BAGIAN 1

Pintu kamar hotel perlahan kubuka. Kakak perempuan Arga, Mbak Maya, berdiri di sana dengan senyum tipis yang terasa begitu dingin. Kotak kecil berisi kaus kaki bayi yang empat tahun lalu kutinggalkan di rumah lama kami kini berada di genggamannya. Tanpa menunggu diundang, ia melangkah masuk, memandang sekeliling kamar yang temaram sebelum matanya tertuju pada Kirana yang sedang duduk di karpet.

“Kamu berhasil membangung kehidupan yang cukup nyaman, Alya,” bisik Mbak Maya. Suaranya tenang, namun ada getaran halus yang tak bisa ia sembunyikan.

Aku berdiri di depannya, menutupi pandangan ke arah Kirana. “Apa maksud dari semua ini, Mbak? Kenapa barang itu ada di tanganmu? Dan kenapa kamu memberi tahu Kirana soal Arga?”

Mbak Maya menghela napas panjang, lalu meletakkan kotak kecil itu di atas meja hias. “Karena Arga mulai gila, Alya. Empat tahun ini dia hidup seperti mayat hidup. Ketika dia tahu kamu memblokir semua akses dan pergi tanpa jejak, dia mengabaikan bisnis keluarga, menolak perjodohan lanjutan dengan keluarga Nadine, dan menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk memburu jejakmu.”

Jantungku berdegup kencang. “Tapi dia yang meminta cerai! Dia yang membawa dokumen itu malam itu!”

“Bukan Arga yang menginginkan perceraian itu,” potong Mbak Maya cepat. Mata wanita itu menatapku tajam, dipenuhi rasa bersalah yang akhirnya pecah. “Malam itu, ayah kami mengancam akan menghancurkan reputasi dan karirmu di bidang teknologi jika Arga tidak melepaskanmu demi menyelamatkan investasi keluarga dengan perusahaan ayah Nadine. Arga terdesak. Dia berpikir jika dia melepaskanmu sementara waktu, dia bisa membereskan masalah itu lalu menyusulmu.”

Aku terpaku di tempatku berdiri, merasa lidahku mendadak kelu. “Lalu… kehamilanku?”

“Aku yang menemukan hasil tes dokter itu di meja riasmu saat membantumu mengemas barang,” aku Mbak Maya dengan suara terisak. “Aku takut jika Arga tahu kamu hamil, dia akan nekad melawan Ayah dan membiarkan kita semua hancur. Jadi aku menyembunyikan kotak ini. Aku menahan semua surat yang dikirimkan Arga selama bertahun-tahun. Aku membayar orang untuk memastikan kamu tidak pernah menerima kabar darinya, dan memastikan Arga percaya bahwa kamu sudah membencinya serta tidak ingin ditemukan lagi.”

Air mata menyengat sudut mataku. Selama empat tahun, aku membendung rasa benci dan kekecewaan pada Arga. Aku membangun benteng pertahanan yang kuat demi melindungi diriku dan Kirana, yakin bahwa pria yang pernah kucintai telah membuang kami demi wanita lain. Namun, ternyata kenyataan pahit yang kutelan selama ini adalah sebuah rekayasa besar.

Tiba-tiba, pintu kamar yang tidak terkunci rapat terdorong dari luar. Arga berdiri di ambang pintu, napasnya memburu, matanya merah menatap Mbak Maya dan kotak kecil di atas meja. Dia telah berdiri di sana, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulut kakak kandungnya sendiri.

“Jadi… selama ini kamu yang melakukannya, Mbak?” suara Arga terdengar begitu dalam, penuh kemarahan dan kehancuran yang teramat sangat.

Mbak Maya menunduk, tak sanggup menatap adiknya. “Arga, aku… aku hanya mencoba menyelamatkan keluarga kita…”

“Kamu menghancurkan keluargaku!” bentak Arga. Untuk pertama kalinya aku melihat Arga kehilangan kendali atas emosinya. Dia melangkah cepat menghampiri meja, mengambil kotak kecil itu, lalu membukanya dengan tangan yang gemetar hebat. Di dalamnya, sepasang kaus kaki bayi mungil dan lembaran USG usang terpampang nyata.

Arga berlutut di lantai, memegang kertas USG itu di depan dadanya. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan lagi. Dia menatapku dengan sorot mata penuh penyesalan yang teramat dalam, lalu beralih menatap Kirana yang kini memandang kami dengan bingung.

“Kamu… kamu mengandung anakku saat pergi?” bisik Arga serak.

Aku tidak bisa menjawab. Tenggorokanku terasa tertahan oleh gelombang emosi yang begitu hebat. Kebenaran ini datang terlalu cepat, merobohkan seluruh keyakinan yang kubangun selama bertahun-tahun.

Arga perlahan bangkit, menatap Mbak Maya dengan dingin. “Keluar dari sini, Mbak. Jangan pernah muncul di hadapanku atau Alya lagi. Urusan kita di Jakarta selesai, dan aku akan mengundurkan diri dari seluruh struktur perusahaan Ayah mulai besok.”

Mbak Maya mencoba meraih lengan Arga, namun Arga menepisnya tanpa ragu. Dengan wajah pucat, wanita itu akhirnya melangkah keluar, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam kamar hotel.

Kini hanya tersisa kami bertiga. Arga berjalan perlahan mendekati Kirana. Dia berlutut di hadapan putri kecil kami, memandangnya dengan kelembutan yang belum pernah kubayangkan sebelumnya. Kirana menatap pria berkacamata itu, lalu melirik gambar di bukunya, dan kembali menatap Arga.

“Om… Ayah?” tanya Kirana polos.

Arga menahan napasnya, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum di tengah tangisnya. “Ya, Sayang. Ini Ayah.”

Kirana tidak takut. Anak itu justru mengulurkan tangannya yang mungil, mengusap air mata di pipi Arga, lalu merangkul leher Arga hangat. Arga memeluk putri kami dengan begitu erat, seolah takut kehilangan dirinya sekali lagi.

Aku menyandar pada dinding, tak sanggup menahan tangis yang akhirnya pecah. Rasa sakit, kebingungan, dan penyesalan berbaur menjadi satu. Arga berdiri setelah menenangkan Kirana, lalu berjalan mendekatiku. Dia tidak mencoba menyentuhku, namun tatapannya mengunci mataku rapat-rapat.

“Aku tahu empat tahun ini tidak bisa dihapus hanya dengan kata maaf, Alya,” ucap Arga lirih. “Aku tidak minta kamu menyambutku kembali sebagai suami hari ini. Tapi izinkan aku membayar waktu yang hilang. Izinkan aku menjadi ayah bagi Kirana, dan beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku tidak pernah berhenti mencintaimu.”

Aku menatap pria di hadapanku—bukan lagi sebagai mantan suami yang kubenci, melainkan sebagai seorang ayah yang telah dirampas haknya oleh kebohongan. Di luar jendela, lampu-lampu kota Jakarta bersinar terang di tengah kegelapan malam. Luka empat tahun itu mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang tanpa bekas, tetapi malam ini, untuk pertama kalinya, jalan menuju pemulihan dan kebenaran telah terbuka lebar di hadapan kami.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang