Mantan Suamiku Meninggalkanku Saat Aku Hamil, Tujuh Tahun Kemudian Ia Menunggu di

“Jangan jawab di sini.”

Suaraku nyaris habis, tetapi cukup untuk membuat Damar dan ibunya terdiam. Alya mencengkeram ujung kardiganku. Arka sudah berhenti menarik koper.

Aku memasukkan dokumen kembali ke amplop.

“Kalian sudah membuat mereka ketakutan.”

Asistensku, Sinta, akhirnya tiba bersama petugas bandara. Kutitipkan anak-anak kepadanya untuk membeli minuman di kafe yang masih bisa kulihat dari tempatku berdiri.

Setelah mereka menjauh, aku menatap Ratih.

“Saya tidak mau mendengar alasan sekarang. Saya ingin tahu apakah dokumen ini benar.”

Ratih menyeka pipinya.

“Aku hanya ingin melindungi Damar.”

“Dari perempuan yang sedang mengandung anaknya?”

Ia menunduk.

Damar bergerak mendekat, tetapi aku mengangkat tangan.

“Kamu juga jangan merasa sudah terbebas hanya karena menemukan kebohongan orang lain. Kamu sendiri yang mengatakan pernikahan kita sebuah kesalahan.”

Wajahnya menegang. Lalu ia mengangguk.

“Aku ingat.”

“Bagus. Karena aku juga.”

Aku meninggalkan mereka di area kedatangan.

Di mobil, anak-anak duduk lebih tenang daripada biasanya. Setelah beberapa menit, Arka bertanya, “Om tadi ayah kami?”

Aku memandangnya melalui kaca spion.

“Iya.”

Alya menoleh cepat kepada kakaknya, kemudian kembali kepadaku.

“Kenapa Mama kelihatan sedih?”

Aku memilih kata-kata dengan hati-hati.

“Karena ada persoalan lama yang belum selesai. Tapi itu urusan orang dewasa. Kalian tidak melakukan kesalahan apa pun.”

“Apakah kami harus ikut dia?” tanya Arka.

“Tidak. Kalian pulang bersama Mama.”

Baru setelah itu bahunya mengendur.

Malamnya, setelah mereka tidur, aku membuka amplop di meja hotel. Tanggal pada laporan pertama mengembalikanku ke sebuah kamar kontrakan tujuh tahun lalu.

Aku ingat duduk di lantai dengan hasil pemeriksaan di tangan. Damar sudah meminta berpisah. Aku belum berani memberitahunya tentang kehamilan karena ingin memastikan semuanya baik-baik saja terlebih dahulu.

Ketika laporan itu menyatakan kehamilanku tidak berkembang, aku merasa kehilangan dua hal sekaligus.

Seorang dokter di tempat lain menyarankan pemeriksaan ulang. Beberapa hari kemudian, aku mendengar dua detak jantung.

Aku pergi ke Melbourne setelah perceraian selesai, menerima tawaran studi yang hampir kubatalkan demi pernikahan.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Damar.

Aku bersedia menjelaskan semuanya dengan pendamping pilihanmu. Aku tidak akan datang menemui anak-anak tanpa izin.

Kali ini, aku membalas.

Kirimkan asal dokumen dan kronologinya. Kita bertemu setelah aku berkonsultasi.

Tiga hari kemudian, kami duduk di sebuah kantor advokat. Damar datang sendiri. Ratih diminta memberikan keterangan pada pertemuan terpisah.

Dokumen itu ditemukan ketika rumah lama keluarganya dikosongkan. Seorang staf menyerahkan kotak arsip kepada Damar, termasuk kuitansi pembayaran kepada perantara administrasi klinik dan surat-surat dari Nadine.

“Kenapa Nadine menyimpan semuanya?” tanyaku.

“Sebagian suratnya dikirim kepada Ibu. Mereka berselisih soal uang setelah aku membatalkan rencana menikah.”

“Kenapa kamu membatalkannya?”

Damar menatap tangannya.

“Aku menemukan dia berbohong soal beberapa hal. Tapi saat itu aku masih belum tahu tentang kehamilanmu.”

Aku mengangguk. Penjelasan itu tidak mengubah apa yang sudah terjadi.

Pendampingku meminta seluruh berkas diperiksa. Kami menghubungi fasilitas kesehatan melalui jalur resmi dan menelusuri orang-orang yang namanya tercantum. Tidak ada kesimpulan yang kuambil hanya berdasarkan salinan di dalam amplop.

Beberapa minggu kemudian, gambaran yang lebih utuh mulai terlihat.

Ratih mengetahui kehamilanku dari Nadine, yang mendapat informasi melalui seorang kenalan di bagian administrasi. Mereka menggunakan seorang perantara untuk menahan dokumen dan mengirimkan laporan palsu kepadaku.

Catatan pemeriksaan asli masih tersimpan.

Saat aku akhirnya berhadapan dengan Ratih, ia tidak lagi mencoba menyangkal.

“Kalau Damar tahu, dia pasti membatalkan perceraian,” katanya.

Aku menatapnya lama.

“Lalu menurut Ibu, itu membenarkan saya dibuat percaya bahwa anak-anak saya tidak akan lahir?”

“Aku tidak bermaksud sejauh itu.”

“Tapi saya yang menjalani akibatnya.”

Ratih menangis. Dahulu tangisnya selalu membuat semua orang mengalah. Kali ini, aku meminta jeda dan keluar dari ruangan.

Aku gemetar di koridor.

Damar menyusul, berhenti beberapa langkah dariku.

“Aku seharusnya mendengarkanmu dulu.”

“Waktu itu kamu tidak bertanya.”

“Aku tahu.”

Ia tidak mencoba memelukku. Untuk pertama kalinya, jarak yang kubutuhkan benar-benar dihormati.

Pemeriksaan dokumen diteruskan melalui pendampingku. Sementara itu, pembicaraan tentang anak-anak berjalan terpisah. Setelah mendapat penjelasan yang sesuai usia mereka dan berkonsultasi dengan tenaga profesional, aku menyetujui pemeriksaan hubungan biologis melalui prosedur yang disepakati.

Hasilnya tidak mengejutkanku.

Namun, ketika Damar membacanya, tangannya bergetar.

“Aku punya dua anak,” katanya pelan.

“Dua anak yang sudah punya kehidupan,” jawabku. “Kalau ingin masuk ke dalamnya, kamu harus belajar mengenal mereka.”

Pertemuan pertama berlangsung di taman, singkat dan ditemani aku.

Damar membawa hadiah mahal. Arka justru bertanya apakah ia bisa membantu memperbaiki roda koper biru yang macet.

Damar berjongkok di bangku taman, memeriksa rodanya dengan kebingungan. Alya berdiri di sampingnya, memberi petunjuk yang lebih yakin daripada dirinya.

Aku memperhatikan dari beberapa meter.

Tidak ada panggilan Ayah hari itu.

Damar tetap datang pada pertemuan berikutnya.

Sebulan kemudian, ia menghadiri peresmian laboratorium tempatku bekerja. Ia berdiri di belakang para tamu ketika namaku dipanggil untuk memberikan sambutan.

Setelah acara, ia menghampiriku.

“Aku membaca penelitianmu.”

“Yang mana?”

Ia menyebut judulnya dengan terbata, lalu tersenyum malu.

“Aku belum memahami semuanya.”

Percakapan itu membuatku teringat lelaki yang dahulu mengatakan pekerjaanku tidak akan membawaku ke mana-mana.

“Aku ingin mengenalmu lagi,” katanya.

Aku memandang ruang laboratorium di balik kaca.

“Kamu boleh mengenalku sebagai ibu mereka. Untuk hal lain, aku tidak punya janji.”

Ia menerima jawaban itu.

Malamnya, Alya membuka buku gambar di meja makan. Ada empat orang berdiri di dekat sebuah koper biru. Aku, dirinya, Arka, dan Damar.

“Ini keluarga kita?” tanyaku.

“Ini orang-orang yang datang ke taman,” jawabnya ringan.

Aku tersenyum.

Di bawah gambar, Arka menambahkan tulisan dengan pensil.

Om Damar memperbaiki roda. Mama membawa kami pulang.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Selama ini, aku takut kepulangan kami akan membuatku kehilangan kehidupan yang sudah kubangun.

Ternyata anak-anakku tahu persis siapa yang selalu membawa mereka pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang