“Belum, Bu. Penanak nasinya rusak.”
Bu Ratna mendekat, lalu mengernyit melihat beras yang masih terendam.
“Sebentar lagi Ibu harus makan.”
“Aku tahu.”
Laras segera mengambil panci kecil. Ia memindahkan sebagian beras ke dalamnya, menambahkan air, lalu menoleh ke kompor. Di tungku kiri, tulang dalam kuah pindang masih perlu dimasak. Di kanan, kue kukus belum matang.
Ia mematikan api di bawah pindang dan menggantinya dengan panci nasi.
“Aku buatkan nasi lembek Ibu dulu.”
Dedi muncul di pintu dapur.
“Bau apa?”
“Penanak nasi mati. Ada bau hangus dari bagian bawah. Sudah kucabut.”
Ia mendekati alat itu dan meraih stekernya.
“Jangan dicolok lagi,” kata Laras cepat.
Dedi berhenti.
“Mungkin cuma stopkontaknya.”
“Tadi ada letupan, Mas.”
Dari ruang tamu terdengar suara Om Arman menanyakan apakah mereka perlu membantu. Dedi menjawab bahwa semuanya baik-baik saja, lalu menurunkan suara.
“Kenapa bisa rusak pas ada tamu?”
Laras memandangnya lama.

“Rusaknya tidak menunggu hari yang cocok.”
Dedi membuka tutup panci, melihat isinya, kemudian mengusap wajah.
“Ya sudah. Pakai yang baru.”
Laras tidak bergerak.
“Laras, dengar nggak?”
“Dengar. Tolong keluarkan dari lemari. Baca petunjuknya, cuci bagian yang perlu dicuci, lalu masak nasi untuk tamu. Aku sedang menyiapkan makan Ibu.”
Dedi menatapnya seolah baru mendengar bahasa asing.
“Aku?”
“Iya, Mas. Aku butuh bantuanmu sekarang.”
Bu Ratna hendak berbicara, tetapi Tante Mira lebih dahulu masuk.
“Ada apa?”
Laras menjelaskan singkat. Tanpa banyak pertanyaan, Tante Mira mengambil lap dan mengosongkan sebagian meja.
“Taruh alat barunya di sini.”
Dedi akhirnya membuka lemari. Kardus itu tersangkut pada gagang panci, membuatnya harus berjongkok dan mengeluarkan beberapa barang terlebih dahulu.
Ketika penanak nasi berhasil dikeluarkan, ia bertanya, “Berasnya berapa?”
“Untuk delapan orang dewasa dan anak-anak, periksa takaran serta kapasitasnya dulu. Jangan melebihi batas.”
“Airnya?”
“Ada petunjuk di bukunya.”
Tante Mira melirik Laras, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Dedi membaca sambil berdiri. Ia mencuci panci, mencari gelas takar, lalu membuka tiga laci sebelum menemukan tempat beras.
Laras terus mengaduk nasi lembek di atas kompor. Keringat mengalir di pelipisnya.
“Piring Ibu yang mana?” tanya Dedi lagi.
“Yang putih kecil. Di rak kedua.”
“Lauknya?”
“Sayur tanpa cabai di panci bertutup kaca. Ikannya sudah kupisahkan dari tulang.”
Untuk beberapa saat, dapur hanya dipenuhi bunyi sendok dan air keran.
Lalu Dedi bertanya pelan, “Setiap hari begini?”
Laras menoleh.
“Yang mana?”
“Masak bergantian.”
“Hampir setiap hari.”
“Kenapa kamu nggak bilang?”
Sendok di tangan Laras berhenti.
“Aku bilang hari Kamis. Sebelum itu juga sudah beberapa kali.”
Dedi menunduk ke panci yang sedang dicucinya.
Pukul sebelas lewat empat puluh, nasi Bu Ratna siap. Laras menyendokkannya ke piring, menambahkan sayur dan ikan, lalu membawanya ke meja makan.
“Maaf sedikit terlambat, Bu.”
Bu Ratna menatap makanan itu.
“Kamu sudah makan?”
Laras terdiam sesaat.
“Belum.”
Padahal sejak pagi, ia sudah mencicipi kuah, menggoreng bawang, menata kue, dan membuat kopi. Tidak satu pun dihitungnya sebagai makan.
Tante Mira menarik kursi.
“Duduk dulu. Aku yang jaga kukusan.”
Dari dapur, Dedi keluar membawa panci berisi beras.
“Ini beras dari alat lama mau diapakan?”
“Kita lanjutkan di kompor setelah panci Ibu selesai. Jangan dibiarkan begitu saja,” jawab Laras.
Om Arman berdiri membantu membawa lauk. Ketika mendengar penyebab keterlambatan makan siang, ia hanya mengangguk.
“Dulu penanak nasi kami juga rusak. Kalau sudah ada bau hangus, memang jangan dipaksa.”
Dedi melirik Laras, lalu kembali ke dapur.
Makan siang akhirnya dimulai hampir pukul satu. Kuah pindang harus dipanaskan lagi. Kue sedikit terlalu lama dikukus. Nasi matang, tetapi Laras sudah kehilangan selera makan.
Di tengah obrolan, Om Arman memuji hidangan.
“Repot sekali menyiapkan sebanyak ini, Ras. Terima kasih.”
“Ah, biasa,” sahut Dedi spontan.
Laras meletakkan sendok.
Dedi melihat gerakan itu, lalu berhenti.
“Maksudku…” Ia menarik napas. “Bukan biasa. Dari pagi Laras yang mengerjakan. Aku baru membantu tadi.”
Tidak ada yang menertawakannya. Tante Mira hanya meneruskan mengambil sayur, memberi ruang agar percakapan tidak berubah menjadi tontonan.
Setelah tamu pulang, Dedi menemukan Laras duduk di teras belakang. Sepatunya sudah dilepas, tetapi celemek masih terikat di pinggang.
Ia duduk di sebelah istrinya.
“Aku minta maaf.”
Laras memandangi halaman.
“Karena alatnya benar-benar rusak?”
“Karena aku tidak mendengarkanmu.”
“Aku tidak perlu barang rusak dulu supaya boleh dipercaya, Mas.”
Dedi mengangguk pelan.
Laras membuka ponselnya dan memperlihatkan catatan pengeluaran.
“Alat itu kubeli dengan uang hasil pembukuan. Tetapi sekalipun memakai uang rumah tangga, kebutuhan dapur tetap boleh dibicarakan tanpa aku dituduh boros.”
Dedi menatap angka-angka itu. Di atas transaksi penanak nasi terdapat pembayaran belanja, biaya sekolah, dan ongkos pemeriksaan Bu Ratna yang sempat dibayarkan Laras.
“Aku pikir uang belanja yang kuberi sudah cukup.”
“Cukup kalau tidak ada kebutuhan tambahan. Setiap ada tambahan, aku yang menutupnya. Lalu aku masih harus menjelaskan kenapa membeli alat untuk memudahkan pekerjaan.”
Pintu belakang terbuka.
Bu Ratna berdiri membawa celemek bersih.
“Ibu tadi bilang dulu cukup satu panci,” katanya lirih. “Tapi dulu kami makan bersama. Kalau belum matang, semua menunggu.”
Ia berhenti sebelum melanjutkan.
“Sekarang Ibu minta makan duluan, nasinya juga harus berbeda. Ibu lupa menghitung itu.”
Laras menerima celemek tersebut, tetapi tidak buru-buru mengatakan semuanya tidak apa-apa.
Karena memang tidak semuanya baik-baik saja.
Minggu berikutnya, Dedi mulai mengurus bekal dua kali seminggu. Ia beberapa kali salah menakar beras dan terlambat bangun. Bu Ratna membantu menyiangi sayur sambil duduk. Anak-anak belajar mencuci kotak makan sendiri.
Tidak langsung rapi. Namun, pekerjaan yang sebelumnya selalu selesai tanpa mereka pikirkan kini mulai terlihat.
Sebulan kemudian, penanak nasi lama dikembalikan tukang servis. Biaya perbaikannya tidak sebanding dengan kondisinya.
Dedi menempelkan secarik kertas pada kabelnya agar tidak dipakai lagi.
Laras membaca tulisannya.
Rusak. Jangan digunakan.
Di bawahnya, Dedi menambahkan kalimat kecil.
Laras sudah bilang.
Untuk pertama kalinya, Laras tertawa melihat benda itu.
Lalu ia menyerahkan gelas takar kepada suaminya.
“Nah, sekarang masak. Aku mau sarapan dulu.”
