SUAMIKU TIBA-TIBA MEMBATALKAN MAKAN MALAM UNTUK 180 TAMU, LALU.

“Jangan biarkan siapa pun meninggalkan hotel sebelum kita mengetahui siapa yang sebenarnya merencanakan semua ini!”

Suara Bu Wening bergetar, tetapi perintahnya terdengar tegas.

Aku berdiri di sampingnya, masih menatap layar tablet yang memperlihatkan Dimas, putra sulungnya, menyerahkan amplop kepada Ratih, mantan pegawaiku.

Dalam rekaman itu, Dimas dengan jelas meminta agar acara makan malam untuk 180 karyawan Batik Pradipta digagalkan.

Namun, yang membuatku semakin takut adalah sikap Galih.

Suamiku tidak terlihat terkejut.

Dia justru berdiri membisu di belakang Riska, seolah sudah mengetahui semuanya sejak awal.

“Mas,” panggilku pelan. “Kamu kenal Dimas?”

Galih menghindari tatapanku.

“Semua orang juga kenal dia. Dia direktur keuangan perusahaan klienmu.”

“Bukan itu maksudku.”

Aku mengangkat tablet.

“Kamu tahu soal rencana menggagalkan acara ini?”

Riska langsung menyela.

“Kak Sekar, jangan asal menuduh! Mas Galih dari tadi berusaha membantu!”

Aku menatapnya tajam.

“Kalau begitu, jelaskan kenapa uang Rp48 juta dikembalikan ke rekeningmu.”

Wajah Riska seketika pucat.

Bu Wening menoleh kepadanya.

“Uang apa?”

Aku memperlihatkan laporan transaksi hotel.

“Pembayaran tambahan untuk makanan sebenarnya sudah masuk, Bu. Tetapi kemudian dikembalikan atas instruksi yang menggunakan akun administrator perusahaan saya.”

Bu Wening membaca dokumen itu dengan saksama.

“Dan rekening penerimanya milik adik suamimu?”

Aku mengangguk.

Riska mulai menangis.

“Saya cuma disuruh menerima uangnya. Saya nggak tahu apa-apa!”

“Disuruh siapa?” tanya Bu Wening.

Riska melirik Galih.

Hanya sesaat, tetapi cukup membuatku memahami jawabannya.

Galih segera menarik tangan adiknya.

“Kita pergi sekarang.”

Namun, Bu Wening menghalangi mereka.

“Tidak sebelum kalian menjelaskan semuanya.”

Galih tertawa sinis.

“Ibu tidak punya hak menahan kami.”

“Benar,” jawab Bu Wening tenang. “Saya tidak akan menahan siapa pun. Tetapi semua bukti akan saya serahkan kepada pihak berwenang.”

Mendengar itu, Galih langsung terdiam.

Aku tidak ingin membuang waktu lagi.

Di dalam ballroom, 180 tamu masih menunggu makan malam. Sebagian besar adalah karyawan yang telah mengabdi puluhan tahun.

Mereka tidak pantas menjadi korban permainan kotor orang-orang yang hanya memikirkan uang.

Aku segera menemui Nisa.

“Bagaimana persiapan makanan?”

Nisa menunjukkan catatannya.

“Hotel bisa menyediakan sembilan puluh porsi. Aku sudah menghubungi dua katering rekanan. Mereka sanggup menyediakan sembilan puluh porsi tambahan, tetapi butuh sekitar satu setengah jam.”

Aku melihat jam.

Pukul enam lewat dua puluh.

Acara penghargaan dijadwalkan dimulai pukul tujuh.

Aku menarik napas panjang.

“Kita ubah susunan acara. Penghargaan dan pertunjukan batik dimulai lebih dulu. Makan malam menyusul.”

“Tapi biaya tambahannya cukup besar, Mbak.”

“Aku tahu.”

Aku menatap Nisa.

“Untuk sekarang, keselamatan makanan dan kepercayaan klien lebih penting.”

Bu Wening menyetujui perubahan tersebut.

Beliau bahkan meminta pihak hotel menyediakan minuman dan makanan ringan sambil menunggu hidangan utama.

Pukul tujuh tepat, acara dimulai.

Aku berdiri di belakang panggung dengan tangan dingin.

Ketika Bu Wening naik ke atas panggung dan menyampaikan sambutan, aku hampir menangis.

Beliau tidak mempermalukanku.

Tidak pula mengumumkan kekacauan yang sedang terjadi.

Sebaliknya, beliau berbicara tentang kerja keras, kejujuran, dan kesetiaan para karyawan.

“Perusahaan ini berdiri bukan karena satu orang,” katanya. “Melainkan karena ratusan orang yang memilih bekerja dengan sungguh-sungguh, bahkan ketika keadaan sulit.”

Tepuk tangan memenuhi ballroom.

Aku menunduk, berusaha menahan air mata.

Namun, ketika acara sedang berlangsung, ponselku bergetar.

Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk.

“Kalau kamu ingin tahu alasan Dimas menggagalkan acara, periksa kontrak pengganti yang disimpan Galih di mobil.”

Aku membaca pesan itu berulang kali.

Kemudian aku menghubungi Maya, pengacara yang pernah membantu mengurus kontrak usahaku.

Setelah mendengar penjelasanku, Maya menyarankan agar aku tidak membuka kendaraan atau mengambil dokumen milik orang lain tanpa izin.

“Amankan bukti yang sudah kamu miliki. Kalau ada dugaan penipuan, serahkan kepada penyidik,” katanya.

Aku mengikuti sarannya.

Namun, aku tidak menyangka bahwa beberapa menit kemudian, orang yang mengirim pesan itu justru muncul di hadapanku.

Ratih.

Mantan pegawaiku.

Dia berdiri di dekat pintu belakang ballroom dengan wajah pucat.

“Mbak Sekar, saya harus bicara.”

Aku menatapnya dingin.

“Kamu datang untuk menghancurkan acaraku, lalu sekarang mau bicara?”

Ratih menunduk.

“Saya tahu Mbak tidak akan percaya. Tapi saya punya bukti.”

“Bukti apa?”

Dia mengeluarkan ponsel.

Di layar terdapat foto sebuah kontrak kerja sama.

Nama perusahaan penyedia acara tertulis PT Cakra Gemilang Event.

Nilai kontraknya Rp275 juta.

Aku mengerutkan kening.

“Perusahaan siapa ini?”

Ratih menelan ludah.

“Perusahaan yang dikendalikan Galih dan Dimas melalui seorang direktur pinjaman nama.”

Aku membeku.

Ratih menjelaskan bahwa Dimas ingin mengganti perusahaan event organizer milikku dengan PT Cakra Gemilang Event.

Jika acaraku gagal, Dimas berencana menggunakan kegagalan tersebut sebagai alasan untuk membatalkan kontrak dan menunjuk perusahaan pengganti.

“Kenapa Galih ikut terlibat?” tanyaku.

Ratih memandangku dengan mata berkaca-kaca.

“Karena dia dijanjikan bagian keuntungan.”

Aku merasa dada seperti dihantam sesuatu.

“Berapa?”

“Rp80 juta.”

Aku tertawa getir.

Lima tahun pernikahan kami.

Lima tahun aku bekerja dari pagi hingga larut malam.

Lima tahun aku mempercayakan sebagian urusan perusahaan kepada suamiku.

Dan semua itu ternyata bisa dikhianati demi Rp80 juta.

“Lalu kenapa kamu membantu mereka?”

Ratih mulai menangis.

“Dimas menawarkan pekerjaan setelah saya dipecat. Awalnya saya cuma diminta mengurus dokumen. Tapi kemudian mereka menyuruh saya menggunakan cap perusahaan Mbak untuk membuat surat perubahan menu.”

Aku menatapnya tajam.

“Kamu tahu itu pemalsuan?”

Ratih mengangguk.

“Saya tahu. Saya salah.”

Dia kemudian menunjukkan percakapan yang memperlihatkan instruksi Galih untuk mengubah menu dan meminta pengembalian dana.

Namun, ada satu pesan yang membuatku terdiam.

Pesan dari Dimas kepada Galih.

“Pastikan Sekar menandatangani surat pengalihan tanggung jawab. Kalau dia menolak, gunakan rekaman pertengkaran kalian untuk menunjukkan bahwa dia tidak mampu mengelola perusahaan.”

Aku menutup mata.

Jadi surat yang dibawa Riska bukan sekadar formalitas.

Mereka ingin membuatku mengakui seluruh kesalahan agar perusahaan pengganti bisa masuk tanpa hambatan.

Aku segera menyerahkan salinan bukti tersebut kepada Maya.

Sementara itu, makan malam akhirnya berhasil disajikan.

Pukul delapan lewat empat puluh, para pelayan mulai membawa hidangan ke meja tamu.

Aku mengawasi semuanya dari pintu dapur.

Tidak ada menu premium seperti yang semula dijanjikan Galih.

Namun, seluruh makanan disiapkan menggunakan bahan yang telah diperiksa, dengan persetujuan klien atas perubahan menu.

Ketika piring terakhir keluar, Nisa memelukku.

“Kita berhasil, Mbak.”

Aku menangis.

Bukan karena semua masalah selesai.

Melainkan karena setidaknya malam itu, usaha yang kubangun dengan susah payah tidak hancur.

Setelah acara berakhir, Bu Wening memintaku menemuinya di ruang rapat hotel.

Di sana sudah ada Dimas, Galih, Riska, dan seorang penasihat hukum perusahaan.

Dimas tampak terkejut melihat Ratih masuk bersama kami.

“Kenapa dia ada di sini?” tanyanya.

Bu Wening meletakkan sejumlah dokumen di atas meja.

“Karena Ibu ingin mendengar penjelasanmu.”

Dimas berusaha tersenyum.

“Bu, ini cuma kesalahpahaman administrasi.”

“Kalau begitu, jelaskan kontrak PT Cakra Gemilang Event.”

Senyumnya langsung hilang.

Galih menunduk.

Bu Wening melanjutkan.

“Kenapa kontrak pengganti sudah disiapkan sebelum acara Sekar dinyatakan gagal?”

Dimas tidak menjawab.

“Dan kenapa kamu memerintahkan Ratih memastikan acara ini gagal?”

Ruangan mendadak sunyi.

Akhirnya Dimas berkata pelan, “Saya cuma ingin mencari vendor yang lebih baik.”

Bu Wening menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.

“Dengan cara menghancurkan usaha orang lain?”

Dimas membuang muka.

“Ibu tidak mengerti tekanan yang saya hadapi.”

“Kalau begitu, jelaskan.”

Dimas menghela napas panjang.

Dia mengaku telah membuat sejumlah keputusan investasi yang merugikan perusahaan pribadinya.

Utangnya menumpuk.

Dia kemudian bekerja sama dengan Galih untuk mendapatkan keuntungan dari kontrak acara perusahaan keluarga.

Namun, Bu Wening tidak langsung menerima pengakuan itu sebagai penjelasan lengkap.

Beliau meminta seluruh dokumen diserahkan kepada penasihat hukum dan tim audit independen.

“Mulai malam ini, kamu tidak lagi memiliki kewenangan menyetujui pembayaran perusahaan sampai pemeriksaan selesai,” katanya.

Dimas menatap ibunya tidak percaya.

“Ibu memilih orang luar daripada anak sendiri?”

Bu Wening menggeleng.

“Ibu memilih kebenaran. Kalau kamu memang tidak bersalah, pemeriksaan akan membuktikannya.”

Aku memandang Galih.

Dia duduk membisu.

“Mas,” panggilku.

Galih mengangkat kepala.

“Apa?”

“Kenapa kamu tega melakukan ini kepadaku?”

Matanya mulai memerah.

“Sekar, Mas terdesak.”

“Terdesak sampai harus menghancurkan usahaku?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengeluarkan surat pengalihan tanggung jawab yang sebelumnya dibawa Riska.

“Kalau aku menandatangani ini, semua kerugian akan dibebankan kepadaku, sementara kalian mendapatkan kontrak baru.”

Galih menunduk semakin dalam.

“Mas pikir nanti uangnya bisa kita gunakan bersama.”

Aku merasa ingin tertawa sekaligus menangis.

“Kita?”

Aku menatapnya lama.

“Sejak kapan menghancurkan pekerjaan istrimu disebut membangun masa depan bersama?”

Tidak ada jawaban.

Malam itu aku pulang ke rumah kakakku.

Aku tidak ingin lagi berada satu atap dengan Galih sebelum pikiranku benar-benar tenang.

Beberapa hari kemudian, aku mengajukan laporan mengenai dugaan pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan dana.

Pihak hotel menyerahkan rekaman CCTV serta catatan transaksi melalui prosedur yang berlaku.

Perusahaan Batik Pradipta juga memulai audit internal terhadap keterlibatan Dimas.

Sementara itu, aku memutuskan menghentikan akses Galih terhadap seluruh akun administrasi perusahaan.

Aku mengganti kata sandi, memperbarui kewenangan pembayaran, dan menunjuk akuntan independen untuk memeriksa keuangan usahaku.

Namun, kejutan terbesar datang tiga minggu kemudian.

Maya meneleponku.

“Sekar, ada sesuatu yang perlu kamu lihat.”

Aku datang ke kantornya.

Di atas meja terdapat salinan kontrak PT Cakra Gemilang Event.

Maya menunjuk halaman terakhir.

“Perhatikan tanggal pendirian perusahaan ini.”

Aku membacanya.

Lima tahun lalu.

Tepat dua bulan sebelum aku menikah dengan Galih.

Aku membeku.

“Jadi perusahaan ini sudah ada sebelum kami menikah?”

Maya mengangguk.

“Dan berdasarkan dokumen yang berhasil diperoleh secara sah, Galih tercatat pernah menjadi salah satu pemegang saham awal.”

Aku merasa seluruh tubuhku dingin.

Selama ini Galih selalu mengatakan bahwa dia tidak memiliki usaha sendiri.

Dia mengaku hanya bekerja sebagai pegawai administrasi sebelum membantu perusahaanku.

Namun, ternyata dia sudah terlibat dalam bisnis penyelenggaraan acara sejak sebelum pernikahan kami.

Aku meminta Maya memeriksa dokumen lain.

Beberapa hari kemudian, kami menemukan bahwa PT Cakra Gemilang Event pernah mengajukan penawaran untuk sejumlah acara yang juga diikuti perusahaanku.

Aku teringat sesuatu.

Selama bertahun-tahun, Galih sering memintaku membagikan daftar harga vendor dan rincian penawaran kepada dirinya.

Katanya agar dia bisa membantu menghitung keuntungan.

Aku selalu memberikannya.

Tanpa curiga.

Kini aku tidak lagi yakin apakah semua penawaran bisnis kami selama ini benar-benar berlangsung secara adil.

Aku menangis di kantor Maya.

Bukan karena kehilangan uang.

Melainkan karena mulai menyadari bahwa sebagian besar pernikahanku dibangun di atas sesuatu yang tidak pernah kuketahui.

Enam bulan kemudian, aku resmi bercerai dari Galih.

Proses pemeriksaan terhadap dugaan penyalahgunaan dana masih berjalan, tetapi sebagian kerugian acara berhasil diselesaikan melalui kesepakatan pembayaran dan pengembalian dana yang dapat dibuktikan.

Usahaku perlahan pulih.

Bu Wening tetap mempercayaiku untuk menangani beberapa kegiatan perusahaan, dengan prosedur pengadaan dan persetujuan yang kini lebih ketat.

Suatu sore, beliau datang ke kantor kecilku membawa sebuah kotak batik.

“Ini untukmu, Sekar.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat kain batik tulis berwarna biru tua.

Motifnya sederhana, tetapi indah.

“Kenapa Ibu memberi saya ini?”

Bu Wening tersenyum.

“Karena malam itu kamu bisa saja lari dan membiarkan semua orang kecewa. Tapi kamu memilih bertanggung jawab atas pekerjaanmu, bahkan ketika orang terdekatmu berusaha menjatuhkanmu.”

Aku menunduk.

“Saya cuma tidak mau mengecewakan 180 orang yang sudah menunggu.”

Beliau menggenggam tanganku.

“Justru itu yang membuatmu berbeda.”

Setelah Bu Wening pulang, aku duduk sendirian di kantor.

Di dinding tergantung foto tim kecilku saat pertama kali mendirikan usaha.

Dulu kami hanya memiliki tiga pegawai dan sebuah meja kerja bekas.

Sekarang kami memiliki dua belas pegawai tetap dan beberapa rekanan.

Aku memandangi foto itu cukup lama.

Kemudian Nisa masuk membawa laporan acara berikutnya.

“Mbak, ada permintaan penawaran baru.”

Aku tersenyum.

“Berapa tamunya?”

“Dua ratus lima puluh orang.”

Aku tertawa kecil.

“Baik. Kita kerjakan.”

Nisa duduk di hadapanku.

“Mbak, boleh aku tanya sesuatu?”

“Apa?”

“Mbak pernah menyesal menikah dengan Pak Galih?”

Aku terdiam sejenak.

“Aku menyesal karena terlalu mudah menyerahkan kepercayaan tanpa tetap menjaga tanggung jawabku sendiri.”

“Kalau sekarang?”

Aku memandang laporan keuangan yang tersusun rapi di meja.

“Sekarang aku belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti harus menutup mata.”

Nisa tersenyum.

Aku kemudian membuka laptop dan mulai menyusun proposal acara baru.

Di luar jendela, matahari sore menyinari jalanan Yogyakarta.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku merasa tidak lagi takut menghadapi hari esok.

Malam ketika 180 tamu hampir tidak mendapatkan makan malam pernah terasa seperti akhir dari segalanya.

Namun, ternyata malam itulah yang menyelamatkanku.

Karena dari sebuah pesan mencurigakan di dapur hotel, aku menemukan pengkhianatan yang telah tersembunyi selama bertahun-tahun.

Aku kehilangan suami yang dahulu kupercaya.

Tetapi aku berhasil mempertahankan usaha, harga diri, dan orang-orang yang benar-benar bekerja dengan tulus bersamaku.

Dan kini aku memahami satu hal.

Pengkhianatan paling menyakitkan bukan selalu datang dari musuh yang terang-terangan ingin menjatuhkan kita.

Kadang, pengkhianatan datang dari seseorang yang setiap malam tidur di samping kita, mengetahui semua ketakutan kita, lalu diam-diam menggunakan kepercayaan itu untuk menghancurkan apa yang paling kita perjuangkan.

Namun, selama kita masih berani menghadapi kebenaran, selalu ada kesempatan untuk membangun kembali kehidupan yang hampir direnggut oleh kebohongan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang