Pukul delapan lewat lima belas menit, mobil yang dikemudikan Pak Jono berhenti di depan Wijaya Tower. Gedung setinggi empat puluh lantai itu menjulang angkuh di tengah kawasan SCBD, dengan logo keluarga suamiku bersinar keemasan di puncaknya.
Aku turun sambil menggenggam ponsel. Entah mengapa, sejak meninggalkan rumah, perasaanku semakin tidak nyaman.

“Bu Sinta, mau saya tunggu?” tanya Pak Jono.
“Iya, Pak. Saya enggak akan lama.”
Aku memasuki lobi yang hampir kosong. Petugas keamanan langsung mengenaliku dari foto pernikahan yang terpampang di berbagai media beberapa hari lalu.
“Selamat malam, Bu Sinta. Mau bertemu Pak Bima?”
“Iya. Beliau masih di kantor, kan?”
Petugas itu tampak ragu. Matanya bergerak ke arah resepsionis sebelum menjawab.
“Masih, Bu. Tapi tadi Pak Bima berpesan supaya tidak diganggu.”
Aku tersenyum tipis. “Saya istrinya. Saya cuma mau bicara sebentar.”
Setelah mendapatkan izin melalui telepon internal, aku naik ke lantai tiga puluh delapan.
Ketika pintu lift terbuka, suasana kantor sangat sunyi. Hampir semua lampu sudah dimatikan, kecuali di ujung koridor tempat ruang direktur utama berada.
Aku baru berjalan beberapa langkah ketika mendengar suara perempuan.
“Mas, sampai kapan kamu mau menyembunyikan ini dari Sinta?”
Langkahku terhenti.
Suara itu terdengar akrab.
Aku mendekat perlahan, hingga bisa melihat melalui celah pintu ruang rapat yang belum tertutup sempurna.
Di dalam, Bima duduk berhadapan dengan seorang perempuan berambut sebahu. Perempuan itu mengenakan blazer krem dan sedang memegang beberapa lembar dokumen.
Aku mengenalinya.
Nadia Prameswari.
Mantan kekasih Bima yang pernah diperkenalkan Mama Ratna kepadaku sebagai anak sahabat keluarga.
Perempuan yang, menurut cerita Bima, sudah lama tidak berhubungan dengannya.
“Kalau Sinta tahu sekarang, semuanya bisa kacau,” jawab Bima dengan suara rendah.
Nadia menghela napas.
“Tapi kamu enggak bisa terus menyalahkan dia. Dia bahkan enggak tahu apa-apa.”
Jantungku seperti berhenti.
Apa maksud mereka?
Aku mendorong pintu perlahan.
“Enggak tahu apa, Mas?”
Keduanya langsung menoleh.
Wajah Bima berubah pucat.
“Sinta? Kamu ngapain ke sini?”
Aku menatap Nadia, lalu Bima.
“Harusnya aku yang tanya. Kenapa kamu ada di sini sama mantan pacarmu, jam segini, sementara di rumah semua orang menganggap aku penyebab masalah kita?”
Nadia berdiri.
“Sinta, kamu salah paham.”
Aku tertawa getir.
“Lucu sekali. Beberapa hari lalu suamiku marah karena aku ngobrol lima menit dengan teman kuliah. Sekarang dia malah diam-diam bertemu mantannya. Terus aku yang salah paham?”
Bima mengusap wajahnya.
“Nadia, kamu keluar dulu.”
“Mas Bima, tapi dokumen ini…”
“Keluar, Nad!”
Nadia terdiam. Ia memasukkan berkas ke tasnya lalu berjalan melewatiku.
Sebelum pergi, perempuan itu berhenti sebentar.
“Sinta, jangan percaya semua yang kamu dengar dari keluarga itu.”
Aku menoleh, tetapi Nadia sudah melangkah menuju lift.
Pintu ruang rapat tertutup.
Kini hanya ada aku dan Bima.
“Jelaskan, Mas.”
Bima menatapku lama.
“Aku enggak selingkuh.”
“Terus kenapa harus sembunyi?”
“Karena ada urusan perusahaan yang belum bisa aku ceritakan.”
“Urusan perusahaan sampai harus melibatkan mantan pacar?”
“Nadia pengacara korporasi. Dia sedang membantu menyelidiki sesuatu.”
Aku ingin percaya. Namun bayangan lima hari terakhir kembali memenuhi kepalaku.
“Kalau begitu, kenapa kamu memperlakukanku seperti penjahat sejak ketemu Andra?”
Bima terdiam.
“Jawab aku.”
“Aku melihat sesuatu di ponsel Andra.”
Aku mengerutkan kening.
“Maksud kamu?”
Bima mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto.
Dalam foto itu, aku terlihat sedang berdiri di depan restoran bersama Andra. Sudut pengambilannya membuat kami tampak sangat dekat.
Di bawah foto tersebut terdapat pesan anonim.
Istrimu bukan perempuan polos seperti yang kamu kira. Cari tahu siapa Andra sebenarnya sebelum semuanya terlambat.
Aku membaca pesan itu berulang kali.
“Siapa yang kirim?”
“Nomor enggak dikenal.”
“Dan kamu langsung percaya?”
Bima tidak menjawab.
Air mataku akhirnya jatuh.
“Mas, kamu menikahiku karena cinta atau karena ingin punya seseorang yang bisa kamu curigai setiap saat?”
Pertanyaanku membuatnya menunduk.
“Aku takut kehilangan kamu.”
“Tapi justru kamu yang membuatku ingin pergi.”
Bima mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak kejadian di Labuan Bajo, aku melihat penyesalan di matanya.
“Sinta, aku tahu aku salah.”
Aku menggeleng.
“Maaf saja enggak cukup.”
Aku berbalik meninggalkannya.
Namun sebelum mencapai pintu, Bima memanggilku.
“Tunggu. Ada satu hal yang harus kamu tahu.”
Aku berhenti.
“Andra bukan sekadar teman kuliahmu yang kebetulan bekerja di Labuan Bajo.”
Aku menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Bima menarik napas panjang.
“Dia pernah bekerja sebagai konsultan lapangan untuk salah satu anak perusahaan Wijaya Group. Dua bulan lalu, dia menyerahkan laporan mengenai dugaan penggelapan dana proyek senilai hampir delapan puluh miliar rupiah.”
Aku membeku.
“Terus hubungannya sama aku?”
“Nama Andra tiba-tiba muncul lagi tepat setelah kita menikah. Lalu seseorang mengirim foto kalian kepadaku. Aku mulai curiga pertemuan itu sengaja diatur.”
Aku mencoba mengingat.
Andra memang tampak terkejut melihatku di restoran. Ia bahkan sempat mengatakan sudah hampir setahun bekerja di Labuan Bajo.
“Kalau kamu curiga, kenapa enggak tanya baik-baik?”
Bima menunduk.
“Karena aku terlalu bodoh untuk membedakan rasa takut dan kenyataan.”
Malam itu aku tidak langsung memaafkannya.
Aku meminta Bima mengantarku pulang, tetapi bukan ke rumah keluarga Wijaya.
Aku ingin kembali ke apartemen kecil milikku di Jakarta Selatan, tempat yang kubeli dari hasil bekerja sebagai desainer interior sebelum menikah.
Bima tidak membantah.
Keesokan paginya, ketika aku sedang menyeduh kopi, ponselku berdering.
Nomor tidak dikenal.
“Halo?”
“Mbak Sinta? Ini Andra.”
Aku terkejut.
“Andra? Kamu dapat nomorku dari mana?”
“Dari grup alumni. Maaf mengganggu. Tapi aku perlu bicara. Ini penting.”
Nada suaranya terdengar tegang.
“Ada apa?”
“Kemarin seseorang datang mencari aku di kantor. Mereka menanyakan apakah aku mengenal kamu. Mbak, sepertinya kamu sedang dimanfaatkan.”
Darahku berdesir.
“Dimanfaatkan siapa?”
“Andai aku tahu pasti, aku enggak akan setakut ini. Tapi aku punya bukti. Aku baru sampai Jakarta. Bisa ketemu?”
Kami sepakat bertemu di sebuah kafe di kawasan Senopati pada siang hari. Aku juga menghubungi Bima dan memintanya datang.
Ketika kami bertiga duduk berhadapan, Andra mengeluarkan sebuah flashdisk.
“Ini salinan laporan audit internal yang pernah kubuat. Aku menemukan pembayaran fiktif melalui perusahaan kontraktor bernama PT Cakra Mandiri Utama.”
Bima langsung menegakkan punggung.
“Perusahaan itu milik siapa?”
Andra menatapnya.
“Secara hukum, direkturnya orang lain. Tapi pemilik manfaat akhirnya diduga seseorang dari keluarga Wijaya.”
Ruangan terasa mendadak dingin.
Andra membuka laptop dan memperlihatkan beberapa transaksi.
Dana proyek mengalir ke rekening perusahaan tersebut dalam jumlah besar. Sebagian pembayaran diberi keterangan pembelian material, padahal materialnya tidak pernah dikirim.
Kemudian sebuah nama muncul.
Mira Santosa.
Tante Mira.
Aku menutup mulut.
“Enggak mungkin.”
Bima menatap layar tanpa berkedip.
“Tante Mira selama ini mengurus pengadaan material untuk beberapa proyek kami.”
Andra mengangguk.
“Dan ada satu nama lagi yang muncul dalam korespondensi.”
Ia menggulir layar.
Tasya Mahendra.
Sepupu Bima.
Aku teringat semua sindiran Tasya sejak kepulanganku.
Tiba-tiba semuanya terasa masuk akal.
“Jadi foto aku sama Andra sengaja dikirim supaya Mas Bima marah dan kami pulang cepat?”
Andra menggeleng.
“Awalnya mungkin mereka justru ingin kalian bertengkar dan Bima kehilangan fokus. Tapi ada kemungkinan lain. Mereka tahu aku pernah mengenal kamu, jadi mereka memanfaatkan pertemuan itu untuk membuat laporanku terlihat seperti bagian dari rencana menjatuhkan keluarga Wijaya.”
Bima mengepalkan tangan.
“Kalau benar begitu, mereka salah menghitung.”
Malam harinya, kami kembali ke rumah besar keluarga Wijaya.
Kali ini aku tidak datang sebagai menantu yang ketakutan.
Aku datang dengan membawa kebenaran.
Di ruang keluarga, Nenek Ratu sedang duduk bersama Mama Ratna, Tante Mira, dan Tasya.
Bima meletakkan sebuah map tebal di atas meja.
“Tante Mira, saya perlu penjelasan soal PT Cakra Mandiri Utama.”
Wajah Tante Mira seketika berubah.
“Perusahaan apa itu?”
Bima tidak menjawab. Ia hanya menggeser beberapa dokumen ke hadapannya.
Tasya yang duduk di samping ibunya langsung berdiri.
“Kak Bima, ini pasti ulah Kak Sinta! Dia sengaja mau mengadu domba keluarga!”
Aku menatapnya tenang.
“Aku bahkan belum bicara apa-apa, Tasya. Kenapa kamu sudah takut?”
Tasya terdiam.
Nenek Ratu memukul lantai dengan tongkatnya.
“Cukup! Bima, jelaskan semuanya!”
Bima memaparkan temuannya, termasuk bukti transaksi dan hasil penelusuran awal yang dilakukan Nadia.
Tante Mira berkali-kali membantah.
Namun keadaan berubah ketika Nadia masuk bersama kepala audit internal perusahaan.
Mereka membawa laporan tambahan yang menunjukkan keterkaitan rekening perusahaan kontraktor dengan pembayaran pribadi yang menguntungkan Tante Mira dan Tasya.
Tangan Tante Mira mulai gemetar.
“Kalian enggak mengerti. Aku melakukan itu karena selama ini keluarga ini enggak pernah adil!”
Nenek Ratu menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.
“Mira, kamu sudah mendapat rumah, saham, dan jabatan. Apa lagi yang kurang?”
Tante Mira menangis.
“Yang kurang itu pengakuan, Ma! Sejak kecil semuanya selalu tentang kakakku, lalu tentang Bima. Aku selalu dianggap orang kedua!”
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Aku melihat perempuan yang selama ini tampak sombong itu akhirnya menunjukkan luka yang telah lama ia simpan.
Namun luka bukan pembenaran untuk menyakiti orang lain.
Bima menyerahkan semua dokumen kepada tim hukum perusahaan untuk diperiksa lebih lanjut. Tante Mira dicopot sementara dari kewenangan pengadaan, sedangkan akses Tasya ke sistem perusahaan langsung dibekukan.
Nenek Ratu menangis dalam diam.
Malam itu, kemewahan rumah Wijaya terasa tidak berarti.
Saat semua orang meninggalkan ruang keluarga, Bima mendekatiku.
“Sinta, aku minta maaf.”
Aku menatapnya.
“Untuk apa?”
“Untuk semua tuduhan. Untuk sikapku di Labuan Bajo. Untuk membiarkan kamu dipermalukan keluarga sendiri.”
Aku menarik napas panjang.
“Mas, masalah kita bukan cuma karena Tante Mira atau Tasya. Mereka mungkin memanfaatkan kecemburuanmu, tapi mereka enggak menciptakannya. Kamu sendiri yang memilih untuk enggak percaya padaku.”
Bima mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku butuh waktu. Aku enggak mau kembali ke rumah ini hanya karena semuanya sudah terbongkar.”
“Aku akan menghormati keputusanmu.”
Tiga bulan berlalu.
Aku tetap tinggal di apartemenku dan kembali menerima proyek desain interior. Bima menjalani konseling untuk mengatasi kecemburuan dan kebiasaannya mengendalikan hubungan. Kami bertemu seminggu sekali, berbicara tanpa saling menyalahkan.
Sementara itu, penyelidikan internal perusahaan selesai. Bukti dugaan penggelapan diserahkan kepada pihak berwenang untuk ditindaklanjuti.
Suatu sore, Bima datang membawa sebuah kotak kecil.
Aku membukanya.
Di dalamnya ada gelang kerang dari Pantai Pink.
Gelang yang ternyata tertinggal di rumah Wijaya ketika aku pindah.
“Aku menemukannya di laci,” katanya pelan.
Aku menyentuh kerang-kerang putih itu.
“Dulu kamu bilang gelang ini tanda kalau aku milikmu.”
Bima tersenyum pahit.
“Aku salah. Kamu bukan milik siapa pun, Sin. Kamu punya hak menentukan hidupmu sendiri.”
Aku menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya, kata-katanya tidak terdengar seperti janji kosong.
Aku memakai gelang itu kembali.
Bukan karena aku sudah melupakan semuanya, melainkan karena aku ingin mengingat bahwa cinta tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan diri sendiri.
“Mas,” kataku, “kalau kita mau mulai lagi, kita harus mulai dari rasa percaya. Bukan dari rasa takut.”
Bima mengangguk.
“Aku mau belajar.”
Aku tersenyum kecil.
“Kalau begitu, kita mulai pelan-pelan.”
Saat itu ponsel Bima bergetar.
Pesan dari Nenek Ratu muncul di layar.
Nenek sudah memutuskan mengubah aturan keluarga. Tidak akan ada lagi orang yang dihormati hanya karena nama belakangnya. Mulai sekarang, kejujuran lebih berharga daripada warisan.
Bima memperlihatkan pesan itu kepadaku.
Aku tertawa pelan, lalu menatap langit Jakarta yang mulai berubah jingga.
Dulu aku mengira menikahi pewaris keluarga konglomerat berarti mendapatkan kehidupan seperti dongeng.
Ternyata aku justru harus melewati pengkhianatan, penghinaan, dan ketakutan untuk memahami sesuatu yang jauh lebih penting.
Rumah sebesar apa pun tidak akan membuat seseorang merasa aman jika di dalamnya tidak ada kepercayaan.
Dan cinta yang benar bukanlah cinta yang menggenggam begitu erat hingga menyakitkan.
Cinta yang benar adalah cinta yang berani membuka tangan, memberi kebebasan, tetapi tetap memilih untuk berjalan bersama.
