Aku baru hendak masuk ketika sebuah buku bersampul merah terjatuh dari tumpukan kardus. Ayah lebih dulu memungutnya, tetapi lembar yang terbuka membuatku lupa bernapas.
Bu Jenab. Mbah Mirjan. Bu Surti.
Di samping ketiga nama itu terdapat cap jempol berwarna hitam.
“Apa itu, Yah?”
“Daftar penerima bantuan pembukaan toko. Pamanmu membagikan sembako sejak minggu lalu.”
“Tapi mereka sudah meninggal.”
“Iya. Kasihan, ya. Baru sempat menikmati bantuan.”
Ayah menutup buku itu. Di bagian bawah halaman, sebelum sampulnya terkatup, aku melihat nama berikutnya.

Sulastri.
Nama Ibu.
Malam itu aku hampir tidak menyentuh makananku. Paman Rudi datang bersama Bibi Lila menjelang Isya. Kemejanya baru, sepatunya mengilap, tetapi wajahnya justru tampak lebih tua daripada saat terakhir kami bertemu.
“Usahamu lancar sekali, Paman,” kataku.
Sendoknya berhenti.
“Alhamdulillah. Ada yang memberikan modal.”
“Siapa?”
“Kenalan.”
Bibi Lila buru-buru menyodorkan lauk kepadaku.
“Makan dulu, In. Nanti nasinya dingin.”
Aku menatap tangan Ibu yang sedang mengambil gelas. Ibu jarinya bersih.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku bisa menarik napas lega.
Selepas makan, Paman membuka buku merah di meja ruang tengah. Ia mengeluarkan bantalan tinta kecil dari tasnya.
“Mbak Lastri, sekalian tanda terima paketnya. Biar pembukuan saya rapi.”
Aku langsung berdiri.
“Paket yang mana? Barang-barang ini kan titipan.”
“Ada jatah untuk orang tuamu.”
“Pakai tanda tangan saja.”
Senyum Paman lenyap.
“Memangnya kenapa?”
Aku belum menemukan jawaban ketika Ibu menjulurkan tangan. Kutarik pergelangannya begitu cepat hingga gelas di meja terguling.
“Indira!”
“Aku mau bicara sama Ibu.”
Paman menutup bantalan tinta. Dari tempatku berdiri, aku melihat sesuatu bergerak di permukaannya.
Seperti seekor cacing tipis yang segera tenggelam.
Aku membawa Ibu ke kamar dan menceritakan semua yang kulihat. Ibu mendengarkan dengan wajah kesal, lalu perlahan menjadi pucat.
“Bu Jenab menerima beras dari Paman?”
Aku mengangguk.
“Ibu kemarin membantunya mencuci. Di jempolnya memang ada hitam-hitam. Dia bilang tintanya tidak mau hilang.”
Dari ruang tengah terdengar suara kursi diseret.
Ketika kami keluar, Paman dan Bibi sudah pergi.
Buku merah itu juga tidak ada.
Pukul dua dini hari, suara orang mengetuk membangunkanku.
Bukan dari pintu depan.
Dari dalam gudang.
Aku membangunkan Ayah. Kami mendekati ruangan tempat sembako ditumpuk. Di balik pintu, terdengar suara perempuan memanggil pelan.
“Rudi… buka…”
Ayah mengangkat kunci, tetapi aku menahan tangannya.
Suara itu berubah.
Kini terdengar serak dan berat.
“Berasnya masih kurang.”
Lampu lorong padam.
Ayah menarikku mundur tepat ketika sesuatu menggesek bagian bawah pintu. Bau lumpur memenuhi rumah, bercampur aroma beras basah.
Kami bertiga menunggu di kamar sampai azan Subuh.
Paginya, sebuah jejak telapak tangan hitam menempel di sisi dalam pintu gudang.
Ayah tidak lagi menyebut ketakutanku sebagai khayalan.
Kami mendatangi rumah Paman yang disewanya dekat pasar. Pintunya terbuka. Bibi Lila duduk di lantai, memeluk buku merah. Matanya bengkak.
“Rudi pergi mencari pengganti,” katanya sebelum kami bertanya.
“Pengganti siapa?”
Bibi menatap Ibu, lalu menangis.
Ayah meraih buku itu. Bibi tidak melawan.
Ada tujuh baris pada halaman pertama. Tiga nama sudah dicoret. Nama Ibu tertulis di baris keempat, tetapi kotak cap jempolnya masih kosong.
“Dia bilang cuma perlu tujuh orang yang menerima pemberian dengan sukarela,” bisik Bibi. “Kami pikir hanya syarat dagang.”
“Lalu setelah Bu Jenab meninggal?” tanyaku.
Bibi menunduk.
Itulah jawaban yang paling membuatku marah.
Ia tahu. Mereka tetap melanjutkannya.
Paman memperoleh modal dari seorang lelaki di pasar malam. Tidak ada bunga, tidak ada tenggat pelunasan. Ia hanya diminta menggunakan buku dan tinta pemberian lelaki itu saat membagikan tujuh paket sembako.
Setelah kematian kedua, Paman mencoba membuang buku tersebut ke sungai.
Paginya buku itu kembali ke bawah bantalnya, basah dan terbuka pada halaman berisi namanya sendiri.
“Kalau tujuh cap tidak lengkap sebelum malam Jumat, yang mengambil modal harus membayar,” kata Bibi.
Malam Jumat jatuh malam itu.
Ayah menelepon Paman. Tidak diangkat. Ia kemudian meminta Pak RT membantu mencari dan menghentikan pembagian sembako.
Menjelang sore, Paman pulang dengan wajah lebam. Warga telah mengusirnya setelah Pak RT menyampaikan peringatan.
“Kalian menghancurkan semuanya,” katanya.
“Istriku meninggal,” jawab Pak RT yang datang bersama Ayah. “Apa lagi yang masih bisa kauhancurkan?”
Paman jatuh berlutut.
Kami membawa buku itu ke rumah. Di hadapan Pak RT, Paman akhirnya mengeluarkan kertas perjanjian yang disembunyikannya dalam dompet.
Tulisan kecil di bagian bawah hampir tertutup lipatan.
Penerima pemberian yang membubuhkan cap menyerahkan bagiannya. Pemberian yang kembali menjadi tanggungan pemberi pertama.
“Bagian apa?” tanya Ayah.
Paman menggeleng sambil menangis.
Malam turun. Dari gudang terdengar ketukan lagi.
Kali ini tiga suara memanggil bersamaan.
Pak RT memejamkan mata ketika mendengar suara istrinya.
“Jangan dibuka,” bisik Bibi.
Namun, pintu itu bergerak sendiri.
Di celahnya tampak air hitam merembes, lalu jari-jari pucat mencengkeram kusen. Paman menjerit dan merangkak menjauh.
Aku teringat kalimat dalam perjanjian.
Pemberian yang kembali.
“Semua barangnya harus keluar dari rumah ini,” kataku kepada Ayah. “Kembalikan kepada Paman.”
Kami menyeret karung dan kardus ke teras. Pak RT membantu meski tangannya gemetar. Setiap barang melewati ambang, ketukan dari gudang semakin keras.
Paman berusaha kabur.
Bibi justru menutup pagar.
“Sudah cukup, Rud. Jangan serahkan siapa-siapa lagi.”
Ketika karung terakhir ditaruh di hadapannya, buku merah terbuka sendiri. Tiga cap di dalamnya memudar.
Satu cap baru muncul di telapak tangan Paman.
Ia menatapnya, lalu berbisik, “Aku kembalikan semuanya.”
Bantalan tinta pecah.
Lampu menyala kembali. Air di lantai menghilang.
Paman ditemukan masih hidup saat ambulans datang, tetapi seluruh rambutnya telah memutih. Ia kemudian menyerahkan diri setelah mengakui keterlibatannya dalam kematian ketiga warga. Persediaan toko disita untuk penyelidikan.
Sebulan kemudian, Ibu menerima sebuah paket beras tanpa nama pengirim.
Di dalamnya terselip kartu ucapan terima kasih.
Aku membalik kartu itu.
Ada tujuh kotak kecil di bagian belakang.
Semuanya masih kosong.
Sebelum Ibu sempat menyentuhnya, kubakar kartu itu di halaman.
Dari dalam beras terdengar seseorang mendesah kecewa.
