Selama tujuh belas tahun, Ayah menyimpan gelang rumah sakitku di antara surat-surat mendiang istrinya. Ketika tulisan pada gelang itu akhirnya terbaca jelas, nama yang muncul justru nama perempuan lain.
Bayi perempuan Ratih Prameswari.
“Ayah, kenapa bukan nama Ibu?”

Ayah tidak menjawab. Tangannya gemetar saat memungut gelang yang terjatuh dari map kelahiranku.
Kami sedang mencari riwayat medis keluarga setelah pemeriksaan kesehatan sekolah menunjukkan ketidaksesuaian golongan darah. Dokter meminta kami memverifikasi hasilnya, bukan langsung menyimpulkan apa pun.
Namun, gelang itu membawa kami pada pertanyaan yang jauh lebih besar.
Ayah membolak-balik berkas lama. Di antara kuitansi dan surat kepulangan, terselip catatan pemeriksaan ulang identitas bayi.
“Ayah belum pernah membaca ini?”
Ia menggeleng.
“Waktu itu Ibu baru dimakamkan. Ayah hanya ingin membawamu pulang.”
Ibuku, Maya, meninggal setelah melahirkan. Ayah datang sendirian ke rumah sakit, menerima bayi yang diserahkan kepadanya, lalu pulang dengan topi rajut buatan istrinya yang bahkan belum sempat selesai dirapikan.
Bayi itu aku.
Malam pertama, menurut Bu Rini, Ayah memakaikanku tiga lapis baju karena takut aku kedinginan.
“Anaknya menangis karena kepanasan, dia malah hampir menambah selimut,” cerita tetangga kami itu setiap ulang tahunku.
Ayah selalu tertawa paling keras.
Dialah yang belajar mengepang rambut melalui video, menghafal jadwal imunisasi, dan duduk semalaman di sampingku ketika demam. Setiap menerima rapor, ia menyetrika kemeja terbaiknya meskipun kerahnya mulai aus.
Kini, di meja makan yang sama tempat kami biasa membahas sekolah, ia menatapku seperti seseorang yang sedang menunggu kehilangan kedua.
Dua hari kemudian, kami menjalani pemeriksaan DNA.
Penelusuran rumah sakit berlanjut, lalu keluarga Prameswari dihubungi. Beberapa minggu setelahnya, hasil pemeriksaan memastikan aku anak biologis Ratih dan almarhum suaminya. Keisha, putri yang mereka besarkan, adalah anak kandung Ayah dan Maya.
Aku membaca laporan itu sampai huruf-hurufnya kabur.
“Ayah tahu?” tanyaku.
“Tidak.”
“Kalau tahu, Ayah akan menukarkanku?”
Ia menarik napas, tetapi suaranya tetap pecah.
“Ayah akan mencari kebenaran. Tapi Ayah tidak akan berhenti menyayangimu.”
Aku pindah duduk ke sebelahnya.
Baru saat itulah ia menangis.
Telepon Ratih datang sore berikutnya. Ia ingin aku tinggal bersama keluarga kandungku, tetapi menegaskan Keisha harus tetap merasa aman.
“Kami tidak ingin dia kehilangan tempatnya,” katanya.
Ayah memandangku sebelum menjawab.
“Nadira juga tidak boleh diperlakukan seperti tamu yang diminta memahami semua orang.”
Kemudian ia mengangkat salinan laporan rumah sakit.
“Sebelum membicarakan tempat tinggal, kita perlu membahas tanda tangan putra Ibu.”
Nama Arga Prameswari tercantum di bawah catatan kejanggalan identitas bayi pada hari kepulangan kami.
Pertemuan diadakan di rumah sakit dengan pendamping dari kedua keluarga. Aku datang menggenggam tangan Ayah.
Ratih berdiri ketika melihatku. Matanya menyusuri wajahku, lalu berhenti di alisku.
“Kamu mirip ayahmu.”
Aku belum tahu harus memanggilnya apa.
Di sampingnya, Keisha duduk pucat. Kami seumur, tetapi selama ini hidup di dua dunia yang berbeda. Ia mengenakan sepatu mahal; sepatuku baru dilem ulang Ayah seminggu sebelumnya.
Arga datang terakhir. Usianya hampir empat puluh. Ia sudah dewasa ketika kami lahir.
Petugas rumah sakit membacakan arsip yang berhasil ditemukan. Ada ketidaksesuaian gelang dan catatan berat badan. Pemeriksaan ulang disarankan, tetapi keluarga Ratih meminta kepulangan dipercepat.
Arga menandatangani penerimaan penjelasan itu.
“Jadi kamu tahu?” tanya Ratih.
“Tidak tahu pasti.”
“Namun, kamu tahu ada keraguan,” kata Ayah.
Arga menunduk.
Ia mengaku menerima telepon lanjutan beberapa hari kemudian. Saat itu Ratih masih lemah, sedangkan ayahnya sedang menjalani perawatan di kota lain.
“Aku pikir petugas hanya takut disalahkan. Mama yakin bayi yang dibawa pulang memang anaknya.”
“Lalu kamu tidak menyampaikan telepon itu?” tanyaku.
Ia menggeleng.
Ruangan sunyi.
“Aku masih muda. Aku panik.”
Aku menatap lelaki yang telah diberi kesempatan untuk bertanya, sementara seluruh hidup kami bergantung pada keputusan itu.
“Ayahku juga panik,” kataku. “Istrinya baru meninggal. Tapi setiap kali aku sakit, dia tetap meminta bantuan.”
Arga menutup wajah.
Rumah sakit mengakui adanya kegagalan verifikasi dan tindak lanjut. Penanganan pertanggungjawaban serta pembetulan dokumen kemudian dilakukan melalui proses terpisah. Tidak ada penjelasan yang bisa mengembalikan tujuh belas tahun itu dalam satu pertemuan.
Di luar ruangan, Keisha menghampiriku.
“Aku boleh bicara dengan Pak Bima?”
Aku mengangguk.
Ia berdiri di hadapan Ayah, meremas tali tasnya.
“Bagaimana Ibu Maya meninggal?”
Ayah terdiam, lalu mengajaknya duduk.
Aku melihat mereka dari kejauhan. Ketika Ayah menunjukkan foto Maya di ponselnya, Keisha mulai menangis. Ia menyentuh layar itu dengan ujung jari.
Untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa menemukan asal-usul juga bisa berarti mengetahui seseorang telah tiada sebelum sempat dipanggil Ibu.
Ratih mengundangku makan malam seminggu kemudian.
Kamarku sudah disiapkan. Lemari dipenuhi pakaian baru, dan sebuah bingkai kosong menunggu foto keluarga.
Namun, aku mendengar percakapan di lorong.
“Untuk sementara jangan diumumkan,” kata Arga. “Urusan perusahaan bisa ikut ramai.”
Aku masuk sebelum Ratih menjawab.
“Aku datang untuk mengenal kalian. Kalau keberadaanku harus dirahasiakan demi kenyamanan perusahaan, aku belum siap menginap.”
Ratih tampak hendak menahanku, tetapi akhirnya hanya mengangguk.
Hubungan kami tumbuh perlahan setelah itu. Kadang canggung, kadang menyakitkan. Ratih mulai datang ke rumah kami tanpa sopir membawa hadiah besar. Ia belajar bahwa aku tidak suka udang dan selalu memisahkan kacang dari bubur.
Keisha datang lebih sering. Ayah membacakan surat-surat Maya untuk kami berdua, termasuk kalimat yang sejak kecil paling kusukai.
Ibu berharap anaknya tahu bahwa ia layak dicintai tanpa harus menjadi orang lain.
Pada ulang tahun kami yang kedelapan belas, Ayah membuat dua kue. Bagian atasnya miring dan krimnya terlalu manis.
Keisha tertawa sambil menangis.
Ratih duduk di meja kecil kami. Kali ini, tidak ada yang meminta siapa pun menjaga perasaan dengan bersembunyi.
Setelah lilin dipadamkan, aku menyerahkan sebuah bingkai kepada Ayah.
Di dalamnya terpasang gelang rumah sakit yang telah mengubah hidup kami, berdampingan dengan foto Ayah menggendongku memakai topi kelinci.
“Ayah mau menyimpannya lagi?” tanyaku.
Ia mengusap kaca bingkai.
“Kamu yakin?”
Aku memeluknya.
Gelang itu telah menunjukkan siapa yang melahirkanku. Foto di sebelahnya mengingatkanku siapa yang selalu datang setiap kali aku memanggil Ayah.
