Mereka Menyebut Siswi Baru Itu Pembawa Keberuntungan, Lalu Memindahkan Mejaku ke

“Kamu sekarang sendirian?” tanya Kakek.

“Iya. Mereka mengunci pintunya.”

“Bagikan lokasimu kepada Ayah. Jangan matikan telepon.”

Nada suaranya membuatku berhenti memikirkan buku di balik kaca.

Aku mengirim lokasi dan pesan singkat kepada Ayah, lalu memotret halaman laporan dari tempatku berdiri. Ketika mendekati pintu, terdengar langkah tergesa di luar.

“Arga, buka sekarang!”

Suara Sekar.

“Jangan ikut campur,” jawab Arga. “Ini buat kamu juga.”

“Aku tidak pernah meminta kalian mengurung orang!”

Gagang pintu bergerak. Sesaat kemudian terdengar benturan, disusul suara Nisa memanggil penjaga sekolah.

Aku mundur agar tidak menghalangi pintu.

Ketika akhirnya terbuka, Sekar berdiri dengan wajah pucat. Di belakangnya ada Nisa dan Pak Darto, penjaga sekolah, membawa kunci cadangan.

Arga sudah tidak terlihat.

“Maaf,” bisik Sekar.

“Nanti,” jawabku. “Sekarang temani aku keluar.”

Kami menunggu di pos satpam sampai Ayah datang. Tangannya gemetar ketika memeriksa wajah dan lenganku.

“Ada yang sakit?”

Aku menggeleng, tetapi begitu ia memelukku, air mataku tumpah.

Selama terkunci, aku terlalu sibuk mencari jalan keluar untuk menyadari betapa takutnya aku.

Ayah membawaku pulang setelah meminta kejadian itu dicatat. Ia juga meminta rekaman kamera lorong disimpan.

Malamnya, Kakek datang membawa tas kulit tua.

Selama ini, aku mengenalnya sebagai orang yang menemani Nenek menerima tamu dan merapikan buku primbon. Aku tidak tahu ia pernah bekerja sebagai juru gambar bangunan sebelum pensiun.

“Yayasan meminta Kakek memeriksa gedung itu karena beberapa siswa pingsan saat kegiatan di ruangan belakang,” katanya.

Ia mengeluarkan gambar denah.

“Jendela ditutup, ventilasi buruk, orang berkumpul sambil membakar dupa. Tetapi penyebabnya justru dikaitkan dengan siswa yang dianggap tidak cocok berada di sana.”

“Lalu denah palsu?”

“Denah yang dipakai untuk menjelaskan titik keberuntungan berbeda dari gambar bangunan sebenarnya. Garis dan ukuran ruang diubah supaya cocok dengan kesimpulan yang sudah mereka tentukan.”

Di bagian bawah laporan, Kakek merekomendasikan penghentian kegiatan tersebut dan pemeriksaan keselamatan ruangan.

“Pak Wiryo terlibat?”

“Dulu dia membantu orang yang memimpin kegiatan. Kakek kira semuanya sudah berhenti.”

Aku menyerahkan foto buku kepadanya.

Kakek memperbesar gambar, lalu menunjuk sebuah kalimat.

“Ini bukan halaman terakhir.”

Keesokan paginya, Ayah mengajukan pengaduan tertulis kepada yayasan. Ia menyertakan kronologi perundungan, foto barangku, dan pengurungan di gudang. Kakek menyerahkan salinan laporan miliknya untuk dicocokkan.

Aku tidak masuk sekolah hari itu.

Menjelang siang, Sekar dan ibunya datang bersama Nisa.

Sekar mengeluarkan ponsel.

“Aku perlu menunjukkan ini.”

Ada pesan dari Pak Wiryo kepada ibunya. Isinya penawaran pendampingan untuk memulihkan keberuntungan Sekar setelah perpindahan sekolah. Biayanya meningkat setiap kali muncul masalah baru.

Kesulitan tidur. Nilai simulasi. Seleksi olimpiade.

Lalu namaku disebut.

“Dia bilang ada pengaruh dari murid tertentu,” ujar ibu Sekar dengan suara pecah. “Saya panik melihat Sekar terus menangis. Saya pikir saya sedang membantunya.”

Sekar menunduk.

“Aku menangis karena semua orang mengawasi nilaiku. Kalau bagus, mereka bilang aku membawa keberuntungan. Kalau jelek, pasti ada orang lain yang disalahkan.”

Untuk pertama kalinya aku melihat betapa lelahnya ia.

“Kenapa kamu baru bilang?”

“Aku malu. Lalu Arga bilang kalau aku menolak bantuan mereka, usaha ayahnya bisa ikut kena sial.”

Nisa mengusap telapak tangannya.

“Aku juga salah karena diam.”

Aku belum bisa mengatakan semuanya baik-baik saja.

Tetapi aku menggeser kursi, memberi mereka tempat duduk.

Dua hari kemudian, pemeriksaan internal dimulai. Rekaman lorong menunjukkan Arga mengambil kunci dari Farel dan mengunci pintu. Dion berjaga dekat tangga.

Pak Wiryo membantah memberi perintah.

Namun, Farel menyerahkan percakapan grup yang memuat instruksinya.

Pesan terakhir berbunyi bahwa aku harus menemukan catatan lama, kemudian membawanya keluar untuk “dibersihkan pengaruhnya”.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Jadi, aku memang diarahkan ke sana.

Bukan untuk mempelajari sesuatu, melainkan untuk mengambil dokumen yang tidak berani ia ambil sendiri saat pemeriksaan inventaris gedung sedang berlangsung.

Jawaban tentang laporan Kakek datang dari Pak Darto.

Ia menyerahkan amplop kepada tim pemeriksa.

“Buku itu saya buka pada halaman tersebut,” katanya. “Saya mengenali nama belakang Rania dari berkas siswa. Saya pernah melihat kakeknya datang waktu saya masih petugas kebersihan.”

Pak Darto sebelumnya mendengar Wiryo menyuruh Arga mengajak seseorang mengambil buku lama. Ia meletakkan amplop berisi salinan halaman terakhir di belakang buku, berharap aku menemukannya.

Wajah Ayah mengeras.

“Bapak seharusnya melapor, bukan berharap anak saya menemukan sendiri.”

Pak Darto menunduk.

“Benar, Pak. Saya salah.”

Halaman terakhir menjelaskan bahwa yayasan dahulu telah menghentikan program dan memerintahkan pengembalian uang kepada keluarga peserta. Keputusan itu ditandatangani pengurus lama.

Wiryo selama ini hanya menunjukkan halaman awal yang menyebut pemeriksaan budaya, lalu memakai nama Kakek untuk memberi kesan bahwa kegiatannya mendapat dukungan.

Mendengar itu, Kakek lama tidak bicara.

Kemudian ia menyerahkan seluruh arsipnya untuk pemeriksaan.

Dalam beberapa minggu, kerja sama sekolah dengan Wiryo dihentikan. Persoalan pembayaran ditelusuri lebih lanjut. Kepala sekolah dan Bu Ratih diminta mempertanggungjawabkan pengabaian laporan serta keterlibatan mereka dalam kejadian tersebut.

Arga, Farel, dan Dion menerima sanksi sekolah. Pengaduan pengurungan tetap ditangani bersama orang tua dan pihak terkait.

Aku mendapat pendampingan dan boleh menentukan kapan siap kembali ke kelas.

Saat akhirnya masuk, mejaku sudah berada di tempat semula.

Tidak ada bunga atau semangkuk air.

Sekar duduk dua baris di depan. Sebelum pelajaran dimulai, ia menghampiriku.

“Boleh belajar bareng untuk seleksi?”

“Boleh. Tapi catatanku jangan hilang lagi.”

Ia tersenyum kecil.

Hari pengumuman tiba sebulan kemudian. Aku lolos, begitu pula Sekar setelah mengikuti seleksi sesuai ketentuan.

Di rumah, Ayah membaca hasil itu sambil mengangguk bangga.

Nenek meletakkan sepiring pisang goreng di meja.

“Sudah Nenek bilang, hari ini hari baik.”

Aku hendak membalas, tetapi Kakek lebih dahulu tertawa.

“Karena dua anak itu belajar setiap sore.”

Nenek menyenggol lengannya.

“Ya, siapa yang menyangkal?”

Aku ikut tertawa.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa lahir di keluarga yang salah. Aku hanya perlu memastikan bahwa ketika seseorang memakai keyakinan sebagai alasan untuk menyakiti orang lain, aku tetap berani meminta mereka membuka pintu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang