
Saldo rekeningku tinggal empat ratus dua puluh tujuh ribu enam ratus rupiah ketika undangan wawancara terakhir itu masuk. Pada layar yang sama, pemilik kos mengingatkan bahwa aku harus membayar sebelum Jumat.
Aku seharusnya langsung menerima undangan tersebut.
Namun, nama pendiri Arunika Digital membuat jariku berhenti.
Adrian Mahendra.
Sebelas tahun lalu, aku diam-diam membayar selisih harga makan siangnya di kantin kampus. Setelah wisuda, aku meninggalkan buku berisi pengakuan perasaan, lalu menghilang sebelum mendengar jawabannya.
Kini, perusahaan miliknya mungkin menjadi kesempatan terakhirku bertahan di Jakarta.
Senin pagi, aku duduk di ruang tunggu lantai dua puluh tujuh dengan blazer pinjaman sepupuku. Map hitam di pangkuanku menutupi bagian tas yang kulitnya mulai mengelupas.
Pintu lift terbuka.
Aku mengenali Adrian sebelum staf di sekitarnya menyapa. Tubuhnya lebih tegap, tetapi cara ia berjalan sambil sedikit menunduk masih sama.
Langkahnya berhenti.
“Rani Prameswari?”
Semua kandidat menoleh.
Aku mengangkat wajah.
“Halo, Adrian.”
Ia memandangku cukup lama sebelum beralih kepada staf HR.
“Boleh saya ikut sesi terakhir kandidat ini?”
Aku berharap lantai menelanku.
Pertemuan pertama kami dulu tidak sehangat itu.
Adrian datang terlambat ke kelas pengantar pemasaran dengan punggung kaus basah. Ketika ia meminta tambahan waktu mengerjakan tugas kelompok, aku menjawab ketus.
“Semua orang juga punya kesibukan.”
Malam berikutnya, risetnya masuk tepat sebelum tenggat. Pekerjaannya paling lengkap.
Seminggu kemudian, aku melihatnya menjaga kasir minimarket. Baru setelah itu aku tahu ia bekerja hampir setiap malam. Ayahnya sudah meninggal, ibunya berjualan gorengan, dan beasiswanya hanya menanggung sebagian biaya kuliah.
Di kantin, ia sering memesan teh tawar sambil mengaku sudah makan.
Suatu siang, aku melihatnya menghitung uang, memandangi daftar harga, lalu menutup dompet.
Sore itu aku menemui Bu Mira.
“Kalau Adrian datang, bilang ada paket mahasiswa lima ribu. Selisihnya saya bayar.”
“Kenapa tidak kamu kasih langsung?”
“Dia mungkin menolak.”
Bu Mira akhirnya setuju.
Kebiasaan itu berlangsung dari semester ke semester. Kadang aku berjalan lebih jauh agar hemat ongkos. Adrian membalas kebaikan yang bahkan tidak pernah kubicarakan dengan caranya sendiri. Ia mengirim catatan saat aku sakit dan menemaniku menyusun ulang presentasi ketika laptopku rusak.
Aku menyukainya.
Namun, sebelum wisuda, Melisa menghentikanku di toilet kampus.
“Kalau cuma kasihan, jangan membuat Adrian berharap,” katanya. “Menurutmu dia senang tahu makan siangnya dibayari?”
Aku tak pernah memastikan apakah itu pendapat Adrian atau hanya ucapannya sendiri.
Aku malah menjauh.
Pada hari wisuda, kutinggalkan buku catatan di lokernya. Di halaman terakhir, aku mengaku menyukainya dan takut bantuanku melukai harga dirinya.
Lalu aku pindah ke Surabaya bersama keluarga. Nomorku berganti setelah ponsel hilang. Ketika tak ada kabar darinya, aku menganggap diam itu penolakan.
Kini, di ruang wawancara, aku harus menjelaskan strategi kampanye sambil berusaha tidak mengingat semuanya.
Adrian duduk bersama kepala divisi konten dan seorang staf HR. Ia hanya bertanya tentang pekerjaanku.
“Apa yang kamu lakukan kalau klien ingin klaim yang tidak didukung data?”
Aku menjawab berdasarkan pengalaman. Ketika sesi berakhir, kepala divisi menutup catatannya.
“Hasilnya akan kami kabarkan melalui HR.”
Setelah kedua orang itu keluar, Adrian bertanya apakah aku bersedia tinggal beberapa menit.
Ia membuka laci.
Buku catatan itu muncul, kusam di bagian sudut.
“Kamu masih menyimpannya?”
“Aku membacanya setelah wisuda. Saat meneleponmu, nomornya tidak aktif.”
Ia membuka halaman terakhir.
Di bawah tulisanku, ada jawaban yang tak pernah kulihat.
Aku tahu sejak semester dua. Aku tidak merasa terhina. Aku hanya belum tahu bagaimana mengatakan bahwa aku juga menyukaimu.
Mataku panas.
“Bu Mira bilang?”
“Keceplosan saat kutanya kenapa harga paketku tidak pernah naik.”
Aku tertawa kecil, lalu menangis sebelum sempat menahannya.
“Kenapa kamu tidak mengatakannya?”
“Aku takut kamu malu. Lalu kamu mulai menghindar.”
Kami saling menatap, menyadari betapa lama dua orang bisa kehilangan satu sama lain karena dugaan.
“Melisa bilang kamu akan merasa direndahkan,” kataku akhirnya.
Adrian mengerutkan kening.
“Dia tidak pernah membicarakan itu denganku.”
“Ayahnya menawarkanmu pekerjaan. Kupikir kalian akan bersama.”
“Aku mengikuti seleksinya dan tidak lolos. Kami tidak pernah berpacaran.”
Aku menunduk.
Sebelas tahun terasa terlalu panjang untuk sebuah percakapan yang seharusnya hanya membutuhkan sepuluh menit.
“Aku mestinya bertanya kepadamu,” kataku.
“Aku juga mestinya mencarimu lebih sungguh-sungguh.”
Ketukan pintu menghentikan kami. Jadwal Adrian berikutnya sudah menunggu.
Sebelum aku pergi, ia berkata pelan, “Keputusan pekerjaan tetap dari tim. Aku tidak mau kamu meragukan alasanmu diterima.”
Aku mengangguk, berterima kasih karena ia memahami ketakutan yang belum kuucapkan.
Tiga hari kemudian, HR menelepon.
Aku diterima.
Kepala divisi menjelaskan bahwa hasil tesku mendapat nilai tertinggi sebelum wawancara terakhir. Aku mendengarkannya sambil duduk di tepi kasur kos, lalu meminta surat penawaran dikirim agar bisa kupelajari.
Setelah panggilan selesai, aku menangis di atas bantal agar penghuni kamar sebelah tidak mendengar.
Aku meminjam kekurangan biaya kos dari sepupuku dengan janji pengembalian yang jelas. Hari pertamaku bekerja dimulai Senin berikutnya.
Adrian tidak memberiku meja istimewa atau proyek mudah. Selama masa percobaan, kami jarang berbicara di luar rapat.
Justru itu membuatku kembali percaya diri.
Tiga bulan kemudian, setelah status kerjaku dikonfirmasi, sebuah pesan darinya masuk.
Bu Mira masih membuka warung. Mau makan siang di Bandung hari Sabtu?
Aku membaca pesan itu sambil tersenyum.
Di warung yang sudah direnovasi, Bu Mira mengenaliku lebih dulu.
“Yang suka bayar diam-diam akhirnya datang juga!”
“Bu,” protesku, wajahku panas.
Adrian tertawa.
Kami duduk di meja dekat jendela. Ia memesan dua porsi nasi ayam, lalu menyerahkan amplop kecil kepadaku.
Aku langsung menegang.
“Aku tidak mau uang pengganti.”
“Buka dulu.”
Di dalamnya ada fotokopi catatan utang makan dari masa kuliah. Namaku tercantum pada beberapa tanggal semester terakhir.
Aku menatapnya bingung.
“Waktu ayahmu dirawat, kamu berhenti makan siang,” kata Adrian. “Bu Mira memberitahuku.”
Aku teringat masa ketika uang sakuku habis untuk ongkos ke rumah sakit. Bu Mira selalu menyodorkan makanan sambil berkata warungnya sedang mendapat banyak pesanan.
“Kamu yang membayar?”
Adrian mengangguk.
“Tidak setiap hari. Semampuku.”
Aku memandangi angka-angka kecil di kertas itu.
Selama ini, aku mengira kisah kami adalah tentang seorang gadis yang diam-diam menolong lelaki kelaparan. Ternyata, pada hari-hari ketika aku merasa sendirian, lelaki itu juga menjagaku tanpa meminta diketahui.
Ketika makanan datang, Adrian menggeser sambal ke arahku.
“Kali ini kita makan bersama?”
Aku meraih sendok.
“Iya. Dan kalau ada yang ingin kamu katakan, katakan langsung.”
Ia tersenyum.
“Aku ingin mengajakmu bertemu lagi.”
“Kamu bisa mulai dengan mengantarku pulang setelah ini.”
Di seberang meja, ia mengangguk. Kali ini, aku tetap tinggal untuk mendengar jawabannya.
