SUAMIKU MENUDUHKU MENCURI UANG USAHA SAAT AKU HAMIL TUJUH BULAN, LALU

Aku membaca nama itu sekali lagi. Huruf-hurufnya tetap sama, tetapi Galih mendadak tampak seperti orang yang belum pernah kukenal.

“Istri?” tanyaku.

Pak Deni menarik kembali berkasnya dengan hati-hati.

“Itu keterangan yang dicantumkan pemohon, Bu. Kami belum memverifikasinya.”

Aku menatap Galih.

“Jadi siapa Ratih?”

“Jangan bahas di depan orang.”

“Waktu menuduhku mencuri, kamu tidak keberatan ada pelanggan.”

Bu Marni mencengkeram lengan anaknya.

“Sudah, Galih. Pulang.”

Mereka pergi tanpa menjawab. Aku tidak mengejar. Perutku terasa mengencang, dan aku harus duduk sebelum kakiku menyerah.

Pak Deni menunggu sampai napasku tenang.

“Permohonan pengalihan belum disetujui. Kami akan mencatat bahwa Ibu menyangkal tanda tangan ini dan memeriksa dokumen pendukungnya.”

“Tolong kirimkan salinan yang boleh saya terima, Pak.”

Malam itu, aku menelepon kakakku, Dewi. Selama ini aku menyembunyikan persoalan rumah tangga karena tidak ingin membuatnya khawatir.

Kali ini, kalimat pertamaku hanya, “Kak, aku butuh ditemani.”

Dewi datang membawa makanan, lalu duduk di lantai sampai aku selesai menangis. Keesokan harinya, ia menemaniku memeriksakan kehamilan dan menemui pendamping hukum.

Di meja konsultasi, kukeluarkan semua yang masih kumiliki. Bukti pembelian oven pertama. Catatan modal. Dokumen usaha. Salinan transaksi pemasok. Foto laporan yang dipakai Galih untuk mengusirku.

Pendamping kami, Bu Sinta, menyusunnya berdasarkan tanggal.

“Jangan tanda tangani apa pun dulu. Kita perlu mengetahui aliran uang dan kedudukan masing-masing dalam usaha.”

“Apa saya bisa masuk toko?”

“Kita atur pengambilan dokumen dengan pendamping. Hindari datang sendirian.”

Siangnya, Reni mengirim foto truk di belakang toko.

Mesin akan diangkut sekarang, Mbak.

Tanganku langsung dingin.

Aku meneruskan pesan itu kepada Pak Deni dan Bu Sinta. Pak Deni menghubungi petugas lapangan yang kebetulan masih berada di wilayah Surabaya. Dewi mengantarku ke toko, sementara Bu Sinta menyusul.

Saat kami tiba, seorang pekerja sedang melepas sambungan listrik oven.

“Itu mesin saya,” kataku.

Galih muncul dari dapur.

“Kamu dilarang masuk.”

Petugas pembiayaan menunjukkan surat tugas dan meminta nomor seri diperiksa. Pekerja angkut berhenti setelah mengetahui ada persoalan persetujuan pemindahan.

Bu Marni mulai berteriak bahwa aku sengaja menghancurkan usaha keluarga.

Aku tidak membalas. Pandanganku tertuju pada perempuan berkemeja putih di samping truk. Ia memegang papan catatan dan terlihat sama bingungnya denganku.

“Ratih?” tanyaku.

Perempuan itu mengangguk.

“Saya Nisa.”

Wajahnya berubah.

“Katanya kalian sudah bercerai.”

Suara di halaman belakang seolah menjauh.

Galih melangkah ke arahnya.

“Ratih, masuk mobil dulu.”

Namun, Ratih justru membuka tas dan mengeluarkan ponsel.

“Kamu bilang toko ini milikmu. Kamu bilang mantan istrimu membawa uang dan meninggalkan utang.”

“Mereka sedang memancingmu,” bentak Galih.

Ratih mundur.

Aku menatap perempuan itu lebih saksama. Tidak ada kemenangan di wajahnya. Hanya ketakutan yang mulai kukenal.

“Kamu memasukkan uang ke usaha ini?” tanyaku.

“Seratus lima puluh juta. Untuk membeli peralatan dan mengambil alih operasional.”

Bu Sinta meminta kami membicarakannya di tempat yang lebih tenang. Pemindahan dihentikan sementara, dan pekerja angkut pergi setelah Galih akhirnya menyetujui penundaan.

Sore itu, Ratih duduk di kantor Bu Sinta, berseberangan denganku.

Ia mengaku menikah secara agama dengan Galih enam bulan sebelumnya. Ia percaya Galih sudah berpisah denganku karena pernah diperlihatkan foto dokumen perceraian. Kini, setelah diperiksa lebih dekat, banyak keterangan di dalamnya tidak cocok.

Ratih juga menunjukkan percakapan tentang Sagara Distribusi, perusahaan distribusi bahan makanan yang ia rintis sendiri.

Galih meminta seluruh dokumen disiapkan olehnya, termasuk pengalihan mesin.

“Lalu tanda tangan saya?” tanyaku.

Ratih menatap layar.

“Berkas yang dikirim Galih sudah ada tanda tangannya. Dia bilang kamu setuju melepas toko.”

Aku menunduk, menahan mual.

Enam bulan. Berarti ketika aku memperlihatkan hasil pemeriksaan kehamilan dengan tangan gemetar bahagia, Galih sudah merencanakan kehidupan lain.

Pemeriksaan catatan usaha berlangsung hampir tiga minggu. Akuntan yang membantu kami menemukan bahwa angka delapan puluh enam juta itu bukan kekurangan kas.

Galih menjumlahkan beberapa pembayaran pemasok yang sah, termasuk pengembalian saldo kredit, lalu menyajikannya sebagai pengeluaran tanpa barang. Ia tidak menyertakan faktur penerimaan dan mencampurkan transaksi dari periode berbeda.

Ada transaksi yang dilakukan memakai akun kerjaku melalui komputer toko, pada saat aku sedang menjalani pemeriksaan kehamilan. Catatan kunjungan klinik dan rekaman toko membantu memperjelas waktunya.

Namun, temuan yang paling membuatku gemetar datang dari Reni.

“Mbak, saya menemukan pesan suara Bu Marni di grup lama.”

Suara ibu mertuaku terdengar jelas.

Kalau Nisa sudah mengaku utang, urusan Ratih beres. Toko bisa dipindah. Jangan ada yang kasih dia salinan nota.

Aku memutar rekaman itu sekali saja.

Setelahnya, aku tidak menangis. Ada rasa sakit yang berubah menjadi kejernihan.

Laporan dugaan pemalsuan dan penipuan diajukan dengan dokumen pendukung. Ratih memberikan keterangannya sendiri. Urusan uang investasinya, hak usaha, pembiayaan mesin, dan perpisahanku harus diselesaikan melalui jalurnya masing-masing.

Tidak semuanya cepat.

Toko sempat tutup beberapa hari. Pesanan dibatalkan. Aku harus menjelaskan keadaan kepada pemasok dan menyusun ulang pembayaran.

Tetapi aku kembali.

Di hadapan karyawan yang sama, Galih akhirnya menandatangani pernyataan bahwa tuduhan pencurian terhadapku tidak didukung pemeriksaan catatan usaha. Bu Sinta memastikan salinannya diterima semua pihak yang sebelumnya mendapat tuduhan tersebut.

Reni menempelkan celemekku di belakang pintu dapur.

“Kami simpan, Mbak.”

Aku meraba kainnya, lalu tersenyum untuk pertama kali setelah berminggu-minggu.

Dua bulan kemudian, putriku lahir. Dewi menemaniku di rumah sakit. Galih datang, tetapi aku belum bersedia membicarakan hubungan kami di samping ranjang bayi.

Beberapa hari setelah pulang, sebuah amplop tiba dari Ratih.

Di dalamnya ada salinan bukti transfer dan catatan singkat.

Uang pengembalian pemasok yang masuk ke perusahaan saya sudah saya kembalikan ke rekening usaha sesuai kesepakatan. Saya juga baru tahu, dana itu dipakai Galih untuk membayar uang muka cincin kami.

Aku meletakkan surat itu perlahan.

Selama ini aku mengira kami berdua berebut lelaki yang sama.

Ternyata kami sama-sama sedang menagih kehidupan yang dicurinya.

Dari kamar, putriku menangis. Aku mengangkatnya, mencium dahinya, lalu membawanya mendekati jendela.

Besok pagi toko akan buka lagi.

Kali ini, setiap orang yang bekerja di sana tahu siapa yang selama ini menjaga apinya tetap menyala.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang