Karma dari Ibu 3

Balasan Neny muncul sebelum Aini sempat meletakkan ponsel.

“Jangan di kafe, Pa. Kalau Mama tahu soal hasil pemeriksaan itu, semuanya bisa kacau.”

Aini membaca kalimat tersebut sampai layar meredup. Tangannya dingin. Ia menghapus pesan undangan beserta balasannya, lalu kembali berbaring. Di sampingnya, Adam tetap tidur nyenyak.

Pukul setengah sembilan, Aini sudah duduk di sudut Kafe Bintang Permai. Semalaman ia membayangkan berbagai kemungkinan, masing-masing terasa lebih menyakitkan daripada sebelumnya.

Neny datang mengenakan jaket kebesaran. Wajahnya pucat. Ketika melihat ibunya, langkahnya terhenti.

“Duduk,” kata Aini.

“Mama yang mengirim pesan?”

Aini mengangguk.

Neny menarik kursi, tetapi tidak segera duduk. Matanya mencari pintu keluar.

“Hasil pemeriksaan apa yang tidak boleh Mama tahu?”

Bibir Neny bergetar.

“Ma, Neny bisa jelaskan.”

“Kalau begitu, jelaskan.”

Ponsel Neny berdering. Nama Adam muncul di layar. Aini melihat putrinya menolak panggilan itu, lalu mencengkeram ponsel dengan kedua tangan.

“Mama pikir aku punya hubungan dengan Papa Adam?”

Pertanyaan itu membuat Aini terdiam.

“Neny dengar Mama bertanya kepada Mbak Tini kapan Papa pulang, kapan aku datang. Neny tahu Mama curiga.”

“Apa Mama salah?”

Neny menatapnya dengan mata basah.

“Iya.”

Ia mengeluarkan amplop rumah sakit dari tasnya. Ketika Aini hendak mengambilnya, Neny menahan ujung amplop tersebut.

“Tapi ada hal lain yang selama ini Mama bohongi.”

Aini merasakan sesuatu runtuh di dadanya.

“Neny sudah tahu tentang Ayah.”

Suara mesin kopi mendadak terdengar begitu keras.

Selama dua puluh tahun, Aini mengatakan bahwa ayah Neny meninggal akibat kecelakaan sebelum putrinya lahir. Tidak ada foto, tidak ada keluarga yang bisa dikunjungi. Setiap pertanyaan selalu dijawab dengan kesedihan sampai Neny belajar berhenti bertanya.

Dua bulan lalu, saat membantu neneknya merapikan lemari, Neny menemukan surat-surat lama.

Surat dari seorang laki-laki bernama Bagas.

“Awalnya aku kira itu surat untuk Tante Naina,” kata Neny. “Tapi ada namaku. Ada permintaan supaya dia boleh melihatku.”

Aini menunduk.

“Jadi kamu mencarinya?”

“Alamatnya sudah berubah. Papa Adam membantu mencari lewat kenalannya.”

“Itu sebabnya kalian sering pergi bersama?”

Neny mengangguk.

“Kenapa tidak bilang?”

“Karena Nenek menangis waktu aku bertanya. Nenek cuma bilang, kalau aku sayang Mama, jangan ungkit masa lalu.”

Kalimat itu terasa akrab. Terlalu akrab.

Dulu, ibunya juga mengatakan hal yang sama ketika Aini bertanya apakah ia harus memberitahu Bagas tentang kehamilannya.

Pintu kafe terbuka. Adam masuk dengan napas terengah. Pandangannya berpindah dari amplop di meja ke wajah Aini.

“Aku menelepon Tania,” katanya. “Dia bilang kamu belum ke butik. Aku menebak kalian di sini.”

“Duduk, Mas. Aku ingin mendengar semuanya.”

Adam menarik kursi di sebelah Neny.

“Kami menemukan Bagas tiga minggu lalu. Kondisinya sedang sakit. Neny ingin menemuinya, tapi dia takut kamu melarang.”

“Lalu rumah sakit?”

“Aku pingsan setelah bertemu dia,” jawab Neny. “Papa membawaku diperiksa.”

Aini memandang amplop itu.

“Hasil pemeriksaanmu?”

“Bukan.”

Neny melepaskan pegangannya.

Di dalamnya terdapat laporan pemeriksaan hubungan biologis. Nama Neny dan Bagas tercetak berdampingan.

“Kalian tes DNA?”

“Aku perlu yakin sebelum menanyakan semuanya kepada Mama.”

Adam mengusap wajah.

“Aku seharusnya bicara kepadamu sejak awal. Aku salah karena membantu Neny berbohong.”

Namun, Aini hampir tidak mendengarnya.

Bagas masih hidup. Bagas telah membaca pesan-pesan putrinya. Bagas mungkin telah menceritakan sesuatu yang selama ini ia kubur jauh-jauh.

“Apa katanya tentang Mama?”

Neny menggeleng.

“Dia tidak menjelekkan Mama. Itu yang membuatku semakin ingin tahu.”

Siang itu, mereka pergi ke sebuah rumah kecil di pinggiran Bekasi. Seorang laki-laki kurus membuka pintu. Rambutnya sudah beruban, tetapi Aini mengenali cara ia mengangkat alis ketika terkejut.

“Aini.”

Dua puluh tahun berlalu, dan ia tetap tidak siap mendengar namanya diucapkan laki-laki itu.

Bagas mempersilakan mereka masuk. Di ruang tamu terdapat meja jahit tua dan beberapa seragam sekolah yang belum selesai dikerjakan.

Neny duduk di sebelahnya.

“Aku ingin mendengar cerita yang sama dari kalian berdua.”

Aini menatap putrinya. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat anak kecil yang harus dilindungi dari semua hal buruk. Ia melihat seseorang yang berhak mengetahui asal-usulnya.

“Dulu Mama menikah dengan Ayahmu tanpa restu Nenek,” katanya. “Kami kesulitan uang. Waktu Mama hamil, Mama pulang ke rumah orang tua.”

Bagas memandangi tangannya sendiri.

“Saya datang menjemput,” katanya pelan. “Ibumu bilang Aini sudah menggugurkan kandungannya dan tidak mau bertemu lagi.”

Neny menoleh tajam kepada Aini.

“Mama tahu Nenek mengatakan itu?”

Aini menggeleng, lalu berhenti.

Ia teringat sebuah pertengkaran di dapur. Ibunya mengatakan Bagas akhirnya tidak akan mengganggu lagi. Saat itu Aini tidak bertanya bagaimana caranya.

“Mama tidak tahu persis,” bisiknya. “Tapi Mama membiarkan Nenek mengurus semuanya.”

Bagas melanjutkan, “Beberapa tahun kemudian saya mendengar tentang Neny. Saya menulis surat. Tidak pernah dibalas.”

“Nenek bilang kamu mau mengambil anakku,” kata Aini.

“Kalau saya datang langsung, apa kamu akan menemui saya?”

Aini membuka mulut, kemudian menutupnya lagi.

Tidak ada jawaban yang bisa membuatnya tampak lebih baik.

Dalam perjalanan pulang, Neny meminta berhenti di rumah neneknya. Aini hampir melarang, tetapi akhirnya mengangguk.

Nini menyambut mereka sambil menggendong Frans. Senyumnya hilang ketika melihat Bagas turun dari mobil Adam.

“Ibu cuma ingin kamu hidup layak,” katanya setelah semuanya terungkap.

“Dengan mengatakan aku menggugurkan anakku?”

“Ibu tahu kamu akan kembali kalau laki-laki itu terus datang.”

Aini menangis. Kemudian Neny berdiri di hadapannya.

“Sekarang Mama tahu rasanya ketika orang lain menentukan hidup Mama dengan alasan sayang.”

Aini menatap putrinya, dan rasa sakitnya berubah menjadi malu.

Ia telah hampir menuduh Neny melakukan sesuatu yang keji. Padahal putrinya hanya mencari seorang ayah yang sengaja dihilangkan dari hidupnya.

Malam itu, Aini mengetuk pintu kamar Neny.

“Mama tidak akan meminta kamu langsung memaafkan.”

Neny menggeser tubuh, memberinya tempat duduk.

“Besok aku mau menemani Ayah kontrol.”

“Mama boleh ikut?”

Putrinya berpikir cukup lama sebelum mengangguk.

Beberapa minggu kemudian, Bagas menyerahkan sebuah kotak sepatu kepada Neny. Di dalamnya tersusun kartu ulang tahun, dari usia satu sampai dua puluh.

Tak satu pun pernah dikirim.

Pada kartu pertama tertulis kalimat sederhana.

Ayah belum tahu kamu suka dipanggil apa. Tapi Ayah berharap suatu hari bisa mendengarmu menjawab.

Neny menangis dalam pelukannya.

Aini berdiri di dekat pintu, membiarkan mereka memiliki waktu yang sudah terlalu lama dirampas.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang