Suamiku Memintaku Pergi Saat Mantan Kekasihnya Kembali—Aku Membawa Tiga Anak

Ponselku berdering ketika taksi berhenti di depan rumah kakakku. Nama Ardi muncul, lalu menghilang, lalu muncul lagi.

Aku membiarkannya.

Raka duduk di sebelahku sambil memeluk tas sekolahnya. Sejak berangkat, ia terus memperhatikan layar ponselku.

“Kalau Ayah telepon, Ibu harus angkat?” tanyanya.

“Tidak harus sekarang.”

Bahu kecilnya turun, seolah baru mendapat izin untuk bernapas.

Kakakku, Ratih, membuka pagar sebelum aku sempat mengetuk. Ia mengambil tangan Dimas, menyuruh Lila masuk, kemudian memelukku tanpa bertanya apa-apa.

Baru setelah anak-anak makan, aku mengajak Raka duduk di teras.

“Sayang, apa yang kamu tinggalkan untuk Ayah?”

Ia mengeluarkan selembar kertas terlipat dari tas.

“Aku fotokopi empat. Yang satu buat Ibu.”

Tanganku berhenti saat melihat kop surat perusahaan Ardi.

Ada permintaan persetujuan penjaminan aset, daftar pengalihan pembayaran pelanggan, dan surat keberatan dari seseorang bernama Bima Santoso.

Nama itu kukenal.

Pak Bima adalah mantan kepala keuangan perusahaan. Selama tiga minggu terakhir, ia beberapa kali meneleponku. Aku hanya sempat mendengar penjelasan bahwa ada dokumen penting yang perlu kuperiksa sebelum Ardi memotong pembicaraan kami.

Katanya, Pak Bima dipecat karena bekerja tidak jujur.

“Kamu dapat ini dari mana?”

“Waktu Om Bima datang, Ibu sedang jemput Lila. Dia menitipkan amplop. Ayah bilang nanti saja dibaca, terus ditaruh di rak.”

Aku ingat hari itu. Ardi memberitahuku bahwa seorang pemasok datang salah alamat.

“Kenapa kamu ambil?”

Raka menunduk.

“Ada tulisan mendesak. Aku mau kasih Ibu, tapi lupa. Terus semalam Ayah bilang kita harus pergi.”

Aku meraih tangannya.

“Lalu buku catatan Ayah?”

“Masuk tasku waktu kami bereskan meja. Aku kira buku gambarku. Isinya angka sama nama Tante Nadira. Aku taruh juga.”

Matanya mulai basah.

“Aku salah, Bu?”

“Tidak. Tapi mulai sekarang, urusan ini biar orang dewasa yang mengurus.”

Ia menangis diam-diam.

“Aku pikir kalau Ayah baca, Ayah nggak jadi menyuruh kita pergi.”

Aku memeluknya erat. Selama semalam penuh, anakku bukan sekadar mengemas pakaian. Ia berusaha menemukan alasan agar ayahnya tetap menginginkan kami.

Aku menelepon Pak Bima dari teras, ditemani Ratih.

Beliau terdengar lega ketika mendengar suaraku.

“Ibu sudah membaca dokumennya?”

“Belum semuanya. Tolong jelaskan dari awal.”

Pak Bima mengatakan ada pembayaran pelanggan yang dialihkan ke perusahaan baru milik rekan usaha Ardi, Hendra. Nadira tercatat sebagai salah satu pengurusnya. Ardi menganggap pengaturan itu bagian dari kerja sama distribusi baru.

Namun, uang yang seharusnya dibayarkan kembali tidak pernah masuk.

Ketika Pak Bima mempertanyakan transaksi tersebut, Hendra menuduhnya menghambat ekspansi. Tak lama kemudian, ia diberhentikan.

“Kenapa Bapak mencari saya?”

“Karena rumah Ibu dimasukkan dalam rencana jaminan tambahan. Dalam berkas yang saya lihat, ada kolom persetujuan pasangan yang belum lengkap. Saya ingin Ibu tahu sebelum menandatangani apa pun.”

Aku menatap halaman pertama lagi. Alamat rumah kami tercetak jelas.

“Bapak yang mengirim pesan kepada Ardi pagi ini?”

“Iya. Setelah saya menerima pesan dari Raka melalui nomor kantor.”

Aku memejamkan mata.

Anakku bahkan menghubungi orang asing karena merasa tidak bisa menghentikan ayahnya sendiri.

Siang itu, Ardi datang ke rumah Ratih. Aku menemuinya di ruang tamu sementara anak-anak berada di kamar bersama kakak iparku.

“Kamu sudah tahu soal Bima?” tanyanya.

“Aku baru mendengar penjelasannya.”

“Hendra membohongiku. Nadira juga.”

Aku menunggu.

Ardi mengusap wajah. “Dia datang katanya sedang berpisah dari suaminya. Hendra bilang dia butuh dilindungi sementara.”

“Lalu kenapa aku dan anak-anak harus keluar?”

“Katanya ada beberapa urusan bisnis yang perlu diselesaikan di rumah. Mereka butuh akses ruang kerja, dan—”

Ia berhenti sendiri.

Aku memandangnya lama.

“Kamu mendengar betapa tidak masuk akalnya itu?”

“Aku tahu sekarang.”

“Tidak. Kamu tahu semalam. Kamu hanya tidak keberatan selama kami yang menanggungnya.”

Ardi menunduk.

Ia bercerita bahwa setelah membaca catatan dan dokumen, ia memeriksa pembayaran bersama staf keuangan lain. Nadira akhirnya mengakui Hendra memintanya mendekati Ardi kembali dan membujuknya menyetujui transaksi.

Nadira memang punya masalah keuangan. Namun, tinggal di rumah kami memberinya kesempatan mendampingi Ardi membuka arsip dan membahas jaminan tanpa aku ikut mendengar.

“Dia bilang kamu pasti menolak karena cemburu,” ujar Ardi.

Aku tertawa pendek.

“Jadi kamu menyingkirkan aku sebelum aku sempat membaca.”

“Aku tidak bermaksud kehilangan kalian.”

“Tapi kamu bersedia mengambil risikonya.”

Ia mengangkat wajah.

“Pulanglah. Nadira sudah pergi. Aku akan memperbaiki semuanya.”

Aku menggeleng.

“Masalah perusahaanmu bisa dibawa ke orang yang memahami dokumennya. Masalah kita tidak selesai hanya karena Nadira keluar.”

Ardi meminta bertemu anak-anak. Aku memanggil mereka setelah memastikan ketiganya mau.

Dimas langsung memeluk kakinya. Lila berdiri di dekatku. Raka tetap di ambang pintu.

“Ayah minta maaf,” kata Ardi.

Raka memandangnya.

“Kalau orang lain datang lagi, kami harus pergi lagi?”

Ardi membuka mulut, tetapi tidak segera menjawab.

Anakku mengangguk kecil, lalu kembali ke kamar.

Hari-hari berikutnya tidak memberi penyelesaian cepat. Perusahaan diperiksa dengan bantuan akuntan dan pendamping hukum. Aku mengumpulkan dokumen rumah serta catatan keuangan keluarga, lalu mencari nasihat sendiri sebelum memberikan persetujuan apa pun.

Ardi mulai menjual aset usaha untuk menutup kewajiban yang terbukti menjadi tanggung jawabnya. Ia juga datang menjalani konseling, meskipun aku menolak menjanjikan bahwa itu akan membuatku kembali.

Aku bekerja lagi, mengurus administrasi pesanan untuk usaha katering Ratih. Kami kemudian menyewa rumah kecil dekat sekolah anak-anak.

Suatu sore, Ardi datang membawa buku gambar untuk Raka.

Anakku menerimanya, lalu mengambil sebuah amplop dari meja.

Wajah Ardi seketika menegang.

“Ini apa?”

“Undangan pentas sekolah,” jawab Raka. “Aku jadi pembaca cerita.”

Ardi membuka amplop itu perlahan.

“Ayah boleh datang?”

“Boleh. Tapi jangan janji kalau belum pasti.”

Pada hari pertunjukan, Ardi duduk di baris belakang. Ia datang lebih awal dan mematikan ponselnya.

Raka membacakan cerita tentang seekor burung yang membangun sarang baru setelah badai merusak pohonnya.

Aku mendengarkan sambil menggenggam tangan Lila dan Dimas.

Saat pulang, Raka bertanya apakah aku menyukai ceritanya.

“Sangat.”

Ia tersenyum.

“Bagian akhirnya aku ganti, Bu. Burungnya nggak menunggu pohon lama tumbuh lagi.”

Aku menatapnya, lalu mencium keningnya.

Di depan kami, pintu rumah kecil itu terbuka. Ketiga anakku berlari masuk, berebut menceritakan hari mereka.

Kali ini, tak seorang pun perlu mengecilkan suara agar pantas tinggal di rumahnya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang