Malam semakin larut, namun suasana di dalam gubuk Mbah Dukun terasa semakin menyesakkan dada. Tangisan bayiku yang tadinya mereda kini kembali pecah, bersahutan dengan isakan Runi yang ketakutan di sudut ruangan. Aku berusaha sekuat tenaga menahan daun pintu kayu yang diguncang dari luar dengan kekuatan yang tidak wajar. Bayangan sosok perempuan bertubuh tinggi berambut panjang terlihat jelas dari celah dinding bambu, mondar-mandir sambil

terus memanggil nama Runi dengan suara lirih yang membuat bulu kudukku meremang. Aroma wangi bunga melati yang bercampur dengan bau amis yang pekat menusuk hidung, membuat kepalaku pusing seketika. Aku sadar, ini bukan lagi sekadar tamu biasa, melainkan teror dari makhluk yang sengaja datang menjemput malam itu. Hanah yang masih lemah berusaha bangkit dari dipan, menarik ujung bajuku dengan tangan yang bergetar hebat sementara air matanya mengalir deras membasahi pipi. Ia memeluk bayi kami erat-erat, mencoba melindungi buah hati kami dari marabahaya yang mengintai di balik pintu. Aku berteriak sejadi-jadinya, menyuruh makhluk itu pergi, namun suaranya justru semakin dekat, berbisik tepat di balik bilik kayu seolah berada tepat di sebelah telingaku. Tepat ketika dorongan dari luar terasa begitu kuat hingga membuat engsel pintu hampir copot, sebuah suara gemerincing tongkat terdengar dari kejauhan. Sosok itu mendadak menghentikan guncangannya, lalu menghilang bersamaan dengan tiupan angin dingin yang memadamkan lampu teplok di teras.
Kegelapan pekat menyergap, menyisakan napas kami yang memburu dan detak jantung yang bergemuruh di dalam dada. Menjelang pagi, saat cahaya matahari pertama menembus celah-celah dinding gubuk, Mbah Dukun kembali dengan wajah pucat pasi. Beliau membawa sekantung air kendi dan langsung memercikannya ke seluruh sudut ruangan sambil merapal doa-doa pelindung. Tanpa menunggu lama, Mbah Dukun mendesak kami untuk segera bersiap meninggalkan tempat itu sebelum matahari meninggi, karena ia tahu makhluk tersebut akan kembali saat senja tiba.
Kami bergegas mengemas pakaian seadanya, membungkus bayi kami dalam kain bedong, dan menggandeng Runi keluar dari halaman rumah tua itu. Perjalanan pulang terasa sangat panjang dan melelahkan di bawah teriknya matahari. Namun, setibanya kami di halaman rumah sendiri, pemandangan ganjil langsung menyambut kedatangan kami. Pintu rumah utama tampak terbuka lebar, padahal terakhir kali kami meninggalkannya dalam keadaan terkunci rapat. Dengan langkah ragu, aku melangkah masuk lebih dulu untuk memastikan keadaan di dalam. Alangkah terkejutnya aku ketika melihat Ibuku duduk di ruang tamu dengan tatapan kosong, dikelilingi oleh beberapa warga tetangga yang berkerumun dengan wajah tegang. Ibu langsung bangkit begitu melihatku, bukan dengan kemarahan yang biasa ia tunjukkan, melainkan dengan cucuran air mata penyesalan yang mendalam. Beliau langsung memelukku erat, merengkuh tubuhku yang kelelahan sambil terisak meminta maaf atas segala perlakuan kasarnya selama ini.
Di tengah kebingunganku, seorang tetua kampung yang turut hadir mendekatiku dan menyampaikan sebuah kebenaran yang membuat seluruh darahku mendadak berhenti mengalir. Tetangga itu mengatakan bahwa tepat empat hari yang lalu, di jam yang sama saat anakku lahir di tempat Mbah Dukun, Ibuku mengalami kecelakaan kecil di rumah dan sempat tidak sadarkan diri selama beberapa jam. Dalam kepedihan masa lalunya, Ibu berhalusinasi dan merawat sebuah boneka kain pemberian mendiang leluhurnya, menganggapnya sebagai cucu yang selama ini ia benci.
Namun yang membuatku terhenyak dan seketika kehilangan suara adalah ucapan berikutnya dari sang tetua desa. Ibu kandungku ternyata sudah meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung tepat tiga hari yang lalu di ruang tamu ini, jauh sebelum aku sempat pulang membawa istri dan anakku. Sosok ibu yang duduk memelukku dan menangis penyesalan di hadapanku saat ini bukanlah manusia, melainkan perwujudan rasa bersalah terakhir yang belum terselesaikan sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan dunia fana untuk selamanya.
