SUAMIKU MALAH MEMBELA MANTAN KEKASIHNYA YANG MENAMPARKU DI.

“Datang saja sekarang. Tapi ingat, jangan sampai Nabila tahu kalau kita sudah merencanakan semuanya.”

Aku memutar rekaman itu sampai lima kali. Setiap kali mendengar suara Arga, dadaku terasa semakin sesak.

Selama empat tahun menikah, aku mengira suamiku hanya terlalu baik kepada mantan kekasihnya. Ternyata mungkin selama ini aku sengaja dibuat merasa cemburu, marah, bahkan bersalah.

Aku segera menyimpan rekaman CCTV ke laptop dan mengirimkan salinannya ke email pribadiku.

Pukul satu dini hari, Arga belum pulang.

Aku membuka aplikasi mobile banking untuk memeriksa rekening usaha kateringku. Selama ini Arga memang mengetahui PIN ponselku karena kami terbiasa saling membantu mengurus pembayaran.

Namun, malam itu aku menemukan tiga transaksi yang tidak kukenal.

Rp12 juta.

Rp8,5 juta.

Rp15 juta.

Semuanya dikirim ke rekening atas nama Rania Putri.

Tanganku langsung dingin.

Total Rp35,5 juta telah berpindah dari rekening usahaku dalam dua bulan terakhir.

Aku memeriksa tanggal transaksinya. Semuanya terjadi pada malam ketika Arga mengatakan sedang lembur.

Tiba-tiba ponselku berdering.

Nomor tidak dikenal yang sebelumnya mengirimkan foto kembali menghubungiku.

“Mbak Nabila?”

Suara perempuan terdengar gugup.

“Iya. Siapa ini?”

“Saya Mira. Saya bekerja sebagai petugas administrasi di apartemen tempat Rania tinggal.”

Aku langsung duduk tegak.

“Kenapa Mbak menghubungi saya?”

Mira terdiam sebentar.

“Karena saya sudah tidak tahan melihat Mbak terus dibohongi.”

Dia menjelaskan bahwa Rania menyewa sebuah unit apartemen di Surabaya sejak hampir tiga tahun lalu. Pembayaran sewanya selalu dilakukan oleh Arga.

Awalnya aku mengira Mira hanya ingin mengadu domba kami.

Namun, kemudian dia mengirimkan beberapa bukti pembayaran.

Nama Arga tercantum sebagai pihak yang menanggung biaya sewa.

Yang lebih mengejutkan, pembayaran pertama dilakukan hanya delapan bulan setelah pernikahan kami.

“Kenapa baru sekarang Mbak memberi tahu saya?”

Suara Mira terdengar bergetar.

“Karena minggu lalu saya mendengar mereka bertengkar. Rania bilang dia tidak mau lagi membantu Arga mengambil uang dari usaha Mbak.”

Aku membeku.

“Mengambil uang?”

“Iya. Katanya Arga sudah terlalu jauh. Dia bahkan menyebut sebuah pinjaman atas nama Mbak.”

Aku merasa napasku berhenti.

“Pinjaman apa?”

“Saya tidak tahu detailnya. Tapi mereka menyebut angka Rp450 juta.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

Rp450 juta.

Jumlah sebesar itu bahkan melebihi seluruh tabungan yang berhasil kukumpulkan selama bertahun-tahun menjalankan usaha katering.

Setelah mengakhiri panggilan, aku tidak tidur.

Aku membuka semua dokumen usaha, memeriksa email, dan mencari surat-surat yang selama ini disimpan Arga.

Menjelang subuh, aku menemukan sebuah email dari perusahaan pembiayaan yang masuk tiga minggu sebelumnya.

Subjeknya membuat jantungku berdegup kencang.

Pemberitahuan Verifikasi Pengajuan Pembiayaan Usaha.

Aku membuka lampirannya.

Nama pemohon tertulis Nabila Rahmawati.

Nama usahanya adalah katering milikku.

Jumlah pembiayaan yang diajukan Rp450 juta.

Namun, nomor telepon kontak utama bukan nomorku.

Itu nomor Arga.

Aku segera menghubungi layanan resmi perusahaan pembiayaan. Petugas menjelaskan bahwa pengajuan tersebut masih dalam proses verifikasi dan belum ada pencairan dana.

Aku langsung menyampaikan keberatan karena tidak pernah mengajukan pinjaman itu.

Petugas meminta laporan tertulis dan dokumen identitas untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah telepon ditutup, aku mengganti kata sandi email, aplikasi keuangan, dan seluruh akun usahaku.

Pukul enam pagi, Arga akhirnya pulang.

Dia masuk sambil membawa kantong plastik berisi bubur ayam.

“Bil, Mas belikan sarapan.”

Aku duduk di meja makan tanpa menjawab.

Arga memperhatikan wajahku.

“Pipimu masih sakit?”

Aku menatapnya.

“Mas baru ingat sekarang?”

Dia menghela napas.

“Jangan mulai lagi. Semalam Rania benar-benar kacau.”

Aku tertawa kecil.

“Mas, aku mau tanya sesuatu.”

“Apa?”

“Kenapa Mas membayar apartemen Rania selama hampir tiga tahun?”

Wajah Arga langsung berubah.

Kantong bubur di tangannya berhenti bergerak.

“Siapa yang bilang?”

“Jawab saja.”

Arga meletakkan kantong plastik itu perlahan.

“Mas cuma membantu dia sementara.”

“Selama tiga tahun?”

“Nabila, kamu nggak ngerti kondisinya.”

Aku mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan transaksi dari rekening kateringku.

“Kalau begitu, jelaskan kenapa uang usahaku masuk ke rekeningnya.”

Arga menatap layar.

Untuk pertama kalinya, aku melihat kepanikan di matanya.

“Mas bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Dia duduk di hadapanku.

“Rania punya masalah keuangan. Dia mengancam akan menyakiti dirinya kalau Mas nggak membantu.”

Aku menatapnya lama.

“Jadi Mas mengambil uangku diam-diam?”

“Nanti Mas ganti.”

“Dengan uang dari pinjaman Rp450 juta atas namaku?”

Arga langsung berdiri.

“Dari mana kamu tahu soal itu?”

Pertanyaan itu menjadi jawaban yang kubutuhkan.

Aku mengambil tas dan berdiri.

“Mulai hari ini, Mas jangan menyentuh rekening atau dokumen usahaku lagi.”

Arga mencoba memegang tanganku.

“Bil, jangan bertindak gegabah.”

Aku menarik tanganku.

“Yang gegabah itu orang yang mengajukan pinjaman memakai nama istrinya tanpa izin.”

Aku pergi ke rumah kakakku, Farhan, yang tinggal di Waru.

Begitu melihat pipiku yang masih sedikit bengkak, Farhan langsung bertanya apa yang terjadi.

Aku menceritakan semuanya.

Dia mendengarkan tanpa menyela.

Setelah selesai, dia hanya berkata, “Kita cari pengacara. Jangan hadapi mereka sendirian.”

Siang itu kami menemui seorang pengacara bernama Bu Maya.

Dia memeriksa bukti transfer, rekaman CCTV, dan dokumen pengajuan pinjaman.

“Bu Nabila, kita perlu memastikan siapa yang mengakses rekening dan siapa yang membuat pengajuan ini. Jangan mengubah dokumen asli. Simpan semua bukti.”

Aku mengangguk.

“Apakah saya bisa melaporkan tamparan Rania juga?”

“Tentu. Rekaman dan pemeriksaan medis bisa menjadi bukti pendukung.”

Hari itu aku menjalani pemeriksaan medis dan membuat laporan mengenai kekerasan yang kualami.

Namun, kejutan terbesar datang dua hari kemudian.

Mira kembali menghubungiku.

“Mbak, Rania ingin bertemu.”

Aku langsung menolak.

Namun, Mira mengatakan sesuatu yang membuatku berubah pikiran.

“Dia bilang ada rahasia tentang pernikahan Mbak yang harus disampaikan langsung.”

Aku akhirnya setuju bertemu di sebuah kafe di Surabaya, ditemani Farhan yang duduk tidak jauh dari meja kami.

Rania datang mengenakan kemeja putih.

Wajahnya pucat. Tidak ada lagi senyum mengejek seperti malam ketika dia menamparku.

“Aku minta maaf,” katanya pelan.

Aku menatapnya dingin.

“Permintaan maaf tidak menghapus apa yang kamu lakukan.”

“Aku tahu.”

Dia mengeluarkan sebuah map.

“Aku ingin kamu melihat ini.”

Di dalamnya terdapat salinan percakapan WhatsApp antara Rania dan Arga.

Aku membaca pesan pertama.

Tanggalnya tiga tahun lalu.

Arga menulis bahwa dia membutuhkan bantuan Rania untuk membuatku sibuk menghadapi pertengkaran rumah tangga.

Rania bertanya mengapa.

Jawaban Arga membuat tanganku gemetar.

“Kalau Nabila terus fokus mengurus masalah kita, dia tidak akan sempat memeriksa keuangan usahanya.”

Aku mengangkat kepala.

“Jadi semua keributan itu direncanakan?”

Rania menunduk.

“Awalnya iya.”

Aku merasa mual.

Dia menjelaskan bahwa Arga memiliki utang besar akibat usaha investasi yang gagal sebelum kami menikah.

Setelah menikah, Arga mulai menggunakan uang pribadinya untuk membayar cicilan utang tersebut.

Namun, ketika utangnya semakin menumpuk, dia mulai mengambil uang dari rekening usaha kateringku.

Rania mengetahui semuanya.

Bahkan, dia membantu Arga menyembunyikan beberapa transaksi.

“Kenapa kamu mau?” tanyaku.

Rania menangis.

“Karena aku masih mencintainya. Dia bilang setelah utangnya lunas, dia akan menceraikanmu dan kembali kepadaku.”

Aku menatap perempuan itu tanpa berkata-kata.

Selama ini aku menganggap Rania ingin merebut suamiku.

Ternyata dia memang ingin melakukannya, tetapi sekaligus menjadi alat dalam rencana yang jauh lebih kejam.

“Lalu kenapa sekarang kamu membongkar semuanya?”

Rania mengusap air matanya.

“Karena minggu lalu aku menemukan sesuatu.”

Dia mengeluarkan sebuah foto.

Arga terlihat sedang makan malam bersama perempuan lain.

Perempuan itu masih muda, mengenakan blazer hitam.

Aku tidak mengenalinya.

“Siapa dia?”

“Namanya Keisha. Pegawai bagian administrasi perusahaan pembiayaan yang membantu memproses pengajuan atas namamu.”

Aku terdiam.

Rania melanjutkan.

“Arga menjanjikan uang kepada Keisha kalau pinjaman itu berhasil dicairkan. Setelah itu, dia berencana meninggalkan kita berdua.”

Aku menatapnya tajam.

“Bagaimana kamu tahu?”

“Aku membaca percakapan mereka di laptop Arga.”

Aku tidak langsung mempercayainya.

Rania sudah terlalu sering berbohong.

Namun, dia menyerahkan salinan percakapan dan beberapa bukti transfer yang bisa diperiksa lebih lanjut.

Aku membawa semuanya kepada Bu Maya.

Dalam beberapa hari berikutnya, pengacara membantu kami menyerahkan informasi tambahan kepada perusahaan pembiayaan dan pihak berwenang.

Pemeriksaan internal menemukan adanya ketidaksesuaian dalam proses verifikasi pengajuan pinjaman.

Keisha kemudian diperiksa oleh perusahaannya.

Sementara itu, bank menelusuri transaksi dari rekening usahaku berdasarkan laporan yang kubuat.

Arga berkali-kali menelepon.

Aku tidak menjawab.

Sampai suatu malam, dia datang ke rumah Farhan.

“Nabila, Mas cuma mau bicara.”

Aku keluar bersama kakakku.

Arga terlihat jauh lebih kurus.

“Mas salah,” katanya.

Aku diam.

“Mas panik karena utang. Mas pikir kalau dapat pinjaman, semua bisa selesai.”

“Dengan memakai namaku?”

Arga menunduk.

“Mas berniat mengembalikannya.”

Aku menggeleng.

“Mas, masalahnya bukan cuma uang.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Selama tiga tahun aku menangis karena perempuan yang terus datang mengganggu rumah kita. Aku merasa gagal menjadi istri. Aku menyalahkan diriku sendiri setiap kali kita bertengkar.”

Arga tidak berani menatapku.

“Padahal semua itu Mas rencanakan supaya aku tidak memperhatikan uangku sendiri.”

Dia menangis.

“Maafkan Mas.”

Aku mengusap air mata.

“Aku pernah mencintai Mas sepenuh hati. Tapi aku tidak bisa lagi hidup bersama orang yang menjadikan rasa percayaku sebagai kesempatan untuk menipuku.”

Malam itu, aku menyampaikan keputusan untuk mengajukan perceraian.

Arga tidak membantah.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum dan pemeriksaan keuangan masih berjalan.

Pengajuan pinjaman Rp450 juta dibatalkan sebelum pencairan. Sebagian uang yang keluar dari rekening kateringku berhasil dipulihkan, sementara sisanya masih menjadi bagian dari tuntutan pengembalian kerugian.

Rania juga dimintai keterangan terkait perannya dalam transaksi dan gangguan yang selama ini terjadi.

Aku tidak menganggap pengakuannya sebagai alasan untuk melupakan tamparan itu.

Namun, aku memilih menyerahkan persoalan tersebut kepada proses hukum daripada terus terjebak dalam kemarahan.

Usaha kateringku sempat terganggu karena aku harus membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus perkara.

Untungnya, Farhan dan beberapa pegawaiku membantu mempertahankan pelanggan.

Enam bulan kemudian, aku berhasil menyewa dapur produksi yang lebih besar di Sidoarjo.

Pesanan mulai meningkat.

Aku juga mempekerjakan dua ibu rumah tangga yang membutuhkan penghasilan tambahan.

Suatu sore, ketika sedang memeriksa laporan penjualan, ponselku berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari nomor Arga.

“Nabila, hari ini Mas akhirnya melunasi sebagian utang yang Mas buat. Mas tahu itu tidak mengubah apa pun. Tapi Mas ingin mulai bertanggung jawab.”

Aku membaca pesan tersebut sekali.

Kemudian meletakkan ponsel.

Aku tidak membalas.

Bukan karena membencinya.

Melainkan karena aku tidak lagi membutuhkan janji untuk bisa melanjutkan hidup.

Malam itu, setelah semua pegawai pulang, aku duduk sendirian di dapur produksi.

Aroma nasi hangat dan bumbu masakan masih memenuhi ruangan.

Aku teringat malam ketika Rania menamparku di depan rumah.

Saat itu, aku merasa menjadi perempuan paling tidak berharga di dunia.

Suamiku memilih melindungi perempuan lain, sementara aku berdiri sendirian dengan pipi memerah dan hati hancur.

Namun, jika malam itu tidak terjadi, mungkin aku tidak akan pernah memeriksa rekaman CCTV.

Aku mungkin terus mempercayai kebohongan Arga.

Bahkan mungkin suatu hari harus menanggung utang ratusan juta rupiah yang tidak pernah kusetujui.

Aku memandangi laporan penjualan di hadapanku.

Angkanya belum terlalu besar.

Tetapi setiap rupiah di dalamnya berasal dari kerja keras yang bisa kupertanggungjawabkan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa tenang.

Tiba-tiba Farhan datang membawa dua gelas teh.

“Masih kerja?”

Aku tersenyum.

“Sebentar lagi selesai.”

Dia duduk di sampingku.

“Kamu kelihatan lebih bahagia sekarang.”

Aku mengangguk.

“Karena sekarang aku tidak perlu takut seseorang berbohong setiap kali aku bertanya.”

Farhan tersenyum.

“Baguslah.”

Aku menatap dapur kecil yang kini menjadi awal kehidupan baruku.

Dulu aku mengira mempertahankan pernikahan berarti harus selalu mengalah.

Aku mengira kesabaran seorang istri diukur dari seberapa banyak luka yang sanggup ditahannya.

Ternyata aku salah.

Kesabaran tidak berarti membiarkan diri terus disakiti.

Dan cinta tidak pernah seharusnya membuat seseorang kehilangan hak untuk mengetahui kebenaran.

Beberapa minggu setelah perceraianku selesai, aku menerima sebuah amplop melalui pos.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya terdapat salinan foto pernikahanku dengan Arga.

Aku hampir membuangnya.

Namun, ketika membalik foto itu, aku menemukan tulisan tangan yang sangat kukenal.

Tulisan Arga.

“Aku kehilangan perempuan yang paling tulus mencintaiku karena terlalu sibuk mempertahankan kebohongan.”

Aku membaca kalimat itu tanpa menangis.

Lalu memasukkan foto tersebut ke dalam kotak berisi barang-barang masa lalu.

Aku tidak membakarnya.

Tidak pula merobeknya.

Karena aku tidak perlu menghancurkan kenangan untuk membuktikan bahwa aku sudah sembuh.

Aku hanya perlu berhenti hidup di dalamnya.

Keesokan paginya, aku membuka pintu dapur produksi lebih awal.

Matahari baru muncul di balik deretan rumah.

Para pegawaiku mulai berdatangan sambil membawa bahan makanan.

Salah seorang dari mereka bertanya, “Bu Nabila, hari ini pesanan kita berapa?”

Aku membuka buku catatan.

“Tiga ratus lima puluh kotak.”

Mereka bersorak kecil.

Aku tertawa.

Lalu mengenakan celemek dan mulai bekerja.

Di luar, kehidupan terus berjalan.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi menunggu seseorang pulang untuk merasa bahwa rumahku lengkap.

Aku sudah menemukan rumah itu di dalam diriku sendiri.

Karena pada akhirnya, kehilangan seseorang yang terus berbohong bukanlah kehancuran.

Kadang, itulah awal dari kehidupan yang akhirnya benar-benar menjadi milik kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang