
“Jangan berikan kode itu kepada siapa pun,” kataku kepada Siska dan Maya.
Nadira bergerak menuju pintu.
“Aku mau menelepon vendornya. Ini pasti kesalahan sistem.”
“Kamu boleh menelepon,” jawabku. “Tapi kami akan menghubungi pengurus asrama.”
Siska berdiri di dekat meja dengan wajah pucat. Uang untuk laptop itu baru dikirim ibunya setengah jam lalu.
“Aku sudah transfer,” bisiknya.
Nadira berhenti.
“Berapa?” tanyaku.
“Tujuh juta empat ratus lima puluh ribu. Semuanya.”
Aku meraih tangan Siska, lalu meminta Maya menemani menelepon layanan pembayaran melalui aplikasi resminya. Sementara itu, aku menghubungi pengurus asrama dan menyimpan seluruh tangkapan layar.
Ponselku kembali bergetar.
Nomor tak dikenal tadi mengirim pesan lain.
“Saya Dito, pegawai toko yang diminta menyiapkan laptop. Nomor Mbak ada di formulir. Tolong jangan bayar dulu.”
Aku membacanya dua kali.
“Kenapa menghubungi saya?”
“Pesanan atas nama Mbak berbeda. Di formulir pembiayaan tertulis tiga laptop. Nadira bilang untuk usaha Mbak.”
Aku menatap laptop tuaku yang terbuka di meja. Seseorang sedang mencoba membuatku berutang untuk membeli tiga perangkat, sementara aku bahkan tidak pernah meminta satu pun.
Ketika Bu Wulan, pengurus asrama, tiba bersama petugas keamanan, Nadira mulai menangis.
“Saya juga korban, Bu. Saya cuma meneruskan program dari kenalan.”
Bu Wulan tidak langsung menuduhnya. Beliau meminta kami bergantian menjelaskan, lalu menghubungi bagian kemahasiswaan.
Di hadapan beliau, Nadira akhirnya mengakui bahwa program itu tidak pernah diselenggarakan kampus.
“Kenapa pakai nama subsidi?” tanya Bu Wulan.
“Supaya teman-teman tertarik.”
Siska menutup mulutnya. Maya berpaling ke jendela.
Aku justru merasa sangat tenang. Mungkin karena kemarahanku belum menemukan jalan keluar.
Malam itu kami dibawa ke ruang pengurus. Telepon kepada penyedia pembiayaan berlangsung lama. Ada pengajuan yang masih menunggu persetujuan, ada yang sudah masuk tahap pemeriksaan, dan ada rekening pembayaran yang ternyata hanya berfungsi sebagai penampung transaksi.
Tidak semua hal bisa dihentikan dengan satu panggilan.
Petugas meminta nomor laporan, waktu kejadian, serta bukti bahwa kami tidak pernah menyetujui pembelian tersebut. Kami mencatat semuanya.
Menjelang tengah malam, Ibu menelepon.
“Kamu kenapa belum tidur?”
Aku hendak menjawab bahwa semuanya baik-baik saja, tetapi suaraku pecah.
“Ada yang memakai dataku, Bu.”
Ibu diam sebentar, lalu meminta aku bercerita perlahan. Dari belakang terdengar suara Ayah menutup pintu toko.
“Kami berangkat besok pagi,” katanya.
“Tidak usah, Yah. Jauh.”
“Bapak datang untuk menemani, bukan karena kamu tidak bisa mengurusnya.”
Aku menangis setelah mendengar kalimat itu.
Keesokan paginya, kampus mengirim pengumuman bahwa tidak ada program subsidi laptop berbayar yang sedang dibuka. Mahasiswa diminta menghentikan transaksi dan melapor jika sudah menyerahkan dokumen.
Dalam dua jam, dua puluh tiga orang datang.
Ada yang baru mengirim foto identitas. Ada yang mengikuti verifikasi wajah. Tujuh orang sudah mentransfer uang.
Siska bukan satu-satunya yang menangis di ruang tunggu.
Kampus membentuk tim pendamping dan membantu kami membuat laporan kepada pihak terkait. Nadira diberhentikan sementara dari tugas ketua kelas selama pemeriksaan. Teleponnya tidak disita oleh teman-teman, dan tidak ada yang diizinkan menyebarkan data pribadinya sebagai pembalasan.
Namun, tangkapan layar percakapan terus berdatangan.
Dito datang sore itu bersama pemilik toko. Ia membawa salinan pesanan dan riwayat komunikasi yang menjadi tanggung jawab tokonya.
Barulah pola sebenarnya mulai terlihat.
Kenalan Nadira menawarkan komisi untuk setiap mahasiswa yang berhasil diarahkan ke pembiayaan perangkat. Pembeli dijanjikan potongan harga, tetapi dana pembiayaan yang diajukan lebih besar daripada harga satu laptop. Beberapa pesanan bahkan ditambah perangkat lain tanpa pengetahuan mahasiswa.
Nadira mengumpulkan identitas, membimbing verifikasi wajah dengan alasan pendaftaran bantuan, lalu mengarahkan pembayaran ke tautan yang berbeda.
“Awalnya saya pikir cuma pemasaran,” katanya ketika diminta menjelaskan.
“Lalu kapan kamu tahu jumlah pengajuannya berbeda?” tanya petugas kemahasiswaan.
Nadira tidak menjawab.
Pemilik toko meletakkan cetakan percakapan di meja.
Ada pesan Nadira tiga hari sebelumnya.
“Yang penting mereka lihat angka subsidi dulu. Cicilan jangan dijelaskan sekarang.”
Siska bangkit dan keluar ruangan. Aku menyusulnya.
Di lorong, ia menangis sambil memegangi ponsel.
“Aku malah menyuruhmu jangan mempermalukan dia.”
“Kamu percaya karena dia teman sekelas.”
“Aku juga bilang kamu terlalu curiga.”
Aku duduk di sebelahnya.
“Sekarang kita urus yang sudah terjadi.”
Ia mengangguk, lalu mengusap wajahnya dengan lengan baju.
Pengembalian uang tidak berlangsung cepat. Rekening yang dilaporkan diperiksa, transaksi ditelusuri, dan setiap pengajuan pembiayaan harus ditangani sesuai statusnya. Kami berkali-kali mengirim bukti yang sama kepada petugas berbeda.
Watermark pada KTP-ku membantu memperlihatkan adanya perubahan dokumen. Namun, itu bukan perisai yang membuat dataku otomatis aman. Aku tetap harus mengajukan penyangkalan dan memastikan ada jawaban tertulis.
Selama berminggu-minggu, kuliahku dimulai dengan dosen menjelaskan materi dan berakhir dengan aku memeriksa nomor laporan.
Nadira akhirnya mengirim pesan pribadi.
“Aku punya utang. Aku panik. Aku pikir kalau komisinya terkumpul, semuanya bisa kututup.”
Aku membaca pesan itu lama.
“Aku ikut sedih kamu terdesak,” balasku. “Tapi kamu memilih membuat orang lain menanggungnya tanpa tahu.”
Ia tidak membalas lagi.
Dua bulan kemudian, sebagian dana Siska berhasil kembali. Pengajuan yang memakai namaku dinyatakan tidak dilanjutkan setelah pemeriksaan. Kasus mahasiswa lain masih ditangani, dan kami tetap saling mengingatkan agar tidak mengabaikan surat atau panggilan resmi.
Pada saat itulah kampus benar-benar membuka bantuan perangkat belajar.
Siska datang ke mejaku membawa pengumuman dari portal akademik.
“Aku mau daftar,” katanya. “Temani?”
Aku mengangguk.
“Baca syaratnya dulu.”
Ia tersenyum malu. “Sudah. Kali ini semuanya.”
Beberapa minggu kemudian, namanya tercantum sebagai penerima laptop pinjaman kampus. Tidak ada penghitung waktu mundur. Tidak ada rekening pribadi. Ia menandatangani sendiri berita acara setelah membaca seluruh halamannya.
Saat menyerahkan laptop itu, petugas juga memberiku sebuah amplop.
Undangan untuk berbagi pengalaman pada pertemuan mahasiswa baru semester berikutnya.
Di bagian tema tertulis sebuah kalimat yang membuatku tersenyum.
Berani Bertanya Sebelum Menyetujui.
Dulu, Nadira menyebutku sulit diarahkan.
Ternyata, untuk pertama kalinya jauh dari rumah, sifat itulah yang membantuku tetap memegang arah hidupku sendiri.
