Pacarku Memesan Makan Siang untuk Seluruh Divisi Demi Seorang Rekan Wanita—Saat

Layar tablet yang diletakkan oleh Kepala HR di atas meja memancarkan cahaya dingin, menampilkan riwayat perubahan dokumen sistem internal. Di sana, tercantum jelas bahwa skor evaluasiku telah diturunkan secara manual dua jam sebelum rapat dimulai. Namun, yang membuat dadaku terasa seperti dihantam batu besar bukanlah fakta bahwa nilaiku dikurangi, melainkan nama akun yang tertera sebagai pelakunya: Salma Maharani.

Ruangan seketika dihantam kesunyian yang membekukan. Salma, yang tadinya berdiri di dekat pintu dengan wajah cemas, melangkah mundur setengah langkah. Wajahnya yang biasanya selalu memancarkan kepolosan mendadak pucat pasi. Arga menatap layar itu dengan mata melotot, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Salma dengan tatapan tidak percaya.

“Salma… bagaimana bisa akunmu yang mengubah data ini?” suara Arga terdengar bergetar, menahan amarah yang mulai membumbung.

Salma mulai terisak, kedua tangannya meremas ujung blusnya. “Pak… saya tidak bermaksud… Saya hanya… saya cuma melihat laptop Pak Arga terbuka saat Bapak keluar ruangan tadi siang. Saya tahu Naya yang paling tinggi, tapi saya sangat membutuhkan posisi ini, Pak! Bapak sendiri yang selalu memuji saya di depan orang-orang, saya pikir Bapak memang mau saya yang pegang!”

Ternyata, rasa kasihan dan perhatian berlebih Arga kepada Salma selama ini telah memupuk keberanian yang merusak. Salma memanfaatkan akses di laptop Arga yang terdekat dengannya untuk memanipulasi data, yakin bahwa Arga tidak akan memeriksa ulang dan akan menutup mata demi ‘menjaga profesionalitas’ yang selalu dibanggakannya.

Arga terduduk lemas di kursinya, menyandarkan punggungnya yang mendadak terasa berat. Ia menatapku dengan tatapan yang penuh kejutan, penyesalan, dan rasa malu yang luar biasa. Rahasia yang selama enam tahun ia sembunyikan rapat-rapat demi menjaga citranya kini hancur berkeping-keping di depan Kepala HR dan bawahannya sendiri. Kepercayaannya dihancurkan oleh orang yang selalu ia prioritaskan di atas perasaan kekasihnya sendiri.

“Pak Arga,” kata Kepala HR dengan suara tegas tanpa keraguan. “Manipulasi data evaluasi adalah pelanggaran berat tingkat perusahaan. Kami akan membawanya ke rapat direksi sore ini. Penunjukan koordinator dibatalkan sampai pemeriksaan selesai, dan akun Mbak Salma akan dibekukan sementara.”

Kepala HR memandangku dengan nada penuh simpati. “Naya, skor aslimu sudah dikembalikan. Posisi koordinator secara sah adalah milikmu berdasarkan seluruh kriteria objektif.”

Namun, di saat kebenaran akhirnya terungkap dan keadilan berpihak padaku, aku tidak merasakan kemenangan apa pun. Rasa manis dari kebenaran itu sudah hambar. Aku perlahan mengulurkan tangan, mengambil map cokelat yang sebelumnya kuletakkan di meja Arga, lalu menyerahkannya langsung ke tangan Kepala HR.

“Terima kasih, Pak,” ucapku datar, suaraku terdengar begitu jernih di ruangan yang hening itu. “Tapi saya tidak akan mengambil posisi itu. Ini surat pengunduran diri saya. Saya memohon agar masa pengunduran diri saya bisa dipercepat.”

Arga tersentak kaget seolah baru saja disengat listrik. Ia berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang dan menimbulkan suara berdecit keras. “Naya! Apa-apaan ini? Jangan mengambil keputusan saat emosi! Kamu yang paling berhak atas posisi ini!”

Aku menatap Arga lurus ke dalam matanya. Tidak ada lagi rasa bersalah, tidak ada lagi rasa takut, dan yang paling penting, tidak ada lagi rasa cinta yang selama enam tahun ini menyiksa batinku.

“Aku tidak emosi, Mas Arga,” jawabku pelan, menyebut namanya secara formal tanpa sebutan jabatan untuk pertama kalinya di kantor. “Surat ini sudah kutandatangani sebelum rapat pengumuman ini dimulai. Aku mundur bukan karena kalah, tapi karena aku akhirnya sadar bahwa tempat ini—dan kamu—bukan lagi ruang yang pantas untuk masa depanku.”

Arga terpaku. Tangannya melayang di udara, hendak menggapai lenganku seperti yang selalu ia lakukan setiap kali kami bertengkar, namun kali ini jarinya berhenti di udara. Ia sadar ia tidak lagi memiliki hak untuk menyentuhku. Di depan Kepala HR dan Salma yang masih menangis, rahasia hubungan kami yang selama ini ia tutup-tupi dengan dalih ‘profesionalisme’ runtuh tanpa sisa.

Aku membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi. Setiap langkah kaki yang menapak di koridor kantor terasa begitu ringan, seolah beban berat yang kupikul selama bertahun-tahun mendadak terangkat. Rekan-rekan kerja yang tadinya berbisik-bisik kini menatapku dengan kebingungan, namun aku tidak peduli lagi. Aku membereskan barang-barang di mejaku, memasukkan foto-foto kecil dan cangkir kesayanganku ke dalam dus, lalu berjalan menuju pintu keluar gedung.

Di luar, angin sore Jakarta menyapa wajahku dengan kehangatan yang asing. Ponsel di saku celanaku bergetar tanpa henti. Nama Arga memenuhi layar dengan puluhan panggilan tak terjawab dan rentetan pesan singkat yang dipenuhi penyesalan. Ia memohon agar aku mendengarkannya, berjanji akan membatalkan semuanya, bahkan berjanji akan mengumumkan hubungan kami kepada seluruh perusahaan besok pagi.

Aku membaca pesan-pesan itu sambil berdiri di pinggir jalan, menunggu taksi daring yang kupesan. Sebuah senyuman tipis muncul di bibirku. Betapa ironisnya, pengakuan yang aku impikan selama enam tahun baru ia tawarkan ketika aku sudah tidak lagi membutuhkannya. Pengakuan yang lahir dari rasa takut kehilangan bukanlah cinta, melainkan bentuk egoisme baru.

Aku menghapus semua pesan itu, membendung nomor Arga, lalu menarik napas panjang menikmati udara bebas. Satu bulan dari sekarang, aku akan memulai lembaran baru di kota yang baru, memimpin timku sendiri tanpa perlu bersembunyi di balik bayang-bayang siapa pun.

Ketika taksi yang kutumpangi mulai melaju membelah kemacetan kota, aku melihat pemandangan gedung kantor yang perlahan memungut jarak di kaca spion. Aku tidak pernah kehilangan apa pun hari ini. Justru sebaliknya, dengan melepaskan orang yang salah, aku baru saja menemukan kembali diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang