Empat Tahun Gajiku Selalu Sekitar Rp5 Juta, Sampai Direktur Menyebut Angka Sebenarnya

“Reno, tunggu.”

Suaraku membuat langkahnya terhenti di balik pintu kaca. Map cokelat yang dibawanya terlepas sedikit dari genggaman.

Pak Arman keluar menyusulnya.

“Masuk sebentar. Ada dokumen yang perlu kamu jelaskan.”

Reno menatap Bu Maya melalui kaca. Perempuan itu menggeleng sangat pelan.

Gerakan kecil itu menghapus keraguan terakhirku.

Selama empat tahun, Reno selalu menyerahkan slip gajiku dengan senyum ramah. Ia pernah meminjamkan payung, membantuku mengangkat kardus, bahkan membelikan makan ketika aku lembur.

Kini, namanya tercantum sebagai tujuan pemindahan uang yang seharusnya menjadi hakku.

“Apa isi map itu?” tanyaku ketika ia masuk.

Reno meletakkannya di meja.

“Berkas penggajian lama.”

“Kenapa dibawa pergi?”

“Saya mau menyerahkannya kepada Bu Maya.”

Pak Arman membuka map tersebut. Di dalamnya ada beberapa lembar slip gaji dengan namaku, tetapi nominalnya jauh lebih besar daripada slip yang kuterima setiap bulan.

Fajar mengambil salah satunya.

“Ini keluaran sistem pusat.”

Aku mengeluarkan slip bulan lalu dari surelku. Dua dokumen itu diletakkan berdampingan.

Nomor pegawai sama. Periode sama. Bahkan rincian potongannya disusun menyerupai format yang sama.

Namun, jumlah akhirnya berbeda hampir lima belas juta rupiah.

“Jadi yang kamu berikan kepadaku selama ini apa?”

Reno tidak menjawab.

Bu Maya menarik napas keras.

“Kita perlu memeriksa asal dokumennya. Jangan langsung menyimpulkan.”

“Betul,” jawab Pak Arman. “Karena itu pemeriksaan dilanjutkan oleh audit. Mulai sekarang, tidak ada perubahan atau penghapusan data.”

Ia meminta tim teknologi mengamankan arsip dan riwayat akses sesuai prosedur perusahaan. Bu Maya dan Reno diminta menyerahkan penjelasan tertulis. Aku tetap duduk, memandangi kedua slip tersebut.

Tiba-tiba aku teringat satu sore ketika Reno menertawakanku karena menolak ikut makan di restoran.

“Sekali-sekali nikmati gaji sendiri, Nad.”

Waktu itu aku ikut tertawa.

Sekarang, kenangan itu terasa menjijikkan.

Ponselku bergetar. Siska menelepon.

Aku menyalakan pengeras suara setelah memberitahunya siapa saja yang berada di ruangan.

“Nad, jangan begitu. Ini urusan keluarga.”

“Uang gajiku urusan pekerjaanku, Kak.”

Di seberang terdengar isakan.

“Kakak bisa jelaskan kalau kita bertemu.”

“Jelaskan dulu transfer empat juta delapan ratus ribu itu.”

Hening cukup lama.

“Itu memang dari Kakak.”

“Kenapa seluruh gajiku masuk ke rekening lain?”

“Kakak tidak menyangka akan berlangsung selama ini.”

Bu Maya langsung berdiri.

“Siska, jangan bicara sembarangan.”

Pak Arman menoleh tajam.

“Saya minta Ibu tidak menyela.”

Suara Siska berubah ketakutan.

“Kakak diminta menambahkan rekening penampungan. Katanya untuk pengaturan pembayaran sementara.”

“Oleh siapa?”

Siska menangis semakin keras.

Aku memejamkan mata.

“Kak, aku pernah meminjam uangmu untuk membayar pemeriksaan Ibu. Kamu ingat? Aku mencicilnya enam bulan.”

“Aku ingat.”

“Waktu itu kamu sudah tahu aku sebenarnya punya uang?”

Tak ada jawaban selain tangisan.

Aku memutus panggilan setelah meminta semua penjelasan berikutnya disampaikan kepada pemeriksa.

Hari itu aku pulang sebelum sore. Di dalam bus, aku membuka percakapan lama dengan ibu.

Ada foto atap rumah yang bocor. Ada pesan tentang obat yang ditunda dibeli. Ada kalimat yang berkali-kali kukirim.

Bulan depan ya, Bu. Nadia usahakan.

Aku menutup ponsel dan menangis menghadap jendela.

Pemeriksaan berlangsung hampir enam minggu. Tidak semua jawaban datang sekaligus. Ada dokumen yang hilang, keterangan yang berubah, dan rapat yang harus diulang karena catatan pembayaran belum cocok.

Hasilnya mengungkap sesuatu yang bahkan tidak kubayangkan.

Saat aku baru diterima bekerja, gaji resmiku memang masih mendekati jumlah yang kuterima. Beberapa bulan kemudian, penempatanku berubah dan kompensasiku disesuaikan. Pada saat itulah rekening kedua ditambahkan.

Bu Maya menyetujui formulir dengan tanda tangan palsu. Siska memasukkan datanya. Setelah Siska keluar, Reno meneruskan pengiriman slip buatan.

Rekening tersebut milik seorang kerabat Bu Maya. Dokumen bank dan penelusuran resmi kemudian menghubungkan transaksi di dalamnya dengan pembayaran kepada beberapa orang, termasuk Siska dan Reno.

“Kenapa mereka memilih saya?” tanyaku kepada ketua tim audit.

Ia diam sebentar.

“Dari pesan yang ditemukan, mereka menganggap Anda tidak akan mengecek karena mempercayai sepupu sendiri.”

Aku menunduk.

Bukan ketidaktahuan yang paling membuatku malu. Aku teringat pernah membela Bu Maya ketika seorang rekan mengeluhkan administrasi keuangan yang tertutup.

“Beliau pasti punya alasan,” kataku saat itu.

Ternyata memang ada alasan. Hanya saja, aku yang membayarnya.

Perusahaan menyampaikan permintaan maaf tertulis dan mengakui kegagalan pengawasannya. Setelah perhitungan hak serta pajak diselesaikan, kekurangan pembayaran kepadaku mencapai lebih dari enam ratus juta rupiah.

Pembayarannya dilakukan perusahaan tanpa menunggu proses pengembalian dari pihak yang terlibat. Urusan pemalsuan dan aliran dana diteruskan melalui proses hukum.

Aku tidak langsung merasa kaya.

Malam ketika uang itu masuk, aku hanya duduk di tepi kasur kontrakan, memastikan angka di layar tidak berubah.

Lalu aku menelepon ibu.

“Bu, minggu depan kita periksa ke dokter lagi.”

“Uangmu cukup?”

Aku menggigit bibir.

“Sekarang cukup.”

Siska datang beberapa hari kemudian. Aku menemuinya di teras kontrakan, ditemani sahabatku.

Ia membawa amplop.

“Ini uang cicilanmu waktu itu. Kakak kembalikan.”

Aku memandang amplop tersebut.

“Berapa kali Kakak menerima transfer dariku sambil tahu uangku sedang diambil?”

Siska menutup wajah.

“Kakak malu berhenti. Sudah terlanjur.”

Aku tidak mengambil amplop itu. Kuminta ia mencatat pengembalian melalui jalur yang sedang menangani perkara, agar semuanya jelas.

Hubungan kami tidak selesai hanya karena ia menangis.

Dua bulan kemudian, aku masuk ke ruang Pak Arman untuk membahas jabatan baruku. Surat penyesuaian gaji dua puluh dua juta masih tersimpan di sana, menunggu kutandatangani.

Aku membacanya sampai selesai.

“Ada yang ingin ditanyakan?” ujarnya.

“Ada. Saya ingin tahu cara mengakses slip dan data rekening saya sendiri.”

Ia menunjukkan portal yang baru diperbaiki, kemudian memberiku waktu mencobanya.

Saat hendak keluar, aku berhenti.

“Pak, dulu saya mengira bekerja baik berarti tidak banyak bertanya.”

Pak Arman menutup laptopnya.

“Saya menyesal perusahaan ini membuatmu berpikir begitu.”

Sore itu, ibu mengirim foto rumah kami. Tukang sedang mengganti atap, sementara ibu berdiri di halaman sambil tersenyum.

Di bawah foto, ada pesannya.

Sekarang kalau hujan, Ibu tidak perlu memindahkan tempat tidur.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Enam ratus juta rupiah akhirnya memiliki bentuk yang bisa kupahami.

Sebuah kasur yang tetap kering ketika hujan turun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang