Pesan Selma membuat tanganku berhenti di atas tombol kunci mobil.
Jangan pulang sendirian.
Aku memandang rumah tanggaku selama delapan tahun melalui kaca depan. Arga masih berdiri di dekat lobi, sementara Selma menjauh darinya sambil mengetik.

Aku membalas.
Kenapa?
Jawabannya datang beberapa detik kemudian.
Dia bilang kamu sudah setuju menjual rumah. Pembeli akan datang malam ini.
Aku langsung menelepon kakakku, Ratih.
“Aku butuh ditemani. Sekarang.”
Mendengar suaraku, ia tidak bertanya panjang. Kami sepakat bertemu di bank. Aku meninggalkan kompleks apartemen tanpa menunggu Arga menemukan mobilku.
Di perjalanan, ponselku terus berdering. Aku membiarkannya.
Ratih sudah menunggu ketika aku tiba. Begitu melihat wajahnya, air mataku tumpah.
“Dia mau mengambil semuanya, Kak.”
Ratih memelukku, lalu berkata pelan, “Kita periksa satu-satu. Kamu tidak perlu menghadapi dia hari ini.”
Dimas menerima pengaduanku bersama atasannya. Aku memberikan pernyataan bahwa permohonan perubahan nomor telepon bukan dariku. Mereka mencatatnya dan menjelaskan langkah pengamanan yang bisa dilakukan atas rekeningku sendiri.
Setelah itu, Ratih menghubungi seorang advokat bernama Bu Intan.
Kami bertemu di kantornya sore itu.
“Jangan menandatangani apa pun,” katanya setelah mendengar ceritaku. “Termasuk dokumen yang disebut sekadar pembatalan atau koreksi. Kita perlu melihat berkas aslinya.”
Aku menunjukkan pesan Selma.
Bu Intan membacanya dua kali.
“Apakah Anda bersedia meminta dia mengirim bukti, tanpa bertemu sendirian?”
Aku mengangguk.
Selma membalas dengan foto beberapa halaman dokumen. Ada rancangan jual beli rumah, perjanjian pengelolaan dana, dan surat kuasa yang mencantumkan namaku.
Di bagian bawah surat kuasa itu terdapat tanda tanganku.
Hampir sama, tetapi lengkung huruf terakhirnya keliru.
Aku menutup mulut.
“Aku tidak pernah menandatangani ini.”
Bu Intan menyimpan salinan pesan tersebut.
“Siapa yang menyiapkannya?”
Selma meminta menelepon.
Suaranya terdengar gemetar ketika sambungan tersambung.
“Saya pikir kalian sedang berpisah.”
Aku menggenggam ujung kursi.
“Lalu itu membuatmu boleh mengganti nomor telepon rekeningku dengan nomormu?”
Tidak ada jawaban.
“Kamu tahu deposito itu atas namaku.”
“Saya tahu.”
Jawaban pendek itu lebih menyakitkan daripada semua pembelaannya.
Bu Intan memperkenalkan diri, lalu meminta Selma menjelaskan tanpa menyela.
Menurut Selma, Arga memiliki utang kepada seorang investor properti. Ia memakai dana usaha furnitur untuk membeli beberapa unit apartemen yang dijanjikan bisa dijual kembali dengan cepat. Penjualannya macet, sementara kewajiban kepada pemasok terus berjalan.
“Empat ratus delapan puluh juta itu untuk apa?” tanyaku.
“Menutup pembayaran yang jatuh tempo besok. Kalau tidak, investor akan meminta pengembalian seluruh modal dan membuka catatan transaksinya kepada mitra usaha.”
“Jadi bukan cabang furnitur?”
“Tidak.”
Aku menunduk. Ayahku dulu menyisihkan uang warisan itu sambil berpesan agar aku mempunyai pegangan sendiri.
Pagi tadi, aku hampir menyerahkannya dengan menekan satu tombol.
“Kenapa rumah kami ikut dijual?”
Selma menarik napas tersendat.
“Karena uang deposito tidak cukup.”
Ratih meraih tanganku.
“Kenapa kamu baru bicara sekarang?” tanyanya.
Selma diam cukup lama.
“Pria yang bertemu kami tadi meminta saya menandatangani pernyataan bahwa saya sudah bertemu langsung dengan Bu Naya dan menyaksikan persetujuannya. Saya menolak. Lalu Arga marah. Saya baru sadar dia akan membuat saya ikut menanggung semuanya.”
Aku memejamkan mata.
Ia memperingatkanku ketika keselamatannya sendiri mulai terancam. Meski demikian, peringatannya tetap menyelamatkan rumahku.
Keduanya bisa benar pada saat yang sama.
Bu Intan meminta Selma mempertahankan semua percakapan dan bersedia memberikan keterangan resmi. Setelah telepon ditutup, ia membantuku menghubungi kantor yang namanya tercantum pada dokumen.
Keterangan mereka membuatku sedikit bisa bernapas. Berkas masih berupa rancangan. Pertemuan malam itu dimaksudkan untuk memeriksa dokumen serta memastikan persetujuanku sebelum pembicaraan dilanjutkan.
Arga sudah mengatakan aku akan hadir.
Kami menyampaikan secara tertulis bahwa aku tidak pernah memberikan persetujuan dan meminta proses dihentikan sambil dokumennya diperiksa.
Menjelang malam, aku pergi ke rumah bersama Ratih dan Bu Intan. Satpam kompleks mengetahui kedatangan kami. Aku ingin mengambil dokumen asli dan beberapa pakaian.
Arga menunggu di ruang tamu.
“Kenapa membawa pengacara?”
Aku tidak duduk.
“Di mana sertifikat rumah?”
“Kamu sekarang percaya orang lain daripada suamimu?”
“Di mana?”
Ia menatap Bu Intan, lalu menunjuk ruang kerja.
Ratih menemaniku masuk. Di laci yang biasa menyimpan dokumen keluarga, beberapa map sudah kosong. Sertifikat rumah berada di dalam tas kerja Arga bersama salinan KTP-ku.
Di bawahnya ada amplop putih.
Namaku tertulis di depan.
Aku membukanya.
Surat itu dimulai dengan kalimat bahwa perkawinan kami sudah lama tidak bisa dipertahankan. Arga meminta aku menerima perpisahan dengan tenang.
Tanggalnya besok.
Tanganku gemetar saat membawa surat itu ke ruang tamu.
“Kamu sudah menulis perpisahan kita sebelum meminta uangku?”
Wajahnya berubah.
“Naya, dengarkan dulu.”
“Setelah uangnya masuk, kamu mau pergi?”
“Aku berencana menyelesaikan masalah keuangan dulu. Aku tidak ingin meninggalkanmu dengan kekacauan.”
Aku tertawa, tetapi suaranya pecah.
“Dengan menghabiskan tabunganku dan menjual rumahku?”
Arga akhirnya menangis.
Ia bercerita tentang ketakutan, kerugian, dan keputusan yang terus ditundanya. Ia mengaku merasa gagal karena usahaku justru berkembang ketika bisnisnya merosot.
Aku mendengarkan sampai selesai.
Lalu aku mengambil tas.
“Kamu boleh merasa gagal, Arga. Kamu tetap tidak berhak memakai namaku untuk menyelamatkan dirimu.”
Aku menginap di rumah Ratih malam itu.
Bulan-bulan berikutnya tidak mudah. Ada pemeriksaan dokumen, pengaduan yang harus dilengkapi, serta proses perpisahan yang melelahkan. Selma memberikan keterangannya, termasuk bagian yang menunjukkan keterlibatannya sendiri.
Aku tidak lagi menemuinya setelah itu.
Deposito tetap utuh. Penjualan rumah tidak berjalan. Sebagian uang yang semula hendak kutransfer kemudian kupakai memperluas dapur katering dan membeli kendaraan pengantaran.
Pada hari pesanan besar pertama berangkat, aku mampir ke bank.
Dimas sedang melayani nasabah lain. Aku menunggu sampai ia selesai, lalu menyerahkan sekotak makan siang kepada petugas penerima.
“Untuk Pak Dimas. Tolong bilang terima kasih.”
Sebelum keluar, aku membuka ponsel dan melihat pesan pertamanya sekali lagi.
Jangan pergi dulu.
Hari itu aku akhirnya memahami betapa dekatnya aku dengan kehilangan semuanya.
Seseorang memintaku berhenti selama beberapa menit.
Jeda itulah yang memberiku kesempatan untuk melanjutkan hidup dengan keputusan sendiri.
