
“Kamu bawa Aluna ke mana?!”
Suara Bima menggelegar dari seberang telepon. Aku menjauhkan ponsel dari telinga, khawatir teriakannya membangunkan Aluna yang baru saja tertidur.
“Dia bersamaku. Aman. Sudah makan dan sekarang sedang tidur.”
“Siapa yang mengizinkan kamu membawa anakku pergi tanpa bilang-bilang?”
Aku menatap pantulan wajahku di kaca jendela penthouse. Bekas tamparan di pipi kiriku masih membiru.
“Anak kita, Bima. Dan kamu kehilangan hak untuk memerintahku ketika tanganmu mendarat di wajahku tadi malam.”
Hening beberapa detik.
Lalu terdengar embusan napas kesal.
“Kirana, jangan membesar-besarkan masalah! Clara sudah menjelaskan bahwa kejadian itu cuma salah paham. Kamu tahu sendiri dia sensitif.”
Aku tersenyum pahit.
“Jadi kamu menelepon lima puluh kali untuk membicarakan perasaan Clara?”
“Jangan mulai lagi!”
“Aku tidak memulai apa pun. Aku hanya mengakhirinya.”
“Kamu mau cerai?”
“Iya.”
Bima tertawa pendek, seolah baru mendengar lelucon paling konyol.
“Kamu pikir bisa hidup tanpa aku? Selama tiga tahun kamu tidak bekerja. Apartemen kita atas namaku. Kartu kreditmu juga kartu tambahan milikku.”
Aku memejamkan mata.
Dulu, kalimat seperti itu mungkin akan membuatku menangis.
Sekarang justru membuatku sadar betapa sedikitnya dia mengenalku.
“Selamat malam, Bima.”
Aku memutus sambungan.
Keesokan paginya, pukul sembilan tepat, aku duduk di ruang rapat kecil Wijaya Tower. Sari berdiri di samping layar presentasi, sementara Pak Harun, direktur hukum perusahaan, dan Pak Dimas, kepala keuangan grup, menunggu penjelasanku.
Aku mengenakan setelan blazer abu-abu yang sudah tiga tahun tersimpan di lemari.
“Kita langsung saja,” kataku.
Pak Harun mengangguk.
“Ada yang perlu kami siapkan, Bu Kirana?”
“Aku ingin kembali bekerja. Tapi proses pengangkatanku harus sesuai tata kelola perusahaan. Aku tidak mau ada keputusan hanya karena aku anak pemegang saham pengendali.”
Pak Dimas tersenyum.
“Itu baru Kirana yang kami kenal.”
Aku menatap laporan yang disodorkan kepadaku.
Selama tiga tahun terakhir, Wijaya Group berkembang pesat. Namun satu proyek membuatku berhenti membalik halaman.
Aku mengenali nama kantor hukum yang tercantum sebagai calon konsultan eksternal.
Aryasatya Legal Partners.
Kantor milik Bima.
“Kenapa firma ini masuk daftar?”
Pak Harun menjawab, “Mereka sedang mengikuti proses seleksi pendamping hukum untuk akuisisi perusahaan properti di Surabaya. Nilai kontraknya sekitar dua belas miliar rupiah untuk tiga tahun.”
Aku terdiam.
Dua belas miliar.
Bima pernah bercerita bahwa proyek itulah yang akan mengubah hidupnya.
“Apakah kontraknya sudah ditandatangani?”
“Belum. Baru tahap penilaian akhir.”
Aku menutup berkas.
“Karena ada hubungan pribadi antara aku dan pemilik firma itu, aku tidak akan ikut menilai atau memutuskan apa pun. Tolong pastikan prosesnya independen.”
Pak Harun mengangguk, lalu menyampaikan sesuatu yang membuatku terkejut.
“Ada masalah lain, Bu. Tim kepatuhan menemukan ketidaksesuaian dalam beberapa dokumen pengalaman kerja yang diajukan firma tersebut.”
Aku menatapnya.
“Ketidaksesuaian seperti apa?”
“Beberapa proyek dicantumkan sebagai pekerjaan utama mereka, padahal berdasarkan konfirmasi awal, peran mereka hanya sebagai konsultan pendukung. Kami masih memverifikasinya.”
Aku menarik napas panjang.
“Kalau begitu, lanjutkan pemeriksaan. Jangan berikan perlakuan khusus karena dia suamiku.”
Siang harinya, Bima datang ke Wijaya Tower.
Aku mengetahuinya dari pesan Sari.
Kirana, Bima ada di lobi. Dia datang bersama Clara. Mereka mau bertemu direktur pengadaan.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Rupanya mereka tidak membuang waktu.
Beberapa menit kemudian, Sari mengirimkan rekaman kamera lobi yang diizinkan untuk kulihat melalui sistem internal.
Bima mengenakan jas biru tua. Clara berdiri di sampingnya dengan gaun krem dan tas mahal.
Mereka tampak percaya diri.
Clara bahkan tertawa ketika resepsionis meminta keduanya menunggu.
Aku tidak turun.
Aku melanjutkan pekerjaanku hingga sore.
Namun pukul empat, telepon internal di mejaku berbunyi.
“Bu Kirana,” suara Pak Harun terdengar serius, “ada perkembangan mengenai seleksi firma hukum.”
“Ada apa?”
“Kami menerima laporan resmi dari salah satu klien lama Aryasatya Legal Partners. Mereka mempertanyakan keakuratan dokumen pengalaman kerja yang digunakan firma tersebut.”
Aku terdiam.
“Apakah laporan itu sudah diverifikasi?”
“Sebagian sudah. Tim sedang meminta klarifikasi tertulis kepada pihak Bima.”
Aku menatap jalanan Jakarta dari lantai tiga puluh dua.
Aku sama sekali tidak merasa menang.
Mendengar suamiku mungkin memiliki masalah profesional tidak membuat bekas tamparan di wajahku sembuh.
“Pastikan dia diberi kesempatan menjelaskan,” kataku. “Aku tidak ingin masalah rumah tangga kita mencampuri proses bisnis.”
Malamnya, ketika aku sedang menemani Aluna menggambar, Mama masuk membawa sebuah amplop.
“Ini dari pengacara keluarga. Mama sudah meminta mereka menghubungimu, tetapi keputusan tetap ada di tanganmu.”
Aku membuka amplop itu.
Di dalamnya ada informasi mengenai langkah hukum perceraian, pengasuhan anak, dan dokumentasi kekerasan yang kualami.
Mama duduk di sampingku.
“Kirana, Mama mau tanya sesuatu.”
“Apa, Ma?”
“Kamu benar-benar ingin berpisah, atau masih berharap Bima berubah?”
Aku memandang Aluna yang sedang sibuk mewarnai gambar kelinci.
“Aku pernah berharap dia berubah, Ma. Bertahun-tahun.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku ingin Aluna tumbuh tanpa menganggap perempuan harus menerima kekerasan demi mempertahankan keluarga.”
Mama menggenggam tanganku.
“Kalau begitu, Mama akan mendukungmu.”
Dua hari kemudian, aku datang ke rumah sakit untuk memeriksakan bekas luka di wajahku dan meminta dokumentasi medis. Aku juga mulai berkonsultasi mengenai pelaporan kekerasan yang terjadi di restoran.
Pengacaraku menyarankan agar rekaman kamera pengawas restoran segera diamankan melalui prosedur yang benar.
Ternyata, rekaman itu menyimpan sesuatu yang tidak kuduga.
Dalam video tersebut, sebelum gelas anggur tumpah, Clara terlihat sengaja menggerakkan tangannya ke arah nampan pelayan.
Kemudian, setelah Bima menamparku, Clara tampak tersenyum tipis ketika tidak ada orang yang memperhatikannya.
Aku menonton rekaman itu bersama pengacaraku.
“Ini bisa menjadi bukti penting,” katanya.
Aku mengangguk pelan.
Namun yang paling menyakitkan bukanlah gerakan tangan Clara.
Melainkan wajah Bima sesaat sebelum menamparku.
Tidak ada keraguan.
Tidak ada keinginan mendengarkan penjelasanku.
Dia hanya percaya kepada perempuan yang ingin dipercayainya.
Seminggu kemudian, undangan rapat luar biasa pemegang saham Wijaya Group dikirimkan.
Aku diusulkan untuk menjabat sebagai Direktur Pengembangan Strategis setelah melalui penilaian kelayakan dan persetujuan sesuai ketentuan perusahaan.
Berita tentang kemungkinan kembalinya Kirana Adhitama Wijaya ke jajaran manajemen mulai beredar di kalangan bisnis Jakarta.
Sore itu, Bima menelepon.
Kali ini suaranya berbeda.
“Kirana, kamu ada hubungan apa dengan Wijaya Group?”
Aku menatap layar laptop.
“Aku pernah bekerja di sana.”
“Jangan bohong! Aku baru lihat profil perusahaan. Nama lengkap pewaris keluarga Wijaya itu Kirana Adhitama Wijaya!”
Aku tidak menjawab.
“Kirana, itu kamu?”
“Iya.”
Di seberang sana terdengar sesuatu terjatuh.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Aku tertawa kecil.
“Karena kamu tidak pernah bertanya tentang hidupku sebelum menikah, Bima.”
“Jadi selama ini kamu anak pemilik Wijaya Group?”
“Aku putri keluarga Wijaya. Tapi semua pencapaianku sebelum menikah tetap hasil kerjaku sendiri.”
Bima terdiam lama.
Kemudian dia bertanya dengan suara tergesa.
“Kontrak kantor hukumnya bagaimana?”
Aku memejamkan mata.
Itulah pertanyaan pertamanya setelah mengetahui siapa aku.
Bukan tentang kesehatanku.
Bukan tentang Aluna.
Melainkan tentang kontrak bisnis.
“Aku tidak terlibat dalam penilaiannya.”
“Kamu bisa bantu aku, kan? Kita suami istri!”
“Status pernikahan tidak boleh menjadi alasan untuk melanggar aturan perusahaan.”
“Kirana, jangan egois!”
Aku menatap foto Aluna di meja kerjaku.
“Dulu aku juga pernah memintamu jangan egois. Tapi kamu menjawabnya dengan tamparan.”
Aku menutup telepon.
Malam itu, Bima datang ke penthouse bersama Clara.
Petugas keamanan menghubungiku sebelum mengizinkan mereka naik.
Aku meminta Sari mendampingiku di ruang tamu.
Begitu pintu terbuka, Bima langsung menghampiri.
“Kirana, kita harus bicara.”
Clara berdiri di belakangnya, wajahnya pucat.
Aku duduk tanpa mempersilakan mereka mendekat.
“Silakan.”
Bima menelan ludah.
“Aku minta maaf soal malam itu.”
Aku menatapnya.
“Baru sekarang?”
“Aku sedang emosi. Kamu tahu aku tidak bermaksud menyakitimu.”
“Tapi kamu melakukannya.”
Clara tiba-tiba menangis.
“Kirana, semua ini salahku. Aku tidak sengaja menyenggol gelas itu.”
Aku mengambil tablet dari meja dan memutar rekaman restoran.
Tangisan Clara langsung berhenti.
Video memperlihatkan gerakan tangannya dengan jelas.
Bima mendekat.
“Apa itu?”
“Rekaman kamera pengawas restoran.”
Dia menyaksikannya tanpa berkedip.
Ketika adegan tamparan muncul, wajahnya berubah.
“Kirana…”
Aku menghentikan video.
“Sekarang kamu mengerti?”
Bima menoleh kepada Clara.
“Kamu sengaja?”
Clara menggeleng cepat.
“Bima, aku cuma tidak sengaja menggerakkan tangan!”
“Di video jelas sekali, Clara!”
Untuk pertama kalinya, Bima meninggikan suara kepada perempuan itu.
Namun aku tidak merasa puas.
Karena keberaniannya membela kebenaran datang setelah semuanya terlambat.
“Aku sudah menyiapkan permohonan cerai,” kataku.
Bima langsung menoleh.
“Jangan, Kirana. Kita masih bisa memperbaiki semuanya.”
“Aku sudah terlalu lama memperbaiki sesuatu sendirian.”
Dia berlutut di depanku.
“Tolong pikirkan Aluna.”
Dadaku terasa sakit mendengar nama putriku.
“Aku justru sedang memikirkan Aluna.”
Bima menangis.
Aku belum pernah melihatnya seperti itu.
Namun air mata tidak bisa menghapus peristiwa di restoran.
Aku berdiri.
“Kamu tetap ayah Aluna. Kita bisa membicarakan hubunganmu dengannya melalui kesepakatan pengasuhan yang aman. Tapi aku tidak akan kembali menjadi istrimu.”
Clara mencoba mendekat.
“Kirana, sebenarnya aku…”
Aku mengangkat tangan.
“Cukup, Clara. Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun lagi kepadaku.”
Mereka pergi malam itu tanpa mendapatkan apa yang diinginkan.
Sebulan kemudian, hasil evaluasi independen Wijaya Group menyatakan firma hukum Bima tidak lolos seleksi karena ketidaksesuaian material pada dokumen yang diajukan.
Keputusan tersebut dibuat oleh komite yang tidak melibatkanku.
Bima mengirimkan pesan panjang, menuduhku menghancurkan kariernya.
Aku hanya membalas satu kalimat.
Kariermu adalah tanggung jawabmu, seperti hidupku sekarang menjadi tanggung jawabku.
Proses perceraian berjalan beberapa bulan.
Tidak semuanya mudah.
Ada malam ketika Aluna menangis mencari ayahnya. Ada pagi ketika aku merasa bersalah karena tidak bisa memberinya keluarga seperti yang pernah kubayangkan.
Aku tidak pernah mengatakan kepada Aluna bahwa ayahnya adalah orang jahat.
Aku hanya menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa Mama dan Papa tidak akan tinggal bersama, tetapi keduanya tetap menyayanginya.
Bima akhirnya menyetujui pengaturan pengasuhan yang disepakati melalui proses hukum, dengan memperhatikan keamanan dan kebutuhan Aluna.
Hubungannya dengan Clara juga berakhir setelah serangkaian pertengkaran.
Namun ketika Bima memberitahuku hal itu, aku hanya menjawab, “Itu urusanmu.”
Aku tidak lagi ingin menjadi tempat dia pulang setiap kali dunia tidak berjalan sesuai keinginannya.
Enam bulan setelah malam di restoran, aku berdiri di depan para eksekutif Wijaya Group untuk mempresentasikan rencana ekspansi regional perusahaan.
Tanganku sedikit gemetar ketika memegang alat presentasi.
Bukan karena takut.
Melainkan karena aku teringat perempuan yang dulu rela meninggalkan semua impiannya demi dicintai seseorang.
Selesai rapat, Mama menghampiriku.
“Kamu hebat hari ini.”
Aku tersenyum.
“Dulu aku pikir hidupku berakhir ketika pernikahanku hancur.”
Mama menggeleng.
“Kadang yang berakhir bukan hidup kita, Sayang. Hanya bagian yang sudah tidak baik untuk kita.”
Sore itu, aku pulang lebih awal.
Aluna berlari menyambutku di ruang keluarga.
“Mama!”
Aku berjongkok dan memeluknya erat.
Ia menunjukkan gambar yang baru dibuatnya.
Ada dua sosok perempuan di depan rumah berwarna hijau.
“Ini Mama sama Aluna,” katanya bangga.
Aku tersenyum.
“Bagus sekali, Sayang.”
Aluna menunjuk matahari kuning besar di sudut kertas.
“Ini mataharinya. Biar rumah kita terang terus.”
Air mataku hampir jatuh.
Aku mencium keningnya.
“Iya, Nak. Rumah kita akan terang.”
Malamnya, sebuah pesan masuk dari Bima.
Kirana, aku akhirnya mengerti. Kamu bukan pergi karena aku kehilangan kesabaran sekali. Kamu pergi karena selama tiga tahun aku membuatmu merasa sendirian. Aku menyesal baru menyadarinya setelah kehilangan kalian.
Aku membaca pesan itu tanpa membalas.
Kemudian aku meletakkan ponsel dan berjalan menuju balkon.
Langit Jakarta dipenuhi cahaya gedung pencakar langit.
Dulu aku mengira kebahagiaan berarti memiliki suami yang sukses, rumah yang indah, dan keluarga yang terlihat sempurna.
Kini aku tahu bahwa kebahagiaan tidak selalu terlihat mewah.
Kadang kebahagiaan hanyalah makan malam sederhana bersama anak, tidur tanpa ketakutan, dan bangun pagi tanpa harus mempertanyakan apakah diri kita cukup berharga untuk dicintai.
Aku menyentuh pipi kiriku.
Bekas tamparan itu sudah lama hilang.
Namun pelajarannya akan selalu kuingat.
Empat puluh sembilan panggilan tak terjawab pernah membuat Bima kehilangan kesabarannya.
Satu tamparan membuatku kehilangan kepercayaan kepadanya.
Tetapi keputusan untuk pergi justru membantuku menemukan kembali sesuatu yang jauh lebih penting.
Diriku sendiri.
Dan ketika Aluna memanggilku dari dalam kamar, aku tersenyum lalu berbalik.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak lagi merasa sedang meninggalkan seseorang.
Aku sedang pulang.
Ke kehidupan yang kupilih sendiri.
