Tiga Tahun Setelah Dia Meninggalkanku Sebelas Hari Sebelum Pernikahan, Kami Bertemu

“Karena aku tidak ingin merepotkan siapa pun setelah meninggal.”

Arga menatapku seolah aku baru mengucapkan sesuatu yang mustahil.

“Apa maksudmu?”

Aku mengulurkan tangan. “Kembalikan kartunya, Ga.”

Namun, dia justru membalik kartu itu, membaca tanggal pemesanan dan nomor petak makam yang tercetak di sana.

“Nadia, kamu sakit?”

Aku tidak menjawab.

Tiba-tiba rasa nyeri kembali menjalar dari perut hingga punggungku. Aku berpegangan pada pintu mobil, berusaha tetap berdiri tegak.

Arga segera mendekat.

“Nadia!”

“Jangan sentuh aku.”

Dia berhenti, tetapi wajahnya berubah semakin tegang.

“Kamu kenapa?”

“Hanya kelelahan.”

“Kamu selalu berbohong dengan cara yang sama. Kalau sedang sakit, kamu bilang cuma capek.”

Aku menatapnya.

“Dan kamu selalu menghindari pertanyaan dengan cara yang sama. Bedanya, sekarang aku tidak lagi meminta jawabanmu.”

Aku mengambil kartu itu dari tangannya, masuk ke mobil, lalu menutup pintu.

Arga masih berdiri di tempat ketika aku meninggalkan area rumah kremasi.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku berusaha berkonsentrasi pada jalan. Namun, bayangan Raka yang berlari memanggil Arga terus muncul di kepalaku.

Anak itu berusia sekitar empat tahun.

Artinya, ketika kami masih mempersiapkan pernikahan, kemungkinan Maya sudah mengandung anak Arga.

Aku menggigit bibir.

Selama tiga tahun aku mencoba mencari alasan yang masuk akal atas kepergiannya. Aku pernah menyalahkan diriku sendiri, mengingat setiap pertengkaran kecil, setiap kalimat yang mungkin membuatnya tersinggung.

Ternyata jawaban yang paling sederhana justru yang paling menyakitkan.

Dia memilih orang lain.

Sesampainya di rumah, aku meletakkan guci abu Ayah di meja ruang tamu, tepat di samping foto beliau yang diambil saat ulang tahunnya yang keenam puluh.

“Ayah, maaf. Hari ini Nadia malah menangis karena orang yang salah.”

Aku duduk di lantai dan memeluk lutut.

Tiga tahun lalu, setelah Arga pergi, Ayah adalah orang yang mengantarku membatalkan gedung pernikahan, mengembalikan cincin keluarga Arga, dan membereskan undangan yang sudah dicetak.

Ketika aku menangis sampai tidak sanggup makan, Ayah tidak pernah mengatakan bahwa Arga tidak pantas untukku.

Beliau hanya duduk di sampingku dan berkata bahwa seseorang tidak harus mengetahui semua alasan untuk bisa melanjutkan hidup.

Aku baru memahami kalimat itu sekarang.

Malamnya, ponselku menerima pesan dari nomor yang sudah lama tidak muncul.

Arga.

Nadia, aku perlu bicara. Tolong beri tahu kondisi kesehatanmu.

Aku membaca pesan tersebut, lalu meletakkan ponsel tanpa membalas.

Keesokan paginya, aku pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.

Dokter Lestari, dokter yang menanganiku selama enam bulan terakhir, memeriksa hasil laboratorium sebelum memandangku dengan serius.

“Nadia, hasil pemeriksaan menunjukkan penyakitmu masih berkembang. Kita perlu mendiskusikan pilihan pengobatan berikutnya.”

Aku mengangguk.

Aku didiagnosis menderita kanker ovarium stadium lanjut. Operasi dan beberapa siklus kemoterapi telah kulalui, tetapi penyakit itu belum berhasil dikendalikan.

“Berapa lama lagi, Dok?”

Dokter Lestari menarik napas.

“Saya tidak bisa memberikan angka yang pasti. Yang penting sekarang kita menilai kemungkinan terapi lanjutan dan memastikan keluhanmu tertangani. Saya juga ingin kamu punya seseorang yang bisa mendampingimu.”

Aku tersenyum lemah.

“Ayah sudah tidak ada.”

“Bagaimana dengan saudara atau teman?”

“Aku punya seorang sahabat di Surabaya. Tapi dia juga punya keluarga sendiri.”

Dokter Lestari menatapku penuh perhatian.

“Meminta bantuan tidak berarti kamu menjadi beban.”

Aku menunduk.

Kalimat itu mengingatkanku kepada Ayah.

Setelah pemeriksaan selesai, aku keluar dari rumah sakit dan mendapati sebuah mobil hitam berhenti di dekat pintu utama.

Arga berdiri di sampingnya.

Aku langsung berhenti.

“Kamu mengikuti aku?”

“Aku datang ke rumahmu pagi tadi. Tetanggamu bilang kamu pergi ke rumah sakit.”

Aku menatapnya dengan kesal.

“Kamu tidak berhak mencari tahu kehidupanku seperti ini.”

“Aku tahu. Maaf. Tapi setelah melihat kartu makam itu, aku benar-benar khawatir.”

“Seharusnya kamu memikirkan itu tiga tahun lalu.”

Arga menunduk.

“Aku memang seharusnya melakukannya.”

Aku hendak melewatinya ketika dia mengucapkan sesuatu yang membuat langkahku terhenti.

“Raka bukan anak kandungku.”

Aku perlahan menoleh.

“Apa?”

“Dia putra Maya.”

“Aku tahu.”

“Tapi aku bukan ayah biologisnya.”

Aku memandangnya tanpa ekspresi.

“Lalu kenapa dia memanggilmu Papa?”

Arga mengusap wajah.

“Karena aku membesarkannya sejak dia berusia beberapa bulan.”

Aku tertawa hambar.

“Jadi kamu meninggalkanku untuk membesarkan anak perempuan lain?”

Arga menggeleng.

“Bukan begitu.”

“Kalau begitu, jelaskan.”

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu kembali, dia tidak menghindari pertanyaanku.

“Maya menikah dengan kakakku, Bagas.”

Aku membeku.

Aku mengenal Bagas. Dia kakak tiri Arga yang tinggal di Semarang. Kami hanya bertemu beberapa kali karena hubungan kedua bersaudara itu tidak terlalu dekat.

“Bagas meninggal tiga tahun lalu,” lanjut Arga.

“Bagas meninggal?”

Arga mengangguk.

“Sebelas hari sebelum pernikahan kita, dia mengalami kecelakaan ketika mengendarai motor menuju rumah sakit. Maya sedang hamil delapan bulan.”

Aku merasa dadaku semakin berat.

“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”

“Karena ada sesuatu yang terjadi setelah pemakamannya.”

Arga mengeluarkan sebuah amplop dari tas.

Di dalamnya terdapat salinan surat yang sudah menguning.

Aku mengenali tulisan tangan Ayah.

Tanganku langsung gemetar.

“Kenapa kamu punya surat Ayah?”

“Pak Hendra memberikannya kepadaku.”

Aku membaca surat itu perlahan.

Isinya meminta Arga menjauh dariku untuk sementara waktu karena sebuah urusan keluarga yang harus diselesaikan.

Di bagian akhir, Ayah menulis bahwa beliau akan menjelaskan semuanya kepadaku ketika waktunya tepat.

Aku mengangkat kepala.

“Ini tidak masuk akal.”

“Aku juga berpikir begitu.”

“Lalu kenapa kamu menurut?”

Arga menatapku dengan mata merah.

“Karena ayahmu mengatakan bahwa kalau aku tetap menikahimu, seseorang akan menggunakan masa lalu keluargaku untuk menyakitimu.”

Aku mengerutkan kening.

“Masa lalu apa?”

Arga terdiam cukup lama.

“Bagas meninggalkan utang besar. Sebelum meninggal, dia menggunakan identitas beberapa anggota keluarga untuk mendapatkan pinjaman. Salah satu dokumennya mencantumkan namamu sebagai calon penjamin.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Aku tidak pernah menandatangani apa pun.”

“Aku tahu sekarang. Tapi waktu itu ada seseorang yang mengancam akan menyebarkan dokumen tersebut dan menuduhmu terlibat.”

“Siapa?”

“Seorang rekan bisnis Bagas bernama Damar.”

Aku menggenggam surat Ayah semakin erat.

“Dan kalian pikir cara terbaik melindungiku adalah membiarkanku percaya bahwa kamu membuangku begitu saja?”

Arga tidak menjawab.

Aku tertawa, tetapi air mata justru mengalir di pipiku.

“Hebat sekali. Kalian berdua memutuskan hidupku tanpa pernah bertanya apa yang kuinginkan.”

Arga menunduk.

“Aku salah, Nadia.”

“Bukan hanya salah.”

Suaraku bergetar.

“Kamu mengambil hakku untuk mengetahui kebenaran.”

Aku mengembalikan surat itu kepadanya.

“Sekarang semuanya sudah terlambat.”

Arga mencoba mengatakan sesuatu, tetapi aku lebih dulu berjalan pergi.

Malam itu aku membuka lemari kerja Ayah.

Selama beberapa hari terakhir, aku belum sanggup membereskan barang-barangnya. Ada map laporan kesehatan, buku tabungan, dan kotak kayu kecil yang biasa beliau kunci.

Kuncinya kutemukan di dalam dompet lama Ayah.

Ketika kotak itu kubuka, ada beberapa surat dan sebuah buku catatan.

Di halaman pertama tertulis namaku.

Nadia, kalau suatu hari kamu membaca ini, berarti Ayah mungkin sudah tidak sempat menjelaskan semuanya.

Aku duduk di kursi.

Tulisan Ayah memenuhi beberapa halaman.

Beliau mengakui pernah meminta Arga menunda pernikahan karena khawatir ancaman Damar akan menyeret namaku ke dalam masalah hukum.

Namun, Ayah tidak pernah memintanya menghilang selamanya.

Bahkan setelah ancaman itu berhasil ditangani melalui bantuan pengacara, Arga tidak kembali.

Di halaman terakhir, tulisan Ayah terlihat lebih bergetar.

Ayah pernah mencoba menghubungi Arga setelah masalah tersebut selesai. Dia mengatakan tidak ingin kembali karena merasa sudah terlalu banyak menyakitimu. Ayah tidak tahu apakah keputusan itu lahir dari rasa bersalah atau ketakutan. Tetapi Ayah menyesal pernah ikut menentukan masa depanmu tanpa persetujuanmu.

Aku menutup buku itu.

Akhirnya aku mengetahui sesuatu yang selama ini tidak pernah kupahami.

Arga mungkin pergi karena sebuah ancaman.

Namun, dia tetap memilih tidak kembali ketika ancaman tersebut sudah berakhir.

Dan pilihan itu sepenuhnya miliknya.

Keesokan harinya, aku menghubungi pengacara yang pernah membantu Ayah.

Pak Surya masih menyimpan beberapa dokumen lama. Ia menjelaskan bahwa perkara utang Bagas telah diselesaikan melalui jalur hukum dan tidak pernah ditemukan bukti bahwa aku memberikan persetujuan sebagai penjamin.

“Pak Hendra sangat menyesali caranya menangani masalah itu,” katanya.

Aku mengangguk.

“Aku baru mengetahuinya.”

Pak Surya terdiam sejenak.

“Nadia, ayahmu pernah memintaku menyampaikan sesuatu kalau suatu hari kamu datang.”

“Apa?”

“Dia bilang jangan menghabiskan hidup untuk menunggu seseorang yang memilih pergi.”

Aku menangis setelah sambungan terputus.

Beberapa hari kemudian, Arga datang ke rumah bersama Maya.

Aku mempersilakan mereka duduk di teras.

Maya tampak gugup.

“Nadia, aku ingin meminta maaf.”

Aku memandangnya.

“Untuk apa?”

“Karena selama ini aku tahu Arga pernah bertunangan denganmu. Tapi aku tidak pernah berani menghubungimu.”

Ia menjelaskan bahwa setelah Bagas meninggal, Arga membantu mengurus kebutuhan Raka. Beberapa tahun kemudian, ketika Maya kesulitan bekerja sambil membesarkan anak, Arga mengizinkan mereka tinggal di rumah yang sama.

“Kami tidak menikah,” kata Maya. “Raka memanggil Arga Papa karena sejak kecil dia menganggap Arga ayahnya.”

Aku mengangguk perlahan.

“Terima kasih sudah menjelaskan.”

Arga menatapku.

“Nadia, aku tidak datang untuk meminta kita kembali seperti dulu.”

“Lalu?”

“Aku ingin membantu pengobatanmu.”

Aku tersenyum lemah.

“Aku bisa membayar pengobatanku sendiri.”

“Aku tahu. Tapi kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.”

Aku memandang lelaki yang pernah kucintai itu.

Ada masa ketika aku rela melakukan apa pun untuk mendengar kalimat tersebut.

Namun sekarang, aku justru merasa tenang ketika mengatakan tidak.

“Arga, aku menghargai niatmu. Tapi aku tidak ingin bantuanmu berubah menjadi alasan bagi kita untuk menghidupkan hubungan yang sudah berakhir.”

Ia mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

“Aku mengerti.”

Setelah mereka pergi, aku menghubungi sahabatku, Sinta, di Surabaya.

Begitu mendengar kondisiku, Sinta langsung menangis.

“Kamu ini keterlaluan, Nad. Kenapa tidak bilang dari dulu?”

“Aku takut merepotkanmu.”

“Kamu pikir persahabatan kita cuma berlaku kalau semuanya baik-baik saja?”

Aku tertawa sambil menangis.

Dua hari kemudian, Sinta datang ke Jakarta bersama suaminya.

Untuk pertama kalinya sejak Ayah meninggal, rumahku kembali dipenuhi suara orang bercakap-cakap dan aroma makanan hangat.

Sinta menemaniku berkonsultasi mengenai pengobatan lanjutan. Kami juga membahas kemungkinan dukungan perawatan jika kondisiku memburuk.

Aku tidak lagi menjalani semuanya sendirian.

Sebulan kemudian, aku memutuskan membatalkan penjualan rumah.

Bukan karena masih menunggu Arga.

Melainkan karena aku ingin mempertahankan satu tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan bersama Ayah.

Aku mengubah kamar kerja beliau menjadi ruang membaca kecil. Di dekat jendela, kupasang foto Ayah saat masih muda.

Di bawahnya, kusimpan buku catatan terakhirnya.

Arga sesekali mengirim pesan menanyakan kabarku. Aku membalas seperlunya.

Hubungan kami akhirnya berubah menjadi sesuatu yang sederhana, tanpa janji dan tanpa harapan yang harus dipenuhi.

Suatu sore, aku menerima sebuah paket kecil.

Pengirimnya Maya.

Di dalamnya terdapat gambar buatan Raka.

Anak itu menggambar seorang perempuan memegang bunga, berdiri di samping seorang lelaki tua dengan senyum lebar.

Di belakang gambar tertulis kalimat yang dibuat dengan bantuan Maya.

Tante Nadia, Papa bilang Kakek Hendra orang baik. Semoga Tante cepat sehat.

Aku menatap gambar itu lama sekali.

Air mataku jatuh, tetapi kali ini bukan karena Arga.

Aku teringat Ayah.

Beliau selalu menyukai anak-anak, terutama yang datang ke rumah membawa gambar atau cerita sederhana.

Aku meletakkan gambar Raka di samping fotonya.

Beberapa minggu kemudian, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pengobatan baruku memberikan respons yang cukup baik. Penyakitnya belum hilang, dan dokter tetap mengingatkan bahwa kondisi bisa berubah.

Namun, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku tidak lagi menghitung hari yang mungkin tersisa.

Aku mulai membuat rencana kecil.

Mengunjungi pantai bersama Sinta.

Menyelesaikan buku yang belum sempat kubaca.

Belajar membuat kue kesukaan Ayah.

Dan sesekali, bangun pagi tanpa langsung memikirkan kematian.

Pada hari ulang tahunku yang ketiga puluh empat, aku pergi ke taman pemakaman tempat abu Ayah telah ditempatkan sesuai keinginannya.

Aku membawa bunga melati dan sebuah kartu kecil.

Setelah meletakkan bunga, aku duduk di bangku dekat tempat peristirahatannya.

“Ayah, Nadia akhirnya tahu semuanya.”

Angin sore bergerak perlahan melewati pepohonan.

“Ayah memang salah karena menyembunyikan sesuatu. Tapi Nadia tahu Ayah hanya takut kehilangan Nadia.”

Aku menyeka air mata.

“Sekarang Nadia juga takut. Tapi Nadia tidak mau menghabiskan waktu yang tersisa hanya untuk takut.”

Aku mengeluarkan kartu lokasi makam yang pernah dibaca Arga.

Kartu itu masih kusimpan di dalam dompet.

Dulu, kartu tersebut kubeli karena ingin memastikan tidak ada seorang pun yang harus repot mengurusku ketika aku meninggal.

Sekarang aku memandangnya dengan perasaan berbeda.

Aku tetap mempertahankan pemesanan itu sebagai bagian dari rencana praktis untuk masa depan.

Tetapi aku tidak lagi menganggapnya sebagai tujuan yang harus segera kudatangi.

Ketika hendak pulang, ponselku berdering.

Sinta menelepon.

“Nad, kamu di mana? Kita jadi makan malam, kan?”

Aku tersenyum.

“Jadi. Aku sedang dalam perjalanan.”

“Jangan lupa, aku sudah pesan kue.”

Aku tertawa.

“Bukannya ulang tahunku sudah lewat?”

“Memangnya orang harus ulang tahun untuk makan kue?”

Aku menutup telepon sambil tersenyum.

Di depan gerbang taman pemakaman, aku melihat seorang perempuan tua membantu cucunya mengikat tali sepatu.

Pemandangan sederhana itu membuatku berhenti sebentar.

Tiga tahun lalu, aku kehilangan lelaki yang kukira akan menjadi masa depanku.

Beberapa bulan lalu, aku kehilangan Ayah, satu-satunya orang yang selama ini selalu menjadi tempatku pulang.

Aku bahkan sempat percaya bahwa seluruh cerita hidupku sudah mendekati halaman terakhir.

Namun ternyata, selama aku masih bisa membuka mata setiap pagi, selalu ada halaman baru yang mungkin belum pernah kubayangkan.

Aku tidak tahu berapa lama lagi tubuhku akan bertahan.

Aku juga tidak tahu apakah suatu hari aku akan benar-benar sembuh.

Tetapi aku tahu satu hal.

Arga bukan lagi jawaban atas kesedihanku.

Ayah tidak bisa kembali.

Dan masa lalu, seberapa pun menyakitkannya, tidak bisa kuubah.

Yang masih bisa kupilih hanyalah bagaimana aku menjalani hari ini.

Aku masuk ke mobil, meletakkan bunga melati yang tersisa di kursi penumpang, lalu menyalakan mesin.

Untuk pertama kalinya sejak menerima diagnosis, aku tidak merasa sedang berkendara menuju akhir hidupku.

Aku sedang pulang untuk makan malam bersama orang-orang yang menyayangiku.

Dan ternyata, setelah kehilangan begitu banyak hal, itu sudah cukup untuk membuatku ingin menyambut hari esok.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang