“Setelah menikah, Arga akan tinggal bersama keluargaku. Anak-anak kami nanti juga akan memakai nama keluargaku.”
Pengumuman Clarissa membuat ballroom mendadak sunyi. Hampir dua ratus tamu menoleh ke meja keluarga kami. Papa meletakkan gelas dengan keras, sementara Mama menatapku, menunggu aku membereskan keadaan seperti biasanya.
Aku berdiri dan mengangkat gelas.
“Aku mendukung pilihan kalian,” kataku. “Tapi boleh Kakak mengajukan satu pertanyaan?”
Clarissa tersenyum penuh kemenangan.
“Tentu, Kak.”
“Rencana hidup mandiri kalian sudah dihitung berdasarkan penghasilan sendiri?”
Senyumnya perlahan menghilang.
Arga tertawa canggung.
“Kak, ini pesta pertunangan.”
“Benar. Jadi, pembicaraan rinci bisa nanti. Selamat untuk kalian.”
Aku menyesap air, lalu duduk. Tepuk tangan terdengar ragu-ragu.
Namaku Nadira Pratama. Sebelas tahun aku bekerja di Arunika Living, perusahaan furnitur Papa. Aku memulai dari gudang, menangani komplain, mengawasi produksi, lalu memimpin operasional.
Arga pulang dari luar negeri dan langsung menjadi direktur pengembangan bisnis.
Setiap kesalahannya berakhir dengan kalimat yang sama.
“Adikmu masih belajar.”
Sebulan sebelum pertunangan itu, tim keuangan menemukan pembayaran untuk proyek ruang pamer yang tidak menunjukkan perkembangan. Persetujuannya berasal dari divisi Arga. Aku meminta pemeriksaan dokumen tanpa membuat tuduhan.
Hasilnya tiba malam setelah pesta.

Saat membaca nama perusahaan penerima pembayaran, aku menegakkan punggung.
PT Cakra Kreasi Utama.
Nama belakang Clarissa adalah Cakra.
Aku membuka lampiran berikutnya. Ada pembayaran kepada vendor yang sama, dipecah menjadi beberapa tagihan, masing-masing berada tepat di bawah batas nominal yang memerlukan persetujuan Papa.
Totalnya hampir dua miliar rupiah.
Pukul delapan pagi, aku datang ke kantor membawa map. Papa sudah menunggu bersama Arga.
“Papa ingin mengalihkan sebagian saham kepada Arga sebelum pernikahan,” katanya.
Aku meletakkan map di meja.
“Sebelum itu, kita perlu membicarakan pembayaran ini.”
Arga langsung mengenali halaman pertama.
“Itu proyek yang masih berjalan.”
“Tim mendatangi lokasi kemarin. Pemilik bangunan mengatakan belum ada kontrak sewa.”
“Negosiasinya belum selesai.”
“Lalu kenapa kita sudah membayar pekerjaan interior?”
Papa menarik map itu.
Aku menjelaskan satu per satu. Ada gambar desain yang sama dengan proyek lama, faktur tanpa bukti serah terima, dan pembayaran yang melewati pemeriksaan bagian pengadaan.
Arga menyilangkan tangan.
“Kakak memang nggak pernah percaya aku.”
“Aku meminta bukti pekerjaan, bukan alasan untuk mempercayaimu.”
Papa membaca sampai halaman terakhir.
“Panggil Clarissa,” katanya.
Arga menatapnya.
“Kenapa dia dibawa-bawa?”
“Karena nama ayahnya tercantum sebagai direktur perusahaan penerima uang.”
Satu jam kemudian, Clarissa datang bersama ayahnya, Pak Hendrawan. Kepala keuangan dan penasihat hukum perusahaan ikut duduk.
Pak Hendrawan tampak tenang.
“Ini hanya keterlambatan administrasi. Anak-anak terlalu bersemangat.”
Penasihat hukum kami menggeser salinan kontrak.
“Alamat proyek di dokumen ini tidak pernah disetujui pemilik bangunan.”
Pak Hendrawan berhenti tersenyum.
Clarissa memandang Arga.
“Kamu bilang semuanya sudah dibereskan.”
“Aku sedang membereskannya.”
Aku menatap mereka bergantian.
“Apa sebenarnya yang dibayar perusahaan kami?”
Tidak ada jawaban.
Kepala keuangan lalu membuka bukti transfer lanjutan yang diserahkan pihak vendor saat diminta klarifikasi. Sebagian uang telah diteruskan untuk pemesanan tempat pernikahan dan pembayaran rumah.
Rumah yang akan ditinggali Arga dan Clarissa.
Papa menutup mata sebentar.
“Uang perusahaan untuk rumah pribadi?”
Arga mencondongkan tubuh.
“Aku akan menggantinya setelah sahamku dialihkan.”
Ruangan sunyi.
Aku akhirnya memahami mengapa pembicaraan tentang kebebasan begitu cepat berubah menjadi tawaran saham.
“Kalian mengumumkan keputusan itu untuk membuat Papa menawarkan sesuatu?” tanyaku.
Clarissa menegakkan dagu.
“Kami cuma ingin diperlakukan adil.”
“Dengan mengambil uang sebelum mendapat izin?”
“Aku nggak tahu sumber uangnya,” katanya cepat.
Arga menoleh tajam.
“Kamu tahu aku belum punya uang sebanyak itu.”
“Aku pikir kamu punya tabungan!”
Pak Hendrawan memukul meja dengan telapak tangan.
“Cukup. Jangan bertengkar di sini.”
Papa berdiri.
“Yang cukup itu penggunaan perusahaan saya untuk membiayai kebohongan kalian.”
Namun, saat semua orang keluar untuk memberi ruang kepada tim hukum, Papa menahanku.
“Kita selesaikan tanpa mempermalukan Arga.”
Aku memandang foto keluarga di belakang mejanya. Dalam foto itu, aku berdiri di ujung, masih memakai seragam kerja karena baru pulang dari pabrik.
“Bagaimana dengan karyawan kalau uang itu tidak kembali?”
“Papa akan menutup kekurangannya.”
“Lalu Arga tetap direktur?”
Papa tidak menjawab.
Aku mengeluarkan surat yang sudah kusiapkan sejak dini hari.
“Kalau begitu, saya mengundurkan diri dari jabatan operasional. Saya tidak bisa bertanggung jawab atas pengeluaran yang boleh diabaikan hanya karena pelakunya keluarga.”
“Nadira, jangan emosional.”
“Saya memberi waktu serah terima. Semua catatan pekerjaan akan lengkap.”
Untuk pertama kalinya, aku meninggalkan ruangan sebelum Papa selesai berbicara.
Sore itu, Arga mendatangiku di gudang.
“Kakak benar-benar mau pergi?”
“Aku mau bekerja di tempat yang tanggung jawabnya jelas.”
Dia berdiri di antara tumpukan kursi, tampak lebih muda daripada usianya.
“Clarissa membatalkan pernikahan.”
Aku berhenti memeriksa daftar barang.
“Aku turut sedih.”
“Dia bilang keluarganya nggak mau terlibat masalah hukum.”
Aku tidak mengatakan bahwa keluarganya sudah terlibat. Arga tampaknya mulai memahami sendiri.
“Aku pikir kalau punya saham, aku akhirnya bisa membuktikan sesuatu.”
“Seharusnya kamu membuktikannya lewat pekerjaan dulu.”
Matanya memerah.
“Iya.”
Proses pemeriksaan berlangsung berbulan-bulan. Arga dicopot dari jabatannya. Pengembalian dana ditangani melalui kesepakatan tertulis, sementara dugaan penyimpangan tetap diperiksa oleh pihak yang berwenang.
Aku tetap menyelesaikan pengunduran diriku.
Papa beberapa kali meminta aku bertahan. Aku menolak, lalu membuka studio kecil bersama dua rekan lama. Kantor kami sempit, dan pada bulan pertama aku merakit sendiri meja kerja.
Enam bulan kemudian, seorang calon pelanggan datang membawa katalog Arunika.
Aku mengira dia salah alamat.
“Pak Pratama yang merekomendasikan,” katanya. “Beliau bilang, kalau perlu pekerjaan rumit diselesaikan dengan benar, temui Nadira.”
Malamnya aku menelepon Papa.
“Kenapa mengirim pelanggan ke sini?”
Lama beliau diam.
“Karena kamu memang mampu.”
Aku menunggu kalimat berikutnya, permintaan pulang atau bantuan untuk Arga.
Tidak ada.
“Papa terlambat mengatakannya,” lanjutnya.
Di mejaku ada kartu nama baru yang baru selesai dicetak. Nadira Pratama, pendiri studio.
Aku menyentuh tulisan itu dengan ibu jari.
Untuk pertama kalinya, nama keluargaku terasa ringan. Aku bisa membawanya tanpa harus membawa seluruh kesalahan keluarga bersamanya.
