Aku datang ke rumah Ayah untuk membawa kabar bahagia: anak yang dahulu

Aku mengenali suara itu sebelum sempat menoleh.

“Arga.”

Ia berdiri dengan seragam dinas, wajah lelah dan tas kecil tersampir di bahu. Begitu melihat air mataku, ia berjongkok di depan kursi.

“Aku baru baca pesanmu. Bagaimana keadaan Ayah?”

“Masih dipantau.”

Arga mengangguk, lalu menyerahkan botol air.

“Minum dulu. Kamu sudah makan?”

Pertanyaan sederhana itu justru membuat pertahananku runtuh. Aku menggeleng.

Dari seberang, terdengar bunyi tas jatuh.

Tiwi berdiri dengan wajah pucat.

“Mas Arga?”

Arga menoleh. Alisnya berkerut.

“Tiwi?”

Tante Gina memandang kami bergantian.

“Kalian saling kenal?”

“Tiwi ikut kegiatan pemeriksaan kesehatan di satuan saya bulan lalu,” jawab Arga.

Aku teringat ucapan Ayah saat kedatanganku ke rumah. Kekasih Tiwi seorang kapten. Laki-laki mapan yang, menurutnya, tidak mungkin tertarik kepada perempuan sepertiku.

Pandangan Tante Gina turun ke cincin di jariku, lalu berpindah ke cincin Arga.

“Kamu… suaminya Maya?”

“Iya, Bu.”

Keheningan yang menyusul terasa menyesakkan.

Tiwi meremas ujung seragamnya.

“Aku tidak pernah bilang dia pacarku,” katanya lirih.

“Tapi kamu menunjukkan fotonya!” suara Gina meninggi.

“Foto kegiatan. Ibu yang cerita ke Ayah. Aku sudah bilang kami cuma kenal.”

“Tiwi,” potongku.

Ia menatapku dengan mata basah.

“Jangan di sini.”

Di balik pintu kaca itu, Ayah sedang berjuang pulih. Aku tidak ingin hidupku kembali berubah menjadi perlombaan tentang siapa yang lebih berhasil mendapatkan sesuatu.

Arga duduk di sampingku. Tangannya menggenggam tanganku tanpa bertanya lebih jauh.

Menjelang subuh, dokter Toni keluar membawa kabar bahwa keadaan Ayah mulai lebih stabil, meskipun masih membutuhkan pengawasan ketat. Aku mengucapkan terima kasih, lalu menyerahkan seluruh keputusan medis kepada tim yang merawatnya.

Baru setelah itu aku bersedia makan.

Di kantin yang hampir kosong, Tiwi mendatangiku.

“Boleh duduk?”

Aku mengangguk.

Ia meletakkan ponselnya di meja. Layar menampilkan percakapan dengan ibunya.

Di sana ada pesan yang dikirim tiga minggu sebelumnya.

Bu, jangan bilang Kapten Arga pacar Tiwi. Dia sudah menikah.

Aku mendorong ponselnya kembali.

“Kamu tidak perlu membuktikan semuanya malam ini.”

“Tapi Kakak pasti mengira aku sengaja.”

“Aku belum tahu harus mengira apa.”

Tiwi menunduk.

“Aku pernah melihat undangan pernikahan Kakak.”

Sendok di tanganku berhenti.

“Undangan yang mana?”

“Yang dikirim lewat kurir. Sekitar delapan bulan lalu.”

Aku ingat amplop krem dengan nama Ayah di bagian depan. Undangan itu kukirim setelah pesan-pesanku tidak dibalas. Pada hari pernikahan, satu kursi keluarga sengaja tetap dikosongkan.

“Aku bertanya kepada Ibu,” lanjut Tiwi. “Katanya Ayah sudah tahu dan tidak mau datang.”

Aku meletakkan sendok perlahan.

“Undangannya tidak pernah sampai ke Ayah?”

“Aku tidak tahu.”

Aku ingin marah, tetapi tubuhku terlalu lelah. Yang terasa justru kehampaan, seperti kembali berdiri di depan pintu rumah dengan amplop di tangan.

Siang berikutnya, Ayah mulai sadar. Kunjungan dibatasi, dan aku masuk setelah mendapat izin petugas.

Ia menoleh perlahan ketika mendengar langkahku.

“Maya?”

“Iya, Yah.”

Matanya menyusuri wajahku, lalu berhenti pada kartu identitas yang masih tergantung di leher.

“Kamu kerja di sini?”

“Aku dokter di IGD.”

Bibirnya bergetar. Aku menarik kursi dan duduk cukup dekat agar ia tidak perlu meninggikan suara.

“Ayah tidak tahu.”

“Aku datang untuk memberi tahu.”

Ia memejamkan mata.

Lama sekali kami hanya mendengar bunyi alat pemantau.

“Kamu menikah?” tanyanya kemudian.

Aku mengangguk.

“Delapan bulan lalu. Aku mengirim undangan.”

Air mata mengalir ke pelipisnya.

“Ayah tidak pernah menerima.”

Dadaku sakit mendengarnya, tetapi aku tidak ingin menumpahkan seluruh persoalan saat ia masih lemah.

“Nanti kita bicara lagi. Sekarang Ayah istirahat.”

Tangannya bergerak sedikit di atas selimut. Aku menyambutnya.

Genggaman itu lemah, sangat berbeda dari tangan yang dahulu melemparkan tasku ke teras karena aku menolak berhenti sekolah.

Beberapa hari kemudian, setelah Ayah dipindahkan ke ruang rawat, kami akhirnya duduk bersama. Arga menunggu di luar. Tiwi duduk dekat jendela, sementara Tante Gina terus membetulkan letak tasnya.

Aku bertanya langsung tentang undangan itu.

Gina tidak menjawab sampai Ayah mengulangi pertanyaanku.

“Aku menyimpannya,” katanya akhirnya.

“Kenapa?” suara Ayah serak.

“Aku takut kamu meminta Maya pulang. Takut kamu mulai membandingkan Tiwi dengannya.”

Tiwi mengangkat wajah.

“Bu, aku tidak pernah minta begitu.”

“Aku cuma ingin melindungimu.”

“Dengan membuat Kak Maya kehilangan keluarganya?”

Gina menangis. Aku menunggu sampai ia bisa mendengar perkataanku.

“Tante menyembunyikan undangan itu. Tapi Ayah juga mengusirku sebelum bertanya kenapa aku datang. Kalian berdua membuat keputusan tanpa mendengarkanku.”

Ayah menatap selimutnya.

“Kamu benar.”

Aku tidak menyangka ia akan mengatakannya semudah itu. Justru karena itu, air mataku jatuh.

“Aku tidak perlu jadi dokter dulu supaya pantas diterima di rumah, Yah.”

Ayah mengusap wajah dengan tangannya yang masih lemah.

“Seandainya kamu bekerja di toko sekalipun, seharusnya Ayah tetap bangga kamu bisa hidup mandiri.”

Untuk pertama kalinya, permintaan maafnya tidak disertai alasan tentang masa lalu, biaya, atau anak yang sulit diatur.

“Ayah salah, Maya.”

Aku belum bisa mengatakan semuanya selesai. Kukatakan aku membutuhkan waktu. Ayah mengangguk, meskipun wajahnya tampak sedih.

Setelah ia pulang, aku tidak langsung kembali seperti anak yang tak pernah terluka. Aku menelepon sesekali, datang ketika sanggup, dan belajar menghentikan percakapan saat perbandingan mulai muncul.

Tiwi pun mulai mengoreksi ibunya ketika cerita tentang dirinya dibesar-besarkan.

Dua bulan kemudian, Ayah mengajakku sarapan di warung dekat rumah sakit. Ia datang bersama Arga, membawa map cokelat.

Di dalamnya ada undangan pernikahanku yang sudah kusut.

“Ayah minta dari Gina,” katanya.

“Ayah mau menyimpannya?”

Ia mengangguk, lalu mengeluarkan selembar foto.

Foto pernikahanku. Di sebelahku ada Arga, dan di ujung barisan tampak kursi kosong.

“Ayah boleh minta foto baru?”

Aku menatapnya.

“Yang ada Ayah di dalamnya.”

Pagi itu, kami meminta penjaga warung memotret dengan ponsel Arga. Ayah berdiri di sampingku, canggung, sebelum akhirnya bertanya pelan apakah ia boleh merangkul bahuku.

Aku mendekat.

Kali ini, ia menunggu jawabanku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang