Sekretaris Baru Memecatku di Depan Seluruh Karyawan. Lalu, Satu Panggilan di Ruang

“Mulai hari ini, Anda tidak perlu datang lagi ke kantor.”

Suara Citra menghentikan langkahku di depan lift. Sekretaris baru itu menyodorkan amplop putih, cukup tinggi agar karyawan di sekitar resepsionis melihatnya.

“Kartu akses dan laptop harus diserahkan. Barang pribadi Anda sudah kami kemas.”

Di dekat meja kerjaku, sebuah kardus tergeletak di lantai. Bingkai foto ibuku mencuat di antara buku dan cangkir keramik.

Aku menatapnya beberapa detik.

“Siapa yang menyetujui pemberhentian ini?”

“Sudah melalui evaluasi internal, Bu Laras. Posisi penasihat strategi dinilai tidak lagi diperlukan.”

Bagas dari HR buru-buru mendekat.

“Mbak Citra, status beliau harus dikonfirmasi dulu ke bagian hukum.”

“Saya menjalankan arahan direktur utama,” potongnya.

Nama Arman membuatku terdiam.

Tujuh tahun lalu, aku mengangkatnya sebagai manajer penjualan ketika Nawasena masih menyewa kantor kecil di Tebet. Kini dia direktur utama, sementara aku mengurangi keterlibatan harian setelah operasi dan menggunakan jabatan penasihat strategi.

Namun, aku tetap pendiri dan pemegang lima puluh satu persen saham perusahaan.

Kuserahkan kartu akses, lalu kubuka amplopnya. Surat itu menyebutku karyawan kontrak khusus. Nomornya memakai format lama, dengan gambar tanda tangan kepala HR yang tampak buram.

“Aku ingin bertemu kepala HR.”

“Beliau sedang rapat.”

“Kalau begitu, aku akan menunggu.”

Citra melirik jam, lalu memberi isyarat kepada petugas keamanan.

Saat itulah Pak Surya, kepala keuangan, keluar dari ruang rapat.

“Bu Laras, komisaris sudah bergabung. Investor juga sudah menunggu.”

“Beliau sudah diberhentikan,” sela Citra.

Pak Surya berhenti.

“Oleh siapa?”

Citra mengangkat amplop di tanganku seolah itu menjawab semuanya.

Pak Surya justru membukakan pintu.

“Silakan masuk, Bu.”

Dari pengeras suara terdengar sapaan ketua komisaris.

“Laras, akhirnya. Kita belum bisa melanjutkan tanpa pemegang saham mayoritas.”

Wajah Citra berubah.

Tabletnya berbunyi ketika aku melewatinya. Sebuah pesan muncul di layar yang masih menyala.

Pastikan Laras keluar sebelum rapat dimulai. Jangan sampai dia melihat dokumen pengalihan saham.

Pengirimnya Arman.

Aku berhenti. Citra segera mendekap tablet itu, tetapi terlambat.

“Pak Surya, panggil bagian hukum. Jangan ada dokumen yang ditandatangani.”

Di ruang rapat, kuletakkan surat pemberhentian di atas meja.

“Hubungi Arman melalui telepon konferensi.”

Sambungan tersambung setelah dering kelima.

“Rapatnya sudah dimulai?” tanyanya.

“Aku masih di kantor, Man. Dokumen pengalihan saham apa yang tidak boleh kulihat?”

Dua direktur di layar konferensi mendadak pucat. Salah satunya, Hendra, menutup map di depannya.

Arman tidak menjawab.

“Citra mungkin salah memahami instruksiku,” katanya akhirnya.

“Kalau begitu, jelaskan instruksimu.”

“Aku akan menjelaskan setelah kembali.”

“Sekarang.”

Ketua komisaris meminta seluruh peserta tetap berada di sambungan. Pak Surya mengambil berkas presentasi yang telah dibagikan sebelum aku datang.

Di halaman tengah ada susunan pemegang saham baru.

Namaku tercantum dengan kepemilikan tiga puluh dua persen.

Aku membacanya sekali lagi.

“Dari mana angka ini?”

Hendra berdeham.

“Itu simulasi pendanaan. Perusahaan membutuhkan modal ekspansi.”

Di halaman berikutnya terdapat salinan persetujuan yang seolah-olah kutandatangani tiga hari sebelumnya. Isinya menyatakan aku menyetujui penerbitan saham baru dan tidak menggunakan hakku untuk mengambil bagian.

Tanda tangannya mirip milikku.

Terlalu mirip.

Tiga hari sebelumnya, aku bahkan belum menerima rancangan transaksi tersebut.

“Aku tidak pernah menandatangani ini.”

Salah seorang calon investor segera menutup pulpennya.

“Pak Arman, Anda mengatakan seluruh pemegang saham sudah menyetujui.”

“Itu baru draf,” jawab Arman cepat.

Kepala bagian hukum, Bu Ratih, baru saja masuk. Ia membaca dokumen tersebut, kemudian meminta agar rapat dihentikan sementara dan semua berkas diamankan.

Aku menyerahkan surat pemberhentianku kepadanya.

“Periksa ini juga.”

Kepala HR yang datang menyusul langsung menggeleng.

“Saya tidak menerbitkan surat ini.”

Untuk beberapa saat, hanya dengung pendingin ruangan yang terdengar.

Aku ingin berteriak. Sebaliknya, kutekan kedua telapak tangan ke meja agar tidak terlihat gemetar.

“Arman, kembali ke Jakarta. Seluruh akses persetujuanmu akan ditinjau melalui prosedur perusahaan. Pemeriksaan dilakukan pihak independen.”

“Kamu lebih percaya dokumen daripada aku?”

Aku memandang prototipe produk pertama kami yang masih berada di dalam kardus, terlihat dari pintu terbuka.

“Aku sedang memintamu menjelaskan dokumen yang membawa namaku.”

Panggilan itu berakhir tanpa jawaban.

Sore harinya, Citra meminta bertemu dengan didampingi Bu Ratih.

Wajahnya sembap. Kesombongan pagi tadi sudah hilang.

“Saya diberi tahu Ibu ingin keluar dari perusahaan dan sering berubah pikiran,” katanya. “Pak Arman bilang saya harus memastikan prosesnya berjalan.”

“Dengan mempermalukanku di depan karyawan?”

Ia menunduk.

“Saya pikir kalau Ibu marah lalu pergi, tugas saya selesai.”

Ia kemudian menyerahkan percakapan kerjanya melalui proses pemeriksaan resmi. Pesan-pesan itu menunjukkan instruksi menyiapkan kardus, menggunakan surat lama sebagai contoh, dan meminta keamanan mengantarku keluar sebelum pukul sepuluh.

Namun, temuan paling menyakitkan baru muncul seminggu kemudian.

Pihak yang direncanakan menerima saham baru ternyata memiliki hubungan usaha dengan istri Hendra. Hubungan itu tidak dicantumkan dalam bahan rapat.

Arman dan dua direktur telah menjanjikan kendali operasional kepada pihak tersebut. Persetujuanku yang dipalsukan menjadi jalan untuk membuat transaksi itu tampak sudah disepakati.

Tanda tanganku diambil dari surat ucapan terima kasih kepada karyawan.

Surat yang kutandatangani setelah pulang dari rumah sakit.

Ketika pemeriksa memperlihatkan sumbernya, aku harus meminta waktu beberapa menit sebelum bisa melanjutkan pertemuan.

Arman akhirnya datang bersama pengacaranya.

“Aku yang menjalankan perusahaan saat kamu tidak ada,” katanya. “Aku takut kamu kembali lalu membatalkan semua rencanaku.”

“Karena itu kamu bisa mengajukan rencana. Kamu tidak bisa mengambil persetujuanku.”

Ia terdiam, lalu berbisik bahwa ia sedang terlilit utang.

Aku teringat bantuan biaya sekolah anaknya yang pernah kuberikan. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan ia berhenti melihatku sebagai orang yang bisa diajak bicara.

Transaksi dibatalkan sebelum penandatanganan akhir. Melalui rapat pemegang saham, Arman dan direktur yang terlibat diberhentikan dari jabatan mereka. Temuan pemalsuan diteruskan untuk penanganan hukum.

Citra juga harus mempertanggungjawabkan tindakannya. Keterangannya membantu pemeriksaan, tetapi tidak menghapus perannya.

Sebulan kemudian, aku kembali berdiri di depan seluruh karyawan.

Bagas menyerahkan bingkai foto ibuku yang sudah dibersihkan.

“Maaf kami membiarkan kardus itu di lantai, Bu.”

Kuterima foto tersebut, lalu meminta maaf atas kegaduhan dan ketakutan yang mereka alami. Setelah itu, kami membuka saluran pelaporan yang bisa diakses tanpa melewati atasan langsung.

Di dalam bingkai, ibuku tersenyum di depan kantor pertama Nawasena.

Aku meletakkannya kembali di meja.

Pagi ketika Citra menyuruhku pergi, aku sempat mengira yang paling menyakitkan adalah dipermalukan di perusahaan sendiri.

Ternyata yang paling berat adalah menerima bahwa orang yang kupercayai telah merencanakannya.

Namun, kali ini aku pulang dengan satu kepastian. Perusahaan itu masih bisa diselamatkan, dan aku tidak perlu menyelamatkan kebohongan seseorang untuk melakukannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang