“Kalau kamu keluar sekarang, Ayah akan menganggapmu bukan anaknya lagi!”
Ancaman itu terdengar dari ujung lorong ketika aku baru saja melangkah keluar dari ruang rias.

Ayah berdiri bersama Melati. Wajahnya merah, sementara kakakku terlihat panik melihat supervisor gedung berjalan di sampingku.
Aku masih mengenakan kebaya pengantin putih. Rangkaian melati di rambutku mulai layu, tetapi tanganku tidak lagi gemetar.
“Kalau menjadi anak Ayah berarti harus menyerahkan calon suami dan warisan Nenek kepada orang lain, mungkin memang sudah waktunya aku berhenti menurut.”
“Kirana!” bentak Ayah.
Aku tidak menjawab. Aku justru menoleh kepada Bu Ratna, supervisor gedung yang telah membebaskanku.
“Bu, saya ingin melihat siapa yang sedang duduk di pelaminan menggunakan acara yang saya bayar.”
Bu Ratna mengangguk.
Kami berjalan menuju aula utama.
Semakin dekat, suara musik gamelan semakin jelas. Para tamu terdengar bercakap-cakap, sesekali diselingi tawa.
Aku berhenti sejenak di depan pintu.
Di atas panggung yang kuhias dengan bunga kesukaan Nenek, Reza duduk berdampingan dengan Saskia.
Perempuan itu mengenakan kebaya putih gading yang sangat mirip dengan milikku.
Reza menggenggam tangannya.
Aku mengenali senyum itu.
Senyum yang dulu membuatku percaya bahwa aku adalah perempuan paling beruntung di dunia.
“Acara apa yang sedang berlangsung?” tanyaku kepada Bu Ratna.
“Menurut susunan acara terbaru, ini pertunangan keluarga, Bu. Bukan akad nikah.”
Aku mengangguk pelan.
Jadi, mereka masih cukup berhati-hati untuk tidak menyelenggarakan pernikahan resmi menggunakan identitasku.
Namun, mereka tetap menggunakan uang, gedung, dekorasi, dan undangan yang kupersiapkan untuk pernikahanku sendiri.
Aku melangkah masuk.
Seorang tamu pertama kali menyadari kehadiranku.
“Lho, itu Kirana?”
Percakapan di meja terdekat terhenti.
Lalu satu per satu kepala menoleh.
Reza yang sedang tersenyum langsung berdiri.
“Kirana?”
Aku berjalan melewati deretan kursi tanpa menundukkan kepala.
Saskia mencengkeram ujung kebayanya.
“Kak, aku bisa jelaskan.”
“Bagus,” jawabku. “Karena aku juga ingin mendengar penjelasan kalian.”
Ayah bergegas menyusul.
“Kirana, jangan membuat keributan!”
Aku menatapnya.
“Bukankah Ayah yang mengurungku agar aku tidak bisa bicara?”
Beberapa tamu mulai berbisik.
Reza turun dari pelaminan dan mendekatiku.
“Sayang, dengarkan aku dulu.”
Aku mundur selangkah.
“Jangan panggil aku begitu.”
Wajahnya menegang.
“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Kalau begitu, jelaskan kenapa aku dikunci di ruang rias sementara kamu menggandeng Saskia di pelaminan kita.”
Reza memandang Ayah, seolah menunggu bantuan.
Namun, sebelum siapa pun menjawab, seorang perempuan tua berdiri dari kursi tamu.
Tante Rukmini, kakak almarhum Nenek.
“Biar saya yang menjelaskan,” katanya.
Semua orang terdiam.
Tante Rukmini berjalan mendekat dengan langkah perlahan.
“Tiga minggu lalu, ayahmu datang menemui saya. Dia bilang Saskia sedang hamil dan Reza adalah ayah dari anak itu.”
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
Aku menoleh kepada Reza.
“Benar?”
Reza menunduk.
Saskia mulai menangis.
“Maaf, Kak.”
Aku memejamkan mata.
Selama tujuh tahun aku menemani Reza membangun usahanya dari nol. Aku meminjamkan tabunganku ketika usahanya hampir bangkrut. Aku percaya setiap kali dia pulang larut malam dengan alasan mengurus pesanan.
Ternyata ada kehidupan lain yang dijalaninya tanpa sepengetahuanku.
“Sejak kapan?” tanyaku.
Saskia terisak.
“Hampir setahun.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Melainkan karena perempuan yang membantuku memilih gaun pengantin ternyata sudah menjalin hubungan dengan calon suamiku sejak sebelum kami bertunangan.
Tante Rukmini melanjutkan.
“Ayahmu ingin Reza bertanggung jawab kepada Saskia. Tapi dia juga takut keluarga besar mengetahui perselingkuhan itu.”
Aku menatap Ayah.
“Jadi solusinya mengurungku?”
Ayah mengusap wajah.
“Kami hanya ingin menyelesaikannya tanpa mempermalukan siapa pun.”
“Kecuali aku.”
Tidak ada yang menjawab.
Aku mengalihkan pandangan kepada Reza.
“Kenapa kamu tidak membatalkan pernikahan kita sejak awal?”
Dia menghela napas.
“Karena semuanya sudah dibayar. Aku tidak ingin uangmu terbuang.”
Aku menatapnya lama.
“Lalu kamu pikir uangku tidak terbuang ketika kamu menggunakan acaraku untuk perempuan lain?”
Reza terdiam.
Saat itulah aku melihat Pak Harun berdiri di dekat pintu samping bersama Melati.
Map biru masih berada di tangannya.
Aku segera menghampiri mereka.
“Pak Harun, dokumen apa yang Bapak bawa?”
Pria itu terlihat gugup.
“Ini urusan keluarga, Bu.”
“Saya pemilik tanah yang tercantum dalam dokumen itu. Saya berhak mengetahui isinya.”
Melati mencoba mengambil map tersebut.
Namun, Pak Harun justru menyerahkannya kepadaku.
“Saya tidak tahu kalau Ibu belum menyetujui transaksi ini.”
Aku membuka map.
Di dalamnya terdapat rancangan perjanjian jual beli tanah warisan Nenek senilai dua miliar tiga ratus juta rupiah.
Ada pula surat kuasa untuk mengurus penjualan.
Namaku tercantum sebagai pemberi kuasa.
Dan di bawahnya terdapat tanda tangan yang menyerupai tanda tanganku.
Palsu.
Aku menatap Melati.
“Siapa yang membuat ini?”
Kakakku tidak menjawab.
Aku memperhatikan halaman berikutnya.
Di sana tercantum rencana penggunaan uang hasil penjualan.
Sebagian untuk melunasi utang usaha katering Reza.
Sebagian untuk membeli rumah bagi Reza dan Saskia.
Sisanya untuk membayar kewajiban pinjaman keluarga.
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
“Jadi kalian bukan hanya mengambil acara pernikahanku. Kalian juga ingin menjual tanah Nenek untuk membiayai kehidupan baru mereka?”
Ayah mendekat.
“Kirana, tanah itu dulu milik keluarga!”
“Dan Nenek mewariskannya kepadaku melalui proses hukum yang sah.”
“Karena kamu yang paling dekat dengannya!”
“Karena aku yang merawatnya selama delapan tahun ketika Ayah dan Mbak Melati jarang datang.”
Ayah terdiam.
Aku mengingat masa-masa ketika Nenek mulai sulit berjalan.
Aku yang mengantarnya kontrol ke rumah sakit. Aku yang membersihkan kamarnya, menyiapkan obat, dan menemani malam-malam ketika beliau tidak bisa tidur.
Nenek pernah menggenggam tanganku sambil berkata bahwa tanah itu bukan hadiah karena aku menjadi cucu yang baik.
Tanah itu adalah bekal agar aku tidak perlu menggantungkan hidup kepada siapa pun.
Baru sekarang aku memahami maksudnya.
Aku mengeluarkan telepon yang dipinjamkan Bu Ratna dan menghubungi Pak Damar, notaris yang menangani warisan Nenek.
Beliau menjawab setelah dering ketiga.
“Selamat siang, Kirana. Ada apa?”
“Pak, apakah sertifikat asli tanah Nenek masih disimpan di tempat Bapak?”
“Masih. Sesuai permintaanmu, dokumen itu berada dalam penyimpanan kantor kami sampai kamu mengambilnya sendiri.”
Aku mengembuskan napas lega.
“Apakah ada pihak yang menghubungi Bapak untuk mengurus penjualan?”
“Ada. Kakakmu datang minggu lalu membawa surat kuasa. Tapi tanda tangannya berbeda dengan spesimen yang kami simpan, jadi saya tidak memproses permintaannya.”
Aku menatap Melati.
Wajahnya langsung pucat.
“Pak, saya sedang berada di acara keluarga. Ada dokumen lain yang menggunakan tanda tangan saya tanpa izin. Tolong bantu saya mengamankan bukti dan mengambil langkah hukum.”
“Tentu. Jangan menandatangani apa pun sebelum kita memeriksanya.”
Aku mengakhiri panggilan.
Pak Harun segera mengangkat kedua tangannya.
“Saya tidak akan melanjutkan transaksi ini, Bu. Saya juga bersedia menyerahkan komunikasi yang berkaitan dengan dokumen tersebut.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih.”
Melati tiba-tiba menangis.
“Kirana, Mbak cuma ingin membantu keluarga!”
Aku menatapnya.
“Dengan memalsukan tanda tanganku?”
“Utang Ayah sudah terlalu besar. Kalau tidak segera dibayar, rumah kami bisa disita.”
Aku terdiam sesaat.
“Kenapa tidak bicara kepadaku?”
“Karena kamu pasti menolak menjual tanah itu.”
“Jadi karena takut aku menolak, kalian memutuskan tidak perlu meminta persetujuanku?”
Melati menunduk.
Aku akhirnya memahami semuanya.
Mereka tidak sekadar ingin menyelamatkan nama baik Saskia.
Mereka sedang berusaha menyelesaikan masalah keuangan menggunakan sesuatu yang bukan milik mereka.
Dan aku adalah orang yang harus dikorbankan agar rencana itu berhasil.
Aku kembali ke tengah aula.
Reza berdiri dengan wajah gelisah.
“Kirana, kita bisa membicarakan ini secara pribadi.”
“Sudah tujuh tahun aku membicarakan masa depan kita secara pribadi, Reza. Hasilnya, kamu membuat rencana masa depan bersama perempuan lain.”
Dia mencoba menggenggam tanganku.
Aku menariknya.
“Uang seratus delapan puluh juta yang kupinjamkan untuk usahamu juga akan kuurus pengembaliannya sesuai perjanjian kita.”
Reza menatapku terkejut.
“Kamu mau menghancurkan usahaku?”
“Tidak. Aku hanya berhenti membiayai kebohonganmu.”
Aku meminta mikrofon kepada pembawa acara.
Tanganku sedikit gemetar ketika menerimanya, tetapi suaraku terdengar jelas.
“Bapak dan Ibu, saya Kirana Wulandari. Saya ingin meminta maaf karena acara hari ini tidak berlangsung sesuai undangan.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Pernikahan saya dengan Reza dibatalkan. Keputusan itu saya ambil setelah mengetahui hubungan Reza dengan Saskia dan tindakan keluarga saya yang mengurung saya di ruang rias.”
Beberapa tamu saling berpandangan.
Aku melanjutkan.
“Seluruh biaya acara yang menjadi tanggung jawab saya akan saya selesaikan langsung dengan penyedia jasa. Namun, saya tidak pernah menyetujui penjualan tanah warisan Nenek untuk membiayai acara ataupun kepentingan pribadi siapa pun.”
Ayah menundukkan kepala.
Saskia menangis di pelaminan.
Aku tidak merasa menang.
Aku hanya merasa sangat lelah.
Setelah mengembalikan mikrofon, aku berjalan menuju pintu keluar.
Tante Rukmini menyusul dan memelukku.
“Kamu mau pulang ke mana, Nak?”
Aku menatap kebaya putih yang masih kukenakan.
“Ke rumah Nenek.”
Rumah kecil di pinggir Sleman itu sudah kosong sejak beliau meninggal.
Namun, kuncinya masih kusimpan.
Sore itu, aku tiba ketika matahari mulai turun.
Aku melepas mahkota melati, membersihkan riasan wajah, lalu duduk di kursi kayu dekat jendela.
Di atas meja terdapat foto Nenek yang sedang tersenyum.
Aku menangis untuk pertama kalinya sejak keluar dari ruang rias.
Bukan karena kehilangan Reza.
Melainkan karena menyadari betapa lama aku menghabiskan hidup untuk mendapatkan kasih sayang orang-orang yang ternyata bersedia mengorbankanku.
Beberapa minggu berikutnya tidak mudah.
Aku harus memberikan keterangan mengenai dugaan pemalsuan dokumen, mengurus pembatalan berbagai kontrak, dan menyelesaikan persoalan keuangan dengan Reza.
Hubunganku dengan Ayah dan Melati juga tidak serta-merta membaik.
Aku memilih menjaga jarak.
Namun, aku tidak lagi merasa bersalah karenanya.
Suatu sore, Pak Damar menghubungiku.
“Kirana, ada satu surat dari nenekmu yang dulu beliau titipkan bersama dokumen warisan.”
Aku datang ke kantornya keesokan hari.
Surat itu ditulis tangan.
Tulisan Nenek sedikit bergetar, tetapi masih mudah kubaca.
Kirana, kalau suatu hari kamu merasa sendirian karena memilih mempertahankan hakmu, jangan takut. Rumah dan tanah ini bukan untuk membuatmu kaya. Nenek ingin kamu selalu punya tempat pulang ketika dunia memperlakukanmu dengan tidak adil.
Aku menangis sambil memegang surat tersebut.
Di bagian akhir, Nenek menuliskan satu kalimat lagi.
Jangan pernah mengira bahwa mencintai keluarga berarti harus membiarkan dirimu disakiti.
Enam bulan kemudian, aku membuka usaha kecil penyedia bahan bangunan di sebagian lahan warisan itu, memanfaatkan pengalaman kerjaku selama bertahun-tahun.
Rumah Nenek tetap kupertahankan.
Aku menanam melati putih di halaman depan, bunga yang dulu beliau rawat setiap pagi.
Pada suatu hari, sebuah undangan pernikahan tiba melalui kurir.
Nama Reza dan Saskia tercetak di sampulnya.
Aku memandang undangan itu sebentar, kemudian meletakkannya di meja tanpa membukanya.
Tidak ada lagi amarah yang ingin kutumpahkan.
Aku hanya berharap mereka belajar bertanggung jawab atas pilihan masing-masing.
Pagi berikutnya, ketika membuka jendela, aku melihat bunga melati pertama mulai mekar.
Aku tersenyum.
Hari pernikahanku memang pernah berubah menjadi hari paling memalukan dalam hidupku.
Namun, hari itu juga menyelamatkanku dari pernikahan yang dibangun di atas kebohongan.
Aku kehilangan calon suami, kepercayaan kepada keluargaku, dan masa depan yang selama ini kubayangkan.
Tetapi aku tidak kehilangan diriku sendiri.
Dan akhirnya aku mengerti mengapa Nenek begitu bersikeras meninggalkan rumah itu atas namaku.
Beliau mungkin tidak bisa melindungiku selamanya.
Namun, bahkan setelah tiada, Nenek telah memastikan bahwa ketika semua pintu ditutup oleh orang-orang yang seharusnya mencintaiku, masih ada satu pintu yang bisa kubuka dengan tanganku sendiri.
