“Salinan apa yang dimusnahkan, Nadine?”
Pertanyaanku membuat perempuan itu mundur. Arga mengangkat tangan, menyuruhnya diam, tetapi Ayah sudah berbalik menatapnya.
“Jawab.”
Laras mengeluarkan tiga lembar kertas dari map. Ujungnya lembap, sementara bagian tengahnya masih terlindung plastik.
“Rekening penerima uang muka proyek bukan rekening kontraktor yang memenangkan tender,” katanya. “Nama perusahaannya mirip. Hanya berbeda satu kata.”
Aku mengambil lembar pertama. Nilainya delapan belas miliar rupiah.
“Perusahaan siapa?”
Laras menunjuk halaman berikutnya.

“Direkturnya kakak Nadine. Perusahaannya baru berdiri empat bulan dan tidak punya riwayat pekerjaan konstruksi.”
Ayah meraih dokumen itu, membaca dengan dahi berkerut.
Arga langsung menyela, “Mereka mitra pelaksana. Itu pengaturan bisnis biasa.”
“Kalau biasa, kenapa nama penerima diubah setelah kontrak disetujui?” tanyaku.
“Karena waktunya mendesak.”
“Dan kenapa persetujuan Laras harus didapat malam ini?”
Arga tidak menjawab.
Laras tiba-tiba memegang lenganku. Tubuhnya bergoyang sedikit.
“Duduk dulu,” kataku.
Aku membawanya melewati keluarga yang berdiri di pintu. Tidak seorang pun menghalangi. Di ruang makan, Ibu mengambil handuk, tetapi Laras hanya mengucapkan terima kasih tanpa menatapnya.
Arga menyusul kami.
“Kamu sudah puas mempermalukanku?”
Laras mendongak. Bibirnya pucat.
“Aku tadi meminta kamu membaca temuanku. Kamu malah mengambil kunci mobilku dan menyuruh satpam melarangku masuk.”
“Karena kamu mengancam melapor kepada Ayah.”
“Aku bilang aku tidak bisa menyetujui pembayaran sebelum diperiksa.”
Aku menaruh gelas air hangat di hadapannya, lalu menatap Arga.
“Panggil kepala keuangan. Sekarang.”
“Kamu tidak berhak memerintahku.”
“Kalau begitu Ayah yang menelepon.”
Ayah sudah mengeluarkan ponsel.
Untuk pertama kalinya, kakakku tampak kehilangan tempat berpijak.
Sambil menunggu sambungan, Laras membuka laptop. Ia menunjukkan dua versi instruksi pembayaran. Pada versi awal, rekening kontraktor tercantum dengan benar. Pada versi terakhir, rekening diganti, tetapi halaman persetujuan lama tetap digunakan.
Tanda tangan Ayah ada di sana.
Ayah menarik kursi.
“Saya menyetujui kontraktor yang pertama.”
“Halaman persetujuannya dipindahkan,” ujar Laras. “Saya menemukan ketidaksesuaian nomor dokumen saat mencocokkan lampiran.”
Kepala keuangan akhirnya menjawab. Ayah menyalakan pengeras suara.
“Pembayaran proyek Cendana sudah berjalan?”
“Menunggu persetujuan terakhir Bu Laras, Pak. Dijadwalkan untuk hari kerja berikutnya.”
“Tahan sampai pemeriksaan selesai. Saya kirim instruksi tertulis malam ini.”
Arga menunduk, kedua tangannya mengepal.
Nadine mulai menangis.
“Saya tidak tahu uangnya sebesar itu.”
Laras memutar laptop ke arahnya.
“Ini surelmu yang mengirim perubahan rekening.”
“Saya disuruh.”
Arga membentak, “Jangan asal bicara!”
Nadine tersentak. Tasnya jatuh dari pangkuan, tetapi ia tidak memungutnya.
“Bapak bilang dana itu untuk menutup pinjaman sementara. Setelah penjualan unit masuk, uang dikembalikan.”
Ayah perlahan menoleh kepada putranya.
“Pinjaman apa?”
Keheningan kali ini lebih panjang.
Akhirnya Arga duduk.
“Aku memakai uang perusahaan untuk membeli tanah. Kupikir izinnya segera keluar. Ternyata tertahan. Orang yang meminjamiku uang mulai menagih.”
Aku memandangi kakakku, lelaki yang selama ini dianggap paling berhati-hati dalam keluarga.
“Berapa lama?”
“Delapan bulan.”
Laras memejamkan mata.
“Jadi perjalanan dinas ke Surabaya itu?”
Arga tidak menjawab.
“Kamu bilang sedang mencari rumah sakit untuk ibumu yang sakit, Nadine.”
Perempuan itu menangis semakin keras.
Ibu duduk di samping Laras, hendak menyentuh bahunya. Laras bergeser pelan.
“Maaf, Bu. Saya belum bisa.”
Ibu menarik tangannya kembali.
Ayah meminta pengacara perusahaan datang keesokan paginya. Aku mengirimkan dokumen kepada komisaris lain dan meminta pemeriksaan independen. Semua orang yang terlibat diminta mempertahankan pesan serta arsip kerja.
Namun, saat aku menyebut permintaan penghapusan nama Laras dari tiga perusahaan, wajahnya berubah lagi.
“Bukan hanya supaya aku tidak bisa menahan pembayaran,” katanya.
Ia membuka satu dokumen terakhir.
Di sana tercantum rancangan pernyataan bahwa seluruh pemeriksaan pembayaran dilakukan atas tanggung jawabnya sebagai pengurus.
Tanggalnya dibuat mundur.
Aku membaca paragraf itu dua kali.
Mereka hendak mengeluarkan Laras, lalu meninggalkan dokumen yang membuatnya terlihat sebagai pihak yang menyetujui transaksi.
“Siapa yang menyiapkan ini?” tanyaku.
Arga menatap meja.
Laras memandang suaminya lama sekali.
“Lima tahun lalu kamu meninggalkan rumah karena tidak mau membiarkan keluargamu merendahkanku. Malam ini kamu mengusirku karena aku tidak mau membantu menutup kebohonganmu.”
“Laras, aku panik.”
“Aku tahu. Aku melihat pilihanmu ketika panik.”
Menjelang tengah malam, aku mengantarnya ke klinik. Dokter memeriksa kondisinya dan menyarankan istirahat. Setelah itu, atas permintaannya, kami menuju rumah ibunya.
Di perjalanan, Arga menelepon berkali-kali.
Laras membalik ponselnya.
“Kamu tidak perlu membelaku terus,” katanya. “Aku tahu kamu masih marah soal proyekmu.”
“Aku memang marah waktu itu.”
“Sekarang?”
Aku mengembuskan napas.
“Kontraktor yang kamu tolak ternyata meninggalkan dua proyek bermasalah. Aku mengetahuinya enam bulan kemudian.”
Ia menoleh.
“Kenapa tidak pernah bilang?”
“Karena aku malu.”
Untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum kecil.
Pemeriksaan berlangsung berbulan-bulan. Dana delapan belas miliar berhasil ditahan, tetapi transaksi sebelumnya mengungkap kerugian lain. Arga dicopot dari jabatan operasional. Keterlibatannya dan Nadine kemudian diperiksa melalui proses hukum.
Ayah mencoba meminta Laras kembali bekerja sebelum semuanya selesai.
Laras menolak. Ia menyerahkan seluruh temuannya melalui pendamping, mengurus perpisahan, lalu mengambil waktu untuk memulihkan diri.
Aku mengira ia tak akan pernah mau menginjak kantor kami lagi.
Hampir setahun kemudian, ia datang dengan map cokelat baru. Sebuah perusahaan pemeriksa independen mengutusnya mempresentasikan hasil evaluasi tata kelola. Ia sudah bekerja di sana.
Sebelum rapat dimulai, ia menyodorkan sebuah dokumen lama kepadaku.
Proposal proyekku yang pernah ditolaknya.
Di halaman terakhir ada catatan yang dahulu tidak sempat kubaca karena terlalu marah.
Dimas punya gagasan bagus. Perlu pendampingan pemilihan kontraktor, bukan dikeluarkan dari tim.
Aku menatapnya.
“Waktu itu mereka mau mencoretku?”
Laras mengangguk.
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Aku sedang menilai proyekmu. Aku tidak ingin kamu merasa berutang kepadaku.”
Aku terdiam, mengingat malam hujan itu, jaket yang kusampirkan ke bahunya, dan betapa mudahnya aku merasa telah menjadi orang pertama yang membelanya.
Ternyata, jauh sebelum aku membukakan pintu untuknya, Laras sudah pernah memastikan pintuku tidak ditutup.
