“Besok pagi pergi ke puskesmas. Cari Bu Ratna,” bisik Ardi. “Jangan bawa tas besar.”
Ia menjauh sebelum aku sempat bereaksi. Terdengar laci meja ditarik, lalu ditutup dengan sengaja agak keras.

“Tidak ada. Cuma buku kuliah,” katanya.
“Kamu yakin dia tidur?”
Langkah lain mendekati pintu.
Ardi berdeham. “Kalau bangun karena kamu berisik, jelaskan sendiri kepada Pak RT.”
Beberapa saat kemudian, mereka pergi.
Aku tetap berbaring sampai suara sepeda motor lenyap di ujung gang. Baru setelah itu aku menangis, menggigit selimut agar suaraku tidak terdengar.
Menjelang Subuh, kutemukan secarik kertas terselip di bawah ponsel.
Nomor Bu Ratna tertulis di sana.
Aku memotretnya, menyimpan nomornya, lalu merendam kertas itu dalam air. Untuk pertama kalinya, aku merasa sedang menjalani hidup seseorang yang tidak kukenal.
Pukul tujuh, Pak RT mengetuk pintu.
Ia datang membawa bubur.
“Kamu kelihatan kurang tidur, Jana.”
Aku menerima kantong itu dengan tangan dingin. Pak Darto sudah menjadi ketua RT sejak aku masih sekolah. Dialah yang membantu mengurus pemakaman Ayah delapan bulan lalu, lalu pemakaman Ibu tiga minggu lalu.
“Masih sering teringat Ibu, Pak.”
Ia mengangguk penuh pengertian.
“Kalau menemukan surat atau catatan yang membuatmu bingung, serahkan kepada Bapak. Jangan dipikir sendiri.”
Aku menatap kerah bajunya agar tidak perlu melihat matanya.
“Surat apa?”
“Apa saja. Ibumu kadang menyimpan urusan yang seharusnya diselesaikan bersama.”
Setelah ia pergi, aku meninggalkan bubur itu di meja.
Aku keluar membawa kantong belanja dan dompet, seolah hendak ke pasar. Di persimpangan, aku naik angkot menuju puskesmas.
Bu Ratna ternyata perawat yang pernah mendampingi Bu Bidan merawat Ibu. Ketika kusebut namaku, wajahnya langsung menegang.
Ia membawaku ke ruangan kosong.
“Ardi menyuruhmu?”
Aku mengangguk.
“Bu, sebenarnya Ibu saya kenapa?”
Ratna menarik kursi untukku.
“Yang disampaikan waktu itu belum lengkap. Ibumu mengalami perdarahan setelah kehilangan kehamilan. Tetapi beliau juga sempat mengatakan ada seseorang yang memberinya sesuatu untuk diminum.”
Dadaku terasa dihantam.
“Siapa?”
“Beliau belum mau menyebut nama. Beliau takut kamu ikut terancam.”
Aku menekan ujung jariku ke meja.
“Ayah meninggal delapan bulan lalu. Ibu hamil berapa bulan?”
“Sekitar tiga bulan.”
Ruangan itu mendadak terasa miring.
Ratna membiarkanku menangis sebelum melanjutkan.
“Beliau mengatakan tidak pernah menyetujui hubungan itu.”
Aku menutup mulut.
Selama ini aku sibuk memikirkan kemungkinan Ibu menyembunyikan kekasih. Aku bahkan pernah merasa malu sebelum mengetahui apa pun.
“Kenapa tidak langsung dilaporkan?”
“Bu Bidan sedang membujuk beliau mencari pendamping dan membuat laporan. Setelah ibumu meninggal, beliau menghubungiku. Katanya ada surat yang harus diamankan.”
“Lalu Bu Bidan ditemukan meninggal.”
Ratna mengangguk dengan mata basah.
“Aku sudah memberikan keterangan kepada penyidik setelah kematiannya dinyatakan mencurigakan. Mereka sedang mencari keluarga ibumu yang bisa dihubungi dengan aman.”
Ia menelepon seseorang. Kali ini aku mendengar dengan jelas ia meminta seorang penyidik datang.
Sebelum tengah hari, aku duduk bersama dua petugas berpakaian sipil. Mereka tidak menjanjikan semuanya akan segera selesai. Mereka hanya meminta aku menceritakan kejadian semalam dari awal.
Ketika kusebut nama Pak Darto, salah seorang petugas saling berpandangan dengan rekannya.
Aku diminta tinggal sementara di rumah kerabat di luar kampung. Kakakku sepupu, Mbak Leni, menjemput sore itu.
Namun, sebelum berangkat, aku teringat sesuatu.
“Buku resep Ibu.”
Semua orang menoleh.
“Ibu pernah bilang kalau aku rindu masakannya, buka halaman sayur asem. Aku pikir beliau cuma mengigau.”
Buku itu masih berada di rak dapur.
Aku tidak diizinkan mengambilnya sendiri. Dengan persetujuanku, petugas mengatur pengambilan barang bersama keluarga yang mendampingiku.
Malamnya, buku bersampul plastik biru itu berada di hadapanku.
Pada halaman sayur asem, ada amplop tipis yang direkatkan di balik sampul.
Tulisan Ibu langsung kukenali.
Jana, kalau Ibu tidak sempat bicara, jangan menyalahkan dirimu sendiri.
Aku menangis bahkan sebelum membaca kalimat berikutnya.
Ibu menulis bahwa Pak Darto beberapa kali mendatanginya setelah Ayah meninggal, menawarkan bantuan mengurus uang santunan dan utang rumah sakit. Bantuan itu kemudian dipakai untuk membuatnya merasa berutang.
Ketika Ibu menolak kedatangannya, ia diancam akan dipermalukan di kampung.
Di dalam amplop ada hasil pemeriksaan, tanggal-tanggal kejadian, serta nomor telepon yang dipakai mengirim ancaman.
Surat itu tidak menjawab seluruh pertanyaan, tetapi untuk pertama kalinya, Ibu mendapat kesempatan menceritakan apa yang dialaminya tanpa disela.
Dua hari kemudian, Ardi menghubungi penyidik dan menyerahkan diri untuk diperiksa.
Aku bertemu dengannya di ruang tunggu kantor polisi, didampingi Mbak Leni.
“Kenapa kamu ikut masuk ke rumahku?”
Ia menatap kedua tangannya.
“Pak Darto bilang surat tanahnya tertinggal. Aku bekerja untuknya, Jan. Aku percaya.”
“Tapi kamu tetap datang malam-malam.”
“Iya. Aku salah.”
Suaranya pecah.
“Di perjalanan orang itu bilang kalau kamu sudah membaca suratnya, mereka harus memastikan kamu diam. Baru aku mengerti. Aku takut melawan di rumahmu.”
“Lalu uang yang kamu titipkan kepadaku?”
“Uangku sendiri. Aku ingin kamu pergi sebelum mereka mulai mencurigaimu.”
Aku tidak mengatakan sudah memaafkannya. Peringatannya membantuku selamat, tetapi ketakutan malam itu tidak hilang hanya karena ia menyesal.
Penyelidikan berjalan berminggu-minggu. Pesan ancaman dalam ponsel Ibu, catatan Bu Bidan yang disimpan Ratna, dan keterangan Ardi mulai menghubungkan kejadian-kejadian yang sebelumnya tampak terpisah.
Pak Darto dan lelaki yang masuk ke rumahku akhirnya ditahan. Dugaan keterlibatan mereka dalam kematian Ibu dan Bu Bidan diselidiki. Ketika kasusnya dibawa ke pengadilan, aku hadir bersama pendamping.
Aku masih gemetar saat diminta berbicara. Namun, kali ini aku tidak menunduk.
Beberapa bulan kemudian, aku kembali ke rumah untuk membereskan kamar Ibu.
Di dasar lemari kutemukan bukti transfer biaya kuliahku. Tanggalnya sama dengan hari Ibu dibawa ke puskesmas.
Bahkan ketika sedang kesakitan, beliau masih memastikan aku bisa mengikuti ujian.
Aku duduk di lantai, memeluk buku resepnya.
Selama ini aku mengira surat itu akan memberitahuku siapa yang harus kubenci. Ternyata kalimat pertama Ibu justru menyelamatkanku dari membenci diriku sendiri.
Sore itu aku memasak sayur asem untuk Mbak Leni. Rasanya terlalu asam, dan jagungnya belum cukup empuk.
Kami tetap menghabiskannya.
Sesudah mencuci piring, aku membuka buku itu lagi dan menambahkan catatan kecil di bawah resep Ibu.
Rebus jagung lebih dulu.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak pemakaman, aku bisa mengingat wajah Ibu tanpa hanya melihat hari terakhirnya.
