Suamiku Pulang dari Perjalanan Dinas Malah Menyalahkanku karena Tidak Menelepon?

Gerimis di luar jendela perlahan berubah menjadi lebat, menderu di atas atap rumah seolah

mencerminkan kekacauan yang kini melanda ruang tamu ini. Budi terpaku di kursinya, napasnya memburu dan matanya liar menatap layar ponsel yang masih menyala terang dengan pesan dari Dewi. Kalimat terakhir tentang aset itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang jauh lebih mematikan daripada teriakan amarah mana pun. Lima tahun pernikahan yang kubangun dengan tetesan keringat dan ketulusan ternyata hanyalah sebuah panggung sandiwara, di mana aku diposisikan sebagai penonton bodoh yang membiayai kebahagiaan keluarga rahasia suamiku. Aku bangkit dari sofa, melangkah pelan mendekati jendela, membiarkan bayanganku sendiri memantul di kaca yang basah oleh air hujan. Suara deheman Budi terdengar gemetar, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan dada. Sari, kumohon dengarkan penjelasan dulu, ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan, ucapannya terputus-putus, mencerminkan kepanikan seorang lelaki yang menyadari topeng kebohongannya telah hancur berkeping-keping. Aku menoleh perlahan, menatapnya dengan pandangan dingin yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tidak seperti yang kubayangkan? Budi, selama tiga tahun terakhir aku bekerja membanting tulang dari subuh demi pesanan katering, sementara kamu menguras tabungan keluarga untuk membiayai apartemen dan kehidupan selingkuhanmu, lalu sekarang kamu masih punya muka berkata aku salah paham? Bentakanku yang tertahan membuat Budi semakin menciut di sofa, namun alih-alih merasa bersalah, kilatan licik tiba-tiba melintas di matanya, kilatan yang menunjukkan bahwa dia masih berniat melepaskan diri dari jerat ini. Dia berdiri, mencoba mendekatiku dengan gestur memelas yang tampak begitu memuakkan. Kalau kamu memang berniat menggugat cerai, kita bisa selesaikan baik-baik tanpa harus merusak karierku, rumah ini atas nama kita berdua, dan tabungan usaha itu hak bersama, ucapannya mulai menunjukkan warna aslinya yang serakah. Aku tertawa pelan, tawa hambar yang sarat akan kepahitan. Hak bersama? Budi, kamu sepertinya lupa siapa yang sebenarnya memiliki segalanya di rumah ini. Sebelum sempat menjawab, pintu depan tiba-tiba diketuk dengan keras, disusul oleh suara desakan orang yang memaksa masuk. Belum sempat aku melangkah ke arah pintu, daun pintu terbuka lebar dan sesosok perempuan berwajah panik dengan seorang anak laki-laki berumur sekitar tiga tahun berdiri di ambang pintu. Itu adalah Dewi, perempuan yang selama ini bersembunyi di balik layar ponsel suamiku, datang tanpa diundang menyerbu rumah kami bersama anak yang memanggil Budi dengan sebutan Papa. Suasana di ruang tamu seketika meledak dalam kebingungan luar biasa. Budi terpekik kaget melihat kehadiran mereka berdua, sementara Dewi langsung menghambur masuk sambil menangis histeris, menuntut kepastian dari Budi di hadapanku. Mas Budi! Kenapa kamu tidak bisa dihubungi? Arga terus rewel menanyakan papanya, dan orang-orang dari bank terus meneror apartemen kita karena cicilan belum dibayar! teriak Dewi tanpa memedulikan keberadaanku. Aku melipat tangan di dada, menyaksikan drama murahan ini tersaji di depan mataku sendiri. Jadi ini puncak dari sandiwara yang kamu bangun, Budi? perempuan ini datang menagih janji atas aset-aset yang kamu janjikan dari hasil menguras uangku, kataku tajam menusuk hati mereka berdua. Dewi tertegun, baru menyadari kehadiran istri sah yang selama ini dibohongi oleh kekasihnya. Ia menatapku dengan mata terbelalak, lalu beralih menatap Budi yang kini berdiri seperti orang linglung di tengah ruangan. Kamu bilang istrimu sudah setuju menandatangani pengalihan aset itu, Mas! Kenapa jadi begini? jerit Dewi panik. Budi membentak Dewi dengan kasar, menyuruhnya diam, namun semuanya sudah terlambat. Dokumen-dokumen yang kubawa bukan sekadar surat cerai, melainkan hasil audit forensik keuangan yang telah kuberikan kepada pihak berwajib dan pengacara pribadiku sejak pagi tadi. Pintu luar kembali terbuka, kali ini bukan suara hujan, melainkan langkah tegap dua orang petugas kepolisian berseragam lengkap yang masuk didampingi oleh konsultan hukumku. Budi Wicaksono, Anda resmi ditangkap atas laporan penggelapan dana perusahaan, pemalsuan dokumen aset keluarga, dan penipuan berencana, suara tegas petugas menggelegar memenuhi ruang tamu. Budi terduduk lemas di lantai, wajahnya sepucat kertas, sementara Dewi menangis histeris sambil memeluk anaknya di sudut ruangan. Aku menatap Budi untuk terakhir kalinya, melangkah melewati mereka berdua tanpa menoleh lagi, menyadari bahwa badai terbesar dalam hidupku telah membersihkan semua kotoran, meninggalkanku berdiri tegak menyambut hari esok yang jauh lebih bersih dan bermartabat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang