa menarik perhatian.
Pukul empat kurang sepuluh menit, aku tiba di sebuah warung kopi dekat terminal.
Tanganku dingin meskipun udara sore terasa panas.
Aku duduk menghadap jalan, memperhatikan setiap orang yang lewat.
Lima menit kemudian, seorang perempuan berkerudung cokelat masuk.
Wajahnya tertutup masker.
Dia duduk di hadapanku.
“Mbak Dewi?”
Aku mengangguk.
Perempuan itu melepas maskernya.
Aku mengenalinya sebagai Maya, mantan staf administrasi perusahaan Surya yang pernah bertemu denganku saat acara keluarga Sinta.
“Maya? Kamu yang mengirim pesan?”
Dia mengangguk.
“Maaf saya tidak berani menghubungi Mbak secara langsung.”
“Di mana kakak saya?”
Maya menunduk.
“Saya tidak tahu tempatnya sekarang. Tapi saya tahu dia masih hidup setidaknya sampai tiga minggu lalu.”
Air mataku langsung mengalir.
“Kamu melihatnya?”
“Dia menghubungi saya lewat panggilan video.”
“Kenapa tidak memberitahuku?”
“Karena Sinta melarang. Dia bilang ada orang yang sedang mengawasi keluargamu.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Maya kemudian menceritakan bahwa enam bulan lalu, Sinta menemukan praktik penggantian label bahan makanan dan pemalsuan tagihan.
Ketika dia menolak menandatangani laporan pemusnahan palsu, Surya dan Bambang mengancam akan menyeretnya ke kasus penggelapan dana.
“Mereka menggunakan identitas Mbak Dewi untuk membuka rekening penampung,” jelas Maya. “Lalu mereka mengatakan kepada Sinta bahwa adiknya akan masuk penjara kalau dia melapor.”
Aku menangis semakin keras.
Jadi selama ini kakakku menghilang untuk melindungiku.
“Lalu kenapa ada laporan kematian?”
“Supaya orang berhenti mencarinya. Sinta dipaksa meninggalkan Jakarta setelah menandatangani surat pengunduran diri.”
Maya mengeluarkan sebuah kartu memori kecil.
“Sinta menitipkan ini. Katanya, kalau suatu hari kasusnya terbuka, saya harus menyerahkannya kepada orang yang bisa dipercaya.”
Aku tidak langsung menyentuh kartu itu.
“Kenapa baru sekarang?”
Maya menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Karena saya pengecut, Mbak. Saya takut kehilangan pekerjaan dan keselamatan keluarga.”
Aku menggenggam tangannya.
“Sekarang kamu sudah datang.”
Maya menangis.
Tidak lama kemudian, petugas yang mendampingi dari kejauhan menghampiri kami. Maya menyerahkan kartu memori itu secara resmi untuk diperiksa.
Tiga hari berikutnya terasa seperti tiga tahun.
Aku bolak-balik memberikan keterangan. Nino sementara tinggal bersama bibiku agar aku bisa menyelesaikan urusan pemeriksaan.
Dari kartu memori tersebut, penyidik menemukan salinan percakapan, faktur, dan rekaman rapat internal yang memperkuat dugaan bahwa Surya serta Bambang mengatur transaksi fiktif.
Nama Sinta muncul berkali-kali sebagai karyawan yang menolak menyetujui laporan palsu.
Sementara itu, hasil pemeriksaan awal menunjukkan rekening atas namaku dibuka menggunakan data identitas yang diduga disalahgunakan.
Aku mulai berani berharap.
Namun, harapan terbesarku bukan uang atau pekerjaan.
Aku hanya ingin memeluk kakakku lagi.
Pada hari kelima, Adrian datang ke rumah kontrakanku.
Wajahnya tampak lelah, tetapi ada senyum kecil di bibirnya.
“Bu Dewi, kami menemukan alamat yang berkaitan dengan komunikasi terakhir Sinta.”
“Di mana?”
“Yogyakarta.”
Aku langsung berdiri.
“Dia masih hidup?”
“Kami belum bisa memastikan kondisinya sekarang. Polisi setempat sedang membantu pengecekan.”
Aku hampir tidak tidur malam itu.
Keesokan paginya, sebuah panggilan video masuk dari nomor yang tidak kukenal.
Ketika kuangkat, layar memperlihatkan seorang perempuan kurus dengan rambut dipotong pendek.
Wajahnya pucat.
Tetapi aku mengenali matanya.
“Kak Sinta?”
Perempuan itu langsung menangis.
“Dewi…”
Ponselku hampir terlepas.
“Kak! Kakak di mana? Kenapa tidak pulang?”
Sinta menutup wajahnya.
“Maafkan Kakak.”
Aku menangis begitu keras sampai Nino berlari keluar dari kamar.
“Ma, kenapa?”
Aku menariknya mendekat.
“Nino, lihat. Ini Tante Sinta.”
Anakku menatap layar, lalu tersenyum lebar.
“Tante! Tante masih ada!”
Sinta tertawa di tengah tangis.
“Iya, Sayang. Tante masih ada.”
Dua hari kemudian, kami akhirnya bertemu di sebuah kantor kepolisian di Yogyakarta.
Aku berlari memeluknya sebelum dia sempat berdiri.
Tubuhnya jauh lebih kurus daripada terakhir kali kami bertemu.
Sinta mengaku sempat berpindah-pindah tempat tinggal karena takut ancaman Bambang. Dia bekerja menggunakan nama panggilan di sebuah warung makan kecil sambil mengumpulkan bukti dan mencari bantuan hukum.
“Aku ingin pulang, Wi,” bisiknya. “Tapi setiap kali membayangkan kamu dan Nino disakiti, aku takut.”
Aku menggeleng sambil menangis.
“Kakak tidak harus menanggung semuanya sendirian.”
Sinta memelukku semakin erat.
Beberapa bulan kemudian, proses hukum terhadap Surya dan Bambang masih berjalan. Aku tidak lagi bekerja untuk perusahaan katering tersebut.
Namun, kisah penolakanku menyajikan bahan yang tidak jelas asal-usulnya sampai kepada seorang pemilik restoran di Jakarta Selatan.
Dia menawarkan pekerjaan sebagai kepala dapur kecil dengan kontrak resmi dan gaji tetap.
Aku menerimanya.
Dengan bantuan Sinta, aku juga mulai menabung untuk membuka usaha makanan rumahan sendiri.
Suatu malam, ketika kami bertiga makan bersama Nino, kakakku tiba-tiba mengeluarkan sebuah amplop.
“Ini untukmu, Dewi.”
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan yang sudah menguning.
“Apa ini?”
“Sebelum menghilang, aku menulisnya. Aku menitipkannya kepada Maya, tetapi dia tidak pernah berani menyerahkan.”
Aku membuka surat tersebut.
Dewi, kalau suatu hari kamu membaca ini, mungkin Kakak belum bisa pulang.
Jangan pernah merasa harus menjual kejujuran demi menyelamatkan keluarga. Kakak pernah berpikir bahwa diam adalah cara terbaik melindungimu. Ternyata diam justru memberi orang jahat lebih banyak kesempatan.
Kalau kamu menghadapi pilihan sulit, pilihlah yang membuatmu tetap bisa menatap wajah Nino tanpa rasa malu.
Aku membaca kalimat terakhir berulang kali.
Sinta tersenyum.
“Kamu tahu, waktu Adrian bercerita tentang koki yang menolak memasak daging itu, aku langsung yakin orangnya kamu.”
Aku menghapus air mata.
“Kenapa?”
“Karena sejak kecil, kamu selalu lebih takut menyakiti orang lain daripada kehilangan sesuatu untuk dirimu sendiri.”
Nino yang sejak tadi mendengarkan tiba-tiba bertanya.
“Ma, berarti Mama jadi pahlawan karena tidak masak daging?”
Kami berdua tertawa.
Aku mengusap rambutnya.
“Bukan begitu, Nak. Mama cuma tidak mau memberikan makanan yang belum Mama yakin aman.”
Nino berpikir sebentar.
“Kalau begitu, nanti kalau aku besar, aku mau jadi koki seperti Mama.”
“Kenapa?”
“Supaya orang-orang bisa makan enak dan pulang dengan sehat.”
Aku memeluknya erat.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa rumah kontrakan kecil kami benar-benar hangat.
Aku pernah hampir menerima Rp18 juta untuk menutup mata terhadap sebuah kebohongan.
Aku juga pernah berpikir bahwa kejujuran adalah kemewahan yang tidak mampu dibeli orang miskin.
Namun, dari semua yang terjadi, aku belajar bahwa uang bisa membantu kita bertahan hidup, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk membahayakan hidup orang lain.
Dan yang paling tidak pernah kusangka, satu keputusan sederhana untuk tidak menyajikan sepiring daging justru membawaku menemukan kembali kakak yang selama enam bulan kukira telah hilang selamanya.
Sejak hari itu, setiap kali mengenakan seragam koki, aku selalu mengingat satu kalimat dari surat Sinta.
Makanan yang baik bukan hanya tentang rasa dan harga, tetapi juga tentang hati nurani orang yang menyajikannya.
