TUNANGANKU YANG BERPROFESI SEBAGAI DOKTER MENINGGALKAN PESTA

Pukul sebelas malam, ketika aku sedang memeriksa kembali dokumen keberangkatan ke Berlin, sebuah telepon dari nomor tak dikenal membuat seluruh rencanaku mendadak terasa goyah.

“Apakah benar ini dengan Ibu Kirana?” tanya seorang perempuan.

“Benar. Ada apa?”

“Saya perawat dari rumah sakit tempat Dokter Arga bekerja. Beliau mengalami kecelakaan dan saat ini sedang menjalani pemeriksaan. Nama Ibu tercatat sebagai kontak darurat.”

Tanganku membeku di atas koper.

“Apa kondisinya?”

“Beliau sadar, tetapi mengalami cedera pada bahu dan kepala. Dokter masih melakukan observasi.”

Aku memejamkan mata. Sekalipun Arga telah menghancurkan kepercayaanku, aku tidak pernah berharap sesuatu yang buruk menimpanya.

“Apa yang terjadi?”

Perawat itu ragu sejenak.

“Beliau terluka ketika melindungi seorang perempuan dari papan reklame yang roboh akibat angin kencang di area parkir sebuah restoran.”

Aku sudah mengetahui siapa perempuan itu bahkan sebelum perawat menyebut namanya.

Nadine.

Setelah menutup telepon, aku duduk di tepi tempat tidur. Selama beberapa menit, aku hanya memandangi layar ponsel.

Empat tahun lalu, aku pasti sudah berlari keluar tanpa memikirkan apa pun. Aku akan meninggalkan pekerjaan, membatalkan janji, dan menghabiskan sepanjang malam di samping tempat tidurnya.

Namun malam ini, untuk pertama kalinya, aku bertanya kepada diriku sendiri apakah kehadiranku benar-benar dibutuhkan atau hanya diharapkan karena Arga terbiasa mendapatkannya.

Akhirnya aku tetap pergi.

Bukan untuk menyelamatkan hubungan kami, melainkan memastikan seseorang yang pernah kucintai berada dalam keadaan aman.

Ketika tiba di rumah sakit, aku melihat Nadine duduk di kursi tunggu dengan wajah pucat. Ada perban kecil di dahinya. Begitu melihatku, dia langsung berdiri.

“Kirana, aku…”

“Aku ingin tahu keadaan Arga.”

“Dia sudah sadar. Dokter bilang kondisinya stabil.”

Aku mengangguk dan berjalan melewatinya.

Namun Nadine tiba-tiba memegang lenganku.

“Aku minta maaf tentang malam pertunangan kalian.”

Aku berhenti.

“Jadi kamu tahu?”

Nadine menunduk.

“Aku menelepon karena merasa sangat tertekan. Hari itu ulang tahunku, dan aku baru menerima kabar buruk tentang ibuku yang sedang menjalani pengobatan di Singapura. Aku ingin bicara dengan seseorang yang mengenalku sejak lama.”

“Dan orang itu harus tunanganku?”

“Aku tidak tahu dia akan meninggalkan pestanya.”

“Tapi setelah dia datang, kamu tahu, bukan?”

Nadine tidak menjawab.

Aku tersenyum getir.

“Itulah yang membuat semuanya berbeda.”

Di ruang perawatan, Arga sedang berbaring dengan lengan kanan ditopang penyangga. Ada luka kecil di pelipisnya.

Matanya langsung terbuka lebar saat melihatku.

“Kirana!”

Aku mendekat.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Aku baik-baik saja. Dokter bilang tidak ada cedera serius.”

“Syukurlah.”

Arga mengulurkan tangan kirinya, tetapi aku tidak menyambutnya.

Dia memperhatikan gerakanku.

“Kamu marah?”

Aku menarik kursi dan duduk.

“Arga, apa yang terjadi pada malam pertunangan kita?”

Wajahnya menegang.

“Aku sudah menjelaskan. Ada pasien darurat.”

“Aku melihat fotomu bersama Nadine.”

Keheningan panjang memenuhi ruangan.

Arga mengalihkan pandangan.

“Aku bisa menjelaskan.”

“Aku mendengarkan.”

Dia menarik napas dalam.

“Nadine sedang menghadapi masalah keluarga. Dia tidak punya banyak teman dekat di Jakarta.”

“Jadi kamu meninggalkan pesta pertunangan kita untuk merayakan ulang tahunnya?”

“Bukan sesederhana itu.”

“Kalau begitu, mengapa kamu mengatakan sedang mengoperasi pasien kecelakaan?”

Arga membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Aku menatap laki-laki yang dulu kupercaya lebih daripada siapa pun.

“Yang menghancurkanku bukan karena kamu membantu Nadine. Kamu berhak membantu siapa saja. Tetapi kamu memilih berbohong, lalu membiarkan aku berdiri sendirian di depan keluarga kita.”

“Aku takut kamu salah paham.”

“Tidak, Arga. Kamu takut aku mengetahui kenyataannya.”

Matanya mulai memerah.

“Aku tidak ingin kehilanganmu.”

Aku mengeluarkan kotak cincin dari tas.

“Seharusnya kamu memikirkan itu sebelum meninggalkanku.”

Ketika kotak tersebut kuletakkan di meja samping tempat tidur, Arga mendadak bangkit.

“Kirana, jangan.”

“Pernikahan kita batal.”

“Apa?”

“Aku sudah menghubungi keluargaku dan pihak penyelenggara. Besok keluargamu juga akan menerima pemberitahuan resmi.”

Arga menatap cincin itu seolah benda tersebut bisa menjelaskan sesuatu yang tidak mampu dipahaminya.

“Kamu tidak bisa membatalkan semuanya hanya karena satu kesalahan.”

Aku menggeleng.

“Ini bukan satu kesalahan. Ini puncak dari empat tahun ketika aku selalu menunggu, sementara kamu tidak pernah benar-benar hadir.”

“Aku mencintaimu.”

“Kalau begitu, mengapa aku selalu merasa sendirian?”

Arga terdiam.

Aku berdiri.

“Aku mendapat pekerjaan di Berlin. Aku akan pergi tanggal delapan belas.”

“Berlin?”

Dia mengucapkannya nyaris tanpa suara.

“Kamu tidak pernah memberitahuku.”

“Aku pernah bercerita tentang seleksinya. Kamu sedang membalas pesan Nadine waktu itu.”

Wajah Arga berubah.

“Aku ingat sekarang.”

“Aku juga ingat. Karena hari itu kamu mengatakan pekerjaanku bisa dilakukan dari mana saja, sedangkan kariermu membutuhkan pengorbanan besar.”

Aku meraih tas.

“Dulu aku percaya pengorbanan itu harus selalu datang dariku.”

Arga mencoba turun dari tempat tidur, tetapi meringis ketika bahunya bergerak.

“Tolong, Kirana. Kita bisa memperbaikinya.”

Aku berhenti di depan pintu.

“Mungkin kamu bisa memperbaiki dirimu sendiri, Arga. Tapi aku tidak harus tetap tinggal untuk menyaksikannya.”

Aku meninggalkan ruangan sebelum air mataku jatuh.

Di lorong, Nadine masih menunggu.

“Bagaimana Arga?” tanyanya.

“Dia membutuhkan istirahat.”

Aku hendak berjalan pergi ketika Nadine berkata pelan, “Aku tidak pernah bermaksud merebutnya darimu.”

Aku menatapnya.

“Kalau begitu, berhentilah membiarkannya memperlakukanmu sebagai alasan untuk menyakiti orang lain.”

Nadine menundukkan kepala.

Pagi berikutnya, ibuku datang ke apartemen setelah menerima kabar pembatalan pernikahan.

Beliau tidak langsung bertanya. Ia hanya memelukku ketika melihat koper yang sudah tertutup.

Barulah saat kami duduk bersama, aku menceritakan semuanya.

Ibu mendengarkan tanpa menyela.

“Kenapa kamu tidak bilang sejak awal?” tanyanya akhirnya.

“Karena aku malu, Bu. Semua orang sudah mempersiapkan pernikahan ini.”

Ibu menggenggam tanganku.

“Pesta bisa dibatalkan. Uang bisa dicari kembali. Tapi kalau kamu memaksakan pernikahan hanya karena takut mengecewakan orang lain, siapa yang akan mengembalikan tahun-tahun hidupmu?”

Tangisku akhirnya pecah.

Selama ini, aku takut membuat keluargaku kecewa. Ternyata orang yang paling mencintaiku justru tidak meminta aku bertahan.

Hari-hari berikutnya dipenuhi urusan administrasi. Aku menyelesaikan pembatalan acara, mengembalikan sebagian hadiah, mengatur dokumen perjalanan, dan mempersiapkan perpindahan ke Jerman.

Arga berkali-kali menghubungiku.

Pada awalnya dia meminta maaf. Kemudian dia menawarkan untuk mengambil cuti panjang dan menemaniku ke Berlin. Bahkan, dia berjanji akan mencari pekerjaan di sana.

Namun, semuanya terasa terlambat.

Dua hari sebelum keberangkatanku, sebuah email dari Nadine masuk.

Dia mengaku telah lama menyimpan perasaan terhadap Arga. Ketika kembali ke Indonesia, dia berharap hubungan mereka bisa dimulai lagi.

Namun, ada sesuatu yang tidak pernah diceritakan Arga kepadaku.

Menurut Nadine, tiga bulan sebelum pertunangan kami, Arga pernah mengatakan bahwa dia masih bingung dengan perasaannya.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Tiga bulan.

Selama tiga bulan, Arga membiarkanku memilih gaun pengantin, menentukan undangan, dan membayangkan kehidupan bersama seseorang yang bahkan belum yakin ingin menikah denganku.

Aku tidak membalas email tersebut.

Aku hanya menyimpannya, lalu menutup laptop.

Pada tanggal delapan belas, pukul enam pagi, aku tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta bersama kedua orang tuaku dan Maya.

Ibuku beberapa kali membetulkan kerah jaketku meskipun semuanya sudah rapi.

“Ada makanan di tas tanganmu?” tanyanya.

“Ada, Bu.”

“Dokumen?”

“Lengkap.”

“Jangan lupa menelepon begitu tiba.”

Aku tertawa sambil memeluknya.

Ayah menyerahkan sebuah buku sketsa kecil.

“Untuk gambar pertamamu di Berlin.”

Aku membuka halaman pertama.

Di sana tertulis tulisan tangan Ayah.

Jangan takut memulai kembali. Rumah selalu ada untukmu pulang, bukan untuk menahanmu pergi.

Air mataku kembali menggenang.

Saat pengumuman penerbangan terdengar, ponselku bergetar.

Arga.

Aku membiarkannya berdering hingga berhenti.

Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.

Kirana, aku berada di bandara. Tolong beri aku lima menit.

Aku menoleh ke arah pintu masuk terminal.

Di antara kerumunan penumpang, Arga berdiri mengenakan kemeja putih. Lengan kanannya masih ditopang penyangga.

Wajahnya tampak lelah.

Ketika melihatku, dia segera mendekat.

“Aku tahu kamu mungkin tidak ingin bertemu,” katanya terengah. “Tapi aku harus mengatakan sesuatu.”

Ayah dan Ibu memberi kami sedikit ruang.

Arga menatapku dengan mata memerah.

“Aku sudah memutuskan hubungan dengan Nadine.”

Aku terdiam.

“Aku juga sudah meminta rumah sakit mengatur ulang jadwalku. Aku bisa menyusulmu ke Berlin setelah kondisiku membaik.”

“Arga…”

“Aku tahu aku salah. Aku terlalu yakin kamu akan selalu ada. Aku menganggap semua pengorbananmu sebagai sesuatu yang wajar.”

Suaranya bergetar.

“Baru setelah kamu pergi dari apartemen, aku menyadari betapa banyak hal yang kamu lepaskan demi aku.”

Aku memandangnya lama.

Empat tahun lalu, kata-kata itu mungkin akan membuatku menangis bahagia.

Sekarang, aku hanya merasakan kesedihan yang tenang.

“Aku senang kamu akhirnya mengerti.”

Harapan muncul di wajahnya.

“Jadi kita masih punya kesempatan?”

Aku menggeleng perlahan.

“Memahami kesalahan tidak berarti semua akibatnya bisa dibatalkan.”

Arga menunduk.

“Aku masih mencintaimu.”

“Aku percaya kamu merasakan sesuatu untukku. Tetapi cinta tidak boleh membuat seseorang terus-menerus mempertanyakan nilainya sendiri.”

Dia mengusap wajahnya.

“Apakah ada orang lain di Berlin?”

Aku tersenyum kecil.

“Tidak ada.”

“Lalu kenapa kamu begitu yakin pergi?”

“Karena untuk pertama kalinya, aku tidak membutuhkan seseorang menungguku di ujung perjalanan agar merasa hidupku berarti.”

Pengumuman terakhir untuk penerbanganku terdengar.

Aku menarik koper.

Arga menatapku dengan mata basah.

“Kirana, apakah suatu hari nanti kamu bisa memaafkanku?”

“Aku sedang belajar melakukannya. Tapi memaafkanmu bukan berarti kembali kepadamu.”

Aku mengucapkan selamat tinggal, lalu berjalan menuju pemeriksaan keberangkatan.

Aku tidak menoleh lagi.

Dua belas jam kemudian, pesawatku mendarat di Berlin.

Udara musim gugur menyambutku dengan dingin yang menusuk. Dari jendela taksi, kulihat bangunan-bangunan tua berdiri berdampingan dengan gedung modern dan pepohonan yang mulai menguning.

Apartemen yang disediakan institusi seni itu sederhana. Hanya ada satu kamar tidur, dapur kecil, dan ruang kerja dengan jendela besar.

Namun, ketika membuka pintunya, aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan di apartemen bersama Arga.

Kebebasan.

Aku meletakkan koper, membuka buku sketsa pemberian Ayah, lalu mulai menggambar pemandangan di luar jendela.

Beberapa bulan berlalu.

Karyaku mulai dipamerkan dalam sejumlah kegiatan seni lokal. Aku mendapatkan teman-teman baru, belajar bahasa Jerman, dan perlahan menemukan keberanian untuk mencoba hal-hal yang dulu selalu kutunda.

Suatu sore, setelah pameran pertamaku dibuka, seorang pengunjung menghampiri lukisan terbesar di ruangan.

Lukisan itu memperlihatkan seorang perempuan mengenakan gaun pengantin putih, berdiri sendirian di peron stasiun sambil memegang koper.

Judulnya adalah Hari yang Tidak Jadi Menjadi Pernikahanku.

Pengunjung tersebut bertanya, “Apakah ini kisah nyata?”

Aku tersenyum.

“Ya.”

“Apakah perempuan itu kehilangan seseorang?”

Aku memandang lukisan itu beberapa saat.

“Dulu aku mengira begitu.”

“Lalu sekarang?”

Aku menggeleng.

“Sekarang aku tahu, dia justru menemukan seseorang yang selama ini hampir dilupakannya.”

“Siapa?”

“Dirinya sendiri.”

Malam itu, sebuah pesan terakhir dari Arga masuk.

Aku mendengar pameranmu berhasil. Selamat, Kirana. Aku akhirnya mengerti bahwa mencintai seseorang juga berarti menghargai jalan hidup yang dipilihnya. Aku tidak akan mengganggumu lagi.

Aku membaca pesan itu tanpa air mata.

Lalu aku membalas singkat.

Terima kasih, Arga. Semoga kamu juga menemukan kebahagiaanmu.

Setelahnya, aku memasukkan ponsel ke dalam tas dan kembali menemui para tamu pameran.

Di luar, gerimis tipis mulai turun membasahi jalanan Berlin.

Aku teringat tanggal keberangkatanku, hari yang seharusnya menjadi hari pernikahanku.

Dulu aku menganggap tanggal itu sebagai akhir dari sebuah kisah cinta yang indah.

Ternyata aku keliru.

Hari itu memang menjadi akhir dari hubunganku dengan Arga.

Tetapi juga menjadi awal dari kisah cinta yang jauh lebih penting.

Kisah tentang seorang perempuan yang akhirnya belajar mencintai dirinya sendiri, tanpa harus menunggu seseorang memilihnya terlebih dahulu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang