
Kisah Rani belum berhenti di sini; bagian berikutnya akan menunjukkan apa yang terjadi ketika sebuah kebohongan yang dikemas sebagai permainan sederhana akhirnya membentur kenyataan yang sangat menghancurkan.
Di dalam ruangan keluarga yang riuh oleh suara tawa, aku berdiri membeku. Gelang emas tua di pergelangan tangan Nadira berkilau di bawah lampu gantung, seolah mengejek seluruh pengorbananku selama empat tahun terakhir. Ibu mertuaku—atau lebih tepatnya, wanita yang beberapa jam lalu masih menjadi ibu mertuaku—tersenyum bangga sambil mengelus jemari Nadira.
“Ibu selalu tahu, pada akhirnya Arga akan memilih orang yang tepat. Yang tumbuh bersama kita, yang paham asal-usul keluarga ini,” ucap Ibu dengan suara yang cukup keras hingga terdengar oleh seluruh kerabat yang hadir.
Beberapa bibi dan sepupu Arga saling berbisik, menatapku dengan tatapan kasihan campur canggung. Namun, Arga sama sekali tidak berusaha meluruskan situasi. Dia hanya tersenyum tipis, berdiri menempel di samping Nadira, membiarkan ibunya dan semua orang percaya bahwa perceraian yang baru saja disahkan di kantor catatan sipil adalah sebuah takdir yang akhirnya terpenuhi.
“Rani,” Arga mendadak menoleh padaku, seolah baru teringat kehadiranku di ambang pintu. “Kamu pulang duluan saja ya naik taksi. Aku harus menemani Ibu dan Nadira memotong kue. Lagi pula, tidak enak kalau kamu di sini, suasana jadi canggung.”
Aku menatap mata Arga. Tidak ada lagi rasa bersalah di sana, yang ada hanya keinginan untuk menyelesaikan perayaan ini tanpa gangguan.
“Baik,” jawabku pelan. “Aku pulang.”
Aku berbalik tanpa menyerahkan kado yang ada di tanganku. Langkahku mantap menembus gerbang rumah besar itu, meninggalkan riuh tepuk tangan keluarga yang sedang merayakan kebahagiaan di atas kehancuranku. Di dalam taksi menuju rumah kami, aku tidak meneteskan air mata. Rasa sakit itu sudah terlalu dalam hingga membekukan seluruh emosiku.
Sesampainya di rumah, aku tidak membuang waktu. Aku menyalakan seluruh lampu, mengambil dua koper besar dari atas lemari, dan mulai memasukkan seluruh pakaianku. Semua barang pemberian Arga kutinggalkan di atas tempat tidur: perhiasan, jam tangan, hingga kartu kredit yang jarang kugunakan. Aku hanya membawa barang-barang yang kubeli dengan gajiku sendiri dan semua dokumen pribadiku.
Lalu, aku menaruh dua lembar kertas di atas meja rias, tepat di bawah lampu baca. Kertas pertama adalah salinan dokumen perceraian yang baru saja kutandatangani siang tadi. Kertas kedua adalah hasil pemeriksaan laboratorium dari klinik—amplop putih bertuliskan namaku dengan garis dua merah yang jelas, menyertakan catatan usia kandungan enam minggu.
Di bawah lembaran itu, aku menuliskan sebaris pesan singkat di atas kertas catatan keciku: “Perceraian ini tidak perlu dibatalkan besok pagi. Selamat atas pernikahan satumu dengan Nadira, dan selamat atas kehidupan barumu.”
Tepat pukul sebelas malam, aku melangkah keluar dari rumah itu membawa dua koper dan sebuah kehidupan baru yang sedang tumbuh di dalam rahimku. Aku menumpang di rumah sahabatku, Maya, yang menangis histeris begitu mendengar cerita dan melihat hasil pemeriksaanku.
Pagi harinya, sekitar pukul delapan, ponselku mulai berdering tanpa henti. Nama Arga memenuhi layar. Aku membiarkannya berdering hingga lima kali sebelum akhirnya menekan tombol hijau dan menyalakan pengeras suara.
“Rani! Kamu di mana?!” suara Arga terdengar panik, napasnya memburu. “Aku sudah di rumah, tapi baju-bajumu tidak ada! Rumah kosong! Apa maksud semua ini? Cepat pulang, kita harus ke kantor catatan sipil sekarang untuk mendaftarkan pernikahan kita lagi! Nadira dan Ibu sudah menunggu!”
Aku bersandar pada kursi di balkon rumah Maya, memandangi matahari pagi yang mulai bersinar terang. “Aku tidak akan kembali, Arga.”
“Jangan bercanda, Rani! Ini tidak lucu!” bentak Arga, suaranya bergetar antara marah dan takut. “Kemarin kita sudah sepakat ini cuma sehari! Cuma permainan! Kenapa kamu jadi dramatis begini?!”
“Bagi kamu, pernikahan kita adalah permainan yang bisa ditukar demi gengsi dan permainan anak-anak dengan Nadira,” kataku dengan tenang, namun setiap kata keluar seperti bilah pisau. “Tapi bagiku, pernikahan adalah janji suci. Begitu kamu menandatangani surat itu dan membiarkan ibumu memasangkan gelang keluarga kepada Nadira, pernikahan kita sudah benar-benar berakhir.”
“Rani, dengarkan aku—”
“Apakah kamu sudah memeriksa meja rias?” potongku dingin.
Hening sejenak di ujung telepon. Aku bisa mendengar suara langkah kaki Arga yang terburu-buru menaiki tangga, diikuti bunyi pintu kamar yang terhempas. Suara gesekan kertas terdengar dari ponselnya.
Satu detik. Dua detik. Lima detik.
Suara napas Arga mendadak tercekat.
“Rani…” suaranya bergetar hebat, kali ini tanpa nada tinggi, berganti menjadi kepanikan yang teramat sangat. “Ini… ini kertas apa? Hasil pemeriksaan laboratorium? Kamu… kamu hamil?”
“Enam minggu, Arga,” jawabku datar. “Kemarin pagi, aku berniat memberitahumu. Aku ingin kita merayakan kabar bahagia ini bersama. Tapi sebelum aku sempat bicara, kamu memintaku datang untuk merelakan statusku sebagai istrimu demi tantangan konyol sahabatmu.”
“Rani! Tidak! Demi Tuhan, Rani, aku tidak tahu!” tangis Arga pecah seketika. “Tolong, aku mohon! Kita bisa perbaiki ini! Aku akan ceraikan Nadira sekarang juga! Aku akan jelaskan pada Ibu! Tolong kembali, Rani… itu anakku!”
“Dia anakku,” ralatku tegas. “Kamu yang memilih untuk melepas hakmu sebagai suami dan ayah kemarin siang, hanya untuk membuktikan bahwa kamu tidak pernah kalah dalam tantangan Nadira. Sekarang, kamu menang, Arga. Kamu tidak kalah dari Nadira.”
“Rani, jangan lakukan ini padaku! Aku mohon!” Arga merintih, suara tangisnya terdengar begitu hancur dari ujung telepon.
“Jangan pernah cari aku lagi. Pengacaraku akan mengurus seluruh berkas pemisahan harta dan hak asuh anak secara hukum. Nikmatilah pernikahanmu dengan Nadira, Arga. Bukankah itu kehidupan yang selama ini kamu dan keluargamu inginkan?”
Tanpa menunggu jawabannya, aku mematikan telepon. Aku melepaskan kartu SIM dari ponselku, mematahkannya menjadi dua, lalu melemparnya ke dalam tong sampah.
Maya berjalan mendekat membawa secangkir teh hangat dan mengelus bahuku pelan. Aku mengelus perutku yang masih rata, meresapi kehangatan baru yang mengalir di dalamnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa bernapas dengan lega. Aku tidak kehilangan siapa-siapa hari ini. Justru Arga yang telah kehilangan segalanya—seorang istri yang tulus mencintainya dan calon anak yang selama ini ia impikan—hanya demi memenangkan sebuah permainan konyol yang menghancurkan hidupnya sendiri.
