Asisten Tunanganku Sengaja Menumpahkan Kopi ke Gaunku. Namun, Ketika Dia

Pukul tujuh pagi, aku sudah berdiri di depan kantor ketika Sinta datang dengan wajah tegang. Biasanya dia selalu menyapaku dengan lelucon tentang kopi atau pekerjaan yang tidak pernah habis. Namun pagi itu, dia langsung menggenggam pergelangan tanganku.

“Alya, kamu harus siap melihat sesuatu.”

Aku menatapnya. “Ada apa lagi?”

Sinta tidak menjawab. Ia mengajakku menuju ruang arsip di lantai sembilan, jauh dari meja kerja Raka dan Nadine.

Begitu pintu tertutup, dia membuka laptop dan memperlihatkan sebuah dokumen.

Itu rancangan perjanjian pengalihan saham perusahaan.

Namaku tercantum sebagai salah satu pihak yang memberikan persetujuan.

Aku mengerutkan kening.

“Kenapa namaku ada di sini?”

Sinta menunjuk bagian bawah halaman.

“Karena menurut dokumen ini, kamu sudah menyetujui pemindahan sebagian saham milik ayahmu kepada perusahaan investasi yang dikendalikan Raka.”

Aku merasakan darah mengalir lebih cepat.

Ayahku memang memiliki saham minoritas di perusahaan tempat kami bekerja. Lima tahun lalu, ketika Raka mengusulkan perluasan bisnis, Ayah memberikan investasi untuk membantu pengembangan usaha.

Namun saham tersebut tetap tercatat atas nama Ayah.

Aku hanya memiliki kuasa terbatas untuk menerima dokumen dan mengikuti rapat tertentu ketika beliau berhalangan.

“Aku tidak pernah menyetujui pengalihan apa pun.”

“Aku tahu,” jawab Sinta. “Makanya aku memintamu datang.”

Dia memperbesar halaman terakhir.

Di sana terdapat tanda tanganku.

Bentuknya sangat mirip, termasuk garis kecil yang selalu kubuat di akhir huruf terakhir.

Tetapi aku langsung menemukan sesuatu yang salah.

“Aku tidak pernah menandatangani dokumen menggunakan nama lengkap seperti ini.”

Sinta mengangguk.

“Dan lihat tanggalnya.”

Dokumen itu bertanggal tiga hari sebelumnya.

Hari ketika aku sedang menghadiri pemeriksaan kesehatan ibuku di rumah sakit.

“Aku bahkan tidak masuk kantor hari itu.”

Sinta menutup laptop sebentar.

“Ada satu hal lagi.”

Dia memperlihatkan rekaman kamera keamanan koridor yang diperolehnya melalui tugas audit internal bersama tim kepatuhan. Rekaman itu memperlihatkan Nadine memasuki ruang dokumen sekitar pukul sembilan malam, membawa sebuah map hitam.

Lima belas menit kemudian, Raka menyusul.

Mereka keluar hampir satu jam setelahnya.

“Aku belum tahu apa yang mereka lakukan di dalam,” kata Sinta. “Tapi kemarin bagian legal menemukan beberapa berkas yang tidak sesuai dengan daftar dokumen resmi.”

Aku duduk perlahan.

Jadi selama ini, Raka bukan hanya menyembunyikan hubungan dengan Nadine.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar.

Aku segera menghubungi Ayah dan memintanya datang bersama pengacara keluarga.

Sebelum mereka tiba, ponselku berdering.

Raka.

Aku mengangkatnya.

“Alya, kamu di mana? Aku datang ke rumah tadi malam, tapi orang tuamu bilang kamu sudah tidur.”

“Aku di kantor.”

“Kita perlu bicara soal kemarin.”

“Tentu.”

Suaranya terdengar lega.

“Aku tahu kamu kecewa. Tapi Nadine benar-benar sedang tidak baik-baik saja.”

Aku menatap dokumen di hadapanku.

“Raka, kamu pernah meminta Nadine mencoba cincin pertunangan?”

Di seberang telepon mendadak sunyi.

“Apa?”

“Cincin yang kamu berikan kepadaku.”

“Alya, itu cuma bercanda.”

“Jadi benar?”

Ia menghela napas.

“Nadine pernah membantuku memilih cincin. Aku memintanya mencoba ukuran karena jarinya hampir sama dengan jarimu.”

Aku tersenyum getir.

“Menarik. Karena cincin itu justru terlalu longgar di jariku.”

“Alya, jangan membesar-besarkan hal kecil.”

Aku menutup mata.

Kalimat itu akhirnya terdengar sangat melelahkan.

“Kalau begitu, datanglah ke ruang rapat utama pukul sepuluh. Ada hal yang lebih besar untuk kita bicarakan.”

Aku memutus sambungan.

Pukul sepuluh tepat, Raka memasuki ruang rapat bersama Nadine.

Mereka tampak terkejut melihat Ayah, pengacara keluarga, kepala bagian legal, dan dua anggota tim audit internal telah menunggu.

“Ada apa ini?” tanya Raka.

Ayah menunjuk kursi di depannya.

“Duduk, Raka.”

Nadine langsung menegang.

Aku meletakkan salinan rancangan pengalihan saham di atas meja.

“Aku ingin tahu siapa yang membuat dokumen ini.”

Raka membacanya sekilas.

“Itu masih rancangan.”

“Dengan tanda tanganku?”

Ia terdiam.

Aku menunjuk bagian akhir.

“Aku tidak pernah menandatanganinya.”

Nadine buru-buru menyela.

“Mungkin ada kesalahan administrasi.”

Aku memandangnya.

“Kalau begitu, siapa yang memasukkan tanda tangan tersebut?”

Nadine menunduk.

Raka mulai terlihat gelisah.

“Alya, kita bisa membicarakan ini berdua.”

“Tidak. Ini menyangkut hak kepemilikan Ayah dan dokumen perusahaan.”

Pengacara keluarga kemudian menjelaskan bahwa Ayah tidak pernah memberikan persetujuan pengalihan saham. Kuasa yang pernah diberikan kepadaku juga tidak mencakup kewenangan untuk menjual atau memindahkan kepemilikan.

Raka mengusap wajah.

“Ini salah paham.”

Ayah menatapnya tajam.

“Kalau memang salah paham, jelaskan mengapa sebuah dokumen mencantumkan persetujuan yang tidak pernah diberikan.”

Ruangan menjadi sunyi.

Beberapa detik kemudian, Nadine mulai menangis.

“Mas Raka, aku sudah bilang jangan lakukan ini sekarang.”

Aku menoleh kepadanya.

“Jadi kamu tahu?”

Nadine menutup mulut.

Raka langsung berdiri.

“Nadine, diam.”

Namun semuanya sudah terlambat.

Dengan suara bergetar, Nadine mengatakan bahwa Raka sedang menghadapi masalah keuangan akibat investasi pribadinya yang gagal.

Ia telah menggunakan sejumlah dana yang seharusnya dialokasikan untuk proyek pengembangan perusahaan. Ketika auditor mulai meminta penjelasan, Raka berusaha mendapatkan kendali tambahan atas saham agar dapat memengaruhi keputusan pendanaan dan menunda pemeriksaan transaksi.

Aku memandang lelaki yang selama lima tahun kurencanakan menjadi suamiku.

“Jadi kamu ingin menggunakan saham Ayah untuk menyelamatkan dirimu sendiri?”

Raka menggeleng.

“Aku berniat mengembalikan semuanya.”

“Kapan?”

Ia tidak menjawab.

“Setelah dokumen palsu ini berhasil digunakan?”

“Alya!”

Aku berdiri.

“Jangan membentakku.”

Untuk pertama kalinya, Raka benar-benar kehilangan kendali atas ekspresinya.

Aku melanjutkan dengan suara tenang.

“Aku pernah mempercayaimu dengan hidupku. Ayah mempercayaimu dengan investasinya. Tapi kamu menggunakan kepercayaan itu untuk menutupi keputusanmu sendiri.”

Nadine kembali menangis.

“Kak Alya, aku cuma mengikuti perintah Mas Raka.”

Aku menatapnya.

“Kamu bukan anak kecil, Nadine. Kamu tahu dokumen itu tidak benar.”

Dia menunduk tanpa menjawab.

Tim legal segera mengamankan dokumen terkait dan melakukan pemeriksaan internal. Hak akses Raka terhadap beberapa sistem perusahaan ditangguhkan sementara sesuai prosedur, sambil menunggu keputusan resmi.

Ayah juga meminta pengacara menyiapkan langkah hukum yang diperlukan apabila ditemukan bukti pemalsuan atau penyalahgunaan dana.

Aku tidak merasa puas.

Yang kurasakan justru kehampaan.

Lima tahun hubungan kami berakhir bukan hanya karena perempuan lain.

Melainkan karena lelaki yang kucintai ternyata bersedia mempertaruhkan kepercayaan begitu banyak orang demi menyelamatkan dirinya sendiri.

Sore itu, Raka menungguku di parkiran.

“Alya, tunggu.”

Aku berhenti beberapa langkah darinya.

“Apa lagi?”

Ia menatapku dengan mata merah.

“Aku memang melakukan kesalahan. Tapi perasaanku kepadamu tidak pernah bohong.”

Aku mengeluarkan kotak cincin dari tas.

“Kalau begitu, kenapa kamu membiarkan aku menjadi orang terakhir yang mengetahui semuanya?”

Raka tidak menjawab.

Aku meletakkan kotak itu di kap mobilnya.

“Pertunangan kita selesai.”

Wajahnya seketika berubah.

“Alya, jangan lakukan ini.”

“Aku sudah memikirkannya.”

“Kita tinggal tiga bulan lagi menikah.”

“Justru karena itu aku harus berhenti sekarang.”

Ia mencoba menggenggam tanganku, tetapi aku mundur.

“Raka, kamu mengejar Nadine ketika dia menangis karena menumpahkan kopi ke gaunku. Kamu meninggalkan aku menghadapi keluarga kita sendirian.”

“Aku hanya ingin menenangkannya.”

“Dan selama aku bersamamu, aku terus diminta memahami semua keputusanmu.”

Aku menarik napas.

“Sekarang giliranku membuat keputusan untuk diriku sendiri.”

Aku meninggalkannya di parkiran.

Dua minggu kemudian, pemeriksaan internal menemukan transaksi bermasalah yang memerlukan audit lanjutan. Perusahaan melaporkan temuan yang relevan kepada pihak berwenang, sementara Raka melepaskan sementara tanggung jawab operasionalnya.

Nadine juga dimintai keterangan mengenai dokumen yang dikerjakannya. Dia akhirnya mengakui telah membantu menyiapkan berkas dengan tanda tangan yang tidak diperoleh secara sah.

Namun pengakuannya membawa kejutan lain.

Menurut Nadine, Raka sudah merencanakan perubahan struktur kepemilikan jauh sebelum aku mengetahui kedekatan mereka.

Bahkan, ia pernah mengatakan bahwa pernikahan kami akan membuat urusan keluarga dan kepemilikan saham jauh lebih mudah dibicarakan.

Ketika mendengar hal itu, aku merasa sesuatu dalam diriku benar-benar runtuh.

Aku tidak tahu apakah Raka sejak awal mendekatiku karena cinta atau kepentingan.

Dan aku menyadari bahwa aku mungkin tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang sepenuhnya jujur.

Sebulan kemudian, aku menerima tawaran pekerjaan di Surabaya.

Ayah sebenarnya sudah lama ingin aku membantu mengembangkan cabang baru perusahaan keluarga di sana.

Dulu aku selalu menolak karena Raka tidak ingin kami tinggal berjauhan.

Sekarang tidak ada alasan lagi untuk menunda.

Pada hari keberangkatanku, Ibu membantu menutup koper.

“Kamu yakin mau pergi?”

Aku mengangguk.

“Aku ingin mencoba hidup yang berbeda, Bu.”

Ibu memelukku.

“Kalau suatu hari kamu merasa sedih, pulang saja. Rumah ini selalu terbuka.”

Aku menangis dalam pelukannya.

Bukan karena kehilangan Raka.

Melainkan karena akhirnya aku memahami bahwa selama ini ada begitu banyak orang yang mencintaiku tanpa meminta aku mengorbankan diriku sendiri.

Surabaya menyambutku dengan udara panas dan jalanan yang ramai.

Minggu pertama terasa melelahkan. Aku harus mempelajari sistem operasional cabang, bertemu pemasok baru, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda.

Namun setiap kali pulang ke apartemen kecilku, aku merasakan sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan.

Ketenangan.

Tidak ada telepon tengah malam dari Nadine yang harus kumaklumi.

Tidak ada janji makan malam yang dibatalkan karena Raka mendadak memiliki urusan.

Tidak ada lagi perasaan harus bersaing dengan seseorang hanya untuk mendapatkan perhatian lelaki yang seharusnya menjadi pasangan hidupku.

Enam bulan kemudian, cabang Surabaya berhasil menyelesaikan proyek pengadaan besar dengan hasil yang baik.

Aku mulai membangun tim baru, mengikuti kelas pengembangan kepemimpinan, dan kembali melakukan kegiatan yang dulu kutinggalkan.

Suatu sore, Sinta menelepon.

“Alya, kamu dengar kabar terbaru tentang Raka?”

Aku terdiam sebentar.

“Belum. Kenapa?”

“Kasusnya masih diproses. Tapi dia sudah menjual beberapa aset pribadinya untuk memenuhi kewajiban pengembalian dana yang disepakati sementara.”

Aku mengangguk.

“Semoga semua pihak mendapatkan penyelesaian yang adil.”

Sinta terdengar terkejut.

“Kamu tidak penasaran soal Nadine?”

Aku tersenyum kecil.

“Tidak lagi.”

Setelah telepon berakhir, aku duduk di balkon apartemen sambil menikmati teh hangat.

Dahulu, kabar tentang Raka pasti membuatku gelisah sepanjang malam.

Sekarang aku hanya berharap ia bertanggung jawab atas tindakannya.

Tidak lebih.

Setahun setelah pertunangan kami dibatalkan, aku kembali ke Jakarta untuk menghadiri ulang tahun pernikahan kedua orang tuaku.

Acara itu sederhana, hanya keluarga dekat dan beberapa sahabat lama.

Ketika semua orang sedang menikmati makan malam, Ayah tiba-tiba mengangkat gelas.

“Ayah ingin mengatakan sesuatu.”

Aku menoleh.

“Apa, Yah?”

Ayah tersenyum.

“Tahun lalu, Alya pulang dengan hati yang hancur. Tapi dia tidak membiarkan pengalaman itu menghentikan hidupnya.”

Mataku mulai berkaca-kaca.

“Sekarang Ayah melihat anak Ayah menjadi perempuan yang lebih berani mengambil keputusan.”

Aku tertawa malu.

“Yah, jangan bikin aku nangis.”

Semua orang ikut tertawa.

Setelah acara selesai, Ayah memanggilku ke ruang kerja.

Ia menyerahkan sebuah amplop.

Di dalamnya terdapat dokumen penunjukan jabatan baru.

Aku diangkat menjadi kepala divisi pengembangan bisnis untuk wilayah Jawa Timur.

Aku menatap Ayah dengan terkejut.

“Ini serius?”

Ayah mengangguk.

“Keputusan ini berdasarkan evaluasi kinerjamu bersama tim manajemen. Bukan karena kamu anak Ayah.”

Aku memeluknya erat.

“Terima kasih.”

Ayah mengusap kepalaku.

“Ayah cuma ingin kamu tahu bahwa hidupmu selalu jauh lebih besar daripada satu hubungan yang gagal.”

Malam itu, sebelum tidur, aku membuka sebuah kotak kecil yang masih kusimpan di lemari kamar lama.

Di dalamnya terdapat foto pertunanganku dengan Raka.

Aku menatap foto tersebut cukup lama.

Dulu aku tersenyum begitu bahagia sambil menunjukkan cincin yang ternyata terlalu longgar untuk jariku.

Aku tidak membenci perempuan dalam foto itu.

Dia hanya seseorang yang pernah percaya sepenuh hati.

Aku juga tidak menyesali lima tahun yang telah berlalu.

Pengalaman itu memang menyakitkan, tetapi membuatku memahami sesuatu yang sangat penting.

Cinta tidak seharusnya membuat seseorang terus-menerus membuktikan bahwa dirinya layak dipilih.

Aku menutup kotak tersebut dan menyimpannya kembali.

Keesokan paginya, sebelum berangkat menuju Surabaya, aku mampir ke sebuah toko perhiasan kecil.

Aku meminta pegawainya memperlihatkan beberapa cincin sederhana.

Tidak ada berlian besar atau desain yang mencolok.

Hanya sebuah cincin emas putih dengan garis halus di bagian tengah.

Pegawai toko tersenyum.

“Untuk hadiah seseorang, Bu?”

Aku mengangguk.

“Untuk seseorang yang akhirnya belajar menghargai dirinya sendiri.”

Aku mencoba cincin itu.

Ukurannya pas.

Tidak terlalu longgar.

Tidak terlalu sempit.

Aku menatap pantulannya di kaca dan tersenyum.

Dulu, aku pernah memakai cincin yang dipilihkan orang lain sambil berharap bisa mempertahankan cinta selamanya.

Sekarang, aku memilih sebuah cincin untuk mengingatkan diriku bahwa kebahagiaan tidak harus menunggu seseorang datang dan menjanjikannya.

Ketika keluar dari toko, matahari Jakarta bersinar terang.

Aku berjalan menuju mobil sambil menggenggam kotak kecil itu.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa sedang meninggalkan sesuatu.

Aku justru merasa sedang menuju kehidupan yang benar-benar kupilih sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang