Suamiku Memaksaku Menandatangani Surat Agar Tak Mengirim Satu Rupiah Pun kepada

Ruangan itu berubah sangat dingin, begitu dingin hingga deru sisa hujan di luar gerbang terdengar seperti bisikan bahaya yang mengepung rumah. Budi berdiri membeku dengan wajah yang kehilangan seluruh warnanya, sementara Bu Sari perlahan mundur dua langkah, berusaha menghindar dari tatapanku yang menuntut penjelasan.

Nama Putri Lestari menggantung di udara seperti racun.

“Budi… siapa Putri?” suaraku bergetar, namun bukan karena ketakutan. Itu adalah getaran kemarahan yang membakar seluruh rasa sabarku yang tertahan selama tiga tahun pernikahan ini.

Budi menelan ludah dengan susah payah. Bibirnya gemetar saat mencoba mencari kebohongan baru. “Dewi, ini… ini cuma transaksi bisnis biasa. Kamu tidak paham urusan perusahaan.”

“Transaksi bisnis?” aku tertawa sumbang, suara tawaku bergema pahit di ruang tamu yang megah ini. “Sembilan ratus juta rupiah mengalir ke rekening pribadi seorang wanita dan ibu kandungmu, sementara kamu membuatkan aku surat perjanjian hukum hanya karena aku mengirim tiga juta rupiah untuk berobat ibuku? Kamu bilang keluarga orang tuaku miskin dan benalu, tapi ternyata kamu yang merampok perusahanmu sendiri demi wanita lain?!”

“Dewi! Jaga mulutmu!” Bu Sari membentak, berusaha merebut kembali kendalinya. “Kamu itu cuma istri, tidak ada hak mencampuri keuangan Budi!”

“Cukup, Bu!” Agus, sang direktur keuangan, akhirnya menyela dengan napas memburu. Ia tidak lagi peduli pada rasa hormat kepada atasannya. “Bu Sari tidak mengerti dampaknya! Pak Budi, audit eksternal dari pihak Pak Arjuna bukan cuma membatalkan kontrak delapan puluh miliar itu. Mereka menemukan indikasi penggelapan dana dan tindak pidana pencucian uang. Pihak bank sudah membekukan seluruh rekening operasional kita per jam lima sore tadi!”

Pernyataan Agus menghantam Budi bagai petir di siang bolong. Lutut Budi lemas, ia hampir tersungkur kalau saja tidak berpegangan pada tepi meja.

Saat itulah ponselku kembali bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Ayah. Aku menggeser layar dan menempelkannya ke telinga tanpa melepaskan pandanganku dari Budi.

“Dewi,” suara Ayah di ujung telepon terdengar sangat tenang, penuh kewibawaan yang selama ini ia sembunyikan di balik jaket tuanya yang lusuh. “Ayah dan Ibu sudah di jalan pulang. Apakah Pak Budi sudah menerima surat pemberitahuan dari Pak Arjuna?”

“Sudah, Yah,” jawabku lirik. “Kontraknya batal. Bank membekukan rekeningnya.”

Ayah menghela napas halus. “Budi mungkin berpikir Ayah hanyalah seorang pensiunan tua yang menumpang hidup dari uang pensiun kecil. Dia tidak pernah tahu bahwa sebelum Ayah pensiun dan hidup tenang di kampung, Ayah adalah komisaris utama di grup perusahaan milik Arjuna. Perusahaan yang modal utamanya Ayah bangun bersama beliau tiga puluh tahun lalu.”

Dadaku berdesir hebat. Selama ini, Ayah selalu mengajarkanku untuk hidup sederhana dan tidak memamerkan kekayaan. Ia sengaja membiarkan Budi berpikir bahwa keluargaku adalah orang biasa agar aku bisa menemukan suami yang tulus mencintaiku, bukan menatap hartaku. Tapi Budi justru gagal total dalam ujian itu.

“Ayah tidak pernah berniat mencampuri urusan bisnismu, Wi,” lanjut Ayah. “Tapi ketika seorang pria berani menghina Ibu yang melahirkanmu, membuang rezeki yang dimasak Ibumu dengan kasih sayang ke tanah yang basah, dan menunjuk wajah kami seolah kami adalah sampah… maka dia harus paham dengan siapa dia sedang berhadapan. Ayah sudah menyerahkan seluruh bukti penyelewengan dana Budi kepada tim hukum.”

“Terima kasih, Yah,” bisikku, merapikan kotak kue Ibu yang sempat kupeluk di dada.

Aku mematikan telepon. Budi menatapku dengan mata melotot, kepanikan liar memancar dari wajahnya. “Dewi… telepon siapa itu? Ayahmu? Siapa sebenarnya ayahmu?!”

Aku berjalan perlahan mendekati meja. Tanpa ragu sedikit pun, kuambil lembaran surat pernyataan yang tadi disodorkan Budi kepadaku. Surat yang dirancang untuk membungkamku dan merendahkan martabat orang tuaku.

Dengan gerakan lambat dan tegas, aku merobek kertas itu menjadi dua, empat, lalu meremasnya hingga hancur dan melemparkannya tepat ke dada Budi.

“Kamu ingin aku keluar dari rumah ini dengan tangan kosong, kan, Bud?” kataku dingin. “Mari kita lihat siapa yang sebenarnya akan keluar tanpa membawa apa-apa.”

“Dewi, tolong… kita bisa bicarakan ini!” Budi meraih pergelangan tanganku, suaranya kini berubah menjadi rintihan penuh permohonan. “Aku khilaf. Putri itu… dia cuma mantan kekasihku yang memerasku! Aku tidak mencintainya! Tolong katakan pada ayahmu untuk mencabut laporan itu, Wi. Perusahaanku bisa bangkrut, aku bisa masuk penjara!”

Bu Sari yang menyaksikan anaknya memohon-mohon langsung panik. Wajah angkuhnya berganti ketakutan yang mendalam. “Dewi! Kamu tidak boleh jahat begini pada suamimu! Ingat dosamu pada suami!”

“Dosa?” aku menoleh pada Bu Sari dengan senyuman tipis. “Dosa terbesarku adalah membiarkan orang tuaku dihinakan oleh keluarga yang hidup dari uang sembunyi-sembunyi milik anak mereka sendiri. Ibu menikmati uang puluhan juta itu sementara ibu kandungku harus menahan sakit karena takut merepotkan anaknya?”

“Agus,” aku memanggil direktur keuangan yang berdiri kaku di sana. “Tolong hubungi pengacara keluarga saya. Bilang pada beliau, proses gugatan cerai dan pendaftaran pembagian harta bersama serta tuntutan ganti rugi atas penggelapan aset akan dilayangkan besok pagi.”

“Baik, Bu Dewi,” jawab Agus tanpa ragu sedikit pun, meninggalkan Budi yang kian tak berdaya.

Malam itu juga, aku berjalan ke kamar utama. Aku hanya mengambil pakaianku, dokumen-dokumen penting milikku, dan tentu saja kotak kue buatan Ibu yang meski sedikit ternoda, nilainya jauh lebih berharga daripada seluruh kemewahan palsu di dalam rumah ini.

Saat aku melangkah keluar menuju pintu depan, Budi berlutut di lantai ruang tamu, menangis histeris mengejar kakiku. “Dewi! Tolong aku! Jangan tinggalkan aku!”

Aku tidak menoleh lagi. Di luar gerbang, sebuah mobil hitam mewah—bukan mobil sewaan yang tadi dipakai Ayah—sudah menunggu. Pintunya terbuka, dan Pak Arjuna sendiri yang turun membukakan pintu untukku dengan penuh hormat.

“Selamat malam, Bu Dewi. Pak Setyo meminta saya memastikan Anda tiba di rumah dengan aman,” kata Pak Arjuna ramah.

Aku masuk ke dalam mobil. Saat mobil perlahan melaju meninggalkan rumah itu, aku melihat dari kaca spion: Budi berdiri di bawah guyuran hujan yang mulai deras, meraung-raung meratapi kehancuran yang ia ciptakan sendiri dalam hitungan menit.

Kesombongannya telah meruntuhkan kerajaannya. Pria yang dulu merendahkan keluargaku karena anggapan ‘miskin’, kini harus menerima kenyataan bahwa bukan hanya harta dan perusahaannya yang lenyap, tetapi juga harga diri dan kebebasannya. Orang yang paling ia hinakan adalah satu-satunya sosok yang sebenarnya memegang kendali atas jalan hidupnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang