Suamiku Pulang Setelah Enam Bulan Pelatihan. Namun, di Bandara, Dia Menggenggam

Aku menyiapkan ayam kecap sejak subuh untuk menyambut suamiku. Namun, setelah enam bulan menunggu, yang pertama kulihat di pintu kedatangan Bandara Soekarno-Hatta justru tangannya menggenggam tangan perempuan lain.

“Arga!”

Dia berhenti, lalu buru-buru melepaskan genggamannya.

Perempuan berjaket krem di sampingnya menunduk. Wajahnya pucat, matanya sembap.

“Nadira? Kamu menjemput?”

Pertanyaan itu lebih menyakitkan daripada yang seharusnya.

“Aku istrimu,” jawabku. “Siapa dia?”

“Saya Keisha, Mbak.”

“Teman pelatihan?”

Arga menyela sebelum perempuan itu menjawab.

“Kita bicara di rumah.”

Kemudian dia mengatakan Keisha akan tinggal bersama kami beberapa hari. Katanya, perempuan itu membutuhkan tempat aman.

Aku menatap koper mereka bergantian.

“Kamu sudah memutuskan tanpa bertanya kepadaku?”

“Nanti kamu akan mengerti.”

Sepanjang perjalanan menuju rumah kami di Depok, aku hanya mendengar navigasi. Dari kaca spion, kulihat Keisha beberapa kali hendak bicara, tetapi Arga selalu menggeleng.

Di rumah, suamiku terdiam melihat makanan dan kue kecil bertuliskan Selamat Pulang.

Aku meletakkan kunci mobil.

“Sekarang jelaskan.”

Arga bercerita tentang penyalahgunaan dana di tempat pelatihan. Keisha menemukan bukti, mendapat ancaman, lalu meminta bantuannya. Genggaman di bandara, katanya, karena Keisha hampir mengalami serangan panik.

“Aku bisa memahami orang membutuhkan pertolongan,” kataku. “Aku tidak memahami kenapa suamiku menyembunyikan semuanya.”

Keisha menangis.

“Mbak berhak tahu, Mas.”

“Jangan sekarang,” kata Arga.

Namun, perempuan itu sudah mengeluarkan amplop kusut dari tasnya.

Di dalamnya ada surat pengunduran diri Arga dari pelatihan, bertanggal hampir dua bulan lalu, serta pemesanan apartemen dengan dua nama penghuni.

Arga Pratama dan Keisha Ramadhani.

Tanganku dingin.

“Selama dua bulan kamu bilang masih di asrama.”

“Nadira, aku bisa menjelaskan.”

Keisha meletakkan selembar dokumen lain di meja.

Namaku tercetak di bawah transaksi senilai tiga ratus delapan puluh juta rupiah. Di sampingnya ada tanda tangan yang menyerupai milikku.

“Apa ini?”

Tak seorang pun segera menjawab.

Aku menunjuk kursi di depan mereka.

“Duduk. Kali ini, jangan saling memberi isyarat.”

Arga menunduk.

“Damar menawarkan pekerjaan tambahan.”

Damar adalah sepupunya. Tahun lalu, dia pernah meminta studio tempatku bekerja membuat proposal identitas visual. Aku mengirim contoh portofolio dan penawaran, tetapi proyeknya tidak pernah berlanjut.

“Dia butuh vendor materi pelatihan,” lanjut Arga. “Katanya hanya perlu nama penanggung jawab sementara.”

“Lalu kamu memberikan namaku?”

“Aku punya salinan KTP-mu. Damar bilang administrasinya akan diganti setelah vendor sebenarnya siap.”

Aku memandang dokumen itu. Alamat rumah kami digunakan sebagai alamat usaha. Nama penyedianya menyerupai nama studio tempatku bekerja.

“Uangnya masuk ke mana?”

Keisha menjawab pelan.

“Rekening usaha yang didaftarkan Pak Damar. Nama penerimanya bukan Mbak, tetapi Mbak dicantumkan sebagai penanggung jawab pekerjaan.”

Ia bekerja sebagai staf administrasi penyelenggara. Saat mencocokkan pembayaran dengan hasil kegiatan, ia menemukan tagihan materi yang tidak pernah diproduksi.

Arga mengetahui penggunaan namaku dua bulan lalu, ketika Keisha meminta konfirmasi.

“Kenapa tidak langsung meneleponku?”

“Aku takut kamu melapor. Damar janji mengembalikan uangnya.”

“Jadi kamu memberinya dua bulan.”

Arga mengangguk.

Ia keluar dari pelatihan dengan alasan keluarga, lalu membantu Damar memperbaiki berkas. Baru belakangan ia sadar beberapa dokumen tambahan justru membuat seolah-olah aku menyetujui transaksi tersebut.

Keisha menolak memasukkannya ke arsip.

Tiga minggu lalu, ancaman mulai datang.

“Tempat tinggal kami berbeda unit, Mbak,” katanya sambil membuka bukti percakapan pengelola apartemen. “Pemesanan dilakukan sekaligus. Saya pindah setelah alamat kos saya diketahui.”

Aku membaca nomor unit yang berbeda. Sedikit tekanan di dadaku mengendur, tetapi kemarahanku kepada Arga tetap utuh.

“Kenapa kalian pulang bersama?”

“Besok ada pertemuan dengan penasihat hukum penyelenggara di Jakarta,” jawab Keisha. “Saya pikir Mbak sudah diberi tahu.”

Aku menatap suamiku.

Dia tak sanggup membalas.

Malam itu, aku meminta kakakku datang. Keisha menghubungi pendampingnya dan mengatur penginapan lain. Aku tidak akan mengusir orang yang ketakutan ke jalan, tetapi rumahku juga tidak boleh kembali menjadi tempat keputusan dibuat tanpa persetujuanku.

Arga tidur di kamar tamu.

Aku duduk di depan ayam kecap yang sudah dingin, membaca pesan-pesan lama.

Sedang evaluasi, nanti kutelepon.

Ponsel harus dititipkan malam ini.

Sebentar lagi selesai, tunggu aku pulang.

Kebohongan itu tersusun rapi di antara foto makan siang dan pertanyaan apakah aku sudah tidur.

Keesokan pagi, aku datang bersama kakakku menemui penasihat hukum. Kuserahkan surel penawaran asli dari studio, contoh tanda tanganku, dan bukti bahwa aku tidak pernah menerima pembayaran tersebut.

Atasanku membantu menyiapkan keterangan mengenai proyek yang tidak pernah dikerjakan studio kami.

Pemeriksaan berlangsung berminggu-minggu. Aku harus menjawab pertanyaan, menyerahkan dokumen, dan menghadapi rasa takut setiap nomor asing menelepon.

Arga akhirnya memberikan seluruh percakapannya dengan Damar.

Dari sana muncul sesuatu yang belum dia ceritakan.

Ada transfer dua puluh lima juta rupiah ke rekeningnya, sehari setelah dokumen pertama dikirim.

Aku meminta penjelasan ketika kami bertemu dengan pendamping hukum.

“Katamu hanya membantu administrasi.”

“Damar menyebutnya komisi.”

“Kamu menerima uang untuk memberikan identitasku?”

Arga menangis.

“Aku pikir itu pekerjaan sungguhan.”

Aku menunggu sampai ia tenang, lalu bertanya sekali lagi.

“Kenapa bagian ini tidak kamu ceritakan di rumah?”

Ia tidak punya jawaban.

Itulah saat harapanku habis. Bahkan setelah semua terbongkar, dia masih memilih berapa banyak kebenaran yang boleh kuterima.

Bukti yang terkumpul menunjukkan identitasku digunakan tanpa persetujuan. Penanganan terhadap Damar dan pihak yang terlibat berlanjut. Arga pun harus mempertanggungjawabkan perannya.

Aku mengajukan perceraian beberapa minggu kemudian.

Saat mengambil pakaiannya, dia berdiri lama di dekat meja makan.

“Tidak pernah ada hubungan antara aku dan Keisha,” katanya.

“Aku percaya.”

Dia mengangkat wajah, seolah menemukan celah untuk kembali.

Namun, aku melanjutkan.

“Kamu tetap membiarkanku menunggu di rumah sementara namaku dipakai untuk menutupi perbuatan kalian.”

Setelah dia pergi, Keisha mengirim pesan. Ia diterima bekerja di tempat baru dan ingin mengembalikan biaya penginapan yang sempat kubantu.

Kukatakan dia boleh mencicil setelah keadaan membaik.

Lalu kubuka kalender di ponsel. Pengingat kepulangan Arga masih tersimpan, lengkap dengan daftar belanja dan catatan untuk membeli lilin kue.

Kuhapus pengingat itu.

Enam bulan aku menghitung hari sampai suamiku pulang. Ternyata, yang perlu kupelajari setelahnya adalah membangun kehidupan yang tidak lagi bergantung pada janji kepulangannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang