
Aku baru saja meninggalkan pagar vila ketika ponselku bergetar. Pesan dari Nanda muncul di layar.
“Mira, jangan menemui Arga dulu. Ada sesuatu yang perlu kamu lihat. Aku menemukan nama dokter yang menangani operasimu dua tahun lalu.”
Aku segera meneleponnya.
“Siapa, Nanda?”
“Dokter Adrian Prasetyo. Tapi yang membuatku khawatir bukan namanya. Menurut catatan awal yang berhasil kita cocokkan, ada perubahan pada ringkasan medis yang pernah diberikan kepadamu.”
Aku berhenti berjalan.
“Perubahan apa?”
“Aku belum bisa memastikan tanpa dokumen asli. Besok kita ajukan permintaan rekam medis secara resmi. Kamu berhak mendapatkan ringkasan dan informasi medis tentang tindakan yang pernah kamu jalani.”
Aku memandang vila yang masih terlihat dari kejauhan.
“Arga selalu mengatakan operasiku menyebabkan kemungkinan hamil menjadi sangat kecil.”
“Aku tahu. Tapi diagnosis itu harus diperiksa berdasarkan catatan dokter, bukan hanya penjelasan suamimu.”
Malam itu aku menginap di sebuah hotel kecil di Mataram. Aku tidak menghubungi Arga. Sebaliknya, aku membuka kembali semua percakapan lama kami dari dua tahun sebelumnya.
Saat itu aku mengalami nyeri hebat pada bagian perut bawah. Arga membawaku ke rumah sakit swasta di Jakarta. Aku masih ingat wajahnya yang pucat ketika dokter mengatakan aku membutuhkan operasi.
Setelah tindakan selesai, Arga memberitahuku bahwa ditemukan masalah serius pada salah satu saluran reproduksiku.
“Dokter bilang peluang kita punya anak secara alami jadi sangat kecil,” katanya sambil menggenggam tanganku.
Aku menangis berhari-hari.
Arga selalu menenangkanku.
“Kita bisa hidup bahagia berdua. Aku tidak menikahimu hanya untuk punya anak.”
Kalimat itu pernah membuatku merasa sangat dicintai.
Sekarang, setiap kali mengingatnya, dadaku terasa sesak.
Keesokan paginya, aku kembali ke Jakarta dengan penerbangan pertama.
Di bandara, Arga menelepon.
“Halo, Sayang. Aku sudah sampai Singapura. Rapatnya berjalan lancar.”
Aku memejamkan mata.
“Kamu menginap di mana?”
“Hotel dekat Marina Bay. Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Jaga kesehatan.”
Dia tertawa kecil.
“Kamu terdengar aneh. Kangen aku?”
Aku menatap tiket penerbanganku dari Lombok yang masih tersimpan di tas.
“Lebih dari yang kamu bayangkan, Arga.”
Setelah menutup telepon, aku mengirimkan pesan kepada Nanda.
“Aku siap.”
Dua hari kemudian, aku duduk di sebuah ruangan konsultasi rumah sakit bersama Nanda dan Dokter Adrian.
Di atas meja terdapat salinan dokumen medis yang diperoleh melalui prosedur resmi dengan persetujuanku.
Dokter Adrian memeriksa beberapa halaman sebelum mengangkat wajah.
“Bu Mira, saya harus menjelaskan bahwa operasi dua tahun lalu dilakukan untuk menangani kista ovarium yang mengalami komplikasi. Kami mengangkat jaringan kista dan mempertahankan jaringan ovarium yang sehat sejauh memungkinkan.”
Aku mengangguk perlahan.
“Apakah setelah operasi itu saya tidak bisa hamil?”
Dokter Adrian tampak terkejut.
“Siapa yang mengatakan demikian?”
“Suami saya.”
Dokter itu menarik napas.
“Operasi tersebut memang memiliki risiko terhadap fungsi reproduksi, tetapi kami tidak pernah menyimpulkan bahwa Ibu hampir tidak mungkin hamil. Penilaiannya memerlukan pemeriksaan lanjutan.”
Tanganku mulai gemetar.
“Tapi Arga mengatakan dokter sudah memastikan kondisiku.”
“Catatan tindak lanjut justru menyarankan pemeriksaan kesuburan setelah pemulihan. Saya tidak menemukan hasil pemeriksaan lanjutan itu dalam berkas yang tersedia di sini.”
Aku menutup mulut.
Selama dua tahun, aku percaya tubuhku telah kehilangan sesuatu yang mungkin tidak bisa dikembalikan.
Aku menolak undangan acara keluarga karena tidak sanggup mendengar pertanyaan tentang anak.
Aku menangis diam-diam ketika melihat teman-temanku menggendong bayi.
Dan setiap kali Arga memelukku sambil mengatakan bahwa dia menerima keadaanku, aku merasa berutang cinta kepadanya.
Ternyata belum pernah ada kesimpulan medis seperti yang dikatakannya.
“Ada satu hal lagi,” kata Dokter Adrian.
Aku mengangkat wajah.
“Setelah operasi, suami Ibu meminta salinan hasil pemeriksaan dan mengatakan akan membantu mengurus kontrol berikutnya. Tetapi kami tetap memberikan penjelasan dasar kepada Ibu ketika kondisi Ibu memungkinkan. Apakah Ibu mengingatnya?”
Aku menggeleng.
Saat itu aku masih lemah dan mengonsumsi obat pereda nyeri. Ingatanku tentang beberapa hari pertama memang tidak lengkap.
Dokter Adrian melanjutkan dengan hati-hati.
“Nama yang tercatat sebagai kontak pendamping tambahan adalah Celine Pratama.”
Aku langsung membeku.
“Celine?”
“Betul. Suami Ibu mengatakan beliau membantu urusan administrasi keluarganya. Namanya tercatat sebagai kontak, bukan sebagai pihak yang memberikan persetujuan tindakan.”
Aku mencengkeram ujung kursi.
Dua tahun lalu, Arga mengatakan baru mempekerjakan Celine sebagai sekretaris setahun kemudian.
Berarti mereka sudah saling mengenal jauh sebelumnya.
Ketika keluar dari rumah sakit, aku nyaris tidak mampu berjalan.
Nanda membawaku ke sebuah kedai kopi yang sepi.
“Mira, kamu harus makan sesuatu.”
Aku menggeleng.
“Selama dua tahun aku merasa gagal menjadi seorang istri.”
Nanda menggenggam tanganku.
“Kondisi reproduksimu tidak menentukan nilaimu sebagai istri.”
Aku menangis.
“Bukan hanya itu. Aku terus meminta maaf kepada Arga karena merasa tidak bisa memberinya anak. Padahal dia mungkin sudah bersama Celine sejak saat itu.”
Nanda tidak langsung menjawab.
“Kita belum tahu kapan hubungan mereka dimulai. Tapi sekarang kamu punya alasan kuat untuk meminta penjelasan.”
Aku mengusap air mata.
“Tidak. Aku tidak akan mendatanginya sebelum tahu semuanya.”
Malam harinya, aku menghubungi seorang teman lama bernama Dita yang bekerja di bagian sumber daya manusia perusahaan Arga.
Aku tidak meminta informasi pribadi karyawan. Aku hanya menanyakan sesuatu yang pernah diumumkan perusahaan secara terbuka.
“Dit, kapan Celine mulai bekerja di kantor Arga?”
“Kalau sebagai sekretaris tetap, sekitar setahun lalu. Tapi sebelumnya dia sudah sering terlibat dalam proyek perusahaan sebagai konsultan administrasi.”
“Sejak kapan?”
“Seingatku hampir tiga tahun lalu.”
Aku terdiam.
Dita kemudian berkata pelan, “Mira, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kusampaikan sejak lama.”
“Apa?”
“Dua tahun lalu, sebelum operasimu, Arga pernah meminta Celine mengurus dokumen asuransi kesehatan tambahan. Aku kira dia hanya membantu pekerjaan kantor.”
Aku menahan napas.
“Kenapa kamu baru memberitahuku?”
“Karena aku tidak pernah menyangka ada masalah di antara kalian.”
Setelah telepon berakhir, aku memandangi foto pernikahan yang tergantung di dinding ruang keluarga.
Arga tersenyum sambil memeluk pinggangku.
Aku terlihat begitu bahagia.
Aku teringat bagaimana enam tahun lalu kami berjanji untuk tidak menyembunyikan apa pun.
Ternyata orang yang paling pandai mengucapkan janji belum tentu paling berani menepatinya.
Tiga hari kemudian, Arga pulang.
Dia membawa tas belanja dari Singapura dan sekotak cokelat kesukaanku.
“Aku membelikanmu hadiah.”
Aku duduk di sofa.
“Duduklah, Arga. Kita perlu bicara.”
Dia tersenyum kecil.
“Serius sekali. Ada apa?”
Aku meletakkan salinan ringkasan medis di atas meja.
Senyumnya langsung menghilang.
“Dari mana kamu mendapatkannya?”
“Itu dokumen kesehatanku. Aku berhak memilikinya.”
Arga mengambil kertas tersebut.
Wajahnya perlahan pucat.
“Aku sudah bertemu Dokter Adrian,” kataku.
Dia tidak menjawab.
“Aku tahu operasiku tidak pernah dinyatakan membuatku hampir mustahil hamil.”
“Mira, dengarkan dulu.”
“Dan aku tahu Celine sudah terlibat dalam urusan pribadimu sejak dua tahun lalu.”
Arga mengusap wajahnya.
“Aku bisa menjelaskan.”
“Kalau begitu, jelaskan semuanya tanpa satu kebohongan lagi.”
Dia duduk dengan tubuh membungkuk.
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya dia berbicara.
“Aku mengenal Celine ketika pernikahan kita sedang sulit. Waktu itu kamu sibuk bekerja, aku juga banyak tekanan.”
Aku menatapnya.
“Lanjutkan.”
“Kami menjadi dekat. Awalnya hanya teman bicara.”
“Lalu?”
“Kami melakukan kesalahan.”
Aku menutup mata.
“Sejak sebelum operasiku?”
Arga mengangguk.
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
“Ketika aku terbaring di rumah sakit, kamu sudah berselingkuh?”
“Mira, aku takut kehilanganmu.”
“Jadi kamu memilih membuatku merasa tidak mampu memberimu anak?”
Arga langsung menggeleng.
“Aku tidak pernah berniat membuatmu merasa seperti itu.”
“Tapi kamu mengatakan sesuatu yang tidak pernah dipastikan dokter!”
Dia menunduk.
“Aku tahu. Aku melebih-lebihkan hasil pemeriksaan karena aku takut kamu meminta kami segera mencoba punya anak lagi. Saat itu hubunganku dengan Celine belum selesai.”
Ruangan terasa berputar.
Selama dua tahun, dia membiarkanku percaya bahwa tubuhku bermasalah agar dirinya tidak perlu menghadapi keputusan tentang hubungan kami.
Aku berdiri.
“Dan sekarang Celine hamil.”
Arga mendongak dengan wajah terkejut.
“Kamu tahu?”
“Aku melihat kalian di Lombok.”
Dia langsung terdiam.
“Aku juga mendengar kamu berjanji akan menyembunyikan kehamilannya dariku.”
Arga menangis.
“Aku bingung, Mira. Aku masih mencintaimu.”
Aku tertawa getir.
“Cinta macam apa yang membuatmu berbohong selama bertahun-tahun?”
Dia berlutut di hadapanku.
“Tolong beri aku kesempatan terakhir.”
Aku mundur selangkah.
“Tidak.”
“Mira…”
“Aku memberimu tiga puluh hari untuk menyelesaikan hubungan itu. Kamu justru menggunakan waktu tersebut untuk menyembunyikannya lebih rapi.”
Aku mengambil sebuah amplop dari laci.
Di dalamnya terdapat surat dari pengacara mengenai rencana pengajuan perceraian dan penyelesaian harta bersama.
Arga menatap surat itu dengan mata membesar.
“Kamu sudah menyiapkan semuanya?”
“Aku mulai menyiapkannya sejak mengetahui apartemen itu.”
Dia menangis semakin keras.
“Aku akan kehilangan segalanya.”
Aku menatapnya lama.
“Tidak, Arga. Kamu masih memiliki pekerjaan, uang, dan kesempatan bertanggung jawab atas anakmu. Yang hilang adalah kepercayaanku.”
Malam itu, Arga meninggalkan rumah.
Aku tidak mengejarnya.
Beberapa minggu kemudian, setelah menjalani pemeriksaan kesehatan lanjutan, aku mendapat penjelasan bahwa fungsi reproduksiku masih perlu dipantau, tetapi tidak ada dasar untuk menyimpulkan aku mustahil hamil.
Kabar itu membuatku menangis di ruang konsultasi.
Bukan karena aku tiba-tiba ingin segera memiliki anak.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, aku mendapatkan hak untuk memahami kondisi tubuhku sendiri.
Proses perceraian berlangsung beberapa bulan.
Arga beberapa kali mencoba menghubungiku, tetapi aku memilih menyelesaikan urusan melalui pengacara.
Sementara itu, Celine pernah mengirimkan pesan panjang berisi permintaan maaf.
Aku membacanya sekali.
Dia mengatakan bahwa Arga menjanjikan akan bercerai sejak hubungan mereka dimulai. Ketika mengetahui kehamilannya, dia mulai menyadari bahwa banyak penjelasan Arga tidak sesuai kenyataan.
Aku tidak membalas.
Aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku untuk mengurai setiap kebohongan yang pernah dibuat suamiku.
Enam bulan setelah perceraian selesai, aku memutuskan kembali bekerja penuh waktu sebagai konsultan desain interior.
Selama menikah, aku mengurangi pekerjaan karena Arga menginginkan seseorang yang selalu tersedia di rumah.
Sekarang, aku menerima proyek renovasi sebuah pusat pelayanan kesehatan perempuan di Yogyakarta.
Pekerjaan itu mempertemukanku dengan banyak perempuan yang memiliki kisah berbeda.
Ada yang sedang berjuang menghadapi penyakit.
Ada yang membesarkan anak sendirian.
Ada pula yang baru menemukan keberanian meninggalkan hubungan yang tidak sehat.
Suatu sore, ketika sedang memeriksa desain ruang konsultasi, seorang dokter perempuan menghampiriku.
“Bu Mira, kenapa Ibu memilih warna-warna hangat untuk ruangan ini?”
Aku tersenyum.
“Karena saya ingin setiap perempuan yang datang merasa aman untuk bertanya.”
Dokter itu mengangguk.
“Bagus sekali. Banyak pasien sebenarnya takut bertanya tentang kondisi tubuhnya sendiri.”
Aku memandangi dinding berwarna krem lembut di hadapanku.
“Kadang bukan karena mereka tidak ingin tahu, Dok. Mereka hanya terlalu lama mempercayakan jawabannya kepada orang lain.”
Setahun setelah malam ulang tahun pernikahan yang menghancurkan hidupku, aku menerima sebuah paket tanpa nama pengirim.
Di dalamnya terdapat album foto pernikahan kami.
Pada halaman terakhir terselip surat tulisan tangan Arga.
Mira, aku tahu permintaan maaf tidak bisa mengubah apa pun. Aku sudah berhenti berharap kamu kembali. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kamu tidak pernah kurang sebagai seorang istri. Akulah yang gagal menjaga kejujuran.
Aku membaca surat itu dengan tenang.
Dulu, kata-kata tersebut mungkin akan membuatku kembali menangis.
Sekarang, aku hanya menutup album dan menyimpannya di lemari.
Sore itu, aku berjalan sendirian di sepanjang Jalan Malioboro.
Langit Yogyakarta mulai berubah jingga. Suara musisi jalanan bercampur dengan percakapan wisatawan dan derap langkah orang-orang yang berlalu-lalang.
Aku berhenti di depan sebuah toko kecil dan membeli buku catatan baru.
Pada halaman pertama, aku menulis satu kalimat.
Aku tidak membutuhkan tiga puluh hari untuk membuat seseorang memilihku. Aku hanya membutuhkan keberanian untuk berhenti memilih orang yang terus menyakitiku.
Aku tersenyum, lalu menutup buku itu.
Selama bertahun-tahun, aku mengira mempertahankan pernikahan berarti terus bersabar, bahkan ketika kejujuran sudah tidak ada.
Sekarang aku memahami bahwa kesetiaan bukanlah kesediaan menerima kebohongan tanpa batas.
Dan cinta yang sehat tidak pernah menuntut seseorang kehilangan harga dirinya agar hubungan tetap terlihat utuh.
Malam itu, ketika kembali ke apartemen kecilku, aku membuka jendela dan membiarkan angin masuk.
Tidak ada lagi ponsel suami yang harus kuperiksa.
Tidak ada jadwal perjalanan yang perlu kucurigai.
Tidak ada perempuan lain yang diam-diam menempati ruang dalam hidupku.
Yang ada hanya ketenangan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menyadari bahwa rumah bukanlah tempat seseorang berjanji akan selalu kembali.
Rumah adalah tempat aku tidak perlu lagi takut pada kebenaran.
