“Mbak Umi tadi ke sini, Lek.”
Lek Ani berhenti di depan pintu.
“Umi yang mana?”
“Tetangga sebelah. Katanya lampu kamar mandi mati. Dia menunggu di teras.”

Wajah Lek Ani berubah. Tangannya langsung meraih pergelangan tanganku.
“Putri, Mbak Umi sejak kemarin di Pacitan. Ibunya sakit.”
Aku menatap kursi teras yang kosong.
Di lantai, dekat kaki kursi, terlihat bekas telapak kaki basah.
Jejak itu mengarah masuk.
Malam tersebut kami tidak tidur di depan TV. Lek Gik mengantar kami ke rumah saudaranya di ujung kampung. Sepanjang perjalanan, Lek Ani terus menggenggam tanganku.
Baru setelah pintu ditutup, aku menceritakan bayangan di balok dapur.
Lek Gik menunduk lama.
“Besok kita bicara dengan Bu Sam.”
“Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan?” tanyaku.
Lek Ani mengusap wajah.
“Kami juga mendengar nyanyian itu, Nduk. Kami bilang tidak dengar supaya kamu tidak semakin takut.”
“Bukan cuma lagu, Lek. Rasanya seperti dia ingin mengatakan sesuatu.”
Tidak ada yang menjawab.
Pagi harinya, Bu Samsuri menerima kami dengan mata sembap. Di pangkuannya terdapat kain bayi berwarna kuning pucat.
“Ditemukan di lemari Luluk,” katanya. “Dia menjahitnya sendiri.”
Aku duduk di samping Lek Ani. Selama ini, orang-orang lebih sibuk membicarakan kehamilan Mbak Luluk daripada mengingat bahwa ia pernah hidup di antara kami.
“Bu,” ucapku pelan, “apa Mbak Luluk pernah cerita tentang ayah bayinya?”
Bu Sam menggeleng.
“Setiap ditanya, dia cuma bilang akan menjelaskan setelah orang itu menepati janji.”
Lek Gik menyebut nama seseorang.
“Pak Darso?”
Bu Sam mengangkat kepala.
Nama itu kukenal. Darso pemilik beberapa rumah kontrakan di gang kami. Setiap tahlilan, ia datang paling awal dan pulang paling akhir. Ia pula yang mengatakan kepada warga agar tidak memperpanjang urusan kematian Mbak Luluk.
“Kenapa Darso?” tanya Bu Sam.
“Dua minggu lalu saya dengar mereka bertengkar di warung. Luluk meminta sesuatu dikembalikan.”
Bu Sam meremas kain dalam pangkuannya.
“Sertifikat rumah.”
Ruangan mendadak sunyi.
Mbak Luluk ternyata pernah meminjamkan sertifikat kepada Darso untuk mengurus pinjaman usaha. Lelaki itu berjanji mengembalikannya dalam tiga bulan. Sudah hampir setahun, sertifikat belum kembali.
“Luluk mau melapor,” bisik Bu Sam. “Malam sebelum meninggal, dia minta saya menemaninya besok pagi.”
Lek Gik langsung mengajak Bu Sam menyampaikan hal itu kepada polisi.
Sebelum kami berangkat, terdengar bunyi dari dapur.
Ting.
Seperti sendok mengetuk bibir gelas.
Kami semua menoleh.
Di meja dekat jendela terdapat gelas teh yang belum disentuh. Di bawahnya terselip amplop kecil.
“Dari tadi ada di situ?” tanya Bu Sam.
Lek Ani menggeleng.
Di dalam amplop terdapat foto Mbak Luluk bersama seorang lelaki di depan kantor urusan agama. Di belakang foto tertulis nama dan nomor telepon.
Lelaki itu bukan Darso.
Namanya Yusuf.
Bu Sam menangis ketika membaca tulisan putrinya.
Kalau Mas Yusuf datang, bilang aku tetap menunggunya.
Polisi menerima foto tersebut bersama keterangan kami. Dua hari kemudian, Yusuf datang dengan seorang perempuan tua yang diperkenalkan sebagai ibunya.
Ia membawa buku nikah.
Mbak Luluk ternyata telah menikah delapan bulan sebelumnya di kota tempat Yusuf bekerja. Mereka belum mengadakan acara keluarga karena Yusuf masih merawat ayahnya yang sakit, sementara Luluk ingin menyelesaikan persoalan rumah sebelum pindah.
“Kenapa dia tidak bilang kepada saya?” Bu Sam terisak.
Yusuf menunduk.
“Dia takut Ibu kecewa karena kami menikah tanpa acara. Saya seharusnya datang lebih cepat.”
Selama tiga minggu terakhir, Yusuf kesulitan menghubungi istrinya. Pesan-pesannya hanya dijawab singkat. Ia mengira Luluk marah karena kepulangannya terus tertunda.
Ponsel Luluk tidak ditemukan di rumah.
Malam itu, nyanyian kembali terdengar.
Aku sedang duduk bersama Lek Ani ketika suara lirih tersebut mengalun dari halaman. Kali ini aku tidak menarik selimut.
Di sela-selanya terdengar bunyi gemerisik.
Seperti kantong plastik digesekkan ke batang pohon.
“Lek, dengar?”
Lek Ani mengangguk.
Kami membangunkan Lek Gik. Bertiga, dari balik jendela, kami melihat sesuatu berkilat di bawah pohon jambu.
Pagi harinya, Lek Gik memanggil polisi sebelum menyentuhnya.
Sebuah kantong hitam tersangkut di celah akar yang menonjol. Di dalamnya ada ponsel retak dan kunci rumah.
Bu Sam mengenali gantungan kuncinya.
Ponsel tersebut rusak terkena air, tetapi kartu memorinya masih dapat diperiksa.
Beberapa hari kemudian, penyidik memanggil Bu Sam dan Yusuf. Sepulang dari kantor polisi, Bu Sam memeluk Lek Ani di depan rumah.
“Mereka menangkap Darso.”
Aku berdiri membeku.
Dalam rekaman yang tersimpan di kartu memori, Mbak Luluk menuntut sertifikatnya dikembalikan. Darso justru mengancam akan menyebarkan kabar bahwa ia hamil tanpa suami.
Luluk menjawab bahwa ia memiliki buku nikah dan akan membawa semua bukti ke polisi.
Rekaman berakhir di tengah pertengkaran.
Pemeriksaan lanjutan, keterangan saksi, dan temuan lain akhirnya membongkar kebohongan Darso. Ia mendatangi rumah Luluk malam itu untuk merebut dokumen. Pertengkaran berubah menjadi kekerasan. Setelah Luluk tak bergerak, ia merekayasa keadaan agar kematiannya tampak sebagai bunuh diri.
Ponsel dan kunci dibuang saat ia meninggalkan rumah melalui halaman belakang.
Aku teringat betapa sering lelaki itu berdiri dekat pohon jambu seusai tahlilan.
Barangkali ia sedang mencari sesuatu yang belum berhasil dimusnahkannya.
Setelah penangkapan itu, Yusuf datang mengambil pakaian istrinya. Ia tidak membawa pulang kain bayi kuning tersebut.
“Biar Ibu yang simpan,” katanya kepada Bu Sam.
Malam terakhir sebelum Yusuf kembali ke kota, kami berkumpul untuk berdoa.
Sesudah tamu pulang, aku membantu menumpuk piring di dapur Mbak Luluk. Tanpa sengaja pandanganku terangkat ke balok atap.
Kosong.
Tidak ada bayangan hitam.
Dari ruang dalam terdengar Yusuf terisak, lalu suara Bu Sam menenangkannya.
Saat itulah nyanyian lirih mengalun sekali lagi.
Tidak panjang. Tidak pula terasa menekan dada.
Aku menoleh ke jendela.
Di kaca yang memantulkan cahaya dapur, sesaat terlihat Mbak Luluk berdiri dengan wajah tenang. Kedua lengannya mendekap sesuatu yang terbungkus kain kuning.
Lalu pantulan itu menghilang.
Sejak malam tersebut, gang kami kembali sunyi.
Namun, setiap mendengar orang menyebut Mbak Luluk sebagai perempuan yang membawa malu, Lek Ani selalu menyela.
“Dia punya nama. Dia punya keluarga. Dan sebelum kalian membicarakannya, dia sudah berusaha meminta pertolongan.”
Aku tidak pernah lagi menganggap nyanyian itu sebagai teror.
Yang paling menakutkan justru pernah duduk bersama kami, menerima segelas teh, dan mengingatkan semua orang agar berhenti bertanya.
