Bocah Miskin Diusir dari Klub Sains karena Membawa Barang Rongsokan, tetapi

Pak Hendra hampir menjatuhkan ponselnya ketika Raka mendongak.

“Pak, kabel yang ini masih dipakai?”

Pertanyaan sederhana itu membuatnya teringat Budi. Tujuh tahun lalu, sahabatnya juga menanyakan hal serupa beberapa jam sebelum meninggal.

“Matikan dulu semua sumber daya,” jawabnya. “Kita lanjut besok.”

Dimas hendak memprotes, tetapi melihat wajah gurunya, ia mengurungkan niat.

Setelah murid-murid pulang, Pak Hendra menelepon Sari melalui nomor yang tercatat di sekolah.

“Saya perlu menjelaskan sesuatu tentang Budi.”

Di seberang sana terdengar tarikan napas tajam.

“Setelah tujuh tahun?” suara Sari bergetar. “Sekarang anak saya juga diancam, Pak.”

Pak Hendra memejamkan mata.

“Simpan pesannya. Jangan dihapus. Saya akan datang kalau Ibu bersedia menemui saya.”

Malam itu, Sari menunggunya dengan kotak logam di meja. Raka duduk di samping ibunya. Ia menolak masuk kamar setelah mendengar nama ayahnya disebut.

Pak Hendra meletakkan foto lama di antara mereka.

“Saya yang memegang alat di foto itu.”

“Kenapa Bapak bilang cuma pernah mendengar nama Ayah?” tanya Raka.

“Karena saya takut.”

Jawaban itu lebih menyakitkan daripada yang Raka bayangkan.

Pak Hendra menjelaskan bahwa Langit semula dirancang sebagai robot pengangkut sederhana untuk bengkel kecil. Budi ingin membuat alat yang murah, mudah diperbaiki, dan bisa berhenti dengan aman ketika salah satu bagiannya bermasalah.

Surya Darmawan, pemilik perusahaan, ingin segera menjualnya.

“Dalam pengujian terakhir, Ayahmu menemukan pengendali motor bisa terus bergerak setelah menerima perintah berhenti. Dia menolak menandatangani laporan kelayakan.”

Sari menggenggam tepi meja.

“Lalu kecelakaan itu?”

“Terjadi saat pengujian ulang. Saya berada di ruang kontrol. Budi masuk ke lintasan karena alat sudah dimatikan, tetapi seseorang menyalakan kembali daya utama.”

“Siapa?” desak Sari.

“Saya tidak melihatnya. Setelah kejadian, Surya menyuruh saya menandatangani laporan bahwa Budi melanggar prosedur.”

“Dan Bapak tanda tangan?”

Pak Hendra mengangguk.

Sari berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Selama ini saya percaya suami saya ceroboh.”

“Saya tahu permintaan maaf tidak cukup. Saya membawa salinan surat keberatan Budi dan catatan pengujian. Saya menyimpannya, tetapi tidak pernah berani menyerahkannya.”

Raka menatap gurunya.

“Bapak mengusir saya karena tahu saya anak Ayah?”

“Tidak. Saat itu saya bahkan belum tahu.” Pak Hendra menunduk. “Saya menghakimimu dari barang yang kamu bawa. Itu kesalahan saya sendiri.”

Malam itu mereka menyimpan salinan dokumen dan tangkapan layar ancaman. Keesokan paginya, Sari dan Pak Hendra mendatangi kantor polisi. Kepada sekolah, mereka meminta perlindungan bagi Raka serta pembatasan akses ke ruang penyimpanan proyek.

Raka tetap ingin mengikuti pameran.

“Aku mau menyelesaikan robotnya, Bu.”

Sari lama memandangnya sebelum mengangguk.

“Tapi tidak ada lagi rahasia. Kalau ada sesuatu, kamu cerita.”

Di laboratorium, Dimas sudah menunggu dengan sebuah kantong komponen.

“Aku bawa konektor dan kabel baru,” katanya canggung.

Raka mengangguk, lalu membuka buku catatannya.

Mereka membagi pekerjaan. Teknisi sekolah memeriksa setiap komponen sebelum dipasang. Raka merakit pengendali sederhana, sementara Dimas menyesuaikan program. Dua anggota lain menguji rem dan mencatat hasilnya.

Menjelang sore, Dimas tiba-tiba berkata, “Aku mengejekmu karena takut.”

Raka tetap memegang obeng.

“Takut apa?”

“Ayah selalu membandingkanku dengan anak-anak lain. Aku pikir kalau alatku paling mahal, setidaknya aku bisa menang sesuatu.”

“Itu bukan alasan buat mempermalukan orang.”

“Aku tahu.”

Dimas mengeluarkan ponselnya dan menghapus video ejekan yang belum sempat diunggah.

“Aku juga akan minta maaf di depan yang lain.”

Raka menatapnya sejenak, kemudian menggeser kotak perkakas ke tengah meja.

“Tolong pegangkan rangkanya.”

Pada malam terakhir sebelum pameran, robot itu berhasil melewati lintasan sepuluh kali. Ketika salah satu sensor sengaja dilepas, alat berhenti sesuai rancangan.

Pak Hendra menandatangani lembar pengujian dengan tangan yang sedikit gemetar.

Keesokan harinya, aula sekolah dipenuhi pengunjung. Raka baru selesai merapikan papan presentasi ketika melihat seorang pria berkemeja abu-abu berhenti di depan stan.

Wajahnya sama dengan pria ketiga dalam foto ayahnya.

Surya Darmawan.

Pak Hendra segera berdiri di samping Raka.

“Saya datang sebagai tamu sponsor,” ujar Surya sambil memperlihatkan kartu undangan. Matanya beralih ke papan presentasi. “Langit. Nama yang menarik.”

Raka tidak menjawab.

“Rancangan itu milik perusahaan saya.”

“Silakan sampaikan klaim tertulis melalui sekolah,” kata Pak Hendra.

Senyum Surya menipis.

“Kamu masih suka membuat urusan menjadi rumit, Hendra.”

Sebelum percakapan berlanjut, pengeras suara mengumumkan demonstrasi dimulai.

Dimas menyalakan robot. Alat bergerak melewati pembatas, mengambil kotak kecil, lalu berhenti di depan tanda merah. Tepuk tangan terdengar.

Namun, saat putaran kedua, roda kanannya mendadak tersendat.

Dimas memucat.

Raka mengangkat tangan kepada juri.

“Kami hentikan dulu untuk pemeriksaan.”

Bisik-bisik memenuhi aula. Surya melipat tangan.

“Barang bekas memang tidak bisa diandalkan.”

Raka memutus daya, lalu berjongkok. Seutas benang dari karpet tersangkut pada poros roda. Ia menunjukkannya kepada teknisi, membersihkannya, kemudian memeriksa putaran roda.

“Pengendalinya mendeteksi motor tertahan dan menghentikan alat,” jelas Raka. “Jadi kami bisa melepas penghalangnya sebelum motor terlalu panas.”

Seorang juri mendekat.

“Kalian memang menguji kondisi roda tertahan?”

Dimas membuka buku pengujian.

“Ada di sini, Bu. Tiga kali pengujian dengan beban berbeda.”

Setelah teknisi mengizinkan, demonstrasi dilanjutkan. Robot menyelesaikan lintasan. Kali ini tepuk tangan terdengar lebih panjang.

Di belakang kerumunan, Sari menangis tanpa menyembunyikan wajah.

Surya hendak pergi ketika wakil kepala sekolah menghampirinya bersama dua petugas. Mereka memintanya ikut berbicara di ruangan terpisah mengenai laporan ancaman. Tidak ada pengumuman atau tuduhan di depan pengunjung.

Pameran berakhir dengan penghargaan khusus untuk dokumentasi pengujian dan pemanfaatan komponen bekas. Pada papan proyek tercantum nama seluruh anggota, termasuk Raka.

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan membuka kembali perkara kematian Budi. Belum semua pertanyaan terjawab, tetapi laporan lama mulai diperiksa bersama bukti yang selama ini disimpan.

Suatu malam, Sari menyerahkan buku catatan ayahnya kepada Raka.

Di halaman belakang terselip gambar krayon seorang anak kecil. Robot berkaki empat berdiri di bawah matahari biru.

“Itu gambarmu,” kata Sari. “Ayah menyimpannya.”

Di bawah gambar itu ada tulisan Budi.

Raka memberi nama robot ini Langit. Katanya, supaya bisa membawa barang sampai ke tempat yang belum bisa dijangkaunya.

Raka mengusap kertas itu perlahan.

Selama ini ia mengira sedang menyelesaikan impian ayahnya.

Ternyata, sejak awal, ayahnya sedang membantu mewujudkan impiannya.

“Bawa semua rongsokanmu keluar! Klub sains bukan tempat menumpuk sampah!”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang