Setelah Ibuku Dimakamkan, Aku Mengirim Berkas Perceraian Saat Suamiku Menemani

“Dari mana kamu tahu soal aset Ibu?”

Di seberang telepon, Arga terdiam. Aku mendengar suara koper diseret, lalu pengumuman bandara yang samar.

“Laras bilang ibumu punya ruko. Aku cuma ingin memastikan kamu tidak ditipu.”

“Sekarang kamu peduli?”

“Nadira, jangan mulai lagi.”

Aku menatap surat kematian di atas meja.

“Ibu sudah dimakamkan, Arga.”

“Aku tahu.”

Dua kata itu membuat dadaku lebih sakit daripada semua ancamannya.

“Sejak kapan?”

Dia mengembuskan napas.

“Laras membaca pesanmu kemarin.”

“Kemarin kamu masih mengancam menghentikan biaya perawatannya.”

“Aku belum sempat memikirkan semuanya.”

Aku menutup telepon. Kali ini, aku tidak menangis. Ada sesuatu yang harus kupahami sebelum mereka datang.

Di dalam amplop, kutemukan kartu nama seorang notaris di Semarang, Bu Mira. Esok paginya aku menelepon, menyebut nama Ibu, lalu menjelaskan dokumen yang kutemukan.

Bu Mira meminta aku datang membawa berkas asli dan identitas.

“Jangan menyerahkan apa pun kepada orang lain dulu,” katanya.

Kantornya kecil, menghadap jalan yang ramai oleh sepeda motor. Bu Mira mengenali kotak kayu yang kubawa.

“Ibumu pernah menitipkan kunci cadangannya di sini.”

Tanganku berhenti di atas meja.

“Kenapa?”

“Karena beliau takut dokumennya hilang.”

Di dalam kotak ada sertifikat asli ruko, perjanjian sewa, buku tabungan, dan sebuah surat panjang. Tanggalnya empat tahun lalu, sebelum gangguan ingatan Ibu semakin berat.

Aku mulai membaca.

Ruko itu dibeli Ibu bersama ayah kandungku dari hasil usaha toko kain mereka. Setelah Ayah meninggal, seluruh urusan kepemilikannya dibereskan atas nama Ibu. Bertahun-tahun kemudian, Pak Surya meminta agar Laras diperbolehkan memakainya untuk membuka usaha.

Ibu setuju.

Namun setelah Pak Surya meninggal, Laras membawa calon investor bernama Arga.

Aku mengangkat wajah.

“Mereka sudah berbisnis sebelum saya mengenal Arga?”

Bu Mira mengangguk.

Perjanjian awalnya hanya mengatur penyewaan. Tetapi beberapa bulan kemudian, mereka mencoba meminta Ibu menjadikan ruko itu jaminan pembiayaan usaha.

Ibu menolak.

“Beliau datang kepada saya setelah menemukan salinan sertifikat di tas Laras,” kata Bu Mira. “Sejak itu, dokumen aslinya disimpan lebih hati-hati.”

Aku kembali membaca surat Ibu.

Ada satu kalimat yang membuat pandanganku kabur.

Ibu tidak tahu apakah Arga mendekatimu karena mencintaimu. Ibu hanya berharap begitu. Tetapi jangan biarkan harapan membuatmu menyerahkan sesuatu yang belum kamu pahami.

“Kenapa Ibu tidak memberitahuku?”

Bu Mira menggeser tisu ke dekatku.

“Beliau pernah mencoba. Katanya kalian bertengkar karena kamu mengira beliau menilai calon suamimu dari masa lalunya.”

Ingatan itu datang begitu jelas.

Aku pernah berkata bahwa Arga bukan orang jahat. Bahwa hubungannya dengan Laras sudah selesai. Ibu diam setelah itu, lalu meminta maaf karena membuatku sedih.

Aku menutup wajah.

Bu Mira membiarkanku menangis sebelum menunjukkan buku tabungan berikutnya.

Uang sewa ruko ternyata masih masuk setiap bulan dari penyewa baru. Sebagian dipindahkan secara rutin ke rekening Arga.

“Untuk biaya pendampingan dan perawatan,” kata Bu Mira, menunjuk keterangan transfer. “Ibumu memberi kuasa terbatas ketika beliau masih bisa mengurusnya.”

Jumlahnya hampir sama dengan tagihan fasilitas perawatan.

Selama dua tahun, Arga menyebut uang itu bantuannya.

Dia membuatku berterima kasih atas uang Ibu sendiri.

Sore itu, aku pulang bersama seorang pengacara yang direkomendasikan Bu Mira. Namanya Ratri. Kami baru selesai memindai dokumen ketika mobil Arga berhenti di halaman.

Laras turun dari kursi penumpang.

Tak satu pun membawa bunga.

Arga masuk dan langsung melihat kotak di meja.

“Kamu sudah membukanya?”

Aku tidak menjawab.

Laras duduk di depanku dengan mata sembap.

“Aku juga kehilangan beliau, Nad.”

“Kamu tahu Ibu meninggal sejak kemarin?”

Dia melirik Arga.

“Aku baru sempat—”

“Kamu sempat pulang bersamanya.”

Arga meletakkan sebuah map di meja.

“Kita bisa bertengkar nanti. Sekarang ada kewajiban usaha yang harus dibereskan. Ruko itu sudah masuk rencana penjualan.”

Ratri menarik map tersebut setelah meminta izinku.

Di dalamnya ada rancangan persetujuan penjualan dan surat pernyataan bahwa hasilnya akan dipakai menyelesaikan kewajiban perusahaan Laras.

Namaku tercetak sebagai pihak yang menyetujui.

“Siapa yang membuat ini?” tanya Ratri.

Arga baru menyadari kehadirannya bukan sekadar tamu.

“Anda siapa?”

“Kuasa hukum Nadira.”

Wajahnya berubah.

Laras mulai menjelaskan. Usahanya hampir bangkrut. Mereka sudah menerima uang dari calon pembeli dengan menjanjikan bahwa ruko bisa diserahkan setelah urusan keluarga selesai.

“Kami berniat mengganti bagianmu,” katanya.

“Bagian saya?” tanyaku. “Kalian menjual bangunan milik Ibu tanpa persetujuannya?”

“Dulu ayahku ikut mengurus tempat itu.”

“Mengurus bukan berarti memiliki,” ujar Ratri tenang. “Kami akan memeriksa seluruh dokumennya. Nadira tidak akan menandatangani ini.”

Arga berpaling kepadaku.

“Kamu benar-benar mau menghancurkan hidupku?”

Aku membuka buku tabungan Ibu dan mendorongnya ke hadapannya.

“Berapa banyak biaya perawatan yang sebenarnya kamu bayar dari uangmu sendiri?”

Dia terdiam.

Laras menunduk.

Aku tidak membutuhkan jawaban panjang lagi.

“Mulai sekarang, semua pembicaraan melalui Bu Ratri. Termasuk perceraian.”

Penyelesaiannya tidak berlangsung cepat. Ada pemeriksaan rekening, pertemuan dengan calon pembeli, dan berbulan-bulan urusan perceraian. Aku menjual perhiasan pribadiku untuk membayar kebutuhan awal, lalu kembali menerima pekerjaan penerjemahan yang dulu kutinggalkan ketika Ibu semakin sakit.

Aku tidak mendadak merasa kuat. Beberapa malam, aku masih bangun karena mengira harus menelepon perawat Ibu.

Namun, aku berhenti menelepon Arga.

Ketika urusan kepemilikan akhirnya jelas, ruko itu kusewakan kembali. Uangnya cukup untuk hidup sederhana sambil membangun pekerjaanku.

Suatu sore, Bu Mira menyerahkan satu amplop terakhir yang terselip di antara berkas lama. Isinya foto aku saat wisuda, berdiri di samping Ibu.

Di belakangnya ada tulisan pendek.

Kalau nanti rumah terasa kosong, mulailah dari membuka jendela. Setelah itu, kerjakan satu hal yang bisa kamu kerjakan sendiri.

Aku pulang, membuka jendela kamar Ibu, lalu menyalakan laptop di mejanya.

Untuk pertama kalinya setelah pemakaman, angin masuk tanpa membuatku ingin menutup semuanya kembali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang