Niken berhenti mengepel ketika mendengar suaminya menyebut nama rumah sakit.
“Besok aku ke sana,” bisik Yosep. “Pasti ada yang tahu siapa laki-laki yang menolongnya.”
Ia menunggu sampai langkah kedua bersaudara itu menjauh, lalu membawa kain pel ke dapur. Tangannya gemetar ketika memeras kain. Bukan karena takut kehilangan rumah, melainkan karena orang yang seharusnya paling mengenalnya justru sedang mencari cara untuk menjatuhkannya.
Malam itu, Niken mengunci pintu kamar tamu. Sejak merawat Bapak, ia memang tidur di sana agar mudah mendengar panggilan beliau.
Dari dalam laci, ia mengambil buku bersampul cokelat. Di halaman pertama ada tulisan tangan Pak Kasim yang mulai goyah.
Kalau mereka hanya bertanya siapa yang mendapat hartaku, minta mereka membaca sampai halaman terakhir.
Niken membuka lembar berikutnya. Ada catatan pesanan bengkel, tunggakan gaji, serta nama pelanggan yang belum membayar. Selama ini keluarga mengira bengkel Pak Kasim terus menghasilkan uang. Padahal, beberapa mesin sudah digadaikan untuk menutup pengeluaran.
Di antara halaman terselip sebuah amplop bertuliskan nama Niken.

Isinya bukan uang.
Ada surat pengakuan utang atas nama Irwan, bukti transfer kepada Lala, dan salinan pesan Yosep yang meminta modal usaha. Semuanya belum dikembalikan.
Niken menutup mata. Kini ia mengerti mengapa Pak Kasim meminta setiap dokumen disimpan terpisah dari wasiat.
Pagi berikutnya, Yosep sudah menunggunya di meja makan.
“Aku mau bicara baik-baik.”
Niken meletakkan cangkirnya. “Tentang laki-laki yang menurutmu membantuku mendapatkan darah?”
Wajah Yosep menegang.
“Kamu dengar?”
“Cukup jelas.”
“Aku hanya ingin tahu kebenarannya.”
“Kalau begitu, ikut aku ke rumah sakit. Mas Irwan juga boleh datang.”
Irwan yang baru turun dari tangga langsung menyahut, “Bagus. Jangan nanti berubah pikiran.”
Niken menatapnya tenang. “Aku sudah terlalu sering menunggu kalian datang. Kali ini jangan terlambat.”
Mereka tiba menjelang siang. Niken lebih dulu menemui petugas di meja informasi, lalu menelepon seseorang. Beberapa menit kemudian, seorang lelaki berjaket ojek daring masuk sambil membawa helm.
Irwan menyikut Yosep.
“Itu orangnya?”
Lelaki itu mendekat. Usianya sekitar empat puluh tahun, wajahnya tampak lelah setelah bekerja sejak pagi.
“Maaf, Mbak Niken. Tadi masih mengantar penumpang.”
“Terima kasih sudah datang, Pak Damar.”
Yosep menatap istrinya, kemudian lelaki itu.
“Hubungan kalian apa?”
Damar mengernyit. “Saya yang mengantar istri Bapak malam itu. Beliau hampir pingsan di depan minimarket.”
“Kenapa?”
“Belum makan dari pagi. Katanya sedang mencari bantuan untuk bapak mertuanya.”
Yosep terdiam.
Damar mengeluarkan ponsel, mencari percakapan lama, lalu memperlihatkannya.
“Saya menyebarkan permintaan donor ke grup pengemudi. Ada teman yang menghubungkan kami dengan komunitas donor. Untuk pemeriksaan dan transfusinya, semuanya ditangani petugas rumah sakit.”
Irwan melipat tangan. “Lalu kenapa harus dirahasiakan?”
“Tidak ada yang merahasiakan,” jawab Niken. “Aku mengirim pesan ke grup keluarga malam itu.”
Ia membuka ponselnya.
Di bawah pesan permintaan bantuan, ada jawaban Irwan: sedang di luar kota.
Lala mengirimkan tanda jempol.
Yosep bahkan tidak membalas.
“Teleponku juga masuk, Mas,” kata Niken pelan. “Tujuh kali.”
Yosep menunduk, tetapi Irwan masih bertahan.
“Menolong orang sakit tidak berarti boleh mengambil seluruh hartanya.”
“Saya tidak tahu urusan harta keluarga kalian,” sela Damar. “Saya datang karena Mbak Niken bilang bantuan malam itu sedang dipertanyakan.”
Ia berpamitan. Niken mengucapkan terima kasih, lalu mengantarnya sampai pintu.
Ketika kembali, Yosep sedang duduk dengan kedua tangan menutupi wajah.
“Ken, maaf.”
Niken tidak langsung menjawab.
“Waktu Bapak sadar setelah transfusi, yang beliau tanyakan pertama kali adalah apakah kamu sudah makan,” katanya. “Aku bilang sudah, padahal aku bahkan tidak tahu kamu ada di mana.”
Dalam perjalanan pulang, tidak seorang pun berbicara.
Namun, di rumah, kejutan lain sudah menunggu.
Helen duduk di ruang tamu bersama Lala. Di atas meja ada ponsel dengan layar retak dan selembar bukti transfer.
“Haris memblokir nomor Ibu,” kata Lala.
Helen menatap lantai. “Ibu mengirim uang muka apartemen kepadanya dua bulan lalu.”
“Berapa?” tanya Irwan.
Helen menyebut angka yang membuat semua orang terdiam.
Uang itu diambil dari rekening rumah tangga sebelum Pak Kasim meninggal.
Irwan mengumpat, tetapi Niken segera menyela.
“Kita simpan semua buktinya dan laporkan. Marah saja tidak akan mengembalikan uang Ibu.”
Helen mendongak. Untuk pertama kalinya, ia tidak membalas ketegasan Niken dengan hinaan.
Sore itu, notaris datang atas permintaan Niken. Ia membawa salinan dokumen dan sebuah rekaman yang dititipkan Pak Kasim.
Irwan langsung mempertanyakan wasiat tersebut.
“Keberatan Saudara bisa disampaikan melalui prosedur yang semestinya,” jawab notaris. “Ada dokumen kepemilikan dan hak masing-masing yang tetap harus diperiksa. Tetapi sebelum itu, almarhum meminta keluarga mendengar rekaman ini.”
Wajah Pak Kasim muncul di layar laptop. Tubuhnya kurus, tetapi suaranya terdengar jelas.
“Bapak tahu kalian akan marah kepada Niken.”
Helen mulai menangis.
“Karena itu, Bapak ingin kalian tahu apa yang dia lakukan.”
Niken menunduk.
“Ketika biaya perawatan menumpuk, dia menjual perhiasannya. Ketika pekerja bengkel belum menerima gaji, dia memakai tabungan yang disiapkannya untuk membuka usaha jahit. Dia minta Bapak jangan bilang kepada Yosep karena tidak ingin kalian bertengkar.”
Yosep menoleh kepada istrinya.
“Tabunganmu habis?”
Niken mengangguk kecil.
Di layar, Pak Kasim menarik napas panjang.
“Lalu ketika Bapak ingin memberinya rumah ini, dia menolak. Dia justru membawa buku dan meminta Bapak menghitung utang bengkel lebih dulu. Katanya, jangan sampai pekerja kehilangan nafkah setelah Bapak pergi.”
Ruangan itu sunyi.
“Bapak menitipkan usaha kepada orang yang masih memikirkan orang lain ketika dirinya sendiri sedang kesulitan.”
Rekaman berakhir.
Niken membuka buku cokelat itu di hadapan mereka.
“Besok ada gaji yang harus dibayarkan. Ada pesanan yang terlambat. Kalau kalian ingin ikut mengurusnya, mulailah dari sana.”
Irwan tidak menyentuh buku itu. Lala perlahan menarik kursi dan duduk lebih dekat.
Malamnya, Yosep menemukan Niken sedang mengemas pakaian.
“Kamu mau pergi?”
“Aku menyewa kamar dekat bengkel.”
“Aku sudah minta maaf.”
“Aku dengar, Mas. Tapi aku belum bisa pulang kepada orang yang kemarin masih ingin menjadikan pertolonganku sebagai tuduhan.”
Yosep melepaskan pegangan pada kopernya.
Saat Niken melewati ruang tamu, Helen berdiri membawa sebuah kotak makanan.
“Buat besok pagi,” katanya lirih.
Niken menerimanya.
Di ambang pintu, Helen memanggil sekali lagi.
“Ken… boleh Ibu ikut membayar gaji besok? Ibu masih punya simpanan pribadi.”
Niken menatapnya, lalu mengangguk.
Untuk pertama kalinya sejak wasiat dibacakan, seseorang di rumah itu membicarakan apa yang bisa diberikan.
