
“Ayah biologis.”
Kubaca dua kata itu dari balik bahu suamiku, lalu kuletakkan hasil USG di atas map rumah sakit yang terbuka.
Dimas tersentak. Nadira menarik tangannya dari meja, sementara ibu mertuaku berdiri begitu cepat hingga cangkirnya terguling.
“Sekarang jelaskan,” kataku. “Jangan menunggu bayinya lahir.”
Sehari sebelumnya, aku masih percaya kekecewaan terbesarku adalah menjalani pemeriksaan kehamilan sendirian.
Kami menunggu anak ini selama tiga tahun. Ketika akhirnya dokter memperlihatkan aktivitas jantungnya, kursi di sampingku kosong. Dimas membatalkan janji karena Nadira, mantan tunangannya, menelepon sambil menangis.
Katanya, Nadira mengalami kontraksi palsu dan suaminya sedang di luar kota.
Aku berusaha memahami. Bahkan setelah melihat unggahan Nadira yang berterima kasih karena Dimas meninggalkan segala urusannya.
Malamnya, Dimas pulang hampir pukul sebelas. Aku menyerahkan amplop berisi dokumen penataan aset yang telah dibahas bersama pengacara.
Dua hari sebelumnya, aku mulai memeriksa keuangan kami setelah menemukan penarikan besar yang tak pernah dijelaskannya.
“Ada kesepakatan pemisahan pengelolaan aset juga,” kataku. “Baca dulu. Ini baru rancangan untuk diproses lebih lanjut.”
Namun, ponselnya bergetar. Nama Nadira muncul.
“Bagian mana yang harus kutandatangani?”
“Kamu sungguh tidak mau membaca?”
“Aku percaya kepadamu.”
Dia membubuhkan tiga tanda tangan, lalu pergi mengantarkan obat Nadira yang tertinggal di mobil.
Kini, di ruang keluarga kami sendiri, aku akhirnya memahami betapa mahalnya kepercayaan yang diberikan kepada orang yang salah.
“Kirana, duduk dulu,” kata Dimas.
“Aku bisa berdiri. Jawab pertanyaanku.”
Ibu mertuaku mendekat.
“Kamu sedang hamil. Jangan terpancing emosi.”
“Aku sedang meminta penjelasan tentang nama suamiku dalam dokumen ini.”
Nadira mulai menangis.
Dimas menatap ibunya, kemudian mengusap wajah.
“Aku dan Nadira pernah bertemu. Sekitar tujuh bulan lalu.”
Ruangan terasa menyempit.
“Tujuh bulan lalu kamu bilang mengikuti pertemuan distributor di Malang.”
Dia mengangguk tanpa mengangkat wajah.
“Sekali?”
Tak ada jawaban.
Aku menunggu.
“Beberapa kali,” katanya akhirnya.
Aku meraih sandaran kursi. Nadira mengandung tujuh bulan. Selama enam bulan terakhir, aku menyuguhkan kopi untuknya ketika ia bertamu, menanyakan kesehatannya, bahkan mengirim hadiah setelah mendengar kabar kehamilannya.
“Kamu tahu aku sedang menjalani program hamil,” kataku kepada Dimas. “Kamu mengantarku mengambil obat sebelum berangkat ke Malang.”
Air matanya jatuh.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa?”
“Aku tidak punya alasan yang bisa membenarkannya.”
Untuk pertama kalinya, dia mengatakan sesuatu yang tidak perlu kubantah.
Nadira menyeka pipi.
“Raka sudah tahu. Kami sudah berpisah.”
Raka, suami yang katanya sedang bekerja di luar kota.
“Jadi kemarin itu juga bohong?”
Dimas mencoba mendekat. Aku mengangkat tangan.
“Jangan sentuh aku.”
Aku memotret halaman dokumen tersebut, mengambil hasil USG, lalu berjalan ke kamar. Di belakangku, ibu mertuaku mengatakan persoalan itu seharusnya dibicarakan baik-baik.
Aku menutup pintu dan menelepon kakakku.
“Jemput aku, Mbak.”
Suaraku pecah tepat setelah kalimat itu.
Malam itu aku tidur di rumah kakakku di Sidoarjo. Dimas menelepon belasan kali. Pesannya berubah dari permintaan maaf menjadi permohonan agar aku memikirkan anak kami.
Aku meletakkan ponsel terbalik.
Justru karena memikirkan anakku, aku membutuhkan tempat untuk bernapas.
Keesokan paginya, pengacaraku, Bu Ratih, menjelaskan bahwa tanda tangan Dimas tidak otomatis memindahkan kepemilikan atau menyelesaikan persoalan perkawinan kami. Ada pemeriksaan dan proses lanjutan yang harus dijalani.
“Akan kita tata satu per satu,” katanya.
Aku mengangguk. Aku tidak mencari cara menghukumnya lewat selembar kertas. Aku ingin tahu apa yang masih bisa kulindungi.
Pemeriksaan berkas kemudian menunjukkan sesuatu yang membuatku kembali kehilangan tidur.
Dimas mengelola pembelian untuk usaha katering milik keluargaku. Selama setahun terakhir, sejumlah pembayaran kepada pemasok ternyata masuk ke rekening usaha yang terhubung dengan keluarga Nadira.
Ketika diminta bukti pengiriman, beberapa tagihan tidak memiliki barang pendamping.
Jumlahnya hampir dua ratus juta rupiah.
Aku mengira pengkhianatannya hanya menyentuh pernikahan kami. Ternyata, uang untuk dapur produksi ibuku juga dipakai menopang kehidupan yang ia sembunyikan.
Dimas datang bersama ibunya tiga hari kemudian.
“Aku akan menggantinya,” katanya.
“Dari mana?”
“Aku jual mobil.”
Ibu mertuaku menoleh tajam.
“Mobil itu juga untuk mengantar Nadira nanti.”
Dimas memandang ibunya. Untuk beberapa detik, tak seorang pun bicara.
Aku hampir tertawa, tetapi yang keluar hanya napas panjang.
“Silakan kalian atur kebutuhan kalian di tempat lain. Mulai sekarang, pembicaraan tentang usaha melalui Bu Ratih.”
“Kirana, jangan sampai keluarga besar tahu,” ujar ibu mertuaku.
“Ibu sudah tahu berapa lama?”
Ia memalingkan wajah.
Dimas menjawab dengan suara serak.
“Sejak Nadira hamil tiga bulan.”
Aku memandangi perempuan yang selama ini kutemani berobat, kubawakan makanan, dan kupanggil Ibu.
Ia telah memelukku saat aku menangis karena hasil pemeriksaan kesuburan, sambil menyimpan rahasia anak suamiku dengan perempuan lain.
“Pertemuan hari ini selesai,” kataku.
Proses setelahnya tidak cepat. Aku tetap bekerja, menjalani pemeriksaan, dan mengurus dokumen dengan bantuan kakakku. Ada hari-hari ketika aku menangis di parkiran karena mencium aroma parfum yang mirip milik Dimas.
Ada pula pagi ketika aku bisa menghabiskan sarapan tanpa memeriksa ponsel.
Aku mengajukan perceraian. Urusan dana usaha diperiksa terpisah, dan Dimas mulai mengembalikan uang setelah menjual mobilnya.
Ketika kandunganku memasuki bulan keenam, sebuah pesan datang dari nomor yang tidak kukenal.
Raka.
Ia meminta izin mengirimkan salinan percakapan yang berkaitan dengan dana usaha. Di antara berkas itu, ada pesan Dimas kepada Nadira yang dikirim pada hari hasil tes kehamilanku positif.
Kirana hamil. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya sekarang.
Aku menatap tanggalnya lama sekali.
Dimas sudah mengetahui kedua kehamilan itu ketika memelukku dan berjanji akan menjaga kami.
Kuhapus rencana untuk memberinya satu kesempatan terakhir.
Beberapa bulan kemudian, putriku lahir. Kakakku menggenggam tanganku, dan ibuku menunggu di luar ruang bersalin.
Dimas datang sesuai pengaturan yang telah kami sepakati. Ketika melihat bayi kami, ia menangis.
Aku membiarkannya duduk di dekat ranjang.
Namun, saat ia memintaku pulang, jawabanku tidak lagi gemetar.
“Aku sudah pulang, Dimas.”
Di sampingku, putriku menggenggam ujung jariku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa sedang menunggu seseorang memilih kami.
