(6) Adikku menghamili seorang asisten rumah tangga dan berjanji akan menikahinya

“Kalau begitu, aku ingin berpisah.”

Jawaban Naima membuatku mengangkat wajah. Aku sudah menyiapkan penjelasan tentang kamar tambahan, biaya hidup, dan jadwal yang bisa kuatur. Tidak satu pun mencakup kemungkinan ia pergi.

“Jangan terburu-buru. Saya tidak menyuruhmu keluar.”

“Aku tahu.”

“Sabiru tetap bisa tinggal di sini.”

Naima memandangku lama.

“Sebagai apa, Mas? Anak yang boleh memanggilmu Papa selama tidak mengganggu?”

Aku melepaskan pergelangan tangannya.

“Jangan memutarbalikkan perkataan saya.”

“Aku cuma ingin tahu apa yang harus kujelaskan kepadanya.”

Dari ruang tengah terdengar suara Sabiru menirukan pengumuman pesawat. Ia menyuruh bonekanya mengencangkan sabuk pengaman.

Naima menoleh ke arah suara itu, lalu kembali menatapku.

“Aku tidak akan melarangmu menikah. Tapi aku tidak mau mengajari Biru bahwa disakiti terus-menerus adalah sesuatu yang harus diterima supaya tetap punya rumah.”

Ia bangkit membawa piring.

Aku membiarkannya pergi, meyakinkan diri bahwa besok kemarahannya akan reda.

Pagi berikutnya, Sabiru menungguku di depan kamar dengan sebuah buku gambar.

“Papa, sekarang Biru gambar di sini.”

Ia membukanya. Ada pesawat besar dengan tiga orang di balik jendela.

“Ini Papa, ini Mama, ini Biru.”

Aku mengangguk sambil memeriksa pesan Sabrina.

“Bagus.”

“Papa lihat dulu.”

“Papa sedang sibuk.”

Sabiru menutup bukunya perlahan.

Ketika aku mendongak beberapa detik kemudian, ia sudah pergi.

Siang itu Mama datang. Naima sedang mengantar Sabiru ke rumah temannya, sehingga kami bisa bicara tanpa didengar mereka.

“Kamu mau menikah lagi?” tanyanya.

Aku menghela napas.

“Naima mengadu?”

“Dia meminta izin tinggal sementara di rumah Mama.”

“Silakan. Mungkin dia memang perlu menenangkan diri.”

Mama meletakkan tasnya dengan keras.

“Yang perlu menenangkan diri itu kamu. Lima tahun kamu hidup bersama mereka, tapi masih merasa hanya kamu yang berkorban.”

“Aku menikahi perempuan yang dihamili adikku, Ma.”

Wajah Mama berubah. Ia membuka tas, mengeluarkan amplop lusuh, lalu meletakkannya di meja.

“Baca.”

Tulisan di amplop itu milik Arkan.

Adikku selalu menulis huruf A dengan garis miring terlalu panjang. Aku mengenalinya bahkan sebelum membaca namaku di sana.

Mas Althaf, aku tidak pernah menyentuh Naima.

Aku menegakkan tubuh.

“Apa ini?”

“Surat yang ditemukan Naima di buku milik Arkan. Dia memberikannya kepada Mama kemarin.”

Aku membaca lebih jauh.

Arkan mengakui bahwa ia berbohong untuk melindungi Naima setelah aku menolak bertanggung jawab. Ia berharap pengakuannya akan membuatku berhenti menuduh perempuan itu dan akhirnya mau mendengarkan.

Sebuah ingatan yang bertahun-tahun kutekan mendadak muncul.

Naima pernah datang menemuiku sebelum aku berangkat pelatihan. Kami memang berhubungan diam-diam. Ketika ia kemudian mengatakan dirinya hamil, aku ketakutan.

Aku mengatakan bahwa kedekatan kami tidak membuktikan apa pun.

Aku menyuruhnya mencari laki-laki lain yang mungkin bersamanya.

Beberapa hari kemudian, Arkan mengaku sebagai ayah bayi itu.

Betapa cepatnya aku mempercayainya. Pengakuan itu membebaskanku dari tanggung jawab yang tidak ingin kupikul.

“Tidak mungkin,” bisikku.

Mama menatapku dengan mata basah.

“Bagian mana yang tidak mungkin? Kamu pernah bersama Naima?”

Aku tidak menjawab.

“Kamu tahu ada kemungkinan anak itu anakmu?”

Aku menutup surat.

Ruangan terasa sempit.

Sore itu, aku menunggu Naima pulang. Ia masuk sambil membawa tas sekolah Sabiru yang jahitannya terlepas.

“Kenapa kamu tidak memberikan surat ini dari dulu?”

Naima memandangi amplop di tanganku.

“Aku baru menemukannya minggu lalu ketika merapikan buku lama.”

“Kenapa tidak langsung bicara?”

“Aku sedang mencari cara.”

“Kamu seharusnya mengatakan bahwa Sabiru mungkin anakku.”

Matanya terangkat.

“Aku pernah mengatakannya, Mas. Sebelum Arkan mengaku. Kamu bilang aku perempuan yang tidak tahu malu.”

Aku terdiam.

“Aku tidak punya hasil pemeriksaan yang bisa memaksamu percaya. Lalu Arkan meninggal, kita menikah, dan setiap kali aku mencoba membicarakan masa lalu, kamu selalu pergi.”

“Kenapa kamu bertahan?”

Naima menarik napas panjang.

“Awalnya karena aku berharap. Setelah itu karena aku takut tidak sanggup membesarkan Biru sendirian. Sekarang aku lebih takut kalau dia tumbuh menganggap dirinya tidak layak disayangi.”

Aku meminta pemeriksaan untuk memastikan hubungan kami. Naima setuju.

Namun, ia tetap pergi bersama Sabiru ke rumah Mama.

Menunggu hasilnya jauh lebih melelahkan daripada perjalanan terpanjang yang pernah kutempuh. Di rumah, aku mulai melihat hal-hal yang selama ini tidak kuperhatikan.

Tanda pensil di kusen untuk mengukur tinggi Sabiru.

Jadwal sekolah di kulkas.

Sepasang sandal kecil yang sudah kekecilan, tetapi solnya masih direkatkan rapi.

Aku bisa membeli jam tangan mahal tanpa berpikir dua kali. Naima rupanya harus menimbang kapan boleh membeli sandal baru untuk anaknya.

Ketika hasil pemeriksaan keluar, aku membacanya sendirian di dalam mobil.

Sabiru adalah anak kandungku.

Tidak ada kegembiraan yang langsung datang. Aku justru teringat bagaimana aku menyebutnya dengan kata yang seharusnya tidak pernah ditujukan kepada seorang anak.

Aku menelepon Sabrina dan mengakhiri hubungan kami.

Ia diam cukup lama sebelum berkata, “Kamu perlu membereskan hidupmu, Althaf. Tapi jangan mengira mereka wajib menerimamu hanya karena sekarang kamu tahu.”

Malamnya aku datang ke rumah Mama.

Sabiru sedang menggambar di meja kecil. Ia melihatku, lalu melirik Naima, seolah menunggu izin untuk merasa senang.

Aku berjongkok.

“Papa minta maaf.”

“Karena kartu yang Biru gambar?”

“Bukan. Biru sudah minta maaf soal itu. Papa yang banyak berbuat salah.”

Sabiru meremas krayonnya.

“Papa marah lagi kalau Biru telepon?”

Aku menggeleng. Suaraku tidak keluar.

Ia menatapku sebentar, lalu meneruskan gambarnya.

Naima tetap meminta perpisahan diproses. Aku memohon kesempatan, tetapi akhirnya berhenti ketika melihat wajahnya.

Aku mulai memenuhi kebutuhan Sabiru, datang sesuai kesepakatan, dan belajar menjawab pertanyaannya tanpa memegang ponsel.

Beberapa bulan kemudian, ia memberiku sebuah kartu buatan sendiri. Ada gambar pesawat, awan, dan tiga wajah kecil.

“Ini boleh dicoret,” katanya. “Yang buat kerja jangan.”

Di bawah gambar itu tertulis namaku, diikuti satu kata yang hurufnya belum rata.

Papa.

Kusimpan kartu itu di dompet, tepat di belakang kartu identitas pekerjaanku.

Setiap kali membukanya, aku teringat bahwa ada seorang anak yang masih memberiku kesempatan mengenalkan diri dengan benar.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang