
Sinta benar karena begitu aku melangkah masuk ke lobi kantor keesokan paginya suasana terasa berbeda dari biasanya beberapa rekan kerja yang biasanya menyapaku dengan ramah kini memilih mengalihkan pandangan saat aku berjalan melewati meja mereka. Di lantai atas ruang divisi keuangan tempatku bekerja pintu ruangan manajer tampak setengah terbuka dan suara tawa kecil terdengar dari dalam. Langkahku terhenti sejenak ketika aku melihat Raka berdiri di dekat jendela bersama Nadine yang mengenakan kemeja rapi sambil memegang dokumen penting perusahaan. Ada keakraban yang terjalin begitu alami di antara mereka sebuah gestur kecil berupa sentuhan ringan di lengan yang tidak pernah kutemukan selama lima tahun kami bersama. Raka menoleh dan matanya langsung menangkap keberadaanku di ambang pintu sementara senyum di wajahnya seketika memudar digantikan oleh ekspresi canggung yang sulit disembunyikan. Aku tidak langsung mendekat melainkan meletakkan tas di mejaku lalu berjalan pelan menuju ruangan tersebut dengan membawa map laporan bulanan yang harus ditandatangani oleh direktur utama. Nadine yang menyadari kedatanganku segera menegakkan tubuhnya dan merapikan rambutnya sebelum berkata dengan nada suara yang sengaja dilembutkan bahwa ia hanya membantu Raka menyiapkan berkas untuk rapat dewan direksi hari itu. Aku menatapnya sekilas tanpa menunjukkan emosi apapun lalu mengalihkan pandangan pada Raka yang tampak salah tingkah dan mencoba menjelaskan bahwa kehadiran Nadine di ruangan itu adalah atas permintaannya sendiri untuk mempercepat proses administrasi yang tertunda. Aku membuka map di tanganku dan meletakkannya di atas meja kerja tanpa mengucapkan sepatah kata pun pujian atau keluhan seperti biasanya. Raka mengerutkan kening menyadari ada jarak yang tidak biasa di antara kami lalu ia meminta Nadine meninggalkan ruangan sebentar agar kami bisa berbicara berdua saja. Begitu pintu tertutup rapat dan kami hanya tinggal berdua di dalam ruangan berukuran sedang itu Raka menghela napas panjang dan mulai membahas kejadian semalam dengan nada suara yang mencoba menenangkan. Ia meminta maaf karena meninggalkan acara keluarga demi mengantar Nadine pulang dengan alasan bahwa perempuan itu benar-benar mengalami kondisi psikologis yang buruk akibat insiden di restoran dan tidak ada orang lain yang bisa diandalkannya di kota sebesar Jakarta. Aku mendengarkan setiap kalimatnya dengan saksama tanpa memotong sedikit pun penjelasan yang terasa sangat klise dan berulang ulang. Ketika dia selesai berbicara aku mengeluarkan kotak kecil berwarna hijau tua dari dalam saku blazerku dan meletakkannya perlahan di atas meja tepat di hadapannya. Raka menatap kotak itu dengan mata terbelalak seolah ia melihat sesuatu yang paling mengerikan di dunia ini sementara napasnya mulai terasa berat. Ini bukan tentang malam tadi atau tentang air mata asistenmu yang selalu jatuh di saat yang tepat ucapku dengan suara tenang yang membuat ruangan itu semakin terasa dingin. Ini tentang cincin yang salah ukuran sejak pertama kali kau berikan padaku karena ternyata cincin itu memang bukan untukku melainkan dipesan khusus untuk orang lain yang duduk di kursi ini setiap hari. Wajah Raka mendadak pucat pasi tanpa sisa darah dan ia mencoba meraih tanganku namun aku menariknya menjauh dengan gerakan cepat. Dia bersumpah bahwa tidak ada hubungan serius di antara mereka dan bahwa Nadine hanyalah rekan kerja yang kebetulan dekat karena sering lembur bersama untuk menangani proyek penting perusahaan. Aku tersenyum tipis mendengar pembelaan yang terasa sangat menyedihkan itu lalu membuka ponselku dan menunjukkan tangkapan layar berisi pesan pengiriman paket atas nama Raka yang ditujukan langsung ke alamat apartemen pribadi Nadine dengan menyertakan catatan pembelian perhiasan mewah bertepatan dengan hari ulang tahunku tahun lalu. Raka terdiam kaku tidak mampu berkata apa apa lagi karena bukti itu telah merobohkan seluruh kebohongan yang telah ia bangun selama berbulan bulan di belakang punggungku. Tanpa menunggu penjelasannya lebih lanjut aku berbalik badan dan melangkah keluar dari ruangan itu meninggalkan kotak hijau tersebut di atas meja kerjanya. Di luar Sinta dan beberapa rekan kerja lainnya menatapku dengan penuh rasa penasaran namun aku berjalan tegak melewati mereka menuju lift yang akan membawaku turun ke lantai dasar. Ponselku bergetar hebat di dalam tas dengan rentetan panggilan masuk dari Raka yang terus menerus mencobaku hubungi namun aku memutuskan untuk mematikan daya ponsel itu untuk selamanya. Sesampainya di luar gedung kantor udara pagi Jakarta menyambutku dengan terik matahari yang hangat dan aku menarik napas dalam dalam merasakan kebebasan yang belum pernah kurasakan selama bertahun tahun hidup di bawah bayang bayang kebohongan. Di trotoar jalan raya aku melambaikan tangan untuk menghentikan sebuah taksi kosong dan menyebutkan alamat kantor pusat perusahaan logistik multinasional di kawasan Sudirman tempat tawaran pekerjaan sebagai direktur operasional cabang Singapura telah menungguku sejak minggu lalu. Aku menatap ke luar jendela mobil yang melaju membelah kemacetan ibu kota menyadari bahwa kehilangan seseorang yang tidak pernah menghargai keberadaan kita bukanlah sebuah kerugian besar melainkan awal dari kehidupan baru yang jauh lebih bermakna. Setibanya di gedung megah itu aku disambut oleh kepala HRD yang ramah dan langsung menandatangani kontrak kerja resmi yang akan membawaku terbang meninggalkan kenangan pahit di tanah air dalam waktu kurang dari seminggu. Ketika aku keluar dari gedung tersebut untuk kembali menyiapkan kepindahanku aku melihat bayanganku sendiri di kaca pintu gedung yang memantulkan sosok seorang wanita mandiri yang siap menatap masa depan tanpa rasa takut. Tidak ada lagi air mata yang tersisa untuk lelaki penakut seperti Raka karena lembaran baru hidupku telah resmi dimulai dengan keputusan paling tepat yang pernah kubuat seumur hidupku.
