SAAT MEMERIKSA PENYEBAB HAIDKU YANG TERLAMBAT, SUAMIKU YANG SEORANG.

Malam itu, aku menemukan namaku telah dihapus dari dokumen pengalihan rumah peninggalan ayahku. Yang tercantum sebagai calon pemilik baru justru Natasya Kirana, perempuan yang selama ini disebut suamiku sebagai rekan bisnis.

Tanganku gemetar ketika membaca halaman terakhir.

Di sana terdapat tanda tanganku.

Padahal aku tidak pernah menyetujui pengalihan rumah tersebut.

Aku duduk di lantai kamar, memandangi dokumen itu dengan dada sesak. Rumah dua lantai di kawasan Candi, Semarang, merupakan satu-satunya peninggalan Ayah. Sebelum meninggal, beliau pernah menggenggam tanganku dan berkata bahwa rumah itu harus menjadi tempatku pulang ketika hidup terasa terlalu berat.

Sekarang, suamiku sendiri berusaha mengambilnya.

Aku segera memotret seluruh dokumen dan mengirimkannya kepada Maya.

Beberapa menit kemudian, teleponku berdering.

“Laras, kamu yakin tidak pernah menandatangani surat ini?”

“Yakin, May.”

“Kalau begitu, besok kita cari pengacara. Jangan langsung menuduh Arga sebelum dokumennya diperiksa.”

Aku mengangguk meskipun Maya tidak bisa melihatku.

Tepat saat telepon berakhir, terdengar suara mobil memasuki garasi.

Arga pulang.

Aku buru-buru mengembalikan dokumen ke dalam laci.

Ketika keluar kamar, dia sedang meletakkan tas kerjanya di sofa.

“Kamu belum tidur?” tanyanya.

“Belum.”

“Bagaimana keadaanmu? Masih sakit?”

Aku menatap wajahnya.

Lelaki itu tampak begitu tenang. Sulit dipercaya bahwa orang yang pernah berjanji melindungiku mungkin sedang merencanakan sesuatu di belakangku.

“Mas, rumah peninggalan Ayah masih atas namaku, kan?”

Gerakan tangannya berhenti.

“Kenapa tiba-tiba bertanya?”

“Aku hanya ingin memastikan.”

Arga meletakkan gelas.

“Rumah itu sedang kuurus untuk keperluan investasi. Kamu tidak perlu khawatir.”

“Investasi apa?”

“Proyek klinik bersama Natasya.”

Aku merasakan tenggorokanku mengering.

“Kenapa rumahku harus dilibatkan?”

“Karena kita suami istri, Laras. Semua yang kita miliki seharusnya digunakan untuk masa depan bersama.”

Aku menatapnya tajam.

“Rumah itu warisan ayahku.”

Arga menghela napas.

“Kamu selalu mempermasalahkan hal kecil.”

Aku hampir tertawa.

Rumah peninggalan orang tuaku kini dianggapnya hal kecil.

“Kalau begitu, besok kita bicarakan lagi,” kataku.

Aku masuk kamar sebelum kemarahanku meledak.

Keesokan paginya, Maya menemaniku menemui pengacara bernama Farid.

Setelah memeriksa dokumen, Farid menjelaskan bahwa surat pengalihan yang kutemukan belum cukup membuktikan kepemilikan rumah sudah berubah.

“Kita harus memeriksa status sertifikat dan dasar pengajuannya melalui jalur resmi,” katanya.

“Kalau tanda tanganku dipalsukan?”

“Itu bisa menjadi persoalan hukum serius. Tetapi kita perlu bukti yang dapat diperiksa.”

Aku menyerahkan salinan formulir rumah sakit yang pernah kutandatangani tiga bulan sebelumnya.

Farid membandingkan keduanya.

“Ada kemiripan, tetapi kita tidak boleh menyimpulkan sendiri. Saya sarankan pemeriksaan lebih lanjut.”

Sementara Farid mengurus dokumen rumah, Maya membantuku mengirimkan sampel kapsul yang selama ini diberikan Arga ke laboratorium pengujian.

Aku juga menemui dokter kandungan lain untuk mendapatkan pemeriksaan independen.

Tiga hari kemudian, hasil pengujian kapsul keluar.

Maya menelepon dengan suara serius.

“Ras, kapsul yang kamu sebut penambah darah itu mengandung zat aktif obat hormonal.”

Aku membeku.

“Obat hormonal?”

“Iya. Bukan kandungan yang seharusnya kamu anggap sebagai vitamin biasa. Jenis dan kadarnya harus dinilai dokter.”

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

“Apakah itu penyebab menstruasiku terlambat?”

“Belum tentu. Dokter harus mengevaluasi riwayat kesehatanmu. Tapi kamu perlu memberi tahu dokter bahwa selama ini kamu mengonsumsinya tanpa mengetahui kandungannya.”

Aku menangis.

Selama berbulan-bulan, Arga selalu menyiapkan kapsul itu setiap malam.

Dia bahkan memastikan aku meminumnya sebelum tidur.

Dulu aku menganggapnya perhatian.

Sekarang aku tidak tahu harus menyebutnya apa.

Malam itu, aku memutuskan menghadapi Arga.

Dia sedang duduk di ruang makan ketika aku meletakkan hasil pengujian di hadapannya.

“Jelaskan ini.”

Arga membaca halaman pertama.

Wajahnya langsung berubah.

“Dari mana kamu mendapatkan hasil ini?”

“Aku menguji kapsul yang kamu berikan.”

“Laras, kamu salah paham.”

“Kalau begitu, jelaskan kenapa kamu memberiku obat hormonal tanpa memberi tahu kandungannya.”

Dia terdiam.

Aku menunggu.

Akhirnya Arga menunduk.

“Aku hanya ingin menunda kehamilan.”

Dadaku terasa dihantam sesuatu.

“Menunda kehamilan?”

“Proyek klinik sedang bermasalah. Aku belum siap punya anak.”

“Kenapa kamu tidak membicarakannya denganku?”

“Aku tahu kamu ingin segera hamil.”

Air mataku jatuh.

“Jadi kamu memutuskan sendiri apa yang boleh terjadi pada tubuhku?”

Arga berusaha menggenggam tanganku.

Aku menariknya.

“Jangan sentuh aku.”

Dia tampak panik.

“Laras, aku tidak bermaksud menyakitimu.”

“Tapi kamu melakukannya.”

Aku mengeluarkan salinan dokumen rumah.

“Sekarang jelaskan kenapa nama Natasya ada di surat pengalihan rumah ayahku.”

Arga langsung berdiri.

“Kamu menggeledah dokumen pribadiku?”

“Dokumen yang menggunakan namaku bukan urusan pribadimu.”

Wajahnya mengeras.

“Rumah itu diperlukan sebagai jaminan proyek.”

“Tanpa persetujuanku?”

“Aku akan mengembalikannya setelah klinik berhasil.”

Aku menggeleng tidak percaya.

“Kamu tidak bisa meminjam rumah seseorang tanpa izin, Arga.”

Dia memukul meja.

“Semua yang kulakukan demi masa depan kita!”

Aku menatapnya sambil menangis.

“Masa depan siapa? Kita, atau kamu dan Natasya?”

Arga mendadak diam.

Keheningannya menjawab lebih banyak daripada kata-kata.

Aku mengambil tas dan meninggalkan rumah malam itu.

Maya menungguku di depan pagar.

Selama perjalanan menuju rumahnya, aku menangis tanpa suara.

Beberapa hari kemudian, Farid menghubungiku.

Status sertifikat rumah peninggalan Ayah ternyata masih atas namaku. Namun ditemukan pengajuan pengalihan yang menggunakan dokumen persetujuan yang keabsahannya dipersoalkan.

Kami segera mengajukan keberatan resmi.

Farid juga membantuku melaporkan dugaan pemalsuan dokumen kepada pihak berwenang.

Sementara itu, aku mengajukan pengaduan kepada rumah sakit terkait tindakan Arga yang diduga melanggar hak pasien.

Pemeriksaan berlangsung selama beberapa bulan.

Dari dokumen proyek dan percakapan yang diperoleh melalui proses pemeriksaan, terungkap bahwa Natasya mengetahui rencana penggunaan rumahku sebagai bagian dari jaminan pendanaan klinik.

Namun ada fakta lain yang membuatku semakin terpukul.

Arga dan Natasya ternyata telah menjalin hubungan pribadi selama hampir satu tahun.

Ketika dimintai penjelasan, Arga mengaku bahwa dia takut aku menolak proyek tersebut jika mengetahui kondisi keuangan sebenarnya.

Aku tidak lagi mempercayai alasannya.

Sebab yang paling menyakitkan bukan hanya perselingkuhan.

Melainkan kenyataan bahwa orang yang paling kupercaya telah mengambil keputusan tentang tubuh dan hartaku tanpa persetujuanku.

Aku akhirnya mengajukan perceraian.

Pada hari sidang terakhir, Arga menghampiriku di lorong pengadilan.

Wajahnya terlihat lelah.

“Laras, aku menyesal.”

Aku menatapnya.

“Menyesal karena kehilangan aku atau karena semuanya terbongkar?”

Dia tidak menjawab.

“Aku benar-benar mencintaimu,” katanya kemudian.

Aku tersenyum getir.

“Cinta tidak membuat seseorang berhak mengatur tubuh dan kehidupan orang lain.”

Air matanya jatuh.

“Bisakah kita mulai lagi?”

Aku menggeleng.

“Aku sudah terlalu lama memberikan kesempatan kepada seseorang yang tidak pernah menghargai kepercayaanku.”

Aku berjalan meninggalkannya.

Beberapa bulan kemudian, rumah peninggalan Ayah tetap berada dalam kepemilikanku. Proses pengalihan yang bermasalah tidak dilanjutkan, sementara pemeriksaan hukum terhadap dokumen dan tindakan pihak-pihak terkait berjalan melalui lembaga berwenang.

Kesehatanku juga mulai membaik setelah menjalani pemeriksaan dan pemantauan dokter.

Suatu sore, aku kembali ke rumah Ayah.

Bangunannya sudah lama kosong.

Aku membuka jendela ruang tamu dan membiarkan cahaya matahari masuk.

Di sudut ruangan terdapat lemari kayu tua.

Ketika membersihkannya, aku menemukan sebuah amplop bertuliskan namaku.

Tulisan tangan Ayah.

Aku membukanya perlahan.

Di dalamnya terdapat surat yang ditulis beberapa bulan sebelum beliau meninggal.

Laras, anakku.

Ayah tidak tahu seperti apa kehidupanmu nanti. Ayah hanya berharap kamu selalu bahagia.

Rumah ini Ayah tinggalkan bukan supaya kamu menjadi kaya, melainkan supaya kamu selalu punya tempat pulang.

Kalau suatu hari seseorang membuatmu merasa tidak berharga, ingatlah bahwa kamu tidak perlu meminta izin siapa pun untuk mempertahankan harga dirimu.

Aku menangis sambil memeluk surat itu.

Selama bertahun-tahun, aku menganggap rumah tersebut hanya peninggalan keluarga.

Ternyata Ayah telah meninggalkan sesuatu yang jauh lebih penting.

Tempat untuk memulai kembali.

Enam bulan kemudian, aku merenovasi rumah itu.

Sebagian ruangan kujadikan tempat pendampingan bagi perempuan yang membutuhkan informasi tentang hak atas aset, dokumen keuangan, dan akses layanan kesehatan.

Aku bekerja sama dengan Maya, Farid, serta beberapa tenaga profesional lainnya.

Tempat itu kuberi nama Rumah Pulang.

Pada hari pembukaan, seorang perempuan muda datang membawa map berisi dokumen.

Dia duduk dengan gugup.

“Bu Laras, suami saya meminta saya menandatangani surat pinjaman menggunakan sertifikat rumah orang tua saya. Saya tidak tahu harus bagaimana.”

Aku mempersilakannya duduk.

“Kita baca dulu dokumennya bersama-sama. Jangan menandatangani sesuatu yang belum kamu pahami.”

Perempuan itu tersenyum lega.

Aku teringat diriku sendiri.

Perempuan yang dahulu percaya bahwa semua keputusan suaminya pasti benar.

Perempuan yang menelan kapsul tanpa mengetahui kandungannya.

Perempuan yang hampir kehilangan rumah warisan karena terlalu lama takut bertanya.

Malam itu, setelah semua tamu pulang, aku duduk sendirian di teras.

Angin Semarang berembus lembut.

Ponselku bergetar.

Sebuah pesan dari nomor yang tidak kukenal masuk.

Isinya singkat.

Bu Laras, saya mantan staf administrasi klinik tempat Pak Arga bekerja. Ada satu hal yang belum pernah saya ceritakan kepada siapa pun. Sebelum mengajukan dokumen rumah Ibu, Pak Arga sebenarnya sudah mengetahui bahwa proyek klinik itu hampir gagal. Tetapi beliau tetap melanjutkannya karena Natasya menjanjikan sesuatu yang jauh lebih besar.

Aku membaca pesan itu dengan jantung berdebar.

Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.

Saya menyimpan salinan perjanjian mereka. Di dalamnya ada klausul yang menyebutkan bahwa rumah Ibu akan menjadi milik Natasya jika proyek gagal.

Aku terdiam.

Jadi rumah Ayah bukan sekadar jaminan sementara seperti yang selama ini dikatakan Arga.

Rumah itu telah direncanakan sebagai pembayaran atas kegagalan sebuah proyek.

Aku segera meneruskan pesan tersebut kepada Farid agar kebenarannya diperiksa.

Namun kali ini, aku tidak lagi gemetar ketakutan.

Aku menatap rumah yang berdiri kokoh di hadapanku.

Dulu, setiap kebohongan Arga membuatku merasa semakin kecil.

Sekarang aku tahu bahwa kebenaran, seberat apa pun, tidak lagi mampu menghancurkanku seperti sebelumnya.

Karena aku sudah memiliki sesuatu yang tidak pernah bisa diambil olehnya.

Keberanian untuk menentukan hidupku sendiri.

Aku menyimpan ponsel, lalu memandang foto Ayah yang tergantung di dinding ruang tamu.

“Ayah, aku sudah pulang.”

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kata pulang tidak lagi berarti kembali kepada seseorang.

Melainkan kembali kepada diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang