Mantan Suamiku Mengundangku ke Pesta Pertunangannya untuk Mempermalukanku,

“Jangan sentuh putriku.”

Kalimat itu keluar sebelum Arman sempat meraih map di tangan Alya. Aku menarik putriku ke sampingku, lalu menyerahkan ponsel kepada petugas acara yang berdiri paling dekat.

“Tolong panggil manajer gedung. Kami perlu ruangan yang tenang.”

Arman mendekat, berusaha tersenyum kepada para tamu.

“Ini hanya kesalahpahaman keluarga.”

“Kalau begitu, kamu bisa menjelaskannya tanpa mengambil barang kami.”

Celine menurunkan mikrofon. Wajahnya pucat, tetapi suaranya tegas.

“Aku juga ingin mendengar.”

Kami dipersilakan masuk ke ruang tunggu di belakang panggung. Lina hendak mengikuti, tetapi Celine menahannya.

“Beri mereka ruang.”

Begitu pintu tertutup, Arman menunjuk Alya.

“Kamu puas merusak acara Ayah?”

Putriku langsung menunduk.

Aku berdiri di depannya.

“Dia tiga belas tahun. Kalau ada yang harus kamu jawab, jawab kepadaku.”

Arman mengusap wajah, kemudian mengulurkan tangan.

“Berikan dokumennya. Aku harus melihat lengkap.”

“Kamu sudah melihatnya.”

Aku duduk di samping Alya. Jemarinya dingin.

“Maaf, Bu,” bisiknya. “Aku kira Ayah akan berhenti menertawakan Ibu kalau melihat surat itu.”

Dadaku terasa diremas.

“Kamu tidak perlu melindungi Ibu seperti ini. Sekarang biar Ibu yang mengurus.”

Kubuka foto halaman terakhir. Aset yang tercantum adalah sebuah bangunan gudang di pinggiran Bekasi. Alamatnya kukenal.

Gudang pertama kami.

Dulu bangunannya hanya bengkel kosong dengan atap bocor. Aku menjual tanah peninggalan ibu untuk membayar uang mukanya. Arman mengurus pembelian, lalu mengatakan sertifikatnya disimpan bersama berkas usaha.

Ketika kami bercerai, ia menyebut gudang itu sudah dijual untuk menutup utang.

“Kamu bilang tempat ini sudah tidak ada,” kataku.

Arman menarik kursi.

“Bangunannya sudah banyak berubah. Nilainya sekarang berasal dari investasi perusahaan.”

“Itu belum menjawab pertanyaanku.”

Celine membaca lembar yang dipegangnya.

“Gudang ini sedang dimasukkan sebagai bagian dari rencana kerja sama baru.”

Ia memandang Arman.

“Kepada ayahku, kamu bilang perusahaan punya seluruh hak atas aset itu.”

Aku menoleh kepadanya.

Ternyata pesta malam ini bukan hanya perayaan pertunangan. Keluarga Celine sedang mempertimbangkan pendanaan untuk ekspansi usaha Arman.

Arman mengangkat kedua tangan.

“Semuanya bisa dibereskan. Maya, kamu akan mendapat bagian.”

“Bagian dari apa yang selama ini kamu sembunyikan?”

Ia membungkuk ke arahku.

“Jangan bicara seolah kamu mengerti urusan bisnis.”

Dahulu kalimat itu selalu membuatku diam. Malam ini, aku justru mengeluarkan kartu nama dari dompet.

Seorang pelanggan katering pernah memberikannya setelah mengetahui riwayat perceraianku. Namanya Bu Ratih, advokat yang beberapa kali menawarkan konsultasi.

Aku belum pernah berani menelepon.

Sekarang kulakukan.

Bu Ratih mendengarkan penjelasanku, lalu meminta foto dokumen dikirim. Ia mengingatkanku untuk menyimpan berkas, tidak menandatangani apa pun, dan memindahkan pembicaraan berikutnya ke pertemuan resmi.

Arman mendengar semuanya.

“Harus sejauh itu?”

Aku memasukkan map merah ke dalam tas.

“Aku sudah pernah percaya tanpa membaca. Kali ini aku akan membaca dengan bantuan orang yang mengerti.”

Celine berdiri di dekat pintu.

“Aku minta maaf atas ucapan di panggung tadi. Aku tidak tahu dia akan melakukan itu.”

Aku mengangguk, belum sanggup memberi jawaban lain.

Di luar, pembawa acara mengumumkan jeda. Kami meninggalkan gedung melalui pintu samping, ditemani seorang petugas.

Di mobil, Alya akhirnya menangis.

“Aku takut Ayah membenci aku.”

Aku mematikan mesin dan memeluknya.

“Kamu tidak bertanggung jawab atas perbuatan Ayah. Juga tidak atas perasaannya setelah ketahuan.”

Malam itu kami tidur di kamar yang sama. Berkali-kali Alya terbangun, memastikan aku masih di sampingnya.

Keesokan harinya, aku menemui Bu Ratih.

Ia tidak menjanjikan bahwa map merah akan membuat semuanya selesai. Beberapa kertas hanya salinan, dan ada banyak hal yang harus diperiksa.

Namun, dokumen itu memberi kami tempat untuk mulai mencari.

Dalam beberapa minggu, berkas pembelian lama berhasil ditemukan. Catatan pembayaran cocok dengan rekeningku. Gudang itu memang masih tercatat atas namaku, sementara perusahaan Arman menggunakannya untuk kegiatan usaha.

Surat persetujuan transaksi setelah perceraian juga diperiksa. Ada perbedaan pada tanda tangan, dan aku memberikan pernyataan bahwa tidak pernah menyetujuinya.

Perlahan, kebohongan Arman terurai melalui dokumen yang dahulu dianggapnya tidak akan pernah kubuka.

Lalu muncul kejutan yang paling menyakitkan.

Di antara catatan perusahaan terdapat pembayaran rutin untuk penggunaan gudang. Uang itu tidak pernah masuk kepadaku, meskipun kuitansinya mencantumkan namaku sebagai penerima.

Pada salah satu tanggal pembayaran, aku sedang meminjam uang kepada tetangga untuk membeli seragam Alya.

Aku menatap tanggal itu sampai angkanya kabur.

Bu Ratih menggeser kotak tisu mendekat.

“Kita masukkan dalam pemeriksaan.”

Aku mengangguk. Untuk sekali ini, kesedihanku tidak berhenti sebagai air mata. Ada sesuatu yang bisa dikerjakan sesudahnya.

Prosesnya berlangsung berbulan-bulan. Rencana pendanaan keluarga Celine ditangguhkan, sementara persoalan dokumen serta hak atasku ditangani melalui jalur resmi. Penggunaan gudang akhirnya diatur kembali secara tertulis, disertai penyelesaian pembayaran yang berhasil kami buktikan.

Sebagian persoalan masih berjalan ketika aku menerima pembayaran pertama.

Aku tidak membeli mobil atau rumah besar.

Aku menyewa dapur yang lebih layak, membeli lemari pembeku, dan mempekerjakan dua ibu dari lingkungan kami.

Arman menghubungiku pada hari papan nama katering dipasang.

“Seharusnya kita bisa membicarakan ini baik-baik sejak dulu.”

Aku memandang pekerja yang sedang mengencangkan baut.

“Aku pernah mencoba. Kamu bilang aku tidak mengerti.”

Ia diam.

Sebelum menutup telepon, ia meminta bertemu Alya. Aku mengatakan pertemuan harus mempertimbangkan kenyamanan putri kami. Aku tidak akan kembali membujuknya tersenyum hanya agar ayahnya merasa dimaafkan.

Sore itu, Alya datang membawa map merah.

“Aku mau menyimpannya di sini, Bu.”

“Untuk apa?”

Ia mengeluarkan selembar tugas sekolah.

Judulnya tentang orang yang paling dikagumi. Di bawahnya tertulis namaku.

Aku mulai membaca, lalu berhenti pada satu kalimat.

Ibuku selalu mengira dia hanya bisa memasak, padahal dahulu dia membantu membangun sebuah perusahaan.

“Kamu menemukan surat-surat itu waktu mencari bahan tugas ini?”

Alya mengangguk.

“Aku mau membuktikan Ibu pernah melakukan sesuatu yang hebat.”

Aku memeluknya, menahan tangis di rambutnya.

Dari dapur terdengar suara pegawai memanggilku untuk memeriksa pesanan. Alya menoleh, lalu tersenyum.

“Ternyata aku tidak perlu mencari sejauh itu, ya, Bu.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang