Selama Tiga Tahun Aku Selalu Menjadi Juara Kelas karena Sahabatku Diam-Diam Berbuat

Pukul enam pagi pada hari ujian masuk perguruan tinggi, aku menemukan kartu peserta Nabila di dalam amplop cokelat di depan rumah. Ada secarik pesan bersamanya.

“Jangan cari aku sebelum ujian selesai. Kalau ingin tahu kenapa selama tiga tahun kamu selalu menjadi juara kelas, buka laci mejaku.”

Aku meneleponnya berkali-kali. Tidak aktif.

Ibu akhirnya menggenggam bahuku.

“Kalau kamu terlambat karena mencarinya, kalian berdua kehilangan kesempatan.”

Aku berangkat sambil membawa kartu itu, berharap Nabila muncul di gerbang. Namun, sampai pengawas meminta peserta masuk, kursinya tetap kosong.

Ujian hari itu terasa menyiksa. Soal-soalnya jauh lebih sulit daripada latihan yang biasa diberikan Nabila. Untuk pertama kalinya, aku memahami betapa seringnya aku mengandalkan kalimatnya.

“Pelajari yang ini, Alya. Kemungkinan besar keluar.”

Sepulang ujian, Siska menghentikanku.

“Kamu pernah merasa prediksi Nabila terlalu tepat?”

Aku ingin membantah. Tetapi ingatan tentang lembar latihan yang hampir sama persis dengan soal sekolah membuat mulutku terkunci.

Sore itu aku mendatangi sekolah. Penjaga mengizinkanku masuk untuk mengambil buku yang tertinggal.

Di bawah meja Nabila, kutemukan kunci kecil yang direkatkan dengan selotip. Lacinya berisi tiga map soal ujian, rekap peringkat kelas, dan buku catatan.

Hampir semua soal itu pernah kupelajari sebelum ujian.

Aku membuka catatannya.

“Bu Ratna bilang Alya harus tetap peringkat pertama supaya beasiswanya diperpanjang. Kalau aku menolak, biaya pengobatan Ibu tidak dibantu lagi.”

Tanganku gemetar.

Pintu kelas terbuka.

Bu Ratna berdiri di ambang pintu, lalu menatap map-map di depanku.

“Siapa yang menyuruhmu membuka itu?”

“Nabila. Dari mana dia mendapat soal-soal ini, Bu?”

Beliau menutup pintu.

“Simpan semuanya. Jangan menghancurkan masa depanmu sendiri.”

Sebelum aku menjawab, ponselku bergetar. Sebuah rekaman suara masuk dari nomor asing.

“Alya, maaf. Aku pikir aku sedang membantu kamu tetap sekolah. Baru tiga hari lalu aku tahu ada uang bantuan atas namamu yang diambil orang lain. Periksa formulir beasiswamu.”

Bu Ratna melangkah mendekat. Aku mundur sambil meraih map terakhir. Selembar formulir terjatuh.

Di sana tercantum namaku, tetapi nama walinya asing. Ada rincian bantuan biaya hidup bulanan yang tidak pernah diterima keluargaku.

“Uangnya masuk ke mana, Bu?”

Bu Ratna tidak menjawab. Beliau justru menelepon seseorang.

“Dia sudah menemukan mapnya.”

Aku langsung memotret formulir dan mengirimkannya kepada Ibu, berikut lokasi sekolah.

Bu Ratna melihat gerakanku.

“Alya, jangan gegabah.”

“Pintu dibuka, Bu.”

Beliau terdiam.

“Saya sudah mengirim semuanya ke Ibu.”

Beberapa detik kemudian, beliau menyingkir.

Aku keluar dengan lutut gemetar. Di pos satpam, aku menunggu Ibu sambil menggenggam tas erat-erat. Baru ketika motornya berhenti, aku bisa menangis.

Malam itu kami tidak pulang dulu. Kami singgah di rumah Siska. Ibunya membantu menghubungi nomor yayasan yang tercetak pada formulir melalui situs resminya.

Petugas yayasan memastikan bahwa bantuan itu memang ada.

Bukan hanya pembebasan biaya sekolah. Ada uang transportasi, buku, dan tunjangan hidup untuk keluargaku.

Penerimanya tercatat melalui rekening wali bernama Damar Prasetyo.

Aku mengenali nama itu setelah petugas menyebut jabatannya.

Bendahara sekolah.

Ayah datang hampir pukul sembilan malam, masih mengenakan jaket ojeknya. Ia membaca formulir itu lama sekali.

“Ayah pernah tanda tangan berkas apa pun?” tanyaku.

“Hanya formulir awal. Setelah itu sekolah bilang semuanya diurus.”

Aku menunduk.

“Kalau nilai Alya hasil bocoran, mungkin beasiswanya memang harus dicabut.”

Ayah menarik kursi di sebelahku.

“Kita akan menjelaskan semuanya. Tapi kamu jangan menyembunyikan kesalahan hanya karena takut kehilangan sesuatu.”

Menjelang tengah malam, nomor asing itu menelepon.

“Aku di rumah tante di Garut,” kata Nabila.

Aku memejamkan mata mendengar suaranya.

“Kenapa kamu pergi?”

“Pak Damar tahu aku menyalin berkas. Dia datang ke rumah kemarin. Ibu ketakutan, jadi Tante menjemput kami pagi-pagi.”

“Kenapa nggak bilang dari awal?”

Nabila menangis.

“Awalnya Bu Ratna bilang kamu bisa putus sekolah kalau peringkatmu turun. Aku cuma diminta membantu belajar. Lalu beliau mulai memberi soal. Waktu aku mau berhenti, bantuan pengobatan Ibu dijadikan alasan.”

Aku terdiam. Selama ini, aku menerima piala di panggung sementara sahabatku menanggung ketakutan sendirian.

“Kamu sengaja salah supaya aku di atasmu?”

“Iya.”

Jawabannya pendek, tetapi membuat dadaku sesak.

“Dan ujianmu hari ini?”

Tangisnya semakin keras.

Kami tidak langsung saling memaafkan malam itu. Aku terlalu terluka, dan Nabila terlalu malu. Namun, sebelum telepon ditutup, kami sepakat menyerahkan semua bukti.

Dua hari kemudian, yayasan mengirim tim pemeriksa. Orang tua mendampingiku saat memberikan keterangan. Nabila menyerahkan percakapan, salinan soal, serta pesan ancaman yang selama ini disimpannya.

Pemeriksaan menemukan bantuan beberapa siswa lain juga dialihkan ke rekening penampungan yang dikuasai Pak Damar.

Peringkatku dijaga untuk membuat laporan program terlihat berhasil. Foto-fotoku memegang piala dipakai berulang kali dalam laporan kepada donatur.

Bu Ratna akhirnya mengakui bahwa beliau memberikan soal kepada Nabila.

“Saya awalnya hanya diminta memastikan penerima beasiswa berprestasi,” katanya saat pertemuan.

Aku menatapnya.

“Lalu waktu Ibu tahu uangnya diambil?”

Beliau menunduk.

Tidak ada jawaban yang membuatku merasa lebih baik.

Sekolah menonaktifkan keduanya selama pemeriksaan berlangsung. Yayasan melaporkan dugaan penyelewengan itu dan meninjau ulang bantuan seluruh penerima.

Aku juga meminta gelar siswa terbaikku diperiksa.

Menyerahkan kembali piala terasa lebih berat daripada yang kubayangkan. Ayah menemaniku membawa kotaknya ke sekolah. Ia tidak berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia hanya membantuku mengangkatnya ketika tanganku mulai gemetar.

Sebulan kemudian, hasil ujian masuk perguruan tinggi diumumkan.

Aku tidak lolos.

Nabila menelepon, tetapi aku baru sanggup menjawab sore harinya.

“Aku takut ternyata aku memang nggak pintar,” kataku.

“Kamu belum terbiasa mengerjakan semuanya sendiri,” jawabnya pelan. “Itu berbeda.”

Kami mulai belajar lagi. Kali ini memakai soal terbuka, mencatat jawaban yang salah, dan tidak buru-buru melihat pembahasan.

Beberapa bulan kemudian, aku diterima di politeknik negeri melalui seleksi mandiri. Nabila memilih bekerja sementara dan mempersiapkan ujian tahun berikutnya.

Sebelum daftar ulang, yayasan mengundang kami. Mereka mengembalikan bantuan keluargaku yang berhasil dipulihkan dan menawarkan dukungan pendidikan langsung, tanpa perantara sekolah.

Di akhir pertemuan, seorang pengurus menyerahkan salinan pengajuan beasiswa pertamaku.

“Ini mungkin ingin kamu simpan.”

Di halaman terakhir ada surat rekomendasi tulisan tangan Nabila, dibuat sebelum kami masuk SMA.

“Alya selalu membantu ibunya berjualan sebelum sekolah. Kadang dia terlambat memahami pelajaran, tetapi dia tidak pernah berhenti mencoba. Tolong beri dia kesempatan.”

Aku membaca surat itu dua kali.

Selama berbulan-bulan aku mengira seluruh keberhasilanku dimulai dari kebohongan.

Ternyata, kesempatan pertamaku justru lahir dari seseorang yang pernah melihat kemampuanku lebih jernih daripada diriku sendiri.

Aku menoleh kepada Nabila.

“Tahun depan, kamu harus ikut ujian.”

Dia mengangguk, matanya basah.

“Dan kali ini,” kataku sambil melipat surat itu hati-hati, “jangan sengaja kalah dariku.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang