AZAN TENGAH MALAM 2

“Ini sandal Pak Rahman.”

Tali sandal sebelah kiri disambung kawat kecil. Aku mengenalinya karena tiga hari lalu beliau duduk di teras kami, memperbaikinya sambil menunggu hujan reda.

“Kemayu?”

Suara Mas Aji membuat ranting di tanganku terjatuh.

Ia berdiri di belakang rumah. Pandangannya turun ke sandal yang kupegang, lalu kembali ke wajahku.

“Dari mana kamu dapat itu?”

“Dari tempat sampah kita. Kenapa sandal Pak Rahman ada di sini?”

Mas Aji melangkah mendekat. Aku mundur tanpa sadar.

“Jangan takut sama Mas.”

“Kalau begitu, jawab.”

Ia menatap pagar bambu, seolah memastikan tidak ada orang yang mengintip.

“Mas menemukannya di jalan dekat sungai.”

“Lalu dibakar?”

Lama ia tidak menjawab.

“Pak Kades yang menyuruh.”

Darahku berdesir.

“Katanya milik orang sakit. Mas diminta memusnahkannya supaya warga tidak tertular.”

“Penyakit apa yang bisa menular lewat sandal, tapi bajunya malah dibiarkan di samping rumah?”

Mas Aji mengusap wajahnya.

“Mas tahu alasan itu aneh.”

“Tapi tetap dilakukan?”

“Karena Mas takut!”

Aku terdiam. Untuk pertama kalinya, kulihat suamiku gemetar.

Ia mengajakku masuk, mengunci pintu, lalu menarik kursi menjauh dari jendela.

“Semalam Mas tidak ke sungai untuk buang air.”

Aku menunggu sambil menggenggam sandal hangus itu.

“Pak Kades mengirim pesan lewat orangnya. Ada sapi yang harus dipindahkan ke dermaga lama. Mas diminta membantu.”

“Kenapa tengah malam?”

“Katanya pembeli datang lebih awal.”

Menurut Mas Aji, ia baru mencapai kebun pisang ketika mendengar pertengkaran. Pak Rahman menuduh kepala desa menjual ternak bantuan yang seharusnya dibagikan kepada warga.

Lalu terdengar suara azan.

“Dari musala?” tanyaku.

Mas Aji menggeleng.

“Dari arah gudang dermaga. Sesudah itu, seseorang memukul Pak Rahman. Mas melihat beliau dibawa ke dalam.”

Aku menutup mulut.

“Kenapa kamu tidak menolong?”

“Orang mereka melihat Mas. Ponsel Mas diambil. Mereka bilang kalau Mas bicara, kamu ikut celaka.”

Air matanya jatuh.

“Tadi pagi Pak Kades datang membawa sandal itu. Menyuruh Mas membakarnya. Katanya, sekarang Mas juga terlibat.”

Kemarahan membuat dadaku sesak. Namun, di baliknya ada sesuatu yang lebih mendesak.

“Pak Rahman masih hidup waktu dibawa?”

Mas Aji mengangguk.

Aku langsung berdiri.

“Kita harus mencari bantuan.”

“Jangan keluar. Mereka mengawasi.”

Aku menatap sumur di halaman belakang, lalu jalan setapak menuju rumah Bu Sulastri, bidan kampung. Rumahnya hanya terpisah dua kebun.

Setiap sore aku biasa mengantarkan air untuknya. Hari itu, aku pergi membawa dua jeriken kosong. Sandal Pak Rahman kusembunyikan dalam karung di bawah tumpukan kayu, setelah memotretnya dengan ponselku.

Bu Sulastri mendengarkan tanpa menyela. Begitu aku selesai, ia menutup tirai.

“Rahman datang kemari kemarin,” katanya. “Dia menitipkan amplop. Katanya kalau terjadi sesuatu, serahkan kepada polisi.”

Di dalamnya ada daftar ternak, salinan tanda terima, dan foto beberapa sapi dengan nomor telinga yang sama seperti ternak bantuan tahun lalu.

Ternyata Pak Rahman tidak sekadar curiga.

“Radio masih bisa dipakai, Bu?”

Bu Sulastri mengangguk. Radio komunikasi itu digunakan untuk menghubungi puskesmas di kecamatan ketika sinyal telepon hilang.

Ia memanggil petugas jaga. Pesannya singkat: ada dugaan penyekapan, korban mungkin terluka, bantuan polisi diperlukan melalui sungai.

Kami diminta tetap di tempat aman.

Namun, saat aku kembali, rumahku kosong.

Di meja ada secarik kertas.

Mas dipanggil lagi. Jangan menyusul.

Aku berlari ke rumah Bu Sulastri.

Malam turun sebelum bantuan tiba. Mesin genset di rumah-rumah mulai padam satu per satu. Aku duduk di samping radio, menghitung bunyi detak jam.

Menjelang tengah malam, terdengar ketukan di pintu belakang.

Dua polisi berdiri bersama petugas puskesmas. Mereka datang dengan perahu kecil dan mematikan mesin sebelum dermaga kampung.

Aku menunjukkan foto sandal, pesan suamiku, serta amplop Pak Rahman.

“Jalan ke gudang bisa lewat kebun?” tanya salah seorang polisi.

Aku mengangguk.

Aku diminta menunjukkan jalur sampai persimpangan, lalu menunggu bersama Bu Sulastri. Namun, sebelum kami mencapai kebun pisang, suara azan membelah malam.

Tenggorokanku mengering.

Suara itu persis seperti malam sebelumnya. Bahkan batuk kecil di antara dua kalimatnya terdengar sama.

Seorang polisi memberi isyarat agar kami berhenti.

Dari balik pepohonan, tampak cahaya di celah dinding gudang. Sebuah pengeras suara kecil terpasang di tiang, kabelnya menjulur ke dalam.

Lalu terdengar teriakan.

“Tolong! Ada orang di sini!”

Suara Mas Aji.

Kedua polisi bergerak cepat. Aku tertahan di belakang bersama petugas puskesmas, mendengar bentakan, langkah berlarian, lalu benda jatuh.

Beberapa menit kemudian, Mas Aji keluar dengan tangan terikat. Ada luka di pelipisnya, tetapi ia masih bisa berjalan.

Pak Rahman ditemukan di ruang penyimpanan belakang. Beliau lemah dan kekurangan minum, dengan pergelangan kaki membengkak.

Aku menangis ketika dadanya terlihat naik turun.

Kepala desa ditangkap malam itu bersama dua orang suruhannya. Satu orang lagi melarikan diri, tetapi perahunya ditemukan tak jauh dari hilir.

Rekaman azan itu rupanya sengaja diputar untuk memperkuat cerita tentang penunggu sungai. Sebulan terakhir, warga sudah beberapa kali diperingatkan agar tidak keluar ketika mendengarnya. Dengan jalanan kosong, ternak dapat dipindahkan tanpa saksi.

Pakaian Pak Rahman diletakkan di samping rumahnya agar warga mengira beliau hilang secara gaib.

Dua minggu kemudian, aku menemui Pak Rahman di rumahnya. Beliau duduk dengan kaki disangga bangku kecil.

“Kenapa Bapak keluar malam itu?” tanyaku.

“Ada orang mengetuk. Katanya sapiku lepas.”

Aku menggigil membayangkan betapa mudahnya beliau dijebak.

Di perjalanan pulang, Mas Aji berjalan di sampingku.

“Kamu masih marah?”

“Masih.”

Ia menunduk.

“Tapi aku senang kamu akhirnya berteriak minta tolong.”

Mas Aji mengangguk pelan. Kami masih harus belajar saling percaya lagi.

Beberapa hari kemudian, polisi mengembalikan ponselnya. Malam itu kami memeriksa pesan-pesan yang masuk selama ponselnya disita.

Ada satu pesan dari Pak Rahman, dikirim beberapa menit sebelum beliau dijemput orang suruhan kepala desa.

Ji, kalau dengar azan malam ini, jangan keluar. Saya baru lihat mereka membawa pengeras suara ke dermaga.

Mas Aji menutup wajahnya.

Pesan itu belum pernah terbaca.

Di luar, suara serangga memenuhi kegelapan. Aku menggenggam tangan suamiku, lalu membuka pintu teras.

Untuk pertama kalinya setelah bermalam-malam, kami membiarkannya terbuka.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang