IBU MENINGGAL SECARA MENDADAK. AWALNYA, AKU MENGIRA PENYEBABNYA

Ardi!

Aku membelalak ketika mengenali wajah laki-laki yang sedang membekap mulutku. Orang yang selama ini kupercaya justru menyeretku ke lorong sepi seperti seorang penjahat.

“Diam dulu, Sanjana! Aku tidak akan menyakitimu!” bisiknya dengan wajah tegang.

Aku terus meronta sampai akhirnya Ardi melepaskan tangannya.

PLAK!

Tamparanku mendarat di pipinya.

“Kamu sudah gila, Ardi?! Kenapa menarikku seperti itu?”

Ardi tidak membalas. Dia justru menoleh ke arah jalan utama, seolah sedang memastikan tidak ada yang mengikuti kami.

“Kita harus pergi dari sini. Sekarang!”

“Aku tidak mau! Jelaskan dulu kenapa kamu ada di sini!”

“Kalau kamu masih ingin mengetahui siapa Gunawan Suseno, ikut aku!”

Aku langsung terdiam.

Bagaimana Ardi mengetahui nama itu?

Sebelum sempat bertanya, sebuah sepeda motor hitam melintas perlahan di ujung lorong. Pengendaranya mengenakan helm tertutup dan jaket gelap.

Ardi segera menarikku bersembunyi di balik tembok.

“Lihat motor itu?” bisiknya.

Aku mengangguk.

“Dia mengikutimu sejak kamu keluar dari penginapan.”

Darahku terasa dingin.

“Siapa orang itu?”

“Aku belum tahu. Tapi tadi dia sempat memotretmu ketika kamu masuk menemui Pak Gantara.”

Aku menatap Ardi dengan curiga.

“Lalu kamu sendiri kenapa mengikutiku?”

Ardi mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memperlihatkan sebuah pesan.

Pesan tersebut berasal dari nomor tidak dikenal.

“Jangan biarkan Sanjana menemui polisi. Kalau dia membuka mulut, nasibnya akan sama seperti Anita.”

Aku membeku membaca nama ibuku.

“Siapa yang mengirim pesan ini?”

“Masuk tadi pagi. Awalnya kukira cuma ancaman kosong. Tapi setelah melihatmu berangkat ke kota, aku merasa ada yang tidak beres.”

Aku menggenggam ponselnya dengan tangan gemetar.

“Kenapa kamu tidak langsung memberitahuku?”

“Karena aku tahu kamu sudah tidak percaya kepadaku.”

Jawabannya membuat dadaku sesak.

Memang benar. Sejak menemukan beberapa kejanggalan mengenai Pak RT, aku mulai menjaga jarak dari Ardi. Apalagi laki-laki itu merupakan keponakan Pak RT dan sering membantunya mengurus administrasi desa.

“Ardi, jawab satu pertanyaanku. Apa hubungan pamanmu dengan Gunawan Suseno?”

Ardi terdiam.

Aku menatapnya tajam.

“Jangan bohong lagi!”

“Aku baru mengetahui sebagian ceritanya semalam.”

“Cerita apa?”

Ardi menarik napas panjang.

“Gunawan Suseno pernah bekerja sebagai bendahara sebuah yayasan kesehatan di kota ini. Bidan Hayati juga pernah bekerja di sana.”

Aku terkejut.

“Lalu?”

“Yayasan itu ditutup setelah muncul dugaan penyalahgunaan dana. Ada beberapa dokumen yang hilang, termasuk catatan tentang seorang perempuan bernama Anita Aisara.”

Aku merasa lututku melemas.

Nama Ibu kembali muncul.

“Kenapa nama ibuku ada di sana?”

“Itulah yang sedang kucari tahu.”

Sebelum Ardi melanjutkan, ponselnya berdering.

Nama Pak RT muncul di layar.

Kami saling berpandangan.

Ardi mengangkat panggilan dan menyalakan pengeras suara.

“Ardi, kamu di mana?” terdengar suara Pak RT.

“Masih di kota, Pakde.”

“Kamu bertemu Sanjana?”

Ardi melirikku.

“Belum. Memangnya kenapa?”

Pak RT terdiam beberapa detik.

“Kalau kamu bertemu dia, jangan biarkan dia membawa akta kelahiran itu ke mana-mana.”

Aku menahan napas.

“Kenapa, Pakde?”

“Pokoknya dengarkan saja! Dokumen itu bisa menghancurkan keluarga kita!”

Sambungan langsung terputus.

Aku menatap Ardi dengan mata berkaca-kaca.

“Keluarga kita? Maksudnya apa?”

Ardi menggeleng.

“Aku juga tidak tahu.”

Namun, dari ekspresinya, aku merasa dia sedang menyembunyikan sesuatu.

Kami akhirnya memutuskan pergi ke sebuah warung makan yang cukup ramai. Ardi mengatakan lebih aman berbicara di tempat yang banyak orang.

Setelah duduk, aku mengeluarkan akta kelahiranku.

“Lihat ini. Nama ayahku Gunawan Suseno. Tapi selama hidup, Ibu selalu mengatakan ayahku bernama Dimas Adiputra.”

Ardi memperhatikan dokumen itu lama sekali.

Kemudian wajahnya berubah pucat.

“Ada apa?” tanyaku.

Dia menunjuk bagian bawah akta.

“Nama saksi pencatatannya.”

Aku mengikuti arah jarinya.

Di sana tertulis nama seorang saksi bernama Rahmat Santoso.

“Itu nama asli Pakde,” ujar Ardi lirih.

Jantungku berdegup semakin keras.

“Pak RT?”

Ardi mengangguk.

Aku memejamkan mata.

Berarti Pak RT memang mengetahui sesuatu tentang kelahiranku sejak awal.

Malam itu, Ardi mengantarku pulang melalui jalan yang berbeda. Sepanjang perjalanan kami hampir tidak berbicara.

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar Ibu.

Sudah berminggu-minggu ruangan itu kubiarkan seperti semula.

Baju-baju Ibu masih tergantung rapi. Aroma minyak telon yang biasa digunakannya masih tercium samar dari lemari.

Aku duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk bantalnya.

“Bu, sebenarnya siapa Ayah kandungku?” bisikku.

Air mataku jatuh.

Ketika hendak meletakkan bantal kembali, tanganku menyentuh sesuatu yang keras di balik sarungnya.

Aku segera membuka resleting sarung bantal.

Di dalamnya terdapat sebuah kunci kecil dan secarik kertas terlipat.

Jantungku langsung berdegup.

Tulisan pada kertas itu sangat kukenal.

Tulisan tangan Ibu.

“Sanjana, kalau suatu hari kamu menemukan kunci ini, berarti Ibu sudah tidak bisa menjelaskan semuanya secara langsung. Carilah kotak besi di bawah lemari jahit. Tapi jangan membukanya di hadapan Rahmat.”

Aku membaca kalimat terakhir berulang kali.

Rahmat.

Pak RT.

Tanganku gemetar ketika berjalan menuju ruang belakang tempat Ibu biasa menjahit.

Lemari kayu tua itu masih berada di sudut ruangan.

Aku berjongkok, menggesernya perlahan, lalu menemukan sebuah kotak besi berwarna abu-abu.

Kunci kecil tersebut ternyata cocok.

Klik.

Di dalam kotak ada beberapa foto lama, buku tabungan, surat pernikahan, serta sebuah amplop cokelat.

Aku mengambil foto pertama.

Dalam foto itu, Ibu berdiri di samping seorang pria muda berkemeja putih.

Di belakang mereka terdapat papan bertuliskan Yayasan Harapan Sehat.

Aku membalik foto tersebut.

Ada tulisan tangan yang mulai memudar.

Anita dan Gunawan, 2001.

Aku menutup mulut.

Jadi pria ini Gunawan Suseno?

Aku segera membuka amplop berikutnya.

Di dalamnya terdapat salinan surat pernikahan Ibu dengan Gunawan Suseno.

Tanggal pernikahan mereka tercatat setahun sebelum kelahiranku.

Berarti Gunawan memang pernah menjadi suami Ibu.

Lalu siapa Dimas Adiputra?

Aku terus memeriksa dokumen hingga menemukan sebuah surat bertanggal lima tahun setelah aku lahir.

Surat itu ditulis oleh Gunawan.

“Anita, aku tidak bisa lagi menyembunyikan kenyataan. Rahmat mengetahui semua transaksi yayasan. Kalau sesuatu terjadi kepadaku, simpan seluruh dokumen ini. Jangan percaya kepada siapa pun yang mengaku ingin membantu tanpa menunjukkan bukti.”

Aku membaca surat itu dengan napas tertahan.

Di bagian bawah terdapat satu kalimat lain.

“Maaf karena belum berani memberitahu Sanjana bahwa Dimas bukan orang yang selama ini kita ceritakan.”

Aku membeku.

Apa maksudnya?

Belum sempat kupikirkan, terdengar suara ketukan keras dari pintu depan.

Tok! Tok! Tok!

“Sanjana! Buka pintunya!”

Itu suara Pak RT.

Aku langsung memasukkan semua dokumen ke dalam tas.

“Sanjana! Bapak tahu kamu ada di dalam!”

Aku tidak menjawab.

Ponselku segera kugunakan untuk menghubungi Ardi.

Namun, sebelum panggilan tersambung, terdengar suara kaca pecah dari arah dapur.

Aku tersentak.

Seseorang masuk ke rumah!

Aku buru-buru bersembunyi di balik pintu kamar.

Langkah kaki terdengar mendekat.

Kemudian suara Pak RT menggema.

“Sanjana, keluar! Kita harus bicara!”

Aku menggenggam ponsel erat-erat.

“Bapak tidak berhak masuk rumah saya!” teriakku.

“Bapak cuma mau mengambil sesuatu yang bukan milikmu!”

“Akta kelahiran itu milik saya!”

“Bukan cuma akta itu!”

Aku terdiam.

Pak RT mendekati pintu kamar.

“Kamu sudah menemukan kotak besinya, bukan?”

Darahku terasa membeku.

Bagaimana beliau tahu?

“Apa yang Bapak lakukan kepada Ibu saya?” tanyaku sambil menangis.

Suasana mendadak hening.

Kemudian terdengar helaan napas berat.

“Bapak tidak membunuh ibumu, Sanjana.”

“Lalu kenapa Bapak terus mengejar dokumennya?”

“Karena ada orang yang akan membunuhmu kalau mengetahui kamu menyimpannya!”

Aku terdiam.

Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah.

“Pakde!”

Ardi datang.

Tak lama kemudian, suara pertengkaran terdengar dari ruang tengah.

Aku memberanikan diri keluar.

Ardi berdiri menghadang Pak RT.

“Pakde, cukup! Jangan menakut-nakuti Sanjana lagi!”

Pak RT terlihat sangat lelah. Wajahnya pucat, sementara keringat membasahi dahinya.

“Ardi, kamu tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi.”

“Kalau begitu, jelaskan sekarang!”

Pak RT menatap kami bergantian.

Akhirnya beliau duduk di kursi ruang tamu.

“Gunawan Suseno adalah ayah kandung Sanjana,” katanya pelan.

Aku menahan napas.

“Lalu Dimas Adiputra?”

Pak RT mengangkat wajah.

“Dimas adalah adik kandung Gunawan.”

Aku tertegun.

“Jadi selama ini pria yang kupanggil Ayah sebenarnya pamanku?”

Pak RT mengangguk.

“Setelah Gunawan menghilang, Dimas menikahi ibumu dan membesarkanmu seperti anak sendiri.”

“Kenapa Gunawan menghilang?”

Pak RT menunduk.

“Karena dia mengetahui sesuatu tentang yayasan kesehatan tempatnya bekerja.”

Aku mendekat.

“Sesuatu apa?”

“Yayasan itu tidak hanya mengelola layanan kesehatan. Ada sejumlah transaksi ilegal yang disamarkan sebagai biaya pengobatan. Gunawan menemukan bukti penyalahgunaan dana dan pemalsuan dokumen pasien.”

Aku teringat Bidan Hayati.

“Apakah Bidan Hayati mengetahui semuanya?”

“Iya. Dia membantu Gunawan menyimpan sebagian bukti.”

Aku menelan ludah.

“Lalu kenapa Ibu meninggal saat hamil?”

Pak RT memejamkan mata.

“Karena ibumu mencoba menemui orang yang menyimpan sisa dokumen Gunawan.”

Aku merasa dunia berputar.

“Siapa orang itu?”

Pak RT menatapku lama.

“Bidan Hayati.”

Aku mundur selangkah.

Berarti kematian Ibu dan Bidan Hayati memang berhubungan.

Namun, sesuatu masih mengganggu pikiranku.

“Pak, siapa ayah bayi yang dikandung Ibu?”

Pak RT terlihat terkejut.

“Kamu tahu soal kehamilan itu?”

Aku mengangguk.

“Dokter mengatakan Ibu mengalami komplikasi kehamilan sebelum meninggal. Tapi Ayah Dimas sudah meninggal bertahun-tahun sebelumnya.”

Pak RT menunduk.

“Bayi itu…”

Beliau berhenti berbicara.

Tiba-tiba ponselnya berdering.

Setelah melihat layar, wajahnya langsung berubah ketakutan.

“Jangan angkat!” seru Ardi.

Namun, Pak RT sudah telanjur menerima panggilan.

Suara seorang pria terdengar dari pengeras suara.

“Rahmat, saya dengar kamu sedang bersama Sanjana.”

Aku mengenali suara itu.

Pak Gantara!

Aku langsung menatap Ardi.

Pak RT terlihat gemetar.

“Pak, saya hanya ingin menjelaskan semuanya.”

“Sudah saya katakan, jangan libatkan anak itu.”

Pak RT memejamkan mata.

“Dia berhak tahu siapa ayahnya.”

Suara Pak Gantara mendadak berubah dingin.

“Kalau begitu, kamu juga harus siap menjelaskan mengapa Gunawan Suseno menghilang.”

Sambungan terputus.

Ruangan mendadak sunyi.

Aku hampir tidak bisa bernapas.

“Pak Gantara mengenal Gunawan?”

Pak RT mengangguk perlahan.

“Lebih dari sekadar mengenal.”

Aku menatapnya penuh ketakutan.

“Siapa sebenarnya Pak Gantara?”

Pak RT meraih tanganku.

“Sanjana, dengarkan baik-baik. Jangan pernah menemui polisi itu sendirian lagi.”

“Kenapa?”

Beliau mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya.

Foto itu memperlihatkan empat orang berdiri di depan bangunan Yayasan Harapan Sehat.

Ibu.

Gunawan.

Bidan Hayati.

Dan seorang pria muda yang sangat kukenal.

Pak Gantara.

Aku membeku.

Di bagian belakang foto tertulis empat nama.

Anita Aisara.

Gunawan Suseno.

Hayati.

Gantara Wirawan.

“Apa hubungan mereka?” bisikku.

Pak RT menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Dulu mereka bekerja sama membongkar penyimpangan di yayasan itu. Tapi sebelum bukti berhasil diserahkan kepada penyidik, Gunawan menghilang. Gantara kemudian menjadi satu-satunya orang yang mengaku mengetahui lokasi terakhirnya.”

Aku menelan ludah.

“Apakah Pak Gantara yang membuat Gunawan menghilang?”

“Bapak tidak punya bukti untuk menuduhnya. Tapi ada sesuatu yang belum pernah dia jelaskan.”

Ardi mendekat.

“Apa itu, Pakde?”

Pak RT menarik napas panjang.

“Beberapa hari sebelum Anita meninggal, dia menghubungiku. Katanya Gantara datang membawa kabar bahwa Gunawan masih hidup.”

Jantungku langsung berdegup kencang.

“Ayah kandungku masih hidup?”

“Anita ingin memastikan sendiri. Tapi setelah pertemuan itu, kondisinya memburuk dan dia dibawa ke rumah sakit.”

Air mataku mengalir.

“Kenapa Bapak tidak mengatakan semuanya dari awal?”

“Karena Bapak takut. Dulu Bapak pernah menjadi saksi dalam perkara yayasan itu. Beberapa orang yang terlibat memiliki hubungan luas. Ketika Bidan Hayati ditemukan meninggal, Bapak khawatir kejadian serupa menimpamu.”

Aku menunduk memandangi foto di tanganku.

Selama ini aku mengira Pak RT adalah orang yang ingin mencelakakanku. Ternyata beliau menyimpan rahasia besar karena ketakutan yang belum pernah kualami.

Namun, bukan berarti aku bisa langsung mempercayai seluruh ceritanya.

Aku harus menemukan bukti.

Malam itu, dengan bantuan Ardi, aku menghubungi seorang pengacara yang direkomendasikan kerabat Ibu. Kami menyerahkan salinan dokumen untuk diperiksa dan menyimpan dokumen asli di tempat aman.

Aku juga menceritakan pertemuanku dengan Pak Gantara di penginapan.

Pengacara tersebut terlihat serius.

“Mulai sekarang, kalau ada pemeriksaan, sebaiknya dilakukan melalui prosedur resmi. Jangan lagi menemui siapa pun sendirian di tempat tertutup.”

Aku mengangguk.

Keesokan paginya, kami mendatangi kantor kepolisian untuk melaporkan dugaan keterkaitan kasus kematian Ibu, Bidan Hayati, dan hilangnya Gunawan Suseno.

Aku menyerahkan informasi yang kumiliki tanpa menyembunyikan apa pun.

Namun, sebelum pemeriksaan selesai, seorang petugas datang membawa kabar mengejutkan.

“Pak Gantara sedang tidak bertugas. Kami belum berhasil menghubunginya sejak tadi malam.”

Aku dan Ardi saling berpandangan.

Pak Gantara menghilang.

Tiga hari kemudian, aku menerima sebuah paket tanpa nama pengirim.

Di dalamnya terdapat sebuah buku catatan kecil dan kartu memori.

Pada halaman pertama buku itu tertulis pesan yang membuat tanganku gemetar.

“Sanjana, kalau kamu membaca ini, berarti aku gagal menemuimu. Aku Gunawan Suseno, ayah kandungmu.”

Aku langsung menangis.

Tanganku bergetar ketika membalik halaman berikutnya.

“Aku tidak meninggalkanmu karena tidak mencintaimu. Aku menghilang karena diancam setelah berusaha membongkar kejahatan orang-orang yang menggunakan yayasan sebagai kedok. Dimas membesarkanmu atas permintaanku. Dia laki-laki baik yang menyayangimu seperti anak sendiri.”

Aku terisak.

Untuk pertama kalinya, aku mengetahui bahwa pria yang selama ini kupanggil Ayah sebenarnya telah memilih menjadi ayahku meskipun kami tidak memiliki hubungan biologis.

Aku melanjutkan membaca.

“Ibumu mengetahui bahwa aku masih hidup. Kami beberapa kali berkomunikasi secara diam-diam. Tetapi setelah Dimas meninggal, dia menolak meninggalkanmu demi ikut bersembunyi bersamaku.”

Aku menutup mulut.

Kemudian mataku tertuju pada halaman terakhir.

Tulisan di sana jauh lebih pendek.

“Bayi yang dikandung ibumu adalah adik kandungmu. Aku ayahnya. Kami bertemu kembali beberapa bulan sebelum kehamilannya diketahui. Aku berharap suatu hari bisa pulang dan hidup bersama kalian.”

Air mataku jatuh membasahi kertas.

Jadi Ibu tidak sedang menyembunyikan hubungan dengan pria asing.

Beliau bertemu kembali dengan suami pertamanya yang selama ini terpaksa hidup dalam persembunyian.

Namun, kebahagiaan itu justru berakhir dengan kematiannya.

Aku segera memeriksa kartu memori yang disertakan.

Di dalamnya terdapat beberapa rekaman suara dan dokumen lama.

Salah satu rekaman memperdengarkan suara seorang perempuan yang sangat kukenal.

Ibu.

“Gunawan, kalau sesuatu terjadi padaku, tolong jaga Sanjana. Jangan biarkan dia menyalahkan dirinya sendiri. Aku hanya ingin keluarga kita bisa berkumpul lagi.”

Aku menangis tersedu-sedu.

Ardi yang berada di sampingku tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menggenggam tanganku.

Namun, rekaman berikutnya membuat kami sama-sama membeku.

Terdengar suara seorang pria berbicara dengan nada marah.

“Kamu sudah diberi kesempatan menghilang, Gunawan. Kenapa kembali?”

Kemudian terdengar suara lain.

“Aku tidak akan diam setelah mengetahui apa yang kalian lakukan kepada pasien-pasien itu.”

Aku mengenali suara kedua sebagai suara yang terdengar dalam beberapa rekaman Gunawan.

Tetapi suara pertama…

Aku memutarnya berulang kali.

Ardi menatapku dengan wajah pucat.

“Itu suara Pak Gantara.”

Aku merasakan tubuhku menggigil.

Namun, sebelum kami sempat berdiskusi, terdengar suara ketukan di pintu.

Tok. Tok. Tok.

Ardi segera berdiri.

“Siapa?”

Dari luar terdengar suara laki-laki yang terdengar sangat lemah.

“Sanjana…”

Aku membeku.

Suara itu terasa asing, tetapi entah mengapa membuat dadaku bergetar.

“Sanjana, ini Ayah.”

Ardi menatapku.

Aku perlahan mendekati pintu, tetapi tidak langsung membukanya.

“Siapa nama lengkap Anda?” tanyaku dengan suara gemetar.

“Gunawan Suseno.”

Air mataku langsung mengalir.

Namun, aku teringat seluruh peringatan yang kuterima selama ini.

Aku tidak boleh bertindak gegabah.

“Kalau benar Anda ayah saya, sebutkan sesuatu yang hanya diketahui Ibu.”

Beberapa detik berlalu.

Kemudian terdengar jawaban lirih.

“Waktu kamu lahir, ibumu memberimu gelang benang merah. Dia menyimpannya di dalam kotak musik berbentuk angsa. Kotak itu hadiah dariku pada ulang tahunnya yang kedua puluh.”

Aku menutup mulut.

Kotak musik berbentuk angsa itu masih tersimpan di lemari Ibu.

Aku pernah melihat gelang kecil di dalamnya.

Dengan bantuan Ardi, aku memeriksa keadaan di luar melalui jendela.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di depan pagar dengan pakaian lusuh dan wajah kelelahan.

Di tangannya terdapat foto lama Ibu.

Aku akhirnya membuka pintu setelah memastikan tidak ada orang lain di sekitarnya.

Pria itu menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Sanjana…”

Aku tidak mampu berkata-kata.

Dia mengangkat tangan perlahan, tetapi berhenti sebelum menyentuh wajahku.

“Maafkan Ayah.”

Aku menangis.

Bertahun-tahun aku tumbuh dengan keyakinan bahwa ayah kandungku telah meninggal.

Kini, pria yang namanya tercantum dalam akta kelahiranku berdiri tepat di hadapanku.

Namun, sebelum aku sempat memeluknya, dia mengucapkan sesuatu yang membuat darahku terasa membeku.

“Sanjana, jangan percaya begitu saja pada rekaman yang kamu terima.”

Aku menatapnya kebingungan.

“Apa maksud Ayah?”

Gunawan menghela napas.

“Rekaman itu memang asli. Tetapi ada bagian yang sengaja dipotong.”

“Siapa yang memotongnya?”

Dia menatap Ardi, lalu kembali kepadaku.

“Orang yang mengirim paket itu.”

Aku menelan ludah.

“Siapa?”

Gunawan menjawab dengan suara rendah.

“Pak Gantara. Dan dia bukan sedang melarikan diri.”

Aku membelalak.

“Lalu di mana dia?”

Gunawan menundukkan wajahnya.

“Dia sedang berada dalam perlindungan penyidik karena mencoba menyerahkan bukti yang selama ini disembunyikan.”

Aku terdiam.

“Jadi Pak Gantara bukan pelakunya?”

“Belum tentu dia tidak bersalah dalam semua hal. Tapi dia bukan orang yang menyebabkan kematian ibumu.”

Air mataku kembali menggenang.

“Lalu siapa?”

Gunawan mengeluarkan selembar foto dari saku bajunya.

Foto itu memperlihatkan Ibu sedang berdiri di depan sebuah rumah sakit bersama seorang perempuan berpakaian putih.

Aku mengenali perempuan tersebut.

Dia adalah dokter yang pertama kali memberitahuku bahwa Ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan.

Gunawan menunjuk wajah perempuan itu.

“Sebelum ibumu meninggal, dia meminta pemeriksaan medis ulang karena menemukan kejanggalan pada obat yang diberikan kepadanya.”

Aku menatap foto itu dengan napas tertahan.

“Dokter ini?”

Gunawan mengangguk.

“Dialah orang terakhir yang memeriksa ibumu sebelum kondisinya memburuk. Polisi sekarang sedang menyelidiki kemungkinan adanya tindakan yang disengaja.”

Aku merasakan dunia kembali berputar.

Selama ini aku terlalu sibuk mencari jawaban tentang identitas ayahku sampai hampir melupakan pertanyaan yang paling penting.

Apa sebenarnya yang terjadi pada Ibu?

Gunawan kemudian menggenggam tanganku.

“Ayah tidak meminta kamu langsung percaya atau memaafkan Ayah. Ayah hanya ingin kita mencari kebenaran dengan cara yang benar.”

Aku memandang wajahnya lama.

Wajah itu memiliki bentuk mata yang mirip denganku.

Namun, meskipun dia ayah kandungku, dia tetap orang asing yang baru kutemui.

Aku belum bisa langsung memanggilnya Ayah dengan perasaan yang sama seperti ketika memanggil Dimas.

Tetapi aku juga tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengenalnya.

“Kita serahkan semua bukti kepada penyidik,” kataku akhirnya.

Gunawan mengangguk.

“Ya.”

Aku menatap foto Ibu sekali lagi.

Wanita yang selama ini kukira menyimpan begitu banyak kebohongan ternyata justru menghabiskan hidupnya untuk melindungiku dari kebenaran yang bisa membahayakan kami.

Dan saat itu aku menyadari sesuatu.

Rahasia keluarga tidak selalu lahir dari niat jahat. Terkadang rahasia disimpan karena seseorang terlalu takut kehilangan orang yang dicintainya.

Namun, ketakutan juga bisa membawa luka panjang ketika kebenaran terus ditunda.

Aku tidak tahu berapa lama penyelidikan kematian Ibu akan berlangsung atau siapa yang akhirnya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Tetapi kini aku tidak lagi sendirian.

Aku memiliki Ardi, orang-orang yang bersedia membantuku, dan seorang ayah kandung yang akhirnya kembali.

Sementara di dalam hatiku, Dimas Adiputra akan tetap menjadi Ayah yang membesarkanku dengan kasih sayang.

Sebab darah memang dapat menunjukkan dari siapa kita dilahirkan.

Namun, cinta dan pengorbananlah yang menentukan siapa yang benar-benar hadir sebagai keluarga.

Dan ketika malam tiba, untuk pertama kalinya sejak Ibu meninggal, aku duduk di depan foto beliau tanpa hanya menangis.

Aku tersenyum pelan.

“Bu, Tari sudah menemukan sebagian jawabannya. Tari akan terus mencari kebenaran, tetapi Tari juga akan berusaha menjalani hidup yang Ibu harapkan.”

Di luar, hujan mulai turun membasahi halaman.

Aku menggenggam kotak musik berbentuk angsa, lalu memutarnya perlahan.

Melodi lembut memenuhi ruangan.

Dan di antara suara hujan, aku seolah kembali mendengar suara Ibu yang dulu selalu mengatakan bahwa sebesar apa pun badai yang datang, rumah adalah tempat seseorang seharusnya merasa aman.

Kini tugasku bukan hanya menemukan siapa yang merenggut nyawa Ibu.

Aku juga harus memastikan bahwa rahasia dan ketakutan masa lalu tidak lagi menentukan seluruh masa depanku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang