Nyawaku nyaris melayang karena tinggal di sebuah rumah mewah yang ternyata

“Kalau terdengar suara perempuan memanggil dari lantai atas, jangan langsung kamu ikuti.”

Nenek itu menoleh. Di bawah telinga kirinya ada bekas luka tipis memanjang.

“Apalagi kalau suaranya mirip orang yang kamu sayangi.”

Aku merapatkan tas ke dada.

“Nenek tahu rumah yang saya tempati?”

“Rumah putih di ujung kebun. Ada kolam di belakang dan cermin retak di kamar atas.”

Tenggorokanku mengering.

“Siapa Nenek?”

“Lasmi. Dulu saya bekerja di sana.”

Sebelum aku sempat bertanya lagi, sebuah mobil pikap berhenti di seberang jalan. Nenek Lasmi langsung menunduk.

“Jangan bilang siapa-siapa kamu bertemu saya. Kalau mau tahu, cari kotak jahit di bawah tangga. Ada foto kami di dalamnya.”

Ia bangkit dan masuk ke kerumunan pasar.

Aku hampir mengejar, tetapi klakson motor Mas Halid terdengar. Ketika menoleh kembali, kebaya nenek itu sudah tidak terlihat.

Sepanjang perjalanan pulang, aku menceritakan semuanya. Mas Halid beberapa kali melirik melalui kaca spion.

“Kita periksa kotaknya, lalu pergi ke rumah Bu RT,” katanya. “Mas juga mulai merasa ada yang tidak beres.”

“Kenapa?”

“PLN bilang rumah itu masih punya sambungan aktif. Meterannya saja sengaja dimatikan dari panel belakang.”

Kami tiba menjelang sore. Para pekerja sudah pulang, kecuali Pak Narto yang sedang mencuci tangan dekat sumur.

“Urusan listriknya selesai, Pak?” tanyanya.

“Masih diperiksa,” jawab Mas Halid.

Aku memperhatikan tangan Pak Narto. Ada bekas luka bakar baru di dekat ibu jarinya.

Di bawah tangga, kami menemukan lemari kecil penuh kain berdebu. Kotak jahit itu terselip di belakang tumpukan taplak.

Di dalamnya ada foto tiga perempuan berkebaya. Salah satunya Nenek Lasmi, masih muda. Di belakang foto tertulis tiga nama.

Lasmi, Ratih, dan Sulasih.

Wajah Ratih membuat perutku melilit.

Dialah perempuan yang kulihat melalui cermin.

Aku menunjukkan foto itu kepada Mas Halid. Wajahnya berubah pucat.

“Dua perempuan ini,” bisiknya, menunjuk Ratih dan Sulasih, “yang Mas lihat terbaring di ruang tengah. Satu lagi laki-laki.”

Terdengar bunyi pintu depan ditutup.

Kami serentak menoleh.

Pak Narto berdiri di ujung lorong.

“Mencari apa, Bu?”

Mas Halid segera menutup kotak.

“Mencari sekring. Kami mau keluar lagi.”

Tatapan Pak Narto turun ke foto di tanganku.

“Barang lama sebaiknya jangan diutak-atik.”

Ia mengucapkannya sambil tersenyum. Justru senyum itu membuatku ingin segera keluar rumah.

Di rumah Bu RT, aku meletakkan foto di meja.

Beliau terdiam lama.

“Dapat dari mana?”

“Rumah itu. Bu, sebenarnya pernah terjadi apa?”

Bu RT memanggil suaminya. Setelah pintu ditutup, Pak RT menjelaskan bahwa Ratih pernah menjadi sinden dalam kelompok kesenian pekerja kebun. Suaminya, Joko, mengurus gudang pupuk. Sulasih adalah adiknya.

“Ketiganya hilang sebelas tahun lalu,” katanya. “Pemilik kebun waktu itu bilang mereka membawa kabur uang perusahaan.”

“Lasmi?”

“Kakaknya Ratih. Dia pergi setelah terus menuntut pencarian. Orang menganggapnya mengarang cerita karena tidak ada bukti.”

Aku teringat luka di bawah telinganya.

Mas Halid mengeluarkan ponsel dan membuka foto peta perkebunan.

“Pekerjaan saya sebenarnya bukan cuma membersihkan kebun. Saya diminta mencocokkan batas tanah sebelum penjualan.”

Pak RT mendekat.

Ada satu bidang di belakang rumah yang ditandai untuk diperiksa. Bekas bangunan gudang lama, kini tertutup semak.

Kami memutuskan tidak pulang malam itu. Namun, sebelum sempat mengambil pakaian, ponsel Mas Halid berdering.

Pak Narto.

“Pak, istrinya jatuh di tangga. Cepat pulang.”

Mas Halid menatapku yang duduk tepat di sebelahnya.

Ia menyalakan pengeras suara.

Dari telepon terdengar suara perempuan menangis.

“Mas, tolong…”

Suaranya mirip suaraku.

Pak RT langsung mengambil ponselnya sendiri dan menelepon polisi.

Malam itu, kami kembali bersama petugas. Lampu rumah menyala, padahal Pak Narto seharusnya sudah pergi.

Ketika polisi memanggil dari halaman, seseorang berlari keluar melalui pintu belakang. Petugas mengejarnya di antara pohon sawit.

Aku menunggu di teras bersama Bu RT. Dari dalam rumah, tembang perempuan mendadak mengalun.

Jernih. Dekat.

Seorang petugas menemukan pengeras suara kecil di balik kisi ventilasi lantai atas. Kabelnya terhubung ke perangkat pemutar di kamar belakang.

Di ruangan yang sama ada wig bersanggul, kebaya, beberapa mantel, serta dua cambuk dengan gagang serupa.

Aku menutup mulut.

Jadi benda yang dibakar Mas Halid tidak pernah kembali. Seseorang menggantinya.

Pak Narto tertangkap sebelum mencapai jalan kebun. Di ponselnya ditemukan potongan rekaman suaraku dari pesan suara yang pernah kukirim untuk mengatur makanan pekerja.

Ia sudah mendengar kami membicarakan listrik dan melihat foto yang kutemukan. Telepon itu dimaksudkan untuk memancing Mas Halid pulang sendirian.

Namun, masih ada satu hal yang tidak terjawab.

“Apa Narto mengaku menaruh orang-orang yang kami lihat di ruang tengah?” tanyaku.

Petugas menggeleng.

Ia mengaku membuat suara, menyamar, dan menakut-nakuti kami agar berhenti bekerja. Tentang tiga sosok terbaring, ia bersikeras tidak tahu.

Keesokan harinya, Nenek Lasmi datang ke kantor polisi. Setelah tahu Pak Narto ditahan, akhirnya ia berani memberi keterangan.

Dulu, ia mendengar pertengkaran di gudang. Joko memergoki penjualan pupuk secara gelap. Ratih dan Sulasih datang mencarinya, lalu tidak pernah pulang.

Pak Narto memukul Lasmi ketika ia mendekat. Ia selamat karena berlari ke rumah pekerja lain.

Pemeriksaan tanah di belakang rumah kemudian menemukan sisa tiga jasad.

Proses identifikasi dan penyelidikan berlangsung berbulan-bulan. Pak Narto akhirnya mengakui keterlibatannya bersama kepala kebun lama yang sudah meninggal. Ia masih bekerja di sana untuk memastikan gudang itu tidak pernah dibongkar.

Pengajian yang kami rencanakan akhirnya diadakan setelah pemakaman ketiganya. Kali ini rumah dipenuhi warga.

Nenek Lasmi duduk di sebelahku, memeluk foto adik-adiknya.

“Terima kasih sudah mendengarkan,” katanya.

Aku menggenggam tangannya.

“Terima kasih sudah memperingatkan saya di pasar.”

Ia menoleh perlahan.

“Di pasar mana, Nduk?”

Aku menyebut Pasar Pal Tiga dan hari pertemuan kami.

Nenek Lasmi menggeleng. Hari itu ia masih dirawat di rumah sakit kabupaten. Bu RT yang mengantarnya.

Dengan tangan dingin, kutunjukkan bekas luka di bawah telinganya.

“Tapi saya melihat luka Nenek.”

Lasmi menyentuh telinganya, bingung.

Lalu ia membalik foto di pangkuannya dan menunjuk Ratih.

“Adik saya yang punya bekas luka di situ.”

Dari lantai atas terdengar satu penggal tembang, lembut sekali.

Kali ini aku tidak berlari. Aku hanya merapat kepada Mas Halid, sementara Nenek Lasmi mengusap foto adiknya dan berbisik, “Sudah, Nduk. Kalian sudah pulang.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang