
Pada kedatanganku yang kesembilan ke Kantor Urusan Agama, mantan tunanganku berdiri menghalangi pintu dan meminta calon suamiku menjauh.
“Jangan tanda tangan apa pun dulu, Nadya.”
Dimas tidak terpancing. Dia menoleh kepadaku, memastikan aku baik-baik saja, sementara Arga menunjuk map cokelat yang dipeluk Tante Rina.
“Delapan kali aku membatalkan janji kita bukan karena Tante sakit. Semua alasan itu bohong.”
Suara kendaraan dari jalan terasa menjauh. Selama berbulan-bulan aku mempertanyakan apakah diriku terlalu menuntut. Sekarang, Arga mengakui bahwa semua penantian itu sengaja diciptakan.
“Kalau begitu, katakan yang sebenarnya.”
Tante Rina menarik lengannya. “Jangan bikin malu keluarga di sini.”
Arga menepis tangan itu.
“Tante memakai uang tabungan pernikahan kita.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
Tabungan itu kami kumpulkan selama dua tahun. Bagianku seratus delapan puluh juta rupiah, hasil bekerja, menerima proyek tambahan, dan menunda hampir semua keinginan pribadi. Arga bersikeras menyimpannya dalam rekening terpisah atas namanya karena dia yang mengurus pembayaran vendor.
“Berapa yang dipakai?”
“Semuanya.”
Tanganku mendadak dingin. Dimas bergerak mendekat, tetapi tidak menyentuhku sebelum aku meraih lengannya.
Seorang petugas menghampiri kami. Melihat orang-orang mulai memperhatikan, dia mempersilakan kami duduk di bangku samping gedung.
Tante Rina tetap berdiri.
“Itu dipinjam,” katanya. “Bukan dicuri.”
“Dipinjam dari siapa?” tanyaku. “Saya bahkan tidak pernah diberi tahu.”
Arga menunduk. Uang itu dipakai menutup utang usaha katering Tante Rina. Awalnya, dia dijanjikan pengembalian dalam dua minggu. Ketika tanggal pengurusan pernikahan pertama tiba, uangnya belum kembali.
“Lalu kenapa mengurus berkas saja harus dibatalkan?” tanyaku.
Arga mengusap wajah.
“Karena setelah berkas masuk, kita akan memastikan tanggal akad. Ayahmu sudah bilang pelunasan vendor dilakukan minggu itu. Aku takut ketahuan.”
Jadi setiap kali aku menunggu di depan kantor ini, dia sedang membeli waktu.
Tante Rina menjanjikan pembayaran dari pelanggan, penjualan mobil, lalu pencairan pinjaman. Delapan janji baru untuk menutupi delapan kebohongan lama.
“Kamu bisa bilang,” kataku.
“Aku takut kamu meninggalkan aku.”
“Lalu kamu membuatku merasa bersalah karena meminta kamu datang?”
Arga membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban.
Dimas akhirnya berbicara.
“Map itu berisi apa?”
Tante Rina merapatkan map ke dadanya.
“Urusan keluarga.”
“Di dalamnya ada uang Nadya,” kata Arga. “Dia berhak tahu.”
Setelah perdebatan singkat, Tante Rina menyerahkan map itu dengan gerakan kasar. Arga mengeluarkan surat pernyataan utang dan beberapa lembar bukti transfer.
Di bagian bawah surat, ada namaku.
Beserta tanda tangan yang menyerupai tanda tanganku.
Aku membaca kalimatnya dua kali. Surat itu menyatakan bahwa aku mengetahui penggunaan dana tersebut dan menyetujuinya sebagai pinjaman tanpa bunga.
“Saya tidak pernah menandatangani ini.”
Wajah Tante Rina mengeras.
“Arga bilang kalian pasti menikah. Uangnya nanti juga jadi uang keluarga.”
Dimas menatap surat itu, lalu bertanya pelan, “Boleh saya foto?”
Aku mengangguk.
Arga tidak berusaha menghentikannya. Justru dia mengeluarkan ponsel dan menunjukkan percakapan dengan tantenya. Di sana ada foto surat yang sama, dikirim tiga bulan sebelumnya.
Balasannya membuat perutku terasa mual.
Pakai saja dulu, Tante. Nanti Nadya aku jelaskan.
Aku mengangkat wajah.
“Kamu tahu tanda tanganku dipalsukan.”
Arga menangis. Untuk pertama kalinya, tangisnya tidak membuatku ingin mendekat.
“Aku pikir semuanya bisa selesai sebelum kamu tahu.”
“Makanya kamu bilang aku terlalu mempermasalahkan siapa yang lebih penting?”
“Aku panik.”
“Dan kamu membiarkan aku meminta maaf.”
Dia menunduk semakin dalam.
Aku ingat malam setelah pembatalan keenam. Aku datang membawa makanan, meminta maaf karena merasa telah membuatnya memilih antara keluarga dan diriku. Dia menerima permintaan maaf itu sambil membiarkanku menangis di bahunya.
Kenangan itu lebih menyakitkan daripada angka di rekening.
“Kenapa kalian datang ke sini hari ini?” tanyaku.
Arga menunjuk bangunan di seberang jalan. Sebuah kantor notaris menempati ruko kecil di sana.
“Kami habis mengurus dokumen penjualan ruko Tante. Pembelinya baru membayar uang muka. Aku mau mengembalikan uangmu, lalu datang ke rumah.”
“Lalu kamu melihat saya bersama Dimas.”
Dia mengangguk.
“Aku pikir masih ada kesempatan.”
Dimas sejak tadi diam. Kini aku teringat sesuatu yang membuatku menoleh kepadanya.
“Tadi kamu bercanda tentang sembilan kali bolak-balik. Kamu tahu?”
Wajahnya berubah menyesal.
“Ayahmu pernah cerita kamu berkali-kali ditinggal menunggu. Beliau tidak menyebut jumlahnya. Aku asal menyebut sembilan. Maaf, aku tidak tahu itu akan menyakitimu.”
Aku mengangguk perlahan. Jawaban sederhana, tanpa usaha memutar keadaan.
Arga tiba-tiba maju.
“Nadya, uangnya bisa kembali. Kita masih bisa memperbaiki semuanya.”
Dimas berdiri, tetapi aku lebih dulu mengangkat tangan.
“Jangan mendekat.”
Arga berhenti.
“Aku tidak mengakhiri hubungan kita karena uang,” kataku. “Waktu itu aku bahkan belum tahu. Aku pergi karena setiap kali kamu menyakitiku, kamu meyakinkan aku bahwa akulah masalahnya.”
Tante Rina mulai menangis, menyebut almarhum ibu Arga, menyebut pengorbanannya membiayai kuliah keponakannya.
Aku menunggu sampai dia selesai.
“Saya menghormati pengorbanan Tante. Tapi itu tidak memberi Tante hak memakai nama dan uang saya.”
Aku meminta salinan semua dokumen. Setelah Dimas menyimpannya, kami meninggalkan mereka dan masuk ke kantor.
Di depan meja petugas, tanganku masih gemetar.
“Kita bisa pulang dulu,” kata Dimas. “Tidak ada yang harus diselesaikan hari ini.”
Aku memandangnya lama.
“Kalau aku butuh waktu?”
“Aku antar pulang.”
Tidak ada desakan. Tidak ada ancaman bahwa aku akan kehilangan dirinya jika berhenti sebentar.
Hari itu kami pulang tanpa menyelesaikan berkas.
Ayah mendampingiku menemui pengacara. Bukti transfer, percakapan, dan surat palsu disimpan. Beberapa minggu kemudian, bagianku dikembalikan melalui kesepakatan tertulis. Pengembalian itu tidak menghapus keterlibatan Arga, dan aku menolak menandatangani pernyataan bahwa penggunaan uang tersebut pernah mendapat persetujuanku.
Dimas tetap datang setiap Minggu. Kadang kami berjalan pagi. Kadang hanya duduk bersama orang tuaku. Dia tidak pernah memakai kesabaran itu untuk menagih jawaban.
Tiga bulan kemudian, akulah yang mengajaknya kembali mengurus pernikahan.
Pagi sebelum berangkat, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
Isinya foto delapan lembar bukti transfer.
Arga ternyata mengirim uang kepada Tante Rina pada setiap hari pembatalan kami.
Di bawahnya tertulis, Aku baru sadar. Selama ini bukan Tante yang tidak membiarkan aku menikah denganmu. Aku sendiri yang terus memilih berbohong.
Aku membaca pesan itu sekali, lalu meletakkan ponsel.
Dari halaman, Dimas memanggil, menanyakan apakah aku sudah siap.
Aku mengambil map dari meja dan membuka pintu.
Kali ini, aku tidak sedang menunggu seseorang menepati janji. Dia sudah berada di sana.
